jump to navigation

Kartu Halo Nelpon Gratis March 29, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

telkomsel.jpg

“Pelanggan kartu HALO yth, pada hari Jumat 28/03/08 Anda mendapatkan gratis 15 menit percakapan ke sesama pelanggan Telkomsel. Nantikan kejutan berikutnya.”

Begitu bunyi SMS yang masuk ke hape saya kemarin lusa, dan itu merupakan SMS keempat yang saya terima. Rata-rata menawarkan 15 menit gratis nelpon.

Waktu pertama kali saya menerima SMS itu, saya nyoba aja nelpon. Sehabis nelpon, saya cek ke *887# dan *888#, ternyata masuk tagihan. Hmm..???

Selanjutnya, SMS ini gak pernah saya gubris, sudah kadhung kecewa…

Eh ternyata, setelah saya coba konfirmasi ke CS-nya TSEL dibilang kalo nanti akan dikurangkan secara otomatis saat tagihan bulan itu datang.

Blm tau, mbak CS-nya bener ato gak, saya mau nunggu tagihan bulan ini datang, baru kalo bener dikurangkan ya saya akan pakai promo itu. Dan, sekali lagi, jika memang bener (karena setahu saya jarang provider lain memberikan promo seperti ini pada pelanggan pascabayarnya), makasih ya Telkomsel.

                       

Advertisements

Sempurna – by Gita Gutawa March 27, 2008

Posted by tintaungu in Rona.
1 comment so far

jejak2.jpg

Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujimu

Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

*
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Reff:
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

Back to *

                    

Masalah Gaji… March 20, 2008

Posted by tintaungu in Riang.
add a comment
Hmm, selamat ya.. yang gajinya baru saja naik, semoga cukup mampu bersaing dengan laju inflasi tahun ini, tetapi bagaimanapun tetap ‘wajib disyukuri’. Ada sekedar humor kecil tentang ‘gaji’..
                    
Saat ‘ngrumpi’ di luar tugas antara orang Indonesia dan orang Eropa saling menanya perihal penghasilan masing-masing. “Berapa gaji anda dan untuk apa saja uang sejumlah itu?,” tanya orang Indonesia mengawali pembicaraan.
                
Orang Eropa menjawab, “Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat tinggal, 1.000 Euro untuk makan, 500 Euro untuk hiburan.”
                    
”Lalu sisa 500 Euro untuk apa?” tanya orang Indonesia. Orang Eropa menjawab secara ketus, “Oh … itu urusan saya, Anda tidak perlu bertanya!”
                   
Kemudian orang Eropa balik bertanya, “Kalau penghasilan anda?”
                      
“Gaji saya Rp950 ribu, Rp450 ribu untuk tempat tinggal, Rp350 ribu untuk makan, Rp250 ribu untuk transport, Rp200 ribu untuk sekolah anak, Rp200 ribu, bayar cicilan pinjaman, … Rp100 ribu untuk….”.
                 
Saat orang Indonesia ‘nrocos’ menjelaskan, orang Eropa menyetop penjelasan itu dan langsung bertanya. “Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji anda. Sisanya dari mana?,” kata orang Eropa itu keheranan.
                     
Kemudian, orang Indonesia itu menjawab dengan enteng, “Begini Mister, uang yang kurang, itu urusan saya, anda tidak berhak bertanya-tanya.”
                                            

Ada Pemimpin Tetapi Tak Ada Pimpinan March 20, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment
Topik di atas kedengarannya aneh. Tetapi kenyataannya bisa terjadi. Artinya ada manajer tetapi tidak mampu memimpin subordinasinya. Dia tidak mampu menempatkan dirinya sebagai seorang pimpinan sekaligus menjadi seorang pemimpin yang andal. Dengan kata lain seorang pimpinan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Yang diteladani atau diikuti oleh bawahannya. Nah, apa jadinya kalau suatu unit, dalam suatu tim kerja, dan pada tingkat manajemen dalam organisasi tidak memiliki pemimpin dalam artian yang sebenarnya? Hasil buruk pasti tak dapat dielakkan.
                   
