jump to navigation

Suami Setia September 28, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Suatu hari seorang nenek datang menemui Rasulullah SAW seraya bertanya “siapakah Anda wahai nenek?” Aku adalah Jutsamah al Muzaniah”, jawab wanita tua itu. Rasulullah SAW pun berkata : “Wahai nenek, sesungguhnya aku mengenalmu, engkau adalah wanita yang baik hati, bagaimana kabarmu dan keluargamu, bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah kita berpisah sekian lama?”. Nenek itu menjawab : “Alhamdulillah kami dalam keadaan baik, terimakasih Rasulullah.”

Tak lama setelah nenek pergi meninggalkan Rasulullah SAW, muncullah Aisyah ra, seraya berkata : “Wahai Rasulullah SAW seperti inikah engkau menyambut dan memuliakan seorang wanita tua?” Rasulullah menimpali, “Iya dahulu nenek itu selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih hidup. Sesungguhnya melestarikan persahabatan adalah bagian dari iman.”

Karena kejadian itu Aisyah mengatakan : “Tak seorangpun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam selain Khadijah, meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah SAW seringkali menyebutnya. Suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikan kepada sahabat-sahabat karib Khadijah”.

Rasulullah SAW menanggapinya dan berkata : “Wahai Aisyah begitulah realitanya sesungguhnya darinya aku memperoleh anak”. Dalam kesempatan lain Aisyah berkata : “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah SAW, sampai-sampai aku berkata “Wahai rasulullah SAW apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu sementara Allah SWT telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?” (maksudnya Aisyah). Rasulullah SAW menjawab : “Demi Allah SWT tak seorang wanita pun lebih baik darinya, ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah SWT menganugerahkan anak kepadaku darinya.”

Itulah sepenggal kisah tentang kesetiaan hakiki, bukan kesetiaan semu. Kesetiaan imani, bukan materi. Kesetiaan yang dilandaskan rasa cinta kepada Allah SWT, bukan cinta nafsu syaithoni, kesetiaan suami kepada istri yang telah lama mengarungi rumah tangga dalam segala suka dan duka.

Kecantikan Aisyah ternyata tidak begitu saja memperdayakan Rasulullah SAW untuk melupakan jasa baik dan pengorbanan Khadijah, betapapun usianya yang lebih tua. Kesetiaan inilah yang membuat cendikiawan muslim Nahzmi luqo mengatakan : “Ternyata kecemburuan Aisyah tidak mampu melunturkan kesetiaan Nabi kepada Khadijah, kesetiaan yang diteladani para pasangan suami istri, sekaligus sebagai pukulan KO (Knock Out) untuk para pecundang kehidupan rumah tangga yang menjadi faktor penghambat terwujudnya masyarakat berperadaban.”

Kesetiaan… kesetiaan… sekali lagi kesetiaan merupakan sifat dan karakter setiap mukmin sejati. Bukan kesetiaan duniawi , tetapi kesetiaan ukhrowi. Kesetiaan khas dengan nilai-nilai Ilahi : “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan mahligai surga, mereka berperang di jalan Allah, mereka pun terbunuh atau membunuh. Adalah janji sejati atasNya di dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an, siapakah yang lebih setia dari Allah SWT akan janjiNya. Bergembiralah dengan baiat (sumpah setia) yang kalian ikrarkan, itulah keberuntungan yang besar.” (At Taubah:111)

(Sumber: Majalah Safina No.11/2004)

    

Advertisements

Cerita dengan huruf “T” September 26, 2007

Posted by tintaungu in Riang.
add a comment

“Tukang tempe tertantang tukang tahu” 

Tatkala temperatur terik terbakar terus, tukang tempe tetap tabah, “Tempe-tempe”, teriaknya. Ternyata teriakan tukang tempe tadi terdengar tukang tahu, terpaksa teriakannya tambah tinggi, “Tahu-tahu-tahu!”  

“Tempenya terbaik, tempenya terenak, tempenya terkenal!!”, timpal tukang tempe. Tukang tahu tidak terima,”Tempenya tengik, tempenya tawar, tempenya terjelek!” 

Tukang tempe tertegun, terhenyak, “Teplakkk…!” tamparannya tepat terkena tukang tahu. Tapi tukang tahu tidak terkalahkan, tendangannya tepat terkena tulang tungkai tukang tempe. 

