jump to navigation

Surat Cinta Mbak Sum April 22, 2008

Posted by tintaungu in Riang.
add a comment

(Sumber: milis_sasing)

mBak Sum; bermaksud memutuskan hubungan dengan kekasihnya bernama Robbie, seorang bule dari Amerika, akan tetapi dia tak sanggup untuk bertemu muka dengan kekasihnya.
mBak Sum menulis
surat dengan berbekal pengetahuan bahasa Inggris & kamus tebal.
Isi suratnya sbb :

Hi Robbie, with this letter I want to give know you
(hai Robbie, bersama surat ini saya ingin memberitahu kamu)
I WANT TO CUT CONNECTION US
(SAYA INGIN MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA)
I have think this very cook cook
(saya telah memikirkan hal ini masak masak)
I know my love only clap half hand
(saya tahu cinta saya hanya bertepuk sebelah tangan)
Correctly, I have see you go with a woman entertainment at town with my eyes and head myself
(sebenarnya, saya telah melihat kamu pergi bersama seorang wanita penghibur di kota dengan mata kepala saya sendiri)
You always ask apology back back times
(kamu selalu minta maaf berulang ulang kali)
You eyes drop tears crocodile
(matamu mencucurkan airmata buaya)
You correct correct a man crocodile land
(kamu benar-benar seorang lelaki buaya darat)
My Friend speak you play fire
(teman saya bilang kamu bermain api)
Now I know you correct correct play fire
(sekarang saya tahu kamu benar benar bermain api)
So, I break connection and pull body from love triangle this
(jadi, saya putuskan hubungan dan menarik diri dari cinta segitiga ini)
I know result I pick this very correct, because you love she very big from me
(saya tahu keputusan yang saya ambil ini benar, karena kamu mencintai dia lebih besar dari saya)
But I still will not go far far from here
(namun saya tetap tidak akan pergi jauh-jauh dari sini)
I don’t want you play play with my liver
(saya tidak ingin kamu main-main dengan hati saya)
I have been crying night night until no more eye water thinking about
your body
(saya menangis bermalam-malam sampai tidak ada lagi airmata
memikirkan dirimu)

I don’t want to sick my liver for two times
(saya tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya)
Safe walk, Robbie
(selamat jalan, Robbie)
Girl friend of your liver
(kekasih hatimu)

Note:
this river I forgive you, next river I kill you !
(kali ini aku maafkan kamu, kali lain kubunuh kau !)

Advertisements

Hakikat Cinta dan Benci April 21, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Cinta (al-mahabbah) dan benci (al-karâhah), merupakan fitrah emosional yang dianugerahkan Allah SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang Muslim, cinta dan benci itu harus berdasarkan proporsionalisasi syarî’at. Karena, bisa jadi, apa yang kita cintai itu justru sesuatu yang buruk, dan sebaliknya membenci sesuatu yang sebetulnya baik buat kita (Qs.2:216). Jika tidak demikian, betapa banyak orang yang akan menjadi korban akibat tidak tahu menempatkan arti cinta dan benci ini.

Dalam Islam, cinta seseorang haruslah berlandaskan kepengikutan (ittiba’) dan ketaatan. Sebagaimana firman-Nya, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (Qs.3:31-32).

Salah satu cinta yang diajarkan Rasulullah SAW. diantaranya adalah, mencintai dan mengasihi sesama. Kecintaan ini, sebagaimana pernah dicontohkan beliau, tak pernah dibedakan antara Muslim dan non-Muslim. Bahkan, tidak dibenarkan jika kita tidak berbuat adil kepada suatu kaum misalnya, hanya karena benci kepada mereka (Qs.5:8).

Ajaran cinta Islami yang mesti disemaikan bukanlah sebatas sesama Muslim. Tetapi justru sesama manusia dan sesama makhluk. Rasulullah SAW. bersabda, “Hakikat seorang Muslim adalah, mencintai Allah dan Rasul-nya, sesamanya, serta tetangganya, melebihi atau sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri” (HR. Imâm Bukhârî).

Kecintaan yang terekspresikan akan menjadi amal saleh buat pelakunya. Maka dari itu, kecintaan maupun kebaikan, meskipun baru tersirat dalam hati dan belum terlaksana, tetap akan mendapat pahala di sisi Allah. Sebaliknya, kebencian yang tersimpan dalam lubuk hati di samping sebuah kewajaran, juga tidak dicatat sebagai keburukan, hingga niatnya itu betul-betul dilakukan (al-Hadits).

