jump to navigation

Kisah Sesendok Madu May 29, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

(Tulisan: M. Quraish Shihab)

                                

Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

                            

Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota, Fulan; terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut. “Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

                              

Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air. Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

                               

Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.

                       

Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku ( QS Yusuf; 12:108 )

                        

Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) ( QS An Nisaa’; 4:84 )

                          

Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu“. Setiap orang menurut Beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus tampil terlebih dulu. Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.

                                

 

Terima Kasih Cinta – by Afgan May 19, 2008

Posted by tintaungu in Rindu, Rona.
add a comment

Tersadar di dalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua kesalahanku yang pernah menyakitimu

Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekapan tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua kesalahanku yang pernah menyakitimu

                  

Be Do Have May 18, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

(Tulisan: Rahmat di http://www.motivasi-islami.com)

Kita mungkin pernah mendengar atau kita sendiri mengatakan bahwa jika kita sudah berhasil, jika kita sudah kaya, jika kita sudah banyak uang, kita akan banyak membantu sesama. Kita akan fokus di dakwah, kita akan banyak menyumbang anak yatim piatu, memberi makan fakir miskin, dan berbagai perbuatan mulia lainnya.

Be Do Have adalah suatu konsep yang saya baca dalam buku One Minute Millionaire (Mark Victor Hansen and Robert G. Allen) untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, khususnya dalam buku tersebut untuk menjadi seorang milyarder yang tercerahkan, Enlightened Millionaire. Uniknya konsep ini bukan diawali oleh kerja (do) menuju milyarder, tetapi diawali oleh menjadi (be).

Konsep ini mengajarkan kita untuk menjadi milyarder terlebih dahulu. Setelah kita menjadi, kita mengerjakan tindakan apa saja yang diperlukan. Hal ini akan menjadikan tindakan kita lebih efektif. Tindakan akan sesuai dan serasi dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Jika kita sudah berpikir bahwa kita sudah menjadi apa yang kita inginkan maka tindakan akan mengikutinya. Setelah kita menjadi (be) apa yang kita inginkan, kemudian mengerjakan (do) pekerjaan yang harus dilakukan, maka kita akan memiliki (have) hasil yang kita lalui.

Ini memang konsep yang kita ambil dari penulis barat, namun jika masih sesuai dengan ajaran Islam tidak ada salahnya kita ambil. Ada hikmah lain dari konsep ini, agar bagi kita yang berniat baik setelah kaya, segera membuktikan mulai saat ini juga. Bisa-bisa kita lupa dengan niat kita yang mulia pada saat kita sudah berhasil. Mudah-mudahan dengan penerapan konsep Be Do Have, kita tidak lupa dengan niat mulia kita sebab kita sudah melakukannya sejak dini.

Bagaimana bisa menjalankan niat itu saat ini, kan belum kaya? Untuk beramal mulia tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu menjadi pejabat, atau tidak perlu sukses terlebih dahulu. Selalu ada yang bisa diberikan dari diri Anda. Memberi pada saat sempit tidak akan merugikan Anda, justru menjalankan niat baik mulai sekarang, sejauh yang kita bisa, malah akan membawa kita kepada cita-cita kita. Insya Allah.

                                  

Interesting Story: ‘Tamu’ May 16, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
                    
Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.
                             
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
                            
Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.
                   
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.
                   
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.
                      
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
                   
“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama” , kata pria itu hampir bersamaan.
                   
“Lho, kenapa?” tanya wanita itu karena merasa heran.
                    
Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut disebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan”, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. “Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk kerumahmu.”
                  
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho… menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.
                    
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”
                    
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
                     
“Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-Sayang”.
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-Sayang menjadi teman santap malam kita.”
                  
