jump to navigation

Berciuman dengan Mata Terpejam January 8, 2013

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

Kehidupan itu laksana air teh. Semakin rakus kita meminumnya,
semakin cepat pula kita sampai pada ampasnya.
—James M. Barrie

Salah satu kekuatan terbesar di dunia ini adalah Cinta. Apa yang tak mampu dilakukan oleh Cinta ketika kekuatan yang lain tak sanggup melakukannya? Apa yang tak mampu dilakukan oleh Cinta ketika segala yang lain menyerah dan kalah? Cinta bukan hanya sekadar kekuatan, ia pun keajaiban—sebuah mukjizat.

Cinta menjadikan seorang perempuan lemah rela menanggung penderitaan kehamilan selama berbulan-bulan untuk kemudian merasakan sakitnya melahirkan, dan perjuangan selama berbulan-bulan lagi dalam merawat dan membesarkan bayinya. Cintalah yang menjadikannya tersenyum setelah merasakan kesakitan, cintalah yang membuatnya mampu terjaga sepanjang malam hanya untuk memastikan buah hatinya terlelap tanpa gangguan. Cintalah yang mampu menjadikannya sosok tegar yang rela meninggalkan kenikmatan tidur karena mendengar bayinya menangis di tengah malam.

Cinta pula yang menjadikan seorang lelaki yang terbiasa hidup bebas dan tak terikat menjadi sosok yang tak kenal lelah. Cintalah yang menjadikan seorang lelaki rela bekerja keras siang malam, mengucurkan keringat, air mata bahkan darah, demi bisa menyaksikan anak-istrinya bahagia.

Cintalah yang menjadikan seorang lelaki bahkan sampai melupakan dirinya sendiri demi bisa menyaksikan keluarganya tersenyum. Cinta pulalah yang mampu menjadikan seorang lelaki siap menerjang apa pun ketika telinganya mendengar suara kecil yang memanggilnya, “Ayah…”

Apa yang lebih kuat dan lebih menakjubkan dibanding Cinta…?

Di dalam buku Love, Medicine and Miracles, Dr. Bernie Siegel bahkan membuktikan salah satu penelitiannya menyangkut cinta yang unik berikut ini:

Di sebuah kota kecil di Eropa, sejumlah besar suami yang pergi bekerja dengan menggunakan mobil dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah para suami yang selalu dicium istrinya saat akan berangkat kerja, dan kelompok kedua adalah para suami yang tidak pernah dicium istrinya saat akan berangkat kerja.

Setelah beberapa tahun semenjak penelitian itu pertama kali dilakukan, terbukti sesuatu yang amat mencengangkan. Para suami yang selalu dicium istrinya saat akan berangkat kerja lebih kecil kemungkinannya mengalami kecelakaan di jalan, sementara para suami yang tidak pernah dicium istrinya saat berangkat kerja lebih sering mengalami kecelakaan di jalan!

Tentu saja kita boleh meragukan hasil penelitian ini. Namun, betapa pun juga, ciuman, pelukan, dan belaian—secara langsung maupun tak langsung—memberikan pengaruh terhadap kualitas hubungan manusia.

Nah, omong-omong soal ciuman, terkadang saya bertanya-tanya sendiri—mengapa sih kaum perempuan biasanya memejamkan mata ketika berciuman?

Tentu saja kaum lelaki juga terkadang memejamkan mata saat berciuman, namun perempuan lebih sering—dan hampir bisa dipastikan. Ada lebih banyak perempuan yang memejamkan mata saat berciuman dari pada yang tidak. Pertanyaannya, mengapa?

Saya sudah mencoba menanyakan hal itu pada banyak perempuan, dan jawaban dari mereka semua bisa disimpulkan dalam kalimat yang luar biasa ini, “Perempuan memejamkan mata ketika berciuman, karena sadar sedalam-dalamnya bahwa keindahan di dalam jauh lebih meneduhkan dan mendamaikan dibanding keindahan di luar.”

Jadi, dalam hal berciuman, perempuan lebih mampu menghayatinya dibandingkan lelaki.