Ekspresi sebuah kebencian tak lain sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersikap dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin, berupaya menjatuhkan dan menghilangkan semua kepemilikan seseorang yang dianggap lawannya itu. Dari sini hasud berubah wujud menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu dan gosip tanpa fakta untuk turut meyakinkan orang lain, agar sama-sama membenci bahkan menganiaya orang atau kelompok tertentu.

Benci yang hasud seperti di atas dilarang Rasulullah SAW, sabdanya, “Jauhilah oleh kalian sikap hasud, karena hasud itu niscaya akan memakan amal kebaikanmu layaknya api menghanguskan kayu bakar” (HR. Abû Dâwûd).

Wajah seorang muhâsid (pelaku hasud) tak lain seorang provokator yang senang mengadu-domba antarsesama, menabur fitnah, serta wujud dari kerja sama dalam menebar dosa (al-itsm) dan permusuhan (al-‘udwân). Mereka diancam Nabi SAW. tidak akan masuk surga, karena mencoba memutuskan pertalian kasih dan sayang antarsesama manusia (HR. Bukhârî-Muslim).

Dalam konteks Islam, shilat-u ar-rahmi (shilah, menghubungkan; dan rahmi, berasal dari rahim yang sama) merupakan keharusan menyemaikan perdamaian dan keharmonisan hidup antarinsan. Inilah inti rahmat-an lil-‘âlamîn; mencintai dan membenci karena Allah akan mendatangkan rahmat, sebaliknya, jika sesuai seleranya sendiri, terancam kepedihan azab-Nya. Dalam arti, tidak turunnya rahmat dan bertaburnya benih-benih perpecahan dan perselisihan (Bulûghu ‘l-Marâm, 2000; 496).*

Agar kecintaan tumbuh dan bersemai dalam diri setiap insan, Rasulullah mengajarkan, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam (kedamaian), berilah makan orang yang membutuhkan, sambungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah Tahajjud pada sepertiga malam (introspeksi), niscaya kamu akan masuk surga dengan damai” (HR. Imâm Tirmidzî).

Demikian sebaik-baik kecintaan dalam Islam. Kedamaian ditebarkan untuk dan kepada siapa pun. Seorang muslim sejati ialah apabila, orang lain selamat dari ulah lisan, tangan, maupun kewenangannya (Fath-u al-Bârî I; 76-86). Wallâhu a’lam.

Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid April 20, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Suatu hari, ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan shalat. Ia termasuk orang saleh. Di masjid ia melihat seorang anak kecil berusia tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan shalat dengan khusyu’, melakukan ruku’, dan sujud dengan hening dan tenang. Tatkala anak itu selesai dari salatnya, si kaya mendekati kepadanya seraya berkata,”

 

“Anak siapakah kamu?”

 

“Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku.”

 

‘Maukah kamu menjadi anakku?”

 

Si anak berkata, “Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?”

 

Si kaya menjawab, “Ya, tentu.”

 

“Apakah engkau akan memberiku minum saat aku haus?”

 

“Ya, tentu saja.”

 

“Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?”

 

“Ya.”

 

“Apakah engkau akan menghidupkanku tatkala aku sudah mati?”

 

“Takjublah lelaki itu seraya berkata, “Ini tidak mungkin dilakukan.”

 

Anak kecil itu berkata, “Kalau begitu tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rizki, mematikanku kemudian menghidupkanku kembali.”

 

Lelaki itu berkata, “Benar wahai anakku, barang siapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupi.”

 

(Sumber: Asyabalunal ‘Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan)

                          

Narsis atau PeDe? April 10, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri. (HR. Athabrani dan Anas)

Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Bisa jadi, narsisme adalah salah satu bentuk kesombongan manusia. Narsis sendiri merupakan istilah yang datangnya dari seorang pangeran di suatu negara yang memang sangat mencintai dirinya sendiri. Di negara manakah itu? Entahlah…

Spencer A Rathus dan Jeffrey S. Nevid menyebutkan dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000) bahwa orang yang Narcissistic memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Hmm.. mungkin juga berharap untuk dikagumi orang lain. Biasanya mereka senang menunjukkan kelebihannya dan takut kalau-kalau kekurangannya diketahui orang lain, hmm…

