jump to navigation

Tulisan Di Atas Pasir July 23, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

(Tulisan Andrie Wongso di Pembelajar.Com)

Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda, dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara mereka. Salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah kata pun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir: “Hari ini temanku telah memukul aku !!!”

Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, ya …dasar-anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama. Saat lari berkejaran, karena tidak berhati-hati, tiba-tiba anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lubang perangkap yang dipakai menangkap binatang. “Aduh…. Tolong….Tolong!” ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lubang dan berseru, “Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu.” Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon. “Teman, aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan kulemparkan ke kamu. Tangkap dan ikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang.”

Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itu pun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Terima kasih, sobat!” Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu, “Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku.”

Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan, “Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?” Anak yang di pukul itu menjawab sabar, “Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak.”

”Tapi, ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat.”

Pembaca yang budiman,

”Hidup dengan memikul beban kebencian, kemarahan dan dendam, sungguh melelahkan. Apalagi bila orang yang kita benci itu tidak sengaja melakukan bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti hati kita, sungguh ketidakbahagiaan yang sia-sia.

Memang benar…. bila setiap kesalahan orang kepada kita, kita tuliskan di atas pasir, bahkan di udara, segera berlalu bersama tiupan angin, sehingga kita tidak perlu kehilangan setiap kesempatan untuk berbahagia.

Sebaliknya… tidak melupakan orang yang pernah menolong kita, seperti tulisan yang terukir di batu karang. Yang tidak akan pernah hilang untuk kita kenang selamanya.”

                                                                        

Advertisements

[Joke] Installing Your Husband… July 16, 2008

Posted by tintaungu in Riang.
add a comment

Dear Tech Support,
                                       
Last year I upgraded from Boyfriend 5.0 to Husband 1.0 and noticed a distinct slow down in overall system performance, particularly in the flower and jewelry applications, which operated flawlessly under Boyfriend 5.0

                                                                                            

In addition, Husband 1.0 uninstalled many other valuable programs, such as Romance 9.5 and Personal Attention 6.5 and then installed undesirable programs such as NBA 5.0, NFL 3.0 and Golf Clubs 4.1. Conversation 8.0 no longer runs, and Housecleaning 2.6 simply crashes the system. I’ve tried running Nagging 5.3 to fix these problems, but to no avail. What can I do?
                                                       
Signed,
Desperate
                                                                    
***
DEAR DESPERATE,
                                       
First keep in mind, Boyfriend 5.0 is an Entertainment Package, while Husband 1.0 is an Operating System.
                                                        
Please enter command: ithoughtyoulovedme.html and try to download Tears 6.2 and don’t forget to install the Guilt 3.0 update. If that application works as designed, Husband 1.0 should then automatically run the applications Jewelry 2.0 and Flowers 3.5. But remember, overuse of the above application can cause Husband 1.0 to default to Grumpy Silence 2.5, Happy Hour 7.0 or Beer 6.1. Please note that Beer 6.1 is a very bad program that will download the Snoring Loudly Beta.

                                                                     

Whatever you do, DO NOT install Mother-In-Law 1.0 (it runs a virus in the background that will eventually seize control of all your system resources). Also do not attempt to reinstall Boyfriend 5.0 program. These are unsupported applications and will crash Husband 1.0. In summary, Husband 1.0 is a great program, but it does have limited memory and cannot learn new applications quickly. You might consider buying additional software to improve memory and performance. We recommend Cooking 3.0 and Hot Lingerie 7.7.
                                        
Good Luck,
Tech Support

                                                               

Angon Wedhus July 15, 2008

Posted by tintaungu in Riang.
add a comment

Humor Suroboyoan dari ketawa.com:

 

Bunali pethuk Wonokairun lagi angon wedhus.
“Mbah, wadhuh wedhus sampeyan akeh yo ?” jare Bunali
“Yo lumayan ” jare si Mbah
“Pira kabehe, Mbah ?” takon Bunali maneh
“Sing putih opo sing ireng ?”
“Sing putih,
wis
“Selawe”
“Wik, cik akehe. Lha sing ireng?’
“Podho…” jare Wonokairun ambek ngarit suket.

Bunali takon maneh.
“Mangan sukete yo akeh pisan, Mbah..”
“Yo..”
“Pirang kilo mangane sakdino ?”
“Sing putih opo sing ireng ?”
”Sing ireng, wis”
“Yo kiro-kiro limang kiloan”
“Lha sing putih?”
“Podho . . .”