Tetapi, sebenarnya itu pulalah yang terjadi dalam kehidupan kita ini—kalau saja kita juga mau menghayatinya—bahwa keindahan di dalam lebih meneduhkan dan lebih mendamaikan dibanding ‘sekadar’ keindahan di luar.

Dewasa ini, kita hidup dalam sebuah dunia yang sedemikian maju dan amat kompetitif. Sebegitu kompleksnya, sampai-sampai kebanyakan manusia yang hidup di zaman sekarang mengalami sebuah kebingungan dan kepanikan batin. Mereka sudah tak bisa lagi berjalan dengan tenang dan damai, tapi terus-menerus berpacu dengan semrawut. Dan kemudian, di atas segala-galanya, manusia yang hidup dalam peradaban sekarang telah menjadikan uang—materi—di atas segala-galanya.

Ada jutaan orang yang hidup hari ini berpacu dengan waktu hanya untuk mengejar hal yang satu itu—uang, materi, kekayaan. Mereka berpikir bahwa dengan uang, mereka akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian hidup. Tetapi kebanyakan mereka lupa bahwa kebahagiaan dan kedamaian dimulai dari dalam—dari hati, dari batin, dari jiwa. Tanpa kebahagiaan dan kedamaian di dalam, uang sebanyak apa pun dan kekayaan sebesar apa pun tak akan sanggup menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian hidup.

Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa uang tidak penting. Yang ingin saya katakan adalah; bahwa sebanyak apa pun uang yang kita miliki, selamanya kita akan merasakan hidup yang kering tanpa kebahagiaan selama kita belum mampu menumbuhkan kebahagiaan di dalam hati terlebih dulu. Sebesar apa pun kekayaan yang kita miliki, selamanya kita akan hidup dalam kegersangan tanpa kedamaian selama belum mampu merasakan kedamaian di dalam batin.

Mengapa Marilyn Monroe lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri, bahkan ketika dia berada di puncak popularitasnya sebagai artis? Karena dia merasakan kekeringan batin di tengah-tengah gemerlapnya popularitas dan kekayaannya! Dia tidak kekurangan uang, tidak kekurangan pengagum dan pemuja, dia pun tidak kekurangan harta benda. Tetapi Marilyn Monroe lebih memilih bunuh diri, bahkan ketika dunia tengah berada dalam telapak tangannya.

Orang-orang yang lebih memfokuskan pandangannya keluar dan melupakan kesejatiannya di dalam, selamanya akan tetap merasakan kekeringan dan kegersangan meskipun dunia beserta isinya telah menjadi miliknya. Sebagaimana kita memejamkan mata saat berciuman, seharusnya begitu pulalah kita dalam menghayati kehidupan.

Jika kita bisa menghayati kebahagiaan saat tidak memiliki apa-apa, maka kebahagiaan itu akan tetap bersama kita ketika telah memiliki sesuatu. Tetapi jika kita menyangka kebahagiaan adalah jika telah memiliki sesuatu, maka selamanya kebahagiaan tak akan pernah menjadi milik kita.

Apabila kita mendasarkan kebahagiaan hidup pada hal-hal di luar diri kita, maka kebahagiaan hanya akan seperti bayang-bayang. Ia begitu tampak dalam pandangan mata, tetapi segera menjauh saat kita bergerak mendekatinya. Sebaliknya, jika kita mendasarkan kebahagiaan hidup di dalam batin kita, maka hidup pun akan seperti dasar samudera. Sebesar apa pun gejolak dan badai yang terjadi di permukaan, dasar samudera tetap hening dan selalu tenang.

Sebagaimana kita memejamkan mata saat berciuman, begitu pun seharusnya kita dalam memeluk kehidupan.

sumber: hoedamanis.com

Advertisements

Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono February 25, 2012

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Kisah Nyata Tentang Keajaiban Cinta February 11, 2012

Posted by tintaungu in Rindu.
5 comments

Kisah ini terjadi di Beijing China, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih. 

Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya. 

12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya “Apa yang terjadi dengamu, kau ada masalah?” 

Yi mei tersenyum semanis mungkin ”Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut…” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut. 