Tapi, kalo yang seperti ini, biasanya terjadi para kaum Adam. Mereka biasanya secara psikologis ingin menunjukan kelebihannya di depan lawan jenisnya, atau ingin dianggap keren dan akhirnya, ingin dikagumi, hmm…

Salah satu bentuk kekaguman tersebut dapat berupa kekaguman yang berlebihan terhadap wajah sendiri atau dapat pula terhadap bagian tubuh tertentu seperti menyukai bentuk mata, kulit, hidung, bentuk bibir, betis dsb. Nah, kalo yang ini biasa terjadi sama perempuan yang memang pada umumnya terobsesi untuk menjadi cantik. Akibatnya, kalo mereka lagi jalan, mereka ga tenang karena takut ada yang ngeliriknya. Ya, wanita yang narsis, biasanya GeEr-an. Dan kelemahannya adalah pujian. Coba aja…

Sebenarnya mereka ga Pe De karena ga yakin akan diri mereka sendiri. Makanya, wanita tipe kayak gini, biasanya pengen banget dapat perhatian dari orang lain. Nah, kalo perempuan yang PeDe, mereka akan berjalan dengan santai, biasa-biasa saja. Tentu saja, perempuan jenis ini lebih matang dibanding yang tadi karena mereka sudah bersahabat dengan dirinya sendiri dan merasa nyaman dengan dirinya dimana pun serta tidak cenderung untuk mencari perhatian.

Barang siapa membanggakan dirinya sendiri dan berjalan dengan angkuh maka dia akan menghadap Allah dan Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)

Tanda- tanda narsis antara lain :

Merasa dirinya sangat penting dan ingin dikenal oleh orang lain merasa diri unik dan istimewa, suka dipuji dan jika perlu memuji diri sendiri, lalu kecanduan difoto atau di shooting. Mungkin juga foto-foto yang pernah ditampilkannya ke publik adalah hasil seleksi dari ribuan fotonya, hmm…

Ciri selanjutnya adalah suka berlama lama di depan cermin. Seseorang yang narsistik sering tanpa sadar juga memiliki keinginan untuk “memamerkannya” ke-orang lain, tidak peduli apakah yang ingin didemonstrasikannya adalah bagian tubuh “pribadi”. Naudzubillah.. Kebutuhan untuk diperhatikan dapat pula menjadikan seseorang rentan terhadap kekurangan fisik. Ada yang merasa sangat tidak nyaman gara-gara jerawat “bandel”, ada yang merasa perlu dandan total, walaupun cuma mau ke pasar. Hehe.. segitunya ya..

Ada cerita juga nih, katanya yang biasa seperti ini adalah kaum wanita yang sangat sensitif sama yang namanya Ms Kaca ato Mr Cermin. Walah.. Coba deh perhatikan para wanita jika mereka sedang berjalan di area yang ada cermin atau kacanya! Ya 99 % dapat dipastikan, mereka akan melihat dirinya di kaca itu. Otomatis! Hmm…

Apakah narsis sama dengan “percaya diri” ?

Beda !

Seseorang yang narsis memposisikan dirinya sebagai objek, sementara seseorang yang percaya diri memposisikan dirinya sebagai subjek. Seorang yang percaya diri tidak terlalu risau dengan ataupun tanpa pujian orang lain karena kelebihan fisik yang dimiliki, dirasakan sebagai anugerah Tuhan yang selalu disyukuri. Seseorang yang percaya diri lebih fokus kepada “kompetensi diri” ketimbang penampilan fisik.

Bagaimana sih percaya diri itu?

Konsep bagus yang ada dalam bukunya Erbe Sentanu, Quantum of Ikhlas bahwa orang yang benar-benar percaya diri adalah mereka yang tidak lagi membedakan antara kerja dan doanya. Oleh karena dia benar-benar menghayati pemahaman bahwa saat dia berdoa sebenarnya dia juga sedang bekerja keras di dalam hatinya (inner work). Saat bekerja, sesungguhnya dia sedang khusyuk mendzikirkan doa melalui aktivitas bahasa tubuhnya (outer-work). Orang seperti inilah yang mengerti (baca: mempercayai) siapa dirinya. Dia juga mengerti (baca: mempercayai) hubungannya dengan sesama, dengan alamnya, dan dengan Tuhannya. Pada hakikatnya inilah sesungguhnya makna dari rasa percaya diri.