Tukang tempe terjengkang tumbang! Tapi terus tegak, tatapannya terhunus tajam terhadap tukang tahu. Tetapi, tukang tahu tidak terpengaruh tatapan tajam tukang tempe tersebut, “Tidak takut!!!” tantang tukang tahu. 

Tidak ternyana tangan tukang tempe terkepal, tinjunya terarah, terus tonjokkannya tepat terkena tukang tahu, tak terelakkan! Tujuh tempat terkena tinjunya, tonjokan terakhir tepat terkena telak.  

Tukang tahu terjerembab. “Tolong… tolong… tolong…!”, teriaknya terdengar tinggi. Tetapi tanpa tunda tempo, tukang tempe teruskan teriakannya, “Tempetempe…. tempe…! 

TAMAT

    

Silaturrahim September 24, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

KATA silaturrahim berasal dari bahasa Arab. Terdiri dari dua suku kata, silah dan rahim. Silah berarti menyambung, sedang rahim berarti kasih sayang. Silaturrahim berarti menyambung atau menjalin kasih sayang. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjalin kasih sayang di antara sesama. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia menyambung tali kasih sayang”. Jadi, silaturrahim merupakan bagian tak terpisahkan dari iman. Secara umum silaturrahim dapat menjadi perekat adanya persatuan, khususnya di kalangan umat Islam, lebih luasnya dapat menjadi dasar bagi terwujudnya kedamaian dalam kehidupan manusia.

Di Indonesia, pada bulan Syawal, dikenal ada tradisi syawalan atau biasa disebut juga dengan halal bihalal. Pada dasarnya acara halal bihalal merupakan bentuk pelembagaan dari ajaran silaturrahim. Agenda terpenting pada acara tersebut saling maaf-memaafkan. Acara yang sudah sedemikian membudaya di hampir seluruh pelosok Indonesia ini merupakan wadah bagi berlangsungnya silaturrahim. Fenomena mudik selama masa Hari Raya, ‘Id al-Fitri, adalah bagian dari rangkaian acara tersebut. Meski motivasi mudik bervariasi, tapi semangat silaturrahim masih menjadi warna yang dominan. 

Meski silaturrahim di sini lebih merupakan bentuk formalnya, daripada substansinya, praktik seperti itu bisa menjadi modal besar bagi terbangunnya kesatuan dan persatuan kita sebagai bangsa. Menjalin kasih sayang mengandung makna memahami, memberikan perhatian, memberikan sebagian yang kita miliki dan memberikan solidaritas kepada orang lain. Hal ini merupakan implementasi dari iman. Bukankah Nabi SAW pernah bersabda, ”Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba li akhiihi maa yuhibbu linafsih” (orang baru disebut beriman apabila dia menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang diinginkannya untuk diri sendiri). Dengan demikian, kalau kita ingin dihormati, kita juga mesti menghormati orang lain. Kalau kita tidak ingin disakiti, kita harus tidak menyakiti orang lain. Demikian seterusnya. Ini merupakan konsekuensi dari iman yang ada dalam hati kita. Iman mesti berfungsi menghilangkan egoisme. Sikap egois adalah sikap yang sangat ditentang oleh ajaran Islam. 

Egoisme sering menjadi sumber malapetaka dalam kehidupan manusia. Akibat egoisme, baik individu maupun kelompok, banyak terjadi perpecahan, pertikaian dan bahkan peperangan. Puasa, yang sudah hampir satu bulan ini kita jalani, adalah juga satu aktivitas yang sarat dengan semangat untuk memerangi egoisme tersebut. 

Dengan melakukan silaturrahim kita bisa mengurangi sikap-sikap egois yang sering mewarnai kehidupan kita. Rasa kebersamaan, keinginan untuk berbagi dengan sesama, dan mengesampingkan nafsu pribadi merupakan substansi silaturrahim. Melalui praktik pembayaran zakat, terutama zakat fitrah, misalnya, kita dapat mewujudkan salah satu bentuk semangat berbagi seperti itu. 

Semoga kita bisa menjadikan puasa ini sebagai wahana pelatihan untuk menuju pada sikap mental takwa, sikap kehati-hatian dalam berbuat dan bertindak. Lebih dari itu, kita bisa mewujudkan silaturrahim dalam semua aspek kehidupan, bukan hanya formalitas dan seremonialnya. Amin. 