Sahabatnya tersenyum “Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah… daag“. Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, hatinya yang sakit. 

18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma, Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup, semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan “Mati“ dan semuanya memiliki alat bantu, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkannya. 

Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “Suntik Mati“ untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei. 

10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama. 

Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei “Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?… kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?”
 

“Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor?… Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu?… Aku tak pernah melupakan hal itu…“ 

“Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini?….” Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei. 

“Mei… kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa?… karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku“ 

“Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup, aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, dengarkan aku Mei … bangunlah…!!“ Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei “Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total. Aku percaya, bahkan kau tahu?.. aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan“ 

“Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat…!! kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu… aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei…“ 

“Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli… tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat“ 

Sahabat Yi mei berbisik ”Aku sayang kamu, aku mencintaimu” suaranya terdengar parau karena tangisan. Dan apa yang terjadi?…. Its amazing !! ”CINTA“ bisa menyembuhkan segalanya. 

7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, sungguh sebuah keajaiban !! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi. Dan sebuah mujizat lagi… masa koma lewat…. pada tgl 11 Des 1994. 

14 Des 1994 saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara, sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi. “Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik“ sahabatnya memeluk erat Yi Mei .

Yi Mei tersenyum “Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup“ “Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu” Lei memeluk Yi Mei “Aku sangat mencintaimu juga“. 

17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing. 

Apa hikmah dari kisah ini?  

(Unknown Author)

Aku Yang Tersakiti – by Judika February 8, 2012

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

pernahkah kau merasa jarak antara kita
kini semakin terasa setelah kau kenal dia
aku tiada percaya teganya kau putuskan
indahnya cinta kita yang tak ingin ku akhiri
kau pergi tinggalkanku

tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti
engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia

memang takkan mudah bagiku tuk lupakan segalanya
aku pergi untuk dia

tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti
engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
(walau tak bersama dia)

oh tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku
aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia

Setiaku – by ST12 January 31, 2012

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

haruskah aku berlari mengejar kamu
bilaku cinta padamu
seribu cara tuk buktikan kepadamu
agar kau yakin padaku

* ku kan berjanji
setiaku hanyalah dirimu
takkan terganti di hatiku
aku padamu

cintaku dan cintamu harus jadi satu
karena ku sayang padamu
oh tak pernah terlintas
tuk jauh dari kamu
cintaku jujur padamu
jujur padamu, ohhh

repeat *

kan ku buat dirimu yang paling indah
memanjakanmu merindukanmu ohh

repeat *

ku kan berjanji
setiaku hanyalah dirimu
takkan terganti di hatiku
aku untukmu

Kangen… September 10, 2011

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

“Apabila seorang suami memandang istrinya dengan kasih sayang & istrinya memandang dengan kasih sayang, maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari tangan keduanya.” (HR. Rafi’i)

Huma Di Atas Bukit – by God Bless August 1, 2011

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

Seribu rambutmu yang hitam terurai
Seribu cemara seolah menderai
Seribu duka nestapa di wajah nan ayu
Seribu luka yang nyeri di dalam dadaku

Disana kutemukan bukit yang terbuka
Seribu cemara halus mendesah
Sebatang sungai membelah huma yang cerah
Berdua kita bersama tinggal di dalamnya

Nampaknya tiada lagi yang diresahkan
Dan juga tak digelisahkan
Kecuali dihayati
Secara syahdu bersama
Selamanya bersama
Selamanya…

Pasanganku Tetap Yang Terbaik May 13, 2011

Posted by tintaungu in Rindu.
1 comment so far

Ada note bagus dari kembanganggrek.com, berikut:

Pukul 4.05, alert di hpku membangunkan. Ia ikut bangun. Padahal, aku tahu baru pukul 23.30, ia bisa tidur setelah berjibaku dengan kerjanya, kerja rumah tangga, urusan dua anakku, dan mengurusi aku sebagai suami. Belum lagi, pukul 01.15 terbangun untuk sebuah interupsi.