Bunali bingung, laopo lek ditakoni kok kudu mbedakno sing putih tah ireng, wong jawabane yo podho ae.

“Mbah, opoko lek tak takoni perkara wedhusmu, sampeyan mesti leren takon sing putih tah sing ireng barang. Padahal masiyo putih utawa ireng, jawabanmu podho terus. Sakjane ngono onok opo?”

“Ngene lho, sing putih iku wedhusku…”
“Lha sing ireng ?”
“Podho . . .”

                                                            

 

Eh.., Salah Tulis July 14, 2008

Posted by tintaungu in Riang, Rona.
add a comment

              

(Sumber: Anonymous)

                                     

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat July 13, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

(sebuah perenungan dari sebuah kisah nyata)

  

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

  

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

  

Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

  

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

  

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

  

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

  

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia  inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

  

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak…bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”.

  

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. “Anak2ku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..” sejenak kerongkongannya tersekat,… ”kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta, yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun, coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?”

 

”Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

  

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

 

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

  

“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai  saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”

 

(Cerita diatas saya copy dari sebuah milis, terimakasih untuk pengirimnya)

                                              

 

Cinta, Sumber Energi Motivasi July 10, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Didorong oleh rasa cinta, seorang Ibu termotivasi untuk kuat mengandung sang calon anak selama 9 bulan 10 hari. Didasari rasa cinta, seorang laki-laki bahkan sanggup termotivasi mengorbankan nyawa untuk sang dewi kekasih hati. Dilandasi rasa cinta tanah air, seorang prajurit termotivasi pergi ke medan pertempuran mengusir musuh negara. Dipupuk oleh rasa cinta pula, seorang anak sangat termotivasi untuk menyelesaikan gelar sarjana guna membahagiakan kedua orang tuanya.

Nah, pertanyaan yang sama mari kita ajukan kepada karyawan dalam kaitan dengan perusahaan. Dengan dasar apakah ia selalu termotivasi kerja dan memiliki sense of belonging pada perusahaan? Cinta jugakah sumber energinya? hmmm…

Sense of belonging karyawan terhadap perusahaan sering dirasakan menjadi problem para manager/leader perusahaan. Problem ini muncul manakala karyawan sudah memperlihatkan tanda-tanda tidak mencintai lagi perusahaan. Kerja ya sekedar kerja. Listrik sudah waktunya dipadamkan, tidak jua dipadamkan. Sampah dan kotoran dibiarkan berserakan tidak pada tempatnya. Air dibiarkan mengucur deras di wastafel toilet perusahaan. Menggunakan kendaraan operasional perusahaan seenaknya tanpa care merawat atau menjaga saat menggunakannya. Mengisi waktu-waktu produktif kerja untuk hal lainnya. Datang dan pulang teng go. Kerja seadanya, semampunya, sebisanya, pas bandrol.

Paradigmanya adalah toh ini semua khan milik perusahaan, bukan kepunyaan saya, jadi mengapa saya musthi peduli dan merasa memiliki?

Gejala menurunnya sense of belonging ini mungkin akarnya sama yaitu mulai menurunnya rasa cinta. Apapun objeknya, saat cinta mulai pudar, luntur, terkikis, maka rasa memiliki, merawat, peduli, menjaga “buah cinta” tersebut juga ikut tervibrasi.

Cinta melahirkan care, attention, respect yang munculnya otomatis tanpa perlu perintah. Inside to outside. Cinta adalah sumber energi motivasi manusia untuk bergerak, action. Nah bagaimana menumbuhkan dan memekarkan kembali bunga-bunga cinta berujud sense of belonging yang dapat menjadi sumber energi motivasi tersebut?

Mari kita belajar kembali arti cinta itu sendiri. Mari kita kenang saat-saat cinta pertama kita ‘dulu’ sedang mekar bersemi. Cukup bayangkan dan kenang saja cinta pertama tersebut (kalau di perusahaan, saat kita happy banget diterima kerja pertama kali dan refresh kembali komitmen awal kita di perusahaan ini).

Untuk mendapatkan cinta itu kembali di hati karyawan, mari organisasi perusahaan terus bagikan dan berikan “pupuk-pupuk cinta” itu ditebarkan di setiap taman-taman, ruangan-ruangan dan meja-meja kerja lingkungan perusahaan Anda. Pupuk-pupuk itu banyak macam dan jenisnya, saling perhatian, saling respect, saling mendengarkan keluhan, tak saling memaksakan kehendak, saling percaya, saling peduli kesulitan. Bukankah pupuk cinta tsb tak semata berujud uang?