Berikut pendapat John C.Maxwell yang disarikan dari bukunya 360 degree Leader. Menurutnya ada beberapa akibat kalau suatu organisasi, pada tiap tingkatan, tak ada pemimpin, yaitu:
                   
(1). Kehilangan visi. Jika suatu tim kerja mulai bekerja dengan visi tertentu namun tanpa seorang pemimpin,hal ini akan menyulitkan. Mengapa? Karena visi menjadi bolong sana bolong sini. Dan tanpa seorang pemimpin, visi akan menimbulkan ketidak-teraturan dan tim bakal goyah hingga kehilangan arah. Sebaliknya jika sebuah tim memiliki pemimpin tetapi tanpa visi, bisa jadi tidak masalah karena akhirnya mereka akan membuatnya. Pemimpin seperti itu disebut visioner. Pemimpin mengarahkan kerja tim sesuai dengan visi tim.
                   
(2). Keputusan-keputusan yang tertunda. Tidak semua pengambil keputusan yang baik adalah pemimpin. Namun semua pemimpin yang baik adalah pengambil keputusan. Kalau sesuatu mendorong seorang pemimpin untuk membuat keputusan dan ternyata belum dilakukannya maka berarti ada penundaan. Lalu orang lain membantunya untuk membuat keputusan yang lebih cepat.
                     
(3). Beberapa agenda menumpuk. Ketika satu tim berkumpul dan tidak seorang pun diketahui mana yang menjadi pemimpin maka semua individu mulai menjalankan agenda mereka masing-masing. Dan tentunya tanpa ada arahan dan komando dari seseorang. Agenda akhirnya menumpuk. Ketika mereka akan menyatukan suara dan pekerjaannya maka ketika itu pula mereka membutuhkan seorang pemimpin.
                    
(4). Konflik meluas. Salah satu peran terpenting seorang pemimpin adalah resolusi konflik. Ketidak-beradaan kepemimpinan menyebabkan konflik semakin meluas dan merusak. Sering konflik mendorong seorang pemimpin untuk melangkah dan turun tangan. Lalu membawa para individu yang berkonflik untuk duduk dalam satu meja menyelesaikan konflik.
                        
(5). Moral menurun. Napoleon pernah berkata “Leaders are dealers in hope”. Ketika para pemimpin sedang tidak ada, para pengikutnya kerap kehilangan harapan, dan moral mereka jatuh. Mengapa? Karena moral dapat didefinisikan sebagai “faith in the leader at top”.
                  
(6). Kinerja menurun. Mutu utama dari seorang pemimpin adalah kemampuan membuat sesuatu menjadi kenyataan. Para pemimpin seharusnya kreatif mendapatkan cara-cara menolong orang lain agar produktif. Bagaimana seorang pemimpin patut menciptakan tantangan-tantangan , melatih, dan mendorong atau memberi insentif agar para individu mampu bekerja dengan baik.
                
Uraian di atas menggambarkan keadaan bahwa organisasi tanpa adanya pemimpin akan sia-sia.Dengan kata lain kehadiran seorang pemimpin pada semua tingkatan organisasi adalah sangat penting. Keberhasila n suatu organisasi merupakan fungsi dari kepemimpinan yang andal.
            
(Sumber: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com)
                                                 

Menggapai Cinta Ilahi March 20, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
1 comment so far

(Sumber: Di Bawah Naungan Cinta. Abdul Hadi Hasan Wahbi. Pustaka Azzam)

Cinta adalah suatu hal yang kebanyakan manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Cinta adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa. Mendapatkan cinta kasih dari makhluk adalah menyenangkan, apalagi jika cinta itu datang dari Sang Pencipta.

Cinta Allah kepada hamba-Nya merupakan perkara yang luar biasa dan besar, karunia yang melimpah dan tiada bisa diketahui nilainya, kecuali oleh orang yang telah  mencapai ma’rifat akan Allah.

Jika seorang hamba mengetahui begitu luar biasanya arti cinta Allah kepada hamba-Nya, pastilah ia akan segera mencari jalan untuk menggapai cinta agung tersebut.

Inilah tiga hal di antara beberapa hal yang dapat ditempuh seorang hamba untuk mendapatkan cinta dari Allah.

Tadabbur terhadap Al-Quran

Salah satu amalan yang sangat besar nilainya untuk mendapatkan cinta dari Allah adalah membaca Al-Quran sambil merenungkan dan memahami makna serta maksudnya.

Allah berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang di dalamnya penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya mendapatkan pelajaran bagi orang-orang  yang mau menggunakan akalnya.” (Shaad: 19)

Amalan ini mempunyai tujuan yang agung dan sangat penting. Tujuan dari tadabbur Al-Quran adalah agar hati seorang hamba senantiasa disibukkan dengan merenungi arti dari kalimat yang dibaca, dan dengan indra yang dimiliki, ia menjawab setiap ayat yang dibaca. Pada setiap ayat yang sesuai, ia berdoa, memohon ampunan, rahmat, serta memohon perlindungan dari siksa pedih di akhirat kelak.