(Tulisan: Dra Siti Maryam MAg, di Harian KR)     

     

Belahan Jiwa – by Ada Band September 24, 2007

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

La..la..la..la… (Reject)      

  

Action is Power September 24, 2007

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Sebuah pepatah klasik berbunyi: jien li she ie ik puu : artinya perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama. Pesan moral dari kata kata mutiara pendek ini adalah tindakan. Memang benar tindakan adalah kekuatan! Action is power!

Kita mungkin punya sebongkah impian indah, segudang rencana, setumpuk ide cemerlang, tetapi semua itu tidak akan menghasilkan apapun, jika kita tidak berani memulai dengan langkah pertama.

Hal ini mengingatkan saya pada ciri-ciri manusia yang menurut saya ada empat tipe tentang teori dan praktek.

Tipe pertama, yaitu orang yang tidak punya teori sekaligus tidak praktek. Orang seperti ini tidak memiliki semangat dan tidak mau belajar. Kehidupannya tanpa tujuan, tanpa gairah. Hidup hanya dijalani ala kadarnya. Inilah pilihan orang–orang gagal. Mungkin tipe ini menjadi bagian terbesar dari sebuah masyarakat yang tertinggal.

Tipe kedua, orang yang punya teori tetapi tidak praktek. Inilah tipe orang yang senang mengumpulkan serta menyerap berbagai macam teori. Namun sayang, segudang teori yang dimilikinya, tidak mampu dipraktekan dengan tindakan nyata. Jadi, yang ada hanya teori kosong alias NATO, No Action Theori Only!

Tipe ketiga, yaitu orang yang tidak punya teori tetapi mampu praktek. Mampu menjalankan seperti yang diteorikan orang lain. Inilah tipe orang yang berorientasi pada tindakan, mau belajar dari pengalaman, teori, maupun kebijaksanaan orang lain. Tipe orang ketiga ini mungkin pada awal melangkah akan mengalami berbagai macam gangguan, kesulitan, bahkan kegagalan. Namun dia menyadari semua itu harus dihadapi sebagai pembelajaran dan pematangan mental. Di sinilah letak para otodidak sejati yang belajar melalui keberanian tindakan.

Tipe keempat, orang yang punya teori sekaligus mampu memprakteknya. Sudah pasti tipe ini adalah orang yang mantap dan matang mentalnya, karena tertempa oleh banyaknya problem kehidupan yang mampu dikendalikan dan diatasi. Inilah tipe orang sukses yang paling ideal. Tipe orang yang optimis, punya visi, sekaligus berani melangkah.

Ingin menjadi type yang manakah kita. Semua pilihan tergantung di tangan kita. Life is not theory. Life is action! Hidup bukanlah teori. Hidup adalah aksi! Sing tung ciu she lik liang! Action is power! Tindakan adalah kekuatan !!!

Sekali lagi jien li she ie iek puu. Seribu langkah dimulai dengan langkah pertama.

Success is my right!!
Salam sukses luar biasa

(Tulisan: Andrie Wongso)

                 

Let’s forgive & get healthy everyday… September 23, 2007

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Ingin hidup sehat, jangan berat hati memaafkan kesalahan orang lain. Penelitian menunjukkan, orang yang sulit memberi maaf lebih berisiko terkena serangan jantung dan penyakit berbahaya lainnya.

Dalam kondisi yang tidak mendukung, misalnya jalanan macet, cuaca yang panas, atau belum gajian, kemarahan orang lebih mudah tersulut. Hal-hal kecil bisa bikin kesal setengah mati bahkan sampai dendam berhari-hari.

Marah atau kekesalan emosi yang melonjak tinggi dijamin nggak sehat buat tubuh. Jika seulas senyum kecil saja melibatkan kontraksi ratusan jaringan otot dan syaraf, apalagi marah yang jelas-jelas menggunakan ekstra energi. Tubuh kita pastinya lelah banget!

Seseorang diminta bercerita tentang pengkhianatan yang pernah dialaminya. Selama bercerita peneliti mengukur tekanan darah, detak jantung, ketegangan di otot dahi, dan respon ketegangan di kulit.