(Anonymous)

                   

Magisnya Komunikasi dalam Perkawinan April 8, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
1 comment so far
(Tulisan Kasandra Putranto di Harian Kedaulatan Rakyat 7 April 2008)
             
BUKAN sulap, bukan sihir, ini hanyalah sebuah kenyataan yang begitu ampuh  lebih dari segala macam rapalan. Ini hanya sebuah aktivitas sederhana yang  kita tahu, tapi sering diabaikan: Komunikasi.
            
Di zaman yang heboh ini, kita sering mendengar berita perceraian, ketidakharmonisan rumah tangga, perselingkuhan dan seterusnya. Bahkan, salah satu  prakiraan yang amat diminati di awal tahun adalah berapa orang yang bakal  cerai tahun ini dan siapa saja. Ngilu rasanya kalau tahu bahwa pada  kenyataannya, di Indonesia ada 200-ribuan (!) pasangan bercerai saban  tahun. Kebanyakan dari masalah perpecahan hubungan sakral perkawinan ini  sebenarnya bisa diatasi dengan berkomunikasi. Sayangnya, banyak orang  tidak melakukan seperti semestinya.
               
Banyak pasangan yang bercerai mengatakan ini sudah takdir. Seandainya  mereka ingat, Tuhan tidak pernah menyukai perceraian, karena itu sulitnya  rasanya meyakini bahwa Tuhan menggariskan perceraian pada nasib seseorang.  Bukankah yang baik datang dariNya, sedang hal buruk adalah hasil kerja  kita, manusia. Jadi kalau manusia yang memang memutuskan untuk menikah  dengan siapa, layaknya ia juga yang harus mempertahankan perikatan yang diikrarkan dengan nama Tuhan.
               
Masalahnya pada waktu timbul ketidakharmonisan hubungan istri-suami, salah  satu atau kedua pasangan sering meninggikan ego daripada memilih untuk berkomunikasi. Banyak orang sudah menentukan persyaratan lebih dulu dalam sebelum melakukan komunikasi, misalnya, “Saya mau ngomong kalau dia mau  mendengarkan”, “Saya mau menyelesaikan masalah, kalau dia juga mau”, “Kan tidak mungkin cuma saya yang mau mempertahankan perkawinan, dia juga  harus mau”, dan lain-lain.
            
Peran Istri Tradisional Versus Modern
Dalam pandangan yang populer di masyarakat, perempuan terbagi dua, perempuan tradisional dan perempuan modern. Dalam pengelompokan yang  tradisional, perempuan melakukan bakti sebagai istri, menjadi  pendamping, melayani kebutuhan suami, mengurus rumah tangga, melahirkan,  mengasuh dan mendidik anak, kalaupun bekerja, maka itu untuk menambah  penghasilan. Perempuan yang diklasifikasikan modern adalah perempuan yang  mandiri tidak bergantung kepada pria, memiliki pendapatan dan karir kerja  yang menjadikan dirinya punya status sendiri (bukan istri si-anu), meski  menikah, tapi tidak berarti dialah satu-satunya yang bertanggung jawab  untuk urusan rumah tangga, memiliki lingkungan pergaulan sendiri, dan  memiliki porsi yang sama dengan suami dalam mengambil keputusan.
             
Perempuan tradisional melakukan tugasnya sebagai istri karena hal tersebut  merupakan kewajiban yang harus dipenuhi tanpa syarat, sedangkan perempuan  modern bisa sangat berkeras menuntut perlakuan yang sama dari suaminya  sebagaimana perempuan tersebut sebagai istri. Bila perempuan tradisional  melakukannya sebagai sebuah kemuliaan dari pengabdian, maka perempuan  modern melakukan tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga merupakan  kesepakatan.
         
Akibatnya, pada saat terjadi ketidakharmonisan rumah tangga. Perempuan  tradisional akan merasa tertekan karena ia tidak bisa menjadi pribadi  merdeka sebagaimana ketika mereka belum menikah.  Pada perempuan modern  masalahnya adalah, ia seperti tidak mendapatkan respons yang diinginkan  dari suami atas tuntutan kesepakatan yang mereka buat sebelum menikah.
            
Kebuntuan komunikasi dialami oleh kedua klasifikasi perempuan tersebut  dalam hubungan istri-suami. Ini mengakibatkan masalah-masalah yang ada di  antara istri dan suami jadi berlarut-larut dan merambat ke hal lain, dan  menjadi bom waktu yang berujung pada perceraian.
           