Tiada suatu amalan yang lebih bermanfaat daripada membaca Al-Quran dengan tadabbur dan tafakkur. Karena yang demikian ini telah mencakup seluruh aktivitas mendekatkan diri kepada Allah. Amalan ini mampu melahirkan cinta, rasa takut dan pengharapan, serta seluruh hal yang mengakibatkan hidupnya hati. Seandainya orang-orang mengetahui manfaat yang terkandung di dalam amalan ini, maka pastilah mereka akan terus-menerus membaca Al-Quran dengan tadabbur dan melupakan aktivitas yang lain.

Membaca satu ayat dengan tadabbur dan memahami maknanya adalah lebih baik, jika dibandingkan dengan mengkhatamkan Al-Quran tanpa memahami maknanya. Yang pertama lebih bermanfaat bagi hati, lebih efektif dalam menggapai keimanan dan mereguk manisnya Al-Quran. Inilah amalan rutin  para ulama salaf.

Amalan Fardhu kemudian Sunnah

Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah yang fardhu merupakan jalan pula untuk mendapatkan cinta dari Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang untuknya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku fardhukan kepada mereka. Dan  hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintai mereka…”(Riwayat Al-Bukhari)

Ibnu Taimiyah berkata bahwa wali Allah yang benar-benar wali adalah mereka yang beriman dan bertaqwa. Sebagaimana firman Allah,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Yunus: 62-63)

Hadits di atas mengandung kesimpulan bahwa yang menyebabkan didapatinya cinta Allah itu karena melaksanakan dua perkara. Pertama, melaksanakan segala yang telah difardhukan oleh-Nya. Sedangkan kedua, mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengamalkan ajaran-ajaran yang telah disunnahkan oleh Rasul-Nya. Allah juga mengabarkan bahwa melaksanakan amalan fardhu itu adalah lebih Dia cintai.

Hamba yang dicintai Allah itu senantiasa memperbanyak amalan-amalan sunnah, sehingga derajatnya meningkat menjadi kekasih Allah. Jika hamba tersebut telah menjadi kekasih Allah, maka kecintaan Allah kepadanya mengakibatkan lahirnya cinta baru kepadanya yang lebih besar dari cinta yang pertama.

Dzikir

Cara lain untuk menggapai cinta Allah adalah dengan terus-menerus berdzikir kepada-Nya dalam berbagai keadaan. Ibnu Rajab dalam Ikhtiyarul Ula mengatakan bahwa amalan yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada kecintaan Allah, yang sekaligus merupakan tanda-tanda bagi hamba yang mencintai-Nya adalah memperbanyak dzikir dengan hati maupun lisan.

Allah berfirman,

“Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (Al-Jumuah: 10)

Di dalam Al-Quran, Allah banyak menyebutkan dzikir sebagai penyerta amal-amal salih, misalnya salat, puasa, salat Jumat, haji, dan jihad. Dzikir kepada Allah ada beberapa macam, di antaranya adalah mengingat serta memuji Allah dengan menggunakan nama-Nya serta sifat-sifat mulia lainnya yang melekat pada-Nya, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan tamjid, kemudian juga mengingat Allah dengan menyebutkan hukum, perintah, serta berbagai larangan-Nya.

Tiga amal salih di atas merupakan amal-amal agung yang ampuh untuk meraih cinta dari-Nya. Walaupun tampak ringan, namun tidak mudah untuk dilakukan kecuali bagi orang yang Allah mudahkan. Sebaik-baik amal salih adalah yang kontinyu, walaupun terasa sedikit. Dan hendaknya begitulah tiga amal ini dilaksanakan, agar kita senantiasa mendapatkan cinta dari Allah.

                              

Enterobacter-sakazakii yang Diributkan itu… March 15, 2008

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Informasi yang mungkin berguna bagi kita tentang Enterobacter sakazakii yang tengah diributkan minggu-minggu ini, dan semoga sedikit menjawab pertanyaan Dik Tutik (istriku tercinta) yang masih ragu tiap mau beli susu formula. Info diambil dari wikipedia indonesia dan dari penjelasan BPPOM.

Enterobacter sakazakii berkerabat dekat dengan Salmonella dalam keluarga Enterobacteriaceae , Gram negatif, oksidasi negatif, anaerob fakultatif, batang, tidak berspora dan akan mati dalam proses Pasteurisasi, motile (bergerak aktif), memfermentasi glukosa.