Hasilnya, orang yang mudah memaafkan memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Sedangkan sebaliknya, orang yang sulit memaafkan atau masih menyimpan dendam, tekanan darahnya cenderung tinggi.

Ketika membicarakan sesuatu yang mengesalkan, tekanan darah seseorang cenderung meningkat. Tapi memaafkan kesalahan membuat orang marah jauh lebih sehat.

“Memaafkan bisa meningkatkan kesehatan karena mengurangi beban psikologis yang berat. Beban tersebut berasal dari stress tersimpan yang bersumber dari perasaan terluka atau tersinggung,” jelas Kathleen Lawler Ph.D kepala peneliti di Universitas Tennesse.

Memaafkan memang bukan hal yang mudah dan butuh latihan yang cukup sering. Tapi setelah anda menjadi orang yang pemaaf, dijamin pasti banyak perubahan hidup yang anda alami.

Orang yang pemaaf biasanya lebih berempati, hangat, dan menunjukkan banyak perilaku-perilaku positif. Mereka juga biasanya lebih rukun dalam berhubungan dengan orang-orang sekitarnya dan bisa mengkomunikasikan perasaannya lebih baik.

Sulit memaafkan orang? Kathleen Lawler menyarankan beberapa langkah berikut:1. Hadapi kenyataan. Sakit hati atau kenyataan pahit memang sulit diterima. Tapi menerima dan berani menghadapi dengan ikhlas akan membuat anda lebih mudah memaafkan ketimbang menghidari atau menyangkalnya.

2. Berpikir dari sisi lain. Wajar saja ketika marah yang kita pikirkan hanya diri kita sendiri. Tenangkan diri sebentar, lalu coba bawa diri anda ke pikiran orang yang berbuat salah kepada anda. Coba pahami sebab dan apa yang membuat ia lakukan kesalahan pada anda. Latihan ini akan membuat anda mudah berempati kepada orang lain. Dengan berusaha memahami isi kepala si pembuat kesalahan, biasanya kita akan lebih mudah memaafkan.

3. Singkirkan dendam dan maafkan kesalahan. Siapa saja punya pilihan dalam hidup. Jika seseorang punya kesalahan, anda bisa memilih untuk memaafkan atau tidak memaafkan. Dari uraian di atas pastinya anda sudah semakin tahu mana yang anda pilih. Jika dengan memaafkan hidup lebih tenang dan badan lebih sehat, kenapa tidak dicoba saja?

Maaf adalah kata singkat yang kadang sulit diucapkan. Tapi sekalinya anda memberi maaf dengan ikhlas dan tulus anda akan mengurangi risiko terkena penyakit jantung, stroke, ginjal, darah tinggi, atau kematian karena marah yang berlebihan.

Selain itu, memberi maaf bisa membebaskan anda dari rasa marah, depresi, kesal, dan bahkan bisa mendongkrak rasa percaya diri. Sedikit fakta, sebuah studi lain dari Universitas Michigan Amerika menemukan, orang berusia 18-40 tahun lebih sulit memaafkan ketimbang orang yang lebih tua dari usia tersebut.

Sumber : Anonymous     

   

Mengapa Berteriak? September 23, 2007

Posted by tintaungu in Ragam.
1 comment so far

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;

“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;

“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”

“Tapi…” sang guru balik bertanya,“Lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata;

“Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan;

“Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.

Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan;“Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu.
Ucapkanlah kata-kata yang bijak dan santun. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”

Sumber : www.beraniegagal.com

  

Bukan Putus Cinta Biasa September 17, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment
Entah apa yang ada dalam pikiranmu. Kau masih terdiam di situ. Tanpa kata. Tanpa gerakan. Laksana karang. Hanya sesekali jemarimu menyeka beberapa bulir kristal yang turun gemulai satu per satu dari sudut matamu.  
  
Mata itu, setiap kali matahari memanggang bumi, selalu membawaku ke sebuah mata air pegunungan. Menikmati damai. Engkau tahu itu. Tapi kini, semuanya harus kita akhiri sampai di sini. Ya, sampai di sini saja. Meski halaman buku catatan harian kita masih banyak yang utuh. 
  
