jump to navigation

Tipe Karyawan dan Tugas yang Cocok untuk Mereka October 26, 2007

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Dalam lingkaran bisnis, istilah “alignment” menjadi pembicaraan penting, di mana secara mendasar bisa dimaknai sebagai upaya menyatukan berbagai aset yang ada untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam praktiknya, di level karyawan “konsep” tersebut berarti menyelaraskan individu dengan pekerjaan tertentu yang sesuai.

Langkah pertama yang harus diambil dalam proses ini adalah mengetahui tipe-tipe personalitas yang kerap ditemukan dalam lingkungan bisnis, dan jenis pekerjaan apa yang cocok untuk mereka.

Salah satu ahli yang menekuni bidang ini adalah Richard Warner, pendiri Warner Design Associates di San Diego, California dan menulis buku All Hands on Deck: Choosing the Right People for the Right Jobs. Dalam buku ini, Warner mengidentifikasi 6 tipe personalitas yang bisa membantu manajer atau profesional HR untuk menempatkan karyawan pada posisi yang sesuai. Berikut 6 tipe karyawan tersebut –dan temukan apa pekerjaan yang cocok untuk masing-masing:

–The Captain. Layaknya dalam sebuah kapal, seorang kapten tahu betul bagian-bagian fundamental dari bisnis dan bagaimana mendelegasikan tugas-tugas untuk membuat bisnis berjalan, tanpa mengurusi semuanya sendirian. Warner membandingkan mereka dengan “orangtua yang ideal”, yang “tak pernah pilih kasih dan selalu punya waktu untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan memberi dorongan serta nasihat.” Para kapten, kata Warner, harus diberi kekuasaan penuh untuk memberdayakan sebua regulasi dalam area mereka.

–The Explorer. Sama halnya dalam dunia ilmu pengetahuan, para “eksplorer” tak henti-hentinya mencari ide-ide dan wilayah-wilayah baru. Mereka adalah para pengambil risiko dan tak jarang menerabas aturan. batasan-batasan. Berilah mereka kebebasan, mereka akan membawa perusahaan ke dunia-dunia yang baru. “Jika Anda ingin mengembangkan ide-ide baru dan berinovasi, temukan karyawan bertipe eksplorer,” kata Warner.

–The Navigator. Sebagian dari Anda mungkin mengenal tipe ini sebagai administrator. “Mereka berpikir secara linier,” terang Warner. “Jadi jelaskan saja sejarah dan progres perusahaan Anda, dan apa yang harus dilakukannya kemudian.”

–First Mates. Pada dasarnya sama dengan administrator, tapi kurang visibel. “Keberadaan mereka nyaris tak disadari, tapi mereka bagus, diplomatis dan dapat diandalkan,” jelas Warner. Saran dia, beri mereka banyak pujian, dan dorong untuk bersuara ketika mereka menemukan adanya persoalan dalam perusahaan.

–The Crew Member. Jika empat tipe di atas semuanya memastikan pekerjaan terselesaikan dengan baik, maka harus ada satu orang lagi yang benar-benar melakukannya. Inilah pekerjaan bagi para kru. Karyawan tipe ini umumnya bisa diandalkan tapi ambisi mereka terbatas pada “bekerja dengan baik agar naik gaji”.

–The Stowaway. Siapa mereka? “Orang-orang yang ingin mendapatkan tumpangan (gratis). Setelah berhasil melewati proses rekrutmen dan bergabung dengan perusahaan, mereka berprinsip “pokoknya kerja demi gajian akhir bulan”. Tapi, jangan salah, ingat Warner, mereka umumnya cerdas. “Jadi, cobalah pacu mereka.

Jika hasilnya (tetap) buruk, keluarkan!”

Sumber : portalHR.com    

   

Selamanya Cinta – by Yana Yulio October 23, 2007

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

sawah-1.jpg

  

Di kala hati resah
Seribu ragu datang … memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalau lah aku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

Biar awan pun gelisah
Daun daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku
 

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya.. selamanya..
 

Biar awan pun gelisah
Daun daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku
 

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku

Hingga membuat kau percaya

Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku,
Rasa cinta yang tulus, dari dasar lubuk hatiku.
Tuhan jalinkanlah cinta bersama, selamanya.
 