Enterobacter sakazakii dapat kita temukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, cereal, dan pasta), lingkungan berair, sediment tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk. Serta pernah ditemukan pada beberapa jenis serangga, tikus, rumah sakit, dan organ serta cairan dari makhluk hidup.

Faktor yang mendukung pertumbuhan E. sakazakii yaitu: Nutrisi (ceceran powder, Carbon, Nitrogen, Sulfur, Fosfor, Vitamin, dan Trace element), Air (udara lembab), Oksigen (udara), Waktu untuk berkembang biak, Suhu yang sesuai. Susu Infant Milk formula (untuk 0-6 bulan) merupakan media yang potensial bagi infeksi E. sakazakii pada bayi, terutama bagi:

1. Bayi yang baru lahir sampai usia 28 hari.
2. Bayi premature
3. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
4. Bayi dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh

E. sakazakii sangat berbahaya bagi bayi pada kondisi diatas, karena dapat menyebabkan antara lain Meningitis (radang selaput otak), Necrotizing Enteroclitis (radang usus), Sepsis, Bacteremia (peningkatan jumlah bacteri dalam darah), Brain cyst (kista otak). Mikroorganisme yang menghasilkan koloni-koloni kuning pada TSA (Tryptone Soya Agar), menghasilkan positif α-glicosidase, reaksi Tween 80 esterase dan juga berbanding lurus dengan identifikasi dengan API 32E (profil biokimia dari E. sakazakii hampir serupa dengan E. cloacae kecuali memproduksi pigmen kuning, aktivitas α-glicosidase dan aktivitas Tween 80 esterase, E. sakazakii disebut sebagai E. cloacae yang berpigmen kuning.

***

Penjelasan BPPOM tentang Enterobacter sakazakii pada Susu Formula (26 Pebruari 2008) :

Sehubungan dengan adanya pemberitaan di media cetak dan elektronik serta pertanyaan kepada Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Badan POM mengenai Enterobacter sakazakii, dengan ini disampaikan penjelasan sebagai berikut:

1.       Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram-negatif yang tahan panas dan tidak membentuk spora.

2.       Secara klinis cemaran Enterobacter sakazakii menimbulkan diare yang bila tidak diobati dapat menimbulkan dehidrasi yang dapat berakibat fatal.

3.       Tahun 2005 World Health Assembly (WHA) menginformasikan kepada negara-negara anggota mengenai adanya kemungkinan cemaran mikroba Enterobacter sakazakii pada susu formula.

4.       Pada tahun 2005 WHA mengeluarkan resolusi agar World Health Organization(WHO) dan Food and Agriculture Organization (FAO) menyiapkan pedoman, pesan edukasi dan pelabelan produk tentang penyiapan, penyimpanan dan penanganan susu formula.

5.       Badan POM melakukan pengawasan susu formula melalui premarket evaluation sebelum pemberian izin edar dan post market control setelah produk beredar.

6.       Pemeriksaan cemaran mikroba merupakan bagian dari pemeriksaan rutin Badan POM terhadap produk pangan (termasuk susu formula) disamping cemaran jamur, logam berat dan lain-lain.

7.       Hasil pemeriksaan cemaran tidak dipublikasikan sebagaimana Prosedur Tetap (Protap) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan negara lainnya.

8.       Tindak lanjut dilakukan dengan memanggil produsen untuk menarik produk dari peredaran untuk kemudian dimusnahkan. Produk tersebut baru boleh beredar kembali setelah dilakukan pemeriksaan dengan hasil memenuhi syarat.

9.       Pemerintah sangat memperhatikan kemungkinan pencemaran mikroba dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Air Susu Ibu (ASI), agar pada usia 0-6 bulan bayi hanya diberi ASI.

10.    Pada keadaan tertentu dibutuhkan susu formula agar penyiapannya dilakukan secara higienis termasuk penyiapan botol, kebersihan dot, dan air yang digunakan serta kebersihan penyaji.

                                                   

Gadis Kecil dan Kotak Emas March 15, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Di sebuah keluarga miskin, seorang ayah tampak kesal pada anak perempuannya yang berusia tiga tahun. Anak perempuannya baru saja menghabiskan uang untuk membeli kertas kado emas untuk membungkus sekotak kado.

Keesokan harinya, anak perempuan itu memberikan kado itu sebagai hadiah ulang tahun pada sang ayah.