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
                   
Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
                   
“Aku hanya mengundang si Kasih-Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”
                      
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-Sayang, maka, kemana pun Kasih-Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”
               
(Anonymous)
                  

                        

Transfer ATM Bersama lewat ATM BNI May 13, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
1 comment so far

(Bukan promosi hanya sekedar berbagi, dan saya sudah pernah mencobanya, cukup memuaskan…)

Seluruh ATM BNI telah dapat dilakukan fitur transfer on-line antar bank (real-time) yang tergabung dalam anggota jaringan ATM Bersama (yang berjumlah lebih dari 50 bank). Sebaliknya Rekening BNI juga dapat menerima transfer antar bank anggota jaringan ATM Bersama.

1. CARA TRANSFER ANTAR BANK DI BNI ATM

  • Di menu utama BNI ATM, Nasabah memilih menu : “TRANSFER”
  • Pilih menu : “KE REKENING BANK LAIN”
  • Ketikkan : Kode Bank Tujuan diikuti Nomor Rekening Tujuan. Untuk mengetahui Kode Bank pilih “DAFTAR KODE BANK”. Untuk kembali ke layar sebelumnya pilih “MENU ENTRY”
  • Ketikkan nominal transfer
  • Di layar berikutnya tampil permintaan nomor referensi, yang dapat dikosongkan dengan memilih “BENAR”
  • Lakukan konfirmasi transaksi transfer setelah Nomor Rekening dan Nama Pemilik rekening tujuan muncul di layar

2. JENIS KARTU BNI YANG DAPAT BERTRANSAKSI TRANSFER ANTAR BANK

  • BNI Card (Kartu Debit dari BNI Taplus)
  • BNI Syariah Card
  • Kartu Mahasiswa terbitan BNI
  • Kartu Pegawai/Anggota terbitan BNI

3. JENIS REKENING BNI YANG DAPAT MENJADI TUJUAN TRANSFER (DESTINATON) ANTAR BANK ANGGOTA ATM BERSAMA

  • Seluruh Rekening Tabungan BNI (Taplus, Taplus Utama, Taplus Mahasiswa dan Taplus Pegawai/Anggota)
  • Seluruh Rekening Tabungan BNI Syariah (Tabungan Syariah Plus dan Tabungan Syariah Prima)
  • Seluruh Rekening Giro BNI dan Giro BNI Syariah
  • Rekening BNI Tapenas

4. KETENTUAN NOMINAL, BIAYA & JENIS TRANSAKSI TRANSFER ANTAR BANK ANGGOTA ATM BERSAMA

  • Maksimal nominal transfer per hari sebesar Rp.10 juta/hari, dengan nominal limit per transaksi (per kirim atau per enter) sebesar Rp.5 juta/transaksi.
  • Frekuensi transfer per hari tidak dibatasi asalkan tidak melebihi maksimal nominal transfer per hari dimaksud.
  • Biaya yang dibebankan kepada Nasabah sebagai pemilik kartu adalah sebesar Rp. 5.000.
  • Fitur terbaru ini memungkinkan Nasabah untuk melakukan open transfer antar bank anggota ATM Bersama via ATM seperti konfigurasi di tabel berikut ini.

Bank Penerbit Kartu ATM (as Issuer)

Bank Pemilik Mesin ATM (as Acquirer)

Bank Tujuan Rekening Transfer (as Destination)

BNI

BNI

Bank A

BNI

Bank A

Bank A

BNI

Bank A

Bank B

BNI

Bank A

BNI

Bank A

BNI

BNI

Bank A

BNI

Bank A

Bank A

BNI

Bank B

Bank A

Bank A

BNI

Bank A

Bank B

BNI

5. KETENTUAN TRANSFER KE REKENING BANK ANGGOTA LINK

Mengingat bahwa bank-bank BUMN/Himbara masih terkoneksi dengan jaringan ATM Link untuk fitur tarik tunai dan inquiry rekening, maka untuk sementara Pemegang Kartu Debit/ATM BNI belum dapat melakukan transaksi transfer ke BRI dan Bank Mandiri*) di BNI ATM. Bagi Pemegang Kartu Debit/ATM BNI yang ingin melakukan transfer ke BRI dan Bank Mandiri*) disarankan untuk menggunakan ATM milik Bank Non-BUMN yang tergabung di ATM Bersama.

*) Catatan : Bank Mandiri belum operasional untuk fitur transfer antar bank anggota ATM Bersama.