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya … selamanya … selamanya … selamanya
    

       

Manajemen Perut October 3, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

BAGI mereka yang terbiasa hidup dengan perut lapar, melakukan puasa memang bukan sebuah ‘kemewahan’. Para fakir-miskin yang sebagian besar adalah petani dan nelayan itu, hidup ini seakan seperti burung-burung gagak yang tidak pernah menabur benih atau memanen. Orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi kekasihNya itu memang tidak memiliki lumbung atau gudang untuk menimbun, sebab hidup mereka langsung ditangani oleh Allah, diberi makan olehNya.

Jika ada waktu, sejenak marilah kita cermati kebiasaan orang-orang kecil itu, kaum proletar, para dzuafa, wong-wong cilik yang dikategorikan marhein oleh Bung Karno, sesungguhnya ‘gaya hidup’ mereka yang sungguh-sungguh melodramatik itu telah ada sejak zaman dahulu. Di zaman Rasulullah Muhammad SAW, ada seorang sahabat yang kokoh iman dan teguh berprinsip: menolak makanan haram yang masuk ke dalam perutnya. Lelaki yang tak pandang bulu dan menolak dengan tega terhadap barang haram itu bernama Abu Dzarr al Ghiffari, yang hingga akhir hayatnya memilih hidup sunyi daripada harus tergoda oleh benda-benda, kapitalisme dan konsumerisme.

Mereka mengelola perut dengan sungguh-sungguh, bukan dengan cara wal geduwal halal-haram, semua diuntal. Mereka puasa bukan hanya di bulan puasa, tapi hidup itu sendiri adalah puasa. Buruh-buruh gendong di pasar, para kuli bangunan, para pekerja kasar di pabrik-pabrik, para petani penggarap, para nelayan yang digusur oleh pukat, serta orang-orang miskin korban bencana, mereka semua adalah lapisan masyarakat yang  jauh lebih mengerikan hidupnya dibandingkan apa yang pernah dilukiskan oleh sebuah buku yang diterbitkan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial berjudul “Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok”.

Bandingkan dengan ‘adegan berpuasa’ pada sebagian besar sinetron kita. Bandingkan pula dengan realitas sosial para elite politik di pusat-pusat kekuasaan yang melakukan puasa hanya sebatas retorika. Sungguh merupakan kontras sosial yang luar biasa. Berpuasa tapi masih bersifat ornamental belaka, sebab nafsu pamer dan gaya hidup hedonis tetap menjadi primadona. Na’udzubillah.

Padahal teks di dalam  kitab suci terkait dengan perintah puasa sudah sangat jelas, yaitu: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa”. Jika memang perintah puasa itu memang ditujukan secara khusus oleh Allah hanya kepada orang-orang yang beriman saja, adakah fenomena sosial yang terjadi dewasa ini berupa semaraknya perilaku “puasa sebatas retorika” itu pertanda makin menipisnya iman di sebagian besar bangsa ini?

Tafsir sosial puasa memang tak hanya sebatas menahan syahwat dan lapar saja, melainkan juga menahan diri dari ‘rangsangan materialisme’ maupun ‘syahwat hedonisme’ dalam segala gaya dan bentuknya. Jika para elite politik dan orang-orang kaya itu melakukan puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus saja tapi tidak membangun solidaritas sosial kepada para fakir-miskin, maka puasanya itu hanya sebatas retorika. Solidaritas sosial juga bisa berupa membuat kebijakan dan program-program kerja di pemerintahan yang bermakna pemihakan kepada rakyat miskin.

Dalam tafsir politik, puasa lebih bermakna pada menahan diri dari ‘nafsu ingin menang sendiri’ dan ‘syahwat berkuasa’ yang tak ada habis-habisnya. Begitu menjadi penguasa, biasanya, yang mendapatkan keuntungan dari jabatannya itu hanya sebatas partainya, kelompoknya, sanak-familinya, serta orang-orang yang menjadi kroninya. Segala tindakannya tetap koruptif, kolutif dan nepotis.