Ups, rupanya ia lupa menyetrika baju kantorku. Aku mandi, shalat lail dan shalat subuh. ia selesai pula menyelesaikan itu. Plus, satu stel pakaian kerjaku telah siap

Aku siap berangkat. Ah, ada yang tertinggal rupanya. Aku lupa memandangi wajahnya pagi ini. “Nda, kamu cantik sekali hari ini,” kataku memuji.

Ia tersenyum. “Bang tebak sudah berapa lama kita menikah?” Aku tergagap sebentar. Melongo. Lho, koq nanya itu. hatiku membatin. Aku berhenti sebentar dan menghitung sudah berapa lama kami bersama. Karena, perasaanku baru kemarin aku datang ke rumahnya bersama ust. Bambang untuk meminangnya.”Lho, baru kemarin aku datang untuk meminta kamu jadi istriku dan aku nyatakan ‘aku terima nikahnya Herlinda Novita Rahayu binti Didi Sugardhi’ dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai.” Kataku cuek sembari mengaduk kopi hangat rasa cinta dan perhatian darinya.

Ia tertawa. Wuih, manis sekali. Mungkin, bila kopi yang aku sruput tak perlu gula. Cukuplah pandangi wajahnya. “Kita sudah delapan tahun Bang.” Katanya memberikan tas kerjaku.

“Aku berangkat yah, assalamualaikum,” kataku bergeming dari kalimat terakhir yang ia ajukan.

Aku buru-buru. “Hati-hati yah dijalan.” Sejatinya, aku ingin ngobrol terus. sayang, KRL tak bisa menunggu dan pukul 7.00 aku harus sudah stand by di ruang studio sebuah stasiun radio di Jakarta.

Aku di jalan bersama sejumlah perasaan. Ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar kata Dewa, separuh nafasku hilang saat kau tidak bersamaku. kembali wajahnya menguntit seperti hantu. Hm, cantiknya istriku. Sayang, waktu tidak berpihak kepadaku untuk lebih lama menikmatinya.

Sekilas, menyelinap dedaunan kehidupan delapan tahun lalu. Ketika tarbiyah menyentuh dan menanamkan ke hati sebuah tekad untuk menyempurnakan Dien. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Bahwa rezeki akan datang walau tak selembar pun kerja kugeluti saat itu. Bahwa tak masalah menerapkan prinsip 3K (Kuliah, Kerja, Kawin).

Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana yang saat itu sedang kukejar. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.

Dan, ternyata benar. Kuliahnya dan kuliahku bernasib serupa. Berantakan. Waktuku habis tersita untuk mengais lembar demi lembar rezeki yang halal. Sementara ia harus merelakan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri untuk si Abang, anakku.

Kehidupan harus terus berjalan. Kutarik segepok udara untuk mengisi paru-paruku. Kurasakan syukur mendalam. Walau tanpa kerja dan orang tua mapan, ‘kapal’ku terus berlabuh. Bahkan, kini sudah mengarung lebih stabil dibanding dua dan tiga tahun pertama.

Ternyata, memang benar Allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku.

Namun, aku tahu wajah cantik istri ku mungkin akan memudar dengan segala kesibukan, mempersiapkan makanan untuk si Abang dan Ade yang mau berangkat sekolah, mempersiapkan tugas-tugas untuk pekerjaanya, belum lagi mengurusi tetek bengek rumah tangga. Kelelahan seolah menggeser kecantikan dan kesegarannya. Untunglah, saat aku pulang, ia bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan.

Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu. Namun, doa dan ridhaku selalu bersamamu.

Sayangku,kumohon dekat di sini, temani jasadku yang belum mati (DDG)

Lihatlah kekurangan sebelum memutuskan menjadi pasangan, lihatlah kelebihan dan kebaikan sebelum memutuskan perpisahan…

Semoga Bermanfaat….

                                                                                      .

Mencintaimu February 12, 2011

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

..mencintaimu seperti mencintai angin,

kadangkala tak perlu lagi kata-kata,

karna perasaan telah menerjemahkan segalanya..

                                                                        .