6. DAFTAR BANK TUJUAN TRANSFER ANGGOTA ATM BERSAMA

No.

Nama Bank

Kode

1

BNI

009

2

Bank Mandiri *)

008

3

Bank BRI *)

002

4

Bank Danamon

011

5

Bank Niaga

022

6

Bank Permata

013

7

Bank Mega

426

8

Bank Bukopin

441

9

Bank Muamalat Indonesia

147

10

Bank NISP

028

11

Bank Mayapada

097

12

Bank Syariah Mandiri

451

13

Bank Syariah Mega Indonesia

506

14

Bank Arta Niaga Kencana

020

15

Bank Buana Indonesia

023

16

ABN AMRO Bank

052

17

Lippobank

026

18

Bank Ganesha

161

19

Bank Mayora

553

20

Bank International Indonesia

016

21

Bank Bumiputera

485

22

Bank Nusantara Parahyangan

145

23

Bank Mestika

151

24

Bank IFI

093

25

Bank Panin

019

26

Bank Commonwealth

950

27

Bank Agroniaga

494

28

Bank HS 1906

212

29

Bank Eksekutif

558

30

Bank Artos Indonesia

542

31

Bank Swadesi

146

32

Standard Chartered Bank

050

33

BPD Lampung

121

34

BPD DIY

112

35

Bank Sulut

127

36

Bank BPD Jambi

115

37

Bank Riau

119

38

BPD Bali

129

39

Bank BPD Kaltim

124

40

Bank Jatim

114

41

Bank Nagari

118

42

BPD Aceh

116

43

Bank Papua

132

44

BPD Kalsel

122

45

Bank DKI

111

46

Bank Ina Perdana

513

47

Bank Sumut

117

48

Bank Maluku

131

49

Bank BPD Sulsel

126

50

Bank NTT

130

51

Bank BPD NTB

128

52

Bank Jabar

110

53

BPD Kalteng

125

54

Bank BPD Sultra

135

55

Bank Bengkulu

133

*) Belum dapat dilakukan via BNI ATM

Artikel ini diperoleh dari : http://www.bni.co.id

                      

Detail Suatu Cinta May 12, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment


Dalam suatu acara perayaan, panitia Kelurahan setempat ingin memberi penghargaan terhadap pasangan suami istri yang paling mengasihi pasangannya di wilayah itu. Setelah melewati beberapa babak penyisihan, ada 3 pasang suami istri yang terpilih. Maka panitia pun memberitahu ketiga pasang suami istri tersebut agar pergi ke kantor panitia pada hari sabtu pagi, untuk mengikuti penilaian final.

Tiga pasang suami istri datang menepati janji, sepasang demi sepasang duduk di atas kursi yang terletak di luar kantor panitia, sedang menanti panggilan dari tim juri.

Tim juri memanggil pasangan pertama untuk masuk ke kantor, membiarkan mereka bercerita bagaimana mereka berdua saling mengasihi. Sang istri berkata, beberapa tahun yang lalu ia mengalami kelumpuhan, hanya bisa berbaring di atas ranjang. Dokter telah memvonis bahwa kemungkinan ia dapat berdiri lagi sangat kecil, hal ini membuatnya merasa putus asa dan hampir bunuh diri. Tetapi suaminya selalu menyemangatinya untuk tetap bertahan hidup. Demi sang istri, suaminya telah membawanya ke berbagai penjuru untuk berobat, tidak meninggalkannya apalagi mencampakkannya, dan dengan rela hati memikul tanggung jawab untuk merawatnya. Berkat kasih sayang dan perhatian suaminya, akhirnya ia dapat berdiri kembali. Ceritanya sangat menyentuh perasaan, wajah setiap juri yang mendengar cerita itu tergugah.

Selanjutnya, masuklah pasangan yang kedua, mereka berdua berkata, mereka telah menikah 10 tahun, sama sekali tidak pernah bertengkar hebat, selama ini mereka berdua selalu mengasihi dan mencintai, saling menghormati satu sama lain. Para juri setelah mendengar cerita mereka itu diam-diam menganggukkan kepala.