Cinta yang ada adalah sumber energi motivasi itu pasti akan kembali bersemi, menghangatkan, menyejukkan setiap penghuni kantor Anda. Bukankah kehadiran cinta mewujud ke dalam senyuman, sapaan, kebahagiaan di sekitar Anda. Bila karyawan senantiasa mampu merasakan aliran-aliran cinta di lingkungan kerja, sense of belonging pasti dengan sendirinya tumbuh dengan akar kuat. Karena baginya perusahaan adalah hidupnya sendiri, perusahaan adalah tambatan cinta, tempat sumber cinta dan aliran cinta mewarnai hari-hari dalam hidupnya.

Cinta tidak menghadirkan kekeringan hubungan.

Kering pertanda kematian.

Tak ada kekeringan yang memberi kesuburan, bukan?

(Sumber: www.krisnandira.com)

                                              

My Bag & My Mind July 7, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

My Bag

Setiap hari, sebagian besar dari kita membawa tas kerja dalam perjalanan pergi dan pulang kantor. Bahkan bagi kaum wanita (ibu-ibu), kadang tas merupakan salah satu atribut penampilan yang penting. Pada waktu hari libur, cobalah kita bongkar semua isi tas kita. Ternyata sepertiga atau separuh dari isi tas itu adalah barang yang sudah tidak kita perlukan : struk ATM yang sudah buram, bungkus tissue, agenda atau buku yang jarang dibaca, sekumpulan uang logam, ballpoint yang sudah macet, kumpulan tagihan kartu kredit bulan-bulan lalu dsb dsb. Meskipun mungkin ringan, tetapi barang-barang yang tidak diperlukan itu terus menambah berat tas kita …sehingga kita harus membuang barang-barang tidak berguna yang membebani tas kita….

My Mind

Mirip dengan my bag di atas, pikiran kita ( tanpa kita sadari ) selama ini sering kita bebani dengan hal-hal yang tidak perlu juga : penyesalan masa lalu, rasa kecewa, kejengkelan dan iri kepada rekan kerja lain, sikap egois dan kurang kooperatif, perasaan tidak puas atas kondisi yang terjadi, snobisme, obsesi-obsesi yang kurang realistis, konflik keluarga dsb dsb.

Pikiran-pikiran yang tidak perlu itu akan terus membebani perjalanan hidup kita, sehingga dampaknya, wajah akan kelihatan kurang bersinar, suntuk / jutek, punggung terasa berat (karena pikiran berkorelasi dengan punggung), stress, hidup kurang nyaman dan yang paling parah adalah kita akan selalu membenci hal-hal yang tidak sesuai dengan kemauan kita, dsb.

Yang harus kita lakukan adalah sama dengan apa yang kita lakukan dengan my bag di atas, buanglah segala beban pikiran yang tidak ada manfaatnya itu.

Percayalah, hidup kita di hari berikutnya terasa jauuhh lebih nyaman… Makanan akan terasa lebih enak… Kita akan lebih jarang sakit… Bekerja menjadi lebih nyaman meskipun kita menghadapi rutinitas yang itu itu saja dan juga kita menghadapi orang-orang yang kadang membuat kita menjadi tidak betah untuk terus bekerja…

Ciptakan “POSITIF THINKING” disetiap pagi ketika kita bangun tidur, karena pikiran itu erat sekali kaitannya dengan fisik kita… Biarkan positif thingking itu bekerja di dalam diri kita hingga akhirnya, keindahan hari itu akan ditentukan oleh kita dan cara pandang kita dalam menghadapi & menyelesaikan setiap masalah…

(Sumber: Anonymous)

Everyday I Love You – by Boyzone July 2, 2008

Posted by tintaungu in Rindu.
1 comment so far

I don’t know, but I believe
That some things are meant to be
And that you’ll make a better me
Everyday I love you

I never thought that dreams came true
But you showed me that they do
You know that I learn something new
Everyday I love you

‘Cos I believe that destiny
Is out of our control (don’t you know that I do)
And you’ll never live until you love
With all your heart and soul.

It’s a touch when I feel bad
It’s a smile when I get mad
All the little things I am
Everyday I love you

Everyday I love you more
Everyday I love you

‘Cos I believe that destiny
Is out of our control (don’t you know that I do)
And you’ll never live until you love
With all your heart and soul

If I asked would you say yes?
Together we’re the very best
I know that I am truly blessed
Everyday I love you
And I’ll give you my best
Everyday I love you