Cinta Sejati Tidak Perlu Alasan… July 27, 2010

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment
I LOVE YOU BECAUSE I NEED YOU

Apa sih yang membuat seseorang jatuh cinta? Apakah karena dia kaya, sehingga semua kebutuhan kita terpenuhi? Apakah karena dia adalah seseorang yang humoris, lucu, dan mau mendengar semua keluh kesah kita? Tetapi bagaimana kalau dia ternyata juga seorang miskin dan belum mapan? Ehmmm….., bagaimana kalau kita menyayangi seseorang dalam suatu paket yang sempurna, ya minimal hampir sempurna lah, yaitu mapan, humoris, lucu, baik hati, jujur, seiman, dsb?


Boleh saja kita berangan – angan untuk mendapatkan suatu paket berupa Mr./Mrs. Perfect seperti itu. Tetapi yang mendasari cinta kita di sini adalah “ I Love You because I Need You “. Bisa dibilang ini adalah cinta yang tidak tulus, bahkan bisa dibilang matre.

Dengan prinsip ini kita mencintainya oleh karena kita membutuhkanya, untuk memenuhi segala kebutuhan kita, untuk memberikan rasa aman dan tenang, humoris, mau mendengarkan semua kesusahan dan permasalahan kita atau karena dia cantik atau gagah. Nah suatu saat akan ada saat saat dia jadi gagal, tidak gagah lagi, tidak lucu lagi, jadi emosional, tidak seksi lagi, lalu …. apakah kita akan tetap mencintainya? Teman-teman, jangan sampai fokus kita mencintai seseorang oleh karena kelebihan yang dia miliki, karena itu semua tidak abadi.

I LOVE YOU BECAUSE YOU LOVE ME

Seringkali seseorang mau mencintai seseorang ( atau mungkin berusaha mencintai ) oleh karena orang itu mencintai kita. Dengan harapan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, seiring dengan kebersamaan yang akan mereka lalui kelak. Apakah ini benar ? Beberapa terbukti benar, tetapi banyak yang gagal.

I LOVE YOU BECAUSE I LOVE YOU

Love doesn’t need a reason. Cinta yang sejati tidak membutuhkan alasan. Aku mencintaimu karena…. ya karena aku mencintaimu, tidak ada alasan lain. Tidak peduli apakah kamu humoris/ pendiam, rendah hati/ judes, pandai/ biasa saja, dan kaya/ miskin.

Kesimpulan apa yang dapat kita ambil dari kisah singkat ini? Mencintai seseorang begitu saja???
Pertama kali kita mengenal dan mulai mencintai seseorang tentu saja akan adanya ketertarikan yang sulit untuk dijelaskan, tetapi pada dasarnya oleh karena adanya ketertarikan secara fisik/ penampilan luar. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri. Kemudian saat kita mulai dekat (dalam artian mulai berpacaran) kita mulai saling introspeksi diri, mulai saling mengenal kelebihan dan kekurangan kita masing masing. Pada saat ini, banyak orang mulai terikat dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kita, seperti yang sudah disebutkan di atas. Sementara yang lain jadi saling menjauh, ketika mengetahui banyak sekali keburukan dari pasangan kita.

Apakah hal ini salah?? Tidak sepenuhnya juga, siapa pula yang mau berpacaran dengan pemalas yang tidak mau bekerja keras, atau mungkin dengan seorang yang pemarah?

Tapi ingat…. tidak ada yang abadi. Mungkin saja seorang yang pemarah dalam hati kecilnya adalah seorang yang baik hati, hanya saja dia kurang bisa mengatur emosinya. Nah, dengan pendekatan yang baik dan telaten, suatu saat pasti akan ada perubahan. Bisa jadi pula seseorang yang kelihatan pemalas, sebenarnya hanya kurang mampu mengatur waktunya dengan baik. Terus, siapa yang bersedia dan menemaninya untuk melakukan pendekatan dan menikmati perubahannya ? Jawabannya adalah orang yang bersedia untuk mencintainya oleh karena dia mencintainya, bukan oleh karena alasan lainnya.

Oleh sebab itu, janganlah kita mencintai seseorang akan segala kebaikan yang dia miliki. Cintailah seseorang karena kau mencintainya….

 
(Tulisan Januar Wijaya di Andriewongso.com)
                                                                                     .