Giliran pasangan suami istri yang ketiga. Lama sekali tim juri menunggu pasangan suami istri yang tidak kunjung masuk ke dalam ruangan. Para juri menunggu hingga kesabaran mereka telah habis, mereka lalu keluar dari kantor untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata pasangan suami istri yang ketiga itu masih duduk di atas kursi yang terletak di depan pintu, kepala si lelaki sedang disandarkan di bahu kanan istrinya, tertidur dengan lelap. Salah seorang juri bermaksud berteriak untuk membangunkan si lelaki, tapi sang istri buru-buru mencegah dengan memberi tanda menempelkan jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar mereka jangan bersuara. Lalu dengan hati-hati ia mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pena dari dalam tasnya, ia menulis sebaris kalimat, lalu disodorkan kepada para juri. Semua itu dilakukannya dengan tangan kiri, dan dengan gerakan yang sangat lembut, takut akan membangunkan suaminya, bahu kanannya sama sekali tidak bergoyang, dengan mantap tetap me-nyangga kepala sang suami.

Para juri menerima kertas itu, karena ditulis oleh wanita itu dengan tangan kiri, tulisannya morat marit sulit untuk dibaca, tapi semua orang masih dapat membaca tulisannya, di kertas itu tertulis, “Mohon jangan bersuara, suami saya kemarin malam tidak tidur dengan baik.” Salah seorang juri mengambil pena dan menuliskan,“Tetapi kami ingin mendengar cerita dari kalian berdua, jika tidak membangunkan suami anda maka pekerjaan kami akan terhambat. Wanita itu menerima kertas itu dan setelah membacanya, ia kembali menulis dengan menggunakan tangan kirinya, “Kalau begitu, lebih baik kami mengundurkan diri saja dari pertandingan ini, tidak ada hal apa pun yang lebih penting dari pada membuat suamiku bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman.”

Para juri menjadi panik, wanita ini demi untuk tidak membangunkan suaminya dari tidur, di luar dugaan telah rela melepaskan pertandingan, sungguh tidak masuk di akal, sama sekali terbalik dengan logika. Tapi akhirnya mereka memutuskan untuk terus menunggunya.

Satu jam kemudian, lelaki itu telah bangun, tangan kanan wanita itu akhirnya bisa digerakkan, dari dalam tas ia mengeluarkan selembar kertas tissue dengan maksud hendak membersihkan air liur yang mengalir dari ujung bibir suaminya, tapi ketika lengannya baru diangkat, kertas tissue tersebut jatuh ke tanah. Dengan terkejut lelaki itu bertanya pada istrinya, “Ada apa?” Sang istri tersenyum dan berkata dengan lembut, “Tidak apa – apa.” Saat itu salah seorang juri sudah tidak sabar lagi dan segera menarik si lelaki untuk segera masuk ke dalam ruangan, barulah istrinya perlahan – lahan menjulurkan tangan kirinya untuk memijat bahu kanannya. Ia melihat beberapa orang juri sedang melihat kelakuannya itu dengan penuh perhatian, ia hanya tersenyum dengan perasaan sungkan dan berkata, “Sungguh tidak apa-apa. Hanya pundak saya yang terlalu lama ditekan kepala suami saya sehingga agak mati rasa.”

Setelah lelaki itu dipersilahkan masuk ke dalam kantor, para juri lalu bertanya padanya, mengapa ia bisa tidur sedemikian lelap. Lelaki itu tertawa dengan canggung, dan berkata, “Rumah saya berada di lantai satu, nyamuknya sangat banyak. Kemarin tengah malam saya terbangun karena gigitan nyamuk, dan baru saya sadari bahwa obat anti nyamuk di rumah saya telah habis. Di tengah malam juga tidak ada toko yang jualan, karena takut istri saya juga terbangun akibat gigitan nyamuk, maka semalaman itu saya mengusir nyamuk, sehingga saya tidak tidur lagi sampai pagi.” Dengan tercengang para dewan juri mendengar ucapannya, sesaat lamanya mereka semua terdiam.