“Ini untuk ayah,” kata anak gadis itu.

Sang ayah tak jadi marah. Namun ketika ia membuka kotak dan mendapatkan isinya kosong, meledaklah kemarahannya.

“Tak tahukah kau, kalau kau menghadiahi kado pada seseorang, kau harus memberi sebuah barang dalam kotak ini!”

Anak perempuan kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata terisak-isak, “Oh ayah, sesungguhnya aku telah meletakkan sesuatu ke dalam kotak itu.”

“Apa yang kau letakkan ke dalam kotak ini? Bukankah kau lihat kotak ini kosong?” bentak ayahnya.

“Oh ayah, sungguh aku telah meletakkan hampir ribuan ciuman untuk ayah ke dalam kotak itu,” bisik anak perempuan itu.

Sang ayah terperangah mendengar jawaban anak perempuan kecilnya. Ia lalu memeluk erat-erat anak perempuannya dan meminta maaf.

Konon, orang-orang menceritakan bahwa, pria itu selalu meletakkan kotak kado itu di pinggir tempat tidurnya sampai akhir hayat. Kapan pun ia mengalami kekecewaan, marah atau beban yang berat, ia membayangkan ada ribuan ciuman dalam kotak itu yang mengingatkan cinta anak perempuannya.

Dan sesungguhnya kita telah menerima sebuah kotak emas penuh berisi cinta tanpa pamrih dari orang tua, istri/suami, anak, pasangan, teman dan sahabat kita. Tak ada yang lebih indah dan berharga dalam hidup ini selain cinta.

(Sumber: Ana Lucia, A Little Girl and The Golden Box)

                

Salah Paham March 14, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Di sebuah gedung pertemuan, seorang pejabat senior sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Usai rangkaian acara hiburan yang memukau seluruh hadirin, Sang Pejabat mendentingkan gelas sebagai tanda mohon perhatian hadirin, sambil menunjukkan sebuah nampan berisikan seekon ikan emas yang telah dimasak, ia berkata,

“Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal, meskipun dimasak oleh koki terkenal dan diletakkan di atas nampan indah yang mahal. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi.”

Seluruh hadirin khidmat menyimak prosesi di mana Sang Pejabat mengambil piring, lalu memotong ikan itu menjadi tiga bagian : kepala, badan dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis Sang Istri. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang awalnya ikut tertawa bahagia mendadak terdiam dan menunggu apa gerangan yang akan terjadi. Sang Pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya,

“Mengapa engkau menangis, isteriku?”

Lama terdiam.

Hening.

Setelah tangisannya reda, dengan masih terisak-isak Sang Isteri menjelaskan,

“Suamiku … sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu pula, aku telah dengan melayanimu dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama.”

Dia terdiam sejenak, berusaha keras menahan tangis,

“Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai.”

Sang Pejabat terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis, ia berkata kepada isterinya,

“Isteriku yang tercinta … 50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”

Sambil mengusap air matanya, Sang Pejabat melanjutkan,

“Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi,

“Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan aku, Istriku, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.”

Akhirnya, Sang Pejabat memeluk isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut. Pasangan yang baru saling memahami setelah mengaruhi bahtera hidup bersama selama 50 tahun.

(Dikutip dari ’Cerita Motivasi’)

                                              

Siang dan Malam March 12, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment
Katakanlah (Muhammad), “Bagaimanakah pendapatmu jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah (Muhammad), “Bagaimanakah pendapatmu jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahatmu? Apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. 28:71-72)
           

Humor Suroboyoan… March 9, 2008

Posted by tintaungu in Riang.
add a comment
Diuber Celeng
     
Sore-sore mari mulih angon, Bunali pethuk ambek Brudin.
“Waras ta !! ” jare Brudin ndhik Bunali.
“Waduh dino iki aku meh mati disruduk celeng ” jare Bunali.
“Lho kok isok ngono, yok opo ceritone ?” jare Brudin.
“Mau awan iku aku pethuk celeng, terus tak garai, tak kileni ambek pring dhadhak nguamuk. Aku diuber-uber katene disrudhuk, untunge iku celenge bolak-balik tibo kepleset, dhadhi aku sempet menek wit klopo”. jare Bunali.
“Waduh cik sereme, lek aku sing ngalami wis pucet kepuyuh-puyuh gak karuan” jare Brudin.
“Lho, aku iyo ngono, kon pikir celenge kepleset opo ?” 
   