Jadi sebenarnya kericuhan rumah tangga dialami oleh istri yang bergaya  perempuan tradisional, maupun perempuan modern. Pendekatan yang harus  dilakukanpun sebetulnya sama, yaitu komunikasi.
          
Merajut Benang Komunikasi
Kebanyakan pendapat mengatakan perempuan itu lebih menggunakan emosi,  sedangkan laki-laki banyak memakai logika. Perempuan punya dorongan untuk  menceritakan banyak hal, terutama emosinya, laki-laki tidak demikian  adanya. Laki-laki cenderung menyampaikan apa yang perlu dikatakan pada  waktu yang dia anggap tepat. Karena itu sering istri jadi kesal kepada  suami yang hanya menanggapi sekadarnya atas apa yang sang istri ceritakan.
Suami terlihat dingin dan tidak serius mendengarkan.
           
Jurang pemahaman dan emosi acapkali membuat sebuah percakapan sederhana  menjadi perdebatan sengit yang membawa masuk masalah lain ke dalam pembicaraan, sehingga berkepanjangan dan tidak menyelesaikan masalah.
Mirip dengan saluran antara perangkat komunikasi, jalur komunikasi  antarmanusia juga terdiri dari benang-benang komunikasi yang menghubungkan  dua individu atau lebih. Benang yang satu dengan benang yang lain harus  dirajut sehingga membentuk sebuah jalur komuni-kasi yang kukuh, di mana  individu-individu yang terkait dapat menyampaikan pesan pikiran dan  perasaan antara satu dengan yang lain.
             
Sapaan atau sambutan hangat di tiap kesempatan merupakan salah satu cara  merajut benang-benang komunikasi antara istri dan suami. Pernikahan yang  masih penuh romantisme selalu melakukan aktivitas seperti ini. Pada  pasangan yang sudah dibebani masalah-masalah keseharian, sering tatapan mesra, sapaan, dan percakapan ringan tidak dilakukan lagi karena dianggap  basa-basi yang kurang perlu. Padahal bertemu tiap hari tidak selalu  membuat istri dan suami memahami keadaan masing-masing. Istri dan suami   sering memiliki persepsi masing-masing terhadap pasangannya tanpa tahu  keadaan sebenarnya. Kondisi ini dapat menciptakan perbedaan yang makin  jauh seiring berjalannya waktu.  Mulailah muncul misunderstanding, lalu  meningkat menjadi bibit miscommunication.
Benang komunikasi sebetulnya bisa dirajut dengan cara-cara sederhana,  misalnya membuat kesempatan untuk minum teh bersama. Jangan melihat ini  sebagai kegiatan istri melayani suami, tapi lihatlah kesempatan ini  sebagai bentuk berkomunikasi, untuk berbagi cerita. Melayani itu sama  artinya dengan memahami kesukaan orang yang dilayani.
Ada nilai kebijakan  di situ dan sama sekali bukan sikap merendahkan diri. Inisiatif melayani  adalah sikap orang yang dewasa, matang, dan mampu mengatasi masalah.
               
Inisiatif menyediakan minuman teh untuk dinikmati bersama bukanlah sebuah  tindakan merendahkan diri atau mengalah. Inisiatif ini merupakan sikap  kedewasaan dalam membangun hubungan yang harmonis dalam rumah tangga.
              
Menyeduh teh dan menyajikan untuk kebersamaan bukanlah meladeni keinginan  pasangan, namun suatu cara berbagi (sharing), memahami lagi pribadi masing-masing (rediscovering each otherís personality), dan menghidupkan  kembali kemesraan istri-suami (revitalizing romance), kegiatan sederhana  namun berarti ini. Kesempatan duduk berdua tersebut dapat menjadi cara  untuk berbagi rasa dan pikiran antara istri dengan suami. Obrolan yang  diselingi dengan canda dan tawa dapat menjadi gerbang menuju pembicaraan  yang lebih serius tentang masalah rumah tangga. Pada kesempatan yang   berikutnya, bisa saja meminta suami membawa makanan kecil untuk teman  minum teh. Bahkan, mungkin di saat lain sang suami yang membuat teh untuk  berdua.
            