Hasil penilaian akhir dari suami istri yang paling saling mengasihi ini, oleh dewan juri ditambah dua kategori juara lagi. Pasangan suami istri pertama dinobatkan sebagai “Suami Istri Yang Senasib dan Sepenanggungan”. Lalu pasangan suami istri yang kedua dinobatkan sebagai “Suami Istri Yang Saling Menghormati”. Dan juara sesungguhnya suami istri yang paling saling mengasihi dianugrahkan kepada pasangan suami istri yang ketiga.

(Sumber: Erabaru.or.id)

                          

Cerkak: ‘Mbok Karto’ May 11, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

( Sumber: Mekarsari, 11 Mei 2008 )

GENEP limang sasi ngenggoni los anyar ing pasar kuwi, saiki dagangane saya sepi. Kamangka yen dietung-etung meh telung puluh taun, kepara luwih anggone dodolan Sop Kikil.

Saungkure sing lanang udakara sepuluh taun jalaran tinggal donya, wadon tuwa kuwi tetep nerusake anggone dodolan mbukak usaha dhewe. Biyen sadurunge pasar paling gedhe ing kutha kabupaten kuwi dibangun, warunge laris manis. Semono uga nalikane isi ana papan penampungan sajroning pasar kuwi dibangun.

Nanging wektu iki, para pelanggan saya suwe saya suda, kepara malah ilang. Menu masakan Mbok Karto Kikil, mangkono tangga-tanggane yen ngundang, kegolong istimewa. Biasane, Sop Kikil alot yen dicakot, nanging sing iki beda. Ana tangane Mbok Karto, kikil kang alot mau dadakan dadi empuk nyamleng jalaran bumbune mrasuk ana ing pori-pori. Ana maneh sing istimewa, teh nasgithel cem-cemane wong tuwa kuwi nikmat, seger ora ana tunggale. Papane ndhewe ana pojok mburi, ora dadi siji karo papane wong dodol ratengan liyane, nanging malah cedhak karo bakul barang loakan. Mbok Karto bisa ngenggoni kapling nyleneh mau, gara-gara papan kang dadi hak-e wis didol marang pedagang anyar.

Sawijining awan, warunge katekan wong wadon ayu, nganggo blus ketat lan rok mini pink, ngatonake lekuk-lekuk awake kang endah trep karo kulite sing kuning mrusuh. Ndadekake kabeh wong sing ana kono kamitenggengen, nggatekake sing lagi teka. Mbok Karto takon, lan wong wadon ayu kuwi mung manthuk semu mesem kaya kepeksa. Wong loro mung padha mbisu, nalikane wong wadon ayu mau noleh, Mbok Karto ngerti yen ana rasa kasedhihan saka sorot mripate. Nganti sore wong wadon ayu mau isih lungguh ana kono, kamangka gelas lan piringe wis kothong kawit mau. Mbok Karto wiwit tata-tata arep kukut.

“Wis sore ndhuk, apa ora bali?” pitakone diwanek-wanekake. Dumadakan wadon ayu malah ndhelikake raine, ungkep-ungkep ana meja, nangis. Mbok Karto mlongo. Nalurine minangka ibu age-age, nyedhaki. Baune wadon ayu mau dicekel “Ana apa ndhuk?” Raine diangkat, katon mripate kaca-kaca. Sabanjure tanpa sungkan-sungkan ngebrukake raine ana pangkone Mbok Karto. Nerusake anggone nangis, nganti jarite Mbok Karto teles kebes. “Ndhuk, gelem mulih menyang nggone simbok, ya? Mengko bisa crita-crita sing luwih dawa,”.

Bengine, nalikane wong loro padha nonton sinetron lokal ing TV, tanpa dijaluk Tiwi mangkono jenenge wadon ayu mau crita. Wis limang taun nikah, nanging durung duwe anak. Bojone dagang bathik. Sing maune anggone bebrayan rukun, tentrem, ndadak sawijining ndina bojone teka karo wong wadon liya. Sawise padudon, Tiwi diusir lan lunga saparan-paran nganti tekan nggone Mbok Karto.