Nyelundupke Barang Liwat Pelabuhan
    
Muntiyadi oleh tugas jogo nang pelabuhan Tanjung Perak mulai isuk sampek sore.
Isuk-isuk kiro-kiro jam enem, Muntiyadi pethuk ambek Togog numpak sepeda gunung metu seko pelabuhan.
Muntiyadi curiga soale, sepedane Togog digandoli glangsing guedhe loro kiwo tengen.
Isine pasti sabu-sabu, utowo putaw pikire Muntiyadi.
Mergo curiga, Togog dicegat terus digeledah kuabeh mulai klambi, kathok sampek kampes.
Mari ngono isi glangsinge yo disuntek pisan, tibake isine mek pasir thok. Gak onok narkoba blas.
“Kon laopo sepedaan nang kene ?” takok Muntiyadi.
“Ngene lho pak, aku iki seneng olahraga nang pinggir laut, angine enak.” jare Togog.
“Lho laopo sepedamu apik-apik athik kon gandholi pasir ?” takok Muntiyadi.
“Sepedaku iki enteng pak, cik rodhok abhot sithik yo tak gandholi pasir iki.” jare Togog maneh.
Pikire Muntiyadi yo masuk akal penjelasane Togog iki. Mari KTPne diperikso, akhire Togog diculno.
Sisuke, Muntiyadi pethuk Togog sepedaan maneh.
Mergo sik curiga, Togog diperikso maneh koyok wingi.
Akhire pancen gak onok opo-opo, isine glangsing cumak pasir thok, Togog terus diculno maneh.
Kiro-kiro wis seminggu, Muntiyadi mulai bosen merikso Togog.
Dhadhi lek pethuk ben isuk mek manthuk thok, laopo diperikso maneh wong mek pasir.
Selama telung taun akhire ben isuk Muntiyadi pethuk ambek Togog numpak sepedaan.
Arek loro iku malih dhadhi konco apik, kadang-kadang Togog ditraktir ngopi lek isuk.
Mari ngono Muntiyadi dipindah tugase mbalik nang markas besar, gak tau pethuk ambek Togog maneh.
Suatu hari, pas Muntiyadi mangan nang restoran, dhadhak pethuk Togog maneh.
Tibake Togog iku sugih, montore sedan anyar.
Bareng kethok onok Muntiyadi, genti Togog sing nraktir.
Ambek mangan, arek loro iku ngobrol.
“Gog, terus terang ae sakjane aku iki sik curiga ambek awakmu. Aku yakin sakjane awakmu iki penyelundup, gak mungkin awakmu isok sugih koyok ngene.
Saking ae aku gak isok nemokno barang bukti. Lha saiki aku wis gak jogo nang kono, wis tah awakmu ngaku ae ojok khawatir, selama telung taun wingi sakjane awakmu iku nyelundupno opo?.” takok Muntiyadi penasaran.
“Sepeda . . .”
 

Kepiting Digiring

Romlah njaluk ditukokno kepiting gawe buko.
“Yo
wis tak tukokno nang rolak” jare Muntiyadi.
“Lho gak numpak bronpit tah ?” takok Romlah.
“Gak
wis, cik gak amis. Tak nyegat bemo ae” jare Muntiyadi.
Mari ngono Muntiyadi budhal nyegat bemo.
Dhadhak ndhik bemo Muntiyadi pethuk ambek bekas pacare biyen, jenenge Sablah.
“Lho cak Mun, kate nang endhi peno cak ?” takok Sablah.
“Kate nglencer golek angin . .” jare Muntiyadi.
“Sakjane aku kate kulak kain, tapi wurung ae
wis, tak melok peno ae” jare Sablah ngalem.
Mari ngono arek loro iku ngelencer nang musium Kapal Selam
Ndhik kono lak
isis tah, dhadhi gak keroso moro-moro wis sore.
“Waduh blaen iki, aku kudhu mulih,
wis yo .” jare Muntiyadi.
Mari pamitan, Muntiyadi mampir nang rolak tuku kepiting diadhai kresek.
Mergo gopoh kabeh, pas katene mlebu pekarangan dhadhak kreseke jebol, kepitinge buyar kabeh.
Ambek nggurak kepitinge, Muntiyadi bengok-bengok “Ayo cepetan sithik . .
wis meh tekan iki ”
Krungu bojone bengok-bengok, Romlah ambek muring-muring.
“Cak . .cak, cik guobloke se sampeyan iku. Lha mosok kepiting digiring padhakno bebek ae. Mulakno kok sui. . .”

          

(Sumber: Anonymous)