Perlu seorang perempuan dan seorang laki-laki untuk menikah, perlu istri  dan suami untuk menyatakan bercerai, tapi hanya perlu anda seorang untuk  menyeduh teh agar pernikahan menjadi harmonis.
         
(Istriku sayang, Alhamdulillah ya kita sama-sama punya hobby ngeteh bareng, meski sedikit beda, aku suka teh pahit panas, kamu sukanya teh nasgithel, tapi gpp yang penting tetep ngeteh bareng.., hmm..makasih ya udah dibuatin tehnya..)
            

Masalah Hanyalah Suatu Proses April 8, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Setiap manusia pasti pernah mengalami masalah dalam hidup ini. Apalagi saat di lingkungan kantor yang sarat akan berbagai masalah, mulai masalah beban kerja yang menumpuk, kompensasi yang tidak sesuai, beban kerja yang tidak merata, hingga masalah dengan atasan.

Berat atau ringannya setiap masalah sudah pasti membutuhkan penyelesaian dan sangat individual sifatnya. Tapi jika kita sikapi dengan bijak maka setiap masalah akan dianggap sebagai proses pendewasaan diri. Tapi bagi yang memiliki jiwa kerdil, maka masalah bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan dan selalu memikirkan masalah tersebut bukan mencari jalan keluarnya.

Yang terpenting saat kita memiliki suatu masalah adalah memikirkan cara yang paling tepat dalam menuntaskan masalah tersebut. Jangan pernah mendramatisir masalah kita dan menganggap bahwa masalah itu sangat berat untuk kita. Karena mendramatisir masalah bukan untuk terapi yang mampu menemukan jalan keluarnya tetapi hanya akan membuat anda semakin stres.

Mengeluh hanya akan membuat masalah menjadi semakin berat. Yang harus kita lakukan adalah berpikir secara jernih, posisikan masalah pada sudut pandang yang tepat. Apabila kita ingin mengungkapkan masalah, katakan fakta-fakta yang benar dan objektif.

Peringatkan diri kita sendiri bahwa jangan mendramatisir setiap kali akan membicarakan masalah pada rekan-rekan atau atasan kita. Pikirkan dampak akibat dramatisir tersebut, sudah pasti akan negatif. Karena lingkungan tidak menyukai dan tidak mempercayai hal-hal yang dramatik. Apalagi jika suatu saat, maka dramatisasi kita tidak terbukti.

Bagi kita yang berpotensi mendramatisir masalah perlu lebih waspada. Karena kondisi ini bisa berdampak buruk bagi perkembangan mental kita. Orang-orang dengan tipe ini akan selalu dibayangi rasa cemas, ketakutan dan pikiran negatif. Orang yang senang mendramatisir masalah sesungguhnya hanya menciptakan kesalahan diatas kesalahan.

Hal yang tidak kalah penting, jangan sekalipun menceritakan masalah kita dalam pikiran yang kalut. Karena kondisi yang emosionil dan tidak stabil membuat kita tidak objektif lagi dalam memandang setiap persoalan. Kondisi seperti ini akan membuat kita mengambil keputusan yang salah dan fatal. Seperti kita mengancam akan mengundurkan diri saat kita dihadapkan pada persoalan bahwa kenaikan gaji kita adalah yang paling kecil dibanding teman-teman yang lain. Biasanya ancaman tersebut bisa jadi hanya semacam ‘gertakan’ karena pikiran kita sedang buntu akibat merasa disepelekan dan diremehkan.

Banyak orang yang tidak berhasil menyelesaikan masalahnya karena selalu menutup mata dan sibuk mencari dukungan serta perlindungan. Saat tidak satupun orang yang memberi dukungan, kita akan menyalahkan masalah itu sendiri. Pikiran kita akan dihantui rasa penyesalan dan selalu menyalahkan diri sendiri. Jika hal ini terus ada dipikiran kita, maka kita akan merasa bahwa hidup ini tidak adil.

Apabila hal ini kita alami, hentikan pemikiran buruk ini. Karena sebenarnya setiap masalah merupakan proses dalam hidup yang terus berjalan. Selama kita berkutat pada penyesalan dan mengeluh masalah, kita melupakan hal tentang bagaimana mencari jalan keluarnya. Jadi jangan terpuruk dalam suatu masalah, bangkitlah dan susun rencana hidup kita selanjutnya. Tenangkan hati, agar kita bisa berpikir jernih untuk mencari penyelesaian masalah kita.

Sumber: ciptapangan.com