Tekane Tiwi ana warunge Mbok Karto nggawa pangaribawa gedhe. Sing maune wis endrap-endrip arep mati, sepi, saiki rame maneh. Kabar sumebar yen Mbok Karto anggone dodol Sop Kikil dibantu ponakane kang ayu lindri-lindri. Warunge mbok Karto dadi regeng maneh, senajan diakoni sing andhok ing kono, mung kepengin weruh Tiwi sing ayu, kanthi rok mini lan klambi sing ketat sahengga saranduning awake kang endah katon kabeh. Senajan kentekan Sop Kikil nanging ora gela, jalaran sing baku bisa ndeleng lenggak-lenggoke lan eseme Tiwi.

Ora krasa wis limang sasi luwih Tiwi ngancani Mbok Karto dodolan Sop Kikil. Sasuwene iki wis nggawa panguripan anyar tumraping Mbok Karto, dodolane laris nganti gusis, ateges bathine saya akeh. .

Nanging kahanan ora langgeng, kaya nalika tekane, lungane Tiwi uga ora pepoyan ngerti-ngerti wis ora ana. Nalikane Mbok Karto mulih saka pengajian kampung, ora methuki Tiwi, mung ana layang sa suwek kang isine njaluk pamit lan njaluk ngapura jalaran wis rumangsa nggawe repote Mbok Karto. Mesthi wae lungane Tiwi nggawa owah-owahan maneh ing warunge Mbok Karto, sing maune wis rame, regeng, laris, saiki bali sepi maneh ora ana sing andhok.

Mbok Karto bisane mung ngonggo-onggo ana pojok bangku dawane maneh, nganti sawijining esuk ana kedadeyan kang gawe geger wong akeh. Wong sa pasar padha gemrudug menyang panggonan loakan, kabeh suk-sukan mung kepengin ndeleng Mbok Karto anggone dodolan Sop Kikil nganggo rok mini pink, kaya sing biasane dienggo Tiwi.

                     

Tiga Perlakuan Mukmin Terhadap Mukmin Lainnya May 5, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Berkata Yahya bin Mu’adz,

                   

 ”Hendaknya setiap mukmin memperoleh tiga macam perlakuan darimu; Jika kamu tidak dapat memberinya sesuatu manfaat maka janganlah membahayakannya, jika kamu tidak bisa membahagiakannya maka janganlah membuatnya sedih, dan jika kamu tidak memujinya maka janganlah mencelanya.”

                                                                                                      

Pelajaran Hari Ini May 5, 2008

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Pelajaran Penting ke-1
Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami.  Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir.

 

Isi soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ? Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi,berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya… ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong.

 

Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak. “Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor. “Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting! Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “Hallo”!

 

Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.

Pelajaran Penting ke-2
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin numpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.

 

Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

 

7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an) khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah: “Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat… hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu”
Tertanda, Ny.Nat King Cole.

 

Catatan :
Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di
USA

Pelajaran penting ke-3
Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya.

 

Anak ini kemudian bertanya “Berapa ya,… harga satu ice cream sundae?” katanya. “50 sen…” balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya..

 

“Wah…Kalau ice cream yang biasa saja berapa?” katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak… dan pelayan ini mulai tidak sabar. “35 sen” kata si pelayan sambil uring-uringan.

 

Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. “Bu… saya pesen yang ice cream biasa saja ya…” ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.

 

Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen.

 

Anda bisa lihat… anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang “layak”….

Pelajaran penting ke-4
Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.

 

Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.

 

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja.

 

Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan,tersembunyi kesempatan yang bias dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

Pelajaran penting ke-5
Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang.

 

Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.

 

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata “Baiklah… Saya akan melakukan hal tersebut…. asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”.

 

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar…katanya “Apakah saya akan langsung mati dokter…?”

 

Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah…bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya…

DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG

 

(Sumber: milis_warga_kulonprogo)