Selaksa kabut pekat yang dihasung bala tentara Iblis selama ini telah membuat kita selalu salah dalam mengeja cinta. Aku bisa bayangkan, para kurcaci selama ini terbahak-bahak saat melihat kita dengan terbata-bata menyimpulkan bahwa cinta adalah memiliki, menikmati, dan menguasai.  Atas nama cinta, berdua kita teguk puluhan sepi.
  
Atas nama cinta pula aku menuntutmu berbagi kekuasaan atas lentik jemari indahmu. Bahkan juga atas nama cinta, kumakruhkan senyum manismu itu atas seluruh pria jagad raya. Ah, Padahal cinta tidak pernah menuntut apa-apa, meski hanya sekedar jawaban “I love you too”. Bahkan cemburu pun bukan tanda dari cinta. Ia hanyalah sepenggal egoisme. Cinta itu memberi, bukan menerima, apalagi menuntut. Satu-satunya yang dikehendaki cinta hanyalah kebahagiaan bagi orang yang kita cintai. Itu saja.  
  
Pernahkah kau menengadah ke langit dan bertanya, di manakah Tuhan Kau menyimpan bahagia? Tataplah butiran-butiran yang diturunkan ke bumi itu. Bukan, itu bukan sekedar serpihan-serpihan nada. Itu adalah puisi. Maka rapat pejamkan matamu, lebar bukalah hatimu. Bacalah, manisku.  Sebentar lagi kau akan tahu, bahwa bahagia ada di tanah seberang, bukan di pekarangan. Ke sanalah setiap kekasih seharusnya membawa terbang kekasihnya. 
  
Tidakkah kau ada waktu untuk membalas sapaan angin? Kemarilah sayang, di bawah kelebatan cahaya lilin, aku ingin mengajakmu mendengarkan bisikannya. Sebentar lagi kau akan tahu bahwa puluhan teguk sepi milik kita ternyata adalah mata-mata pisau yang merobek-robek sayap. Kita telah tidak hanya salah jalan. Tulang-tulang kita juga remuk redam begitu parah. Sebentar lagi kau akan rasakan betapa sakitnya. 
   
Kata putusku berangkat dari sini. Mudah-mudahan engkau mengerti.  
   
Tapi jujur kuakui, semua ini terasa perih. Andaikan saja engkau dari tadi menghitung berapa kali aku menarik nafas panjang, kau juga pasti akan tahu betapa ada berton-ton batu di pundakku. Namun seperti yang biasa kau katakan padaku setelah berbincang dengan kupu-kupu, pengorbanan adalah kata kunci dari segala apa yang ingin kita raih. Usah menangis. Lupakan saja semuanya. Biarkan semua musnah menjadi debu, terbang disapu angin, dan hilang dalam tiada.  
  
“Tidak bisa,” suara serakmu pecah perlahan, mengaliri pori-pori dinding. Aku tidak bisa melupakan semua ini begitu saja, kecuali kalau Tuhan menghendakinya, memberikanku amnesia atau apapun lainnya”. 
   
“Yang aku tahu, Tuhan tidak pernah meminta kita membayar ridha-Nya dengan cara melupakan orang yang kita cintai,” lanjutmu menghempaskanku ke rerumputan, menelanjangi kemunafikanku. Sejatinya, aku pun tidak akan kuasa menghapus sejarahmu dari benakku. Bagaimana itu bisa kulakukan bila hampir di setiap penghujung malam, namamu selalu kusebut di antara puluhan lembar doa yang kukirim ke langit tujuh. Aku pun terdiam, dan memang giliranmu untuk bicara.  
   
“Aku tidak tahu harus bicara apa. Ada saatnya kata tidak bisa menjelaskan apa-apa ” 
   
Hening. Semua berakhir dengan sunyi. Kau beranjak pergi, pulang bersama matahari yang hampir sampai di ujung cakrawala, meninggalkanku sendiri ditikam pilu. Terasa berat melepaskanmu, seberat langkah gontaimu di senja yang merah ini. Semoga alam raya esok pagi akan menjadi saksi di hadapan-Nya atas apa yang terjadi pada kita hari ini. Setidaknya kita sudah benar mengeja cinta.
    
(Dari entah berantah, semoga penulisnya senang tulisannya tampil disini)
      

Sebelum Cahaya – by Letto September 11, 2007

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

sawah02.jpg

La..la..la..la… (Reject)