Menipisnya iman, menebalnya kerakusan. Mungkin itulah yang menjadikan bangsa ini makin terpuruk. Baik di tingkat lokal hingga di tingkat nasional, model birokrasi dan perilaku birokratnya serta gaya pemerintahannya nyaris sama, yakni tidak memberi keteladanan. Sungguh tragis nasib orang-orang miskin di negeri ini: alam menggeliat menimbulkan bencana, para penguasa bertingkah dan berpidato mengundang kecewa.

Barangkali inilah saatnya bagi orang-orang miskin melakukan nawaitu tapabrata.Bukankah weteng luwe alias perut lapar sudah menjadi gaya hidupnya? Bukankah Allah sendiri menjadikan puasa sebagai milikNya? Sehingga Allah sendiri yang akan menyerahkan pahala puasa itu kepada umat manusia yang menjalankannya dengan totalitas iman dan penuh perhitungan karena Allah semata?

Bahkan andaikata puasa itu bukan bagian dari ibadah yang dianjurkan oleh agama, maka tindakan berpuasa tersebut dipastikan akan bermanfaat bagi pelakunya. Manajemen perut itu begitu penting menurut Allah, sebab hanya orang-orang yang beriman sajalah yang tidak gegabah mengisi perutnya dengan sembarang makanan. Posisi perut berada di antara ‘’hati’’ dan ‘’kemaluan’’, karenanya perut harus dikelola dengan kecerdasan spiritual. Dengan banyak makanan haram masuk ke perut, dapat dipastikan setiap tindakan akan cenderung kepada kemaksyiatan. Sebaliknya, dengan banyak makanan halal yang kita konsumsi sesuai takaran, maka hati akan menjadi jernih dan penuh kepekaan terhadap orang-orang miskin.
Anehnya, banyak di antara kaum muslimin sendiri yang mengaku beriman masih kurang memaknai puasa sebagai ‘’revolusi mental’’ dan masih menganggapnya sebagai ritus belaka. Wallahu a’lam.

(HM Nasruddin Anshoriy Ch  di Harian KR 26 Sep’07)

    

Manfaat Wudhu October 1, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
8 comments

Oleh : M Mahbubi Ali

”Sungguh ummat-Ku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain memiliki banyak keutamaan, wudhu ternyata sangat bermanfaat terhadap kesehatan. Dr Ahmad Syauqy Ibrahim, peneliti bidang penderita penyakit dalam dan penyakit jantung di London mengatakan, ”Para Pakar sampai pada kesimpulan mencelupkan anggota tubuh ke dalam air akan mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan pada syaraf dan otot, menormalkan detak jantung, kecemasan, dan insomnia (susah tidur).”

Dalam buku Al-I’jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah dijelaskan, ilmu kontemporer menetapkan setelah melalui eksperimen panjang, ternyata orang yang selalu berwudhu mayoritas hidung mereka lebih bersih, tidak terdapat berbagai mikroba.

Rongga hidung bisa mengantarkan berbagai penyakit. Dari hidung, kuman masuk ke tenggorokan dan terjadilah berbagai radang dan penyakit. Apalagi jika sampai masuk ke dalam aliran darah. Barangkali inilah hikmah dianjurkannya istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebanyak tiga kali kemudian menyemburkannya setiap kali wudhu.

Ada pun berkumur-kumur dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi. Berkumur menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel. Sementara membasuh wajah dan kedua tangan sampai siku, serta kedua kaki memberi manfaat menghilangkan debu-debu dan berbagai bakteri. Apalagi dengan membersihkan badan dari keringat dan kotoran lainnya yang keluar melalui kulit. Dan juga, sudah terbukti secara ilmiah penyakit tidak akan menyerang kulit manusia kecuali apabila kadar kebersihan kulitnya rendah.

Dari segi rohani, wudhu menggugurkan ‘daki-daki’ yang menutupi pahala. Bersama air wudhu, dosa-dosa kita dibersihkan, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan tetesan terakhirnya.

Apabila dia membasuh dua tangannya maka akan keluar seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air itu atau tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh dua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang telah dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau tetesannya yang terakhir sehingga dia selesai wudhu dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim) Maka, berbahagialah orang-orang yang selalu menjaga wudhunya dan menjaga hatinya tetap suci.

(Sumber: Republika)

     

Memaafkan October 1, 2007

Posted by tintaungu in Rona.
1 comment so far

Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu dimaafkan.

(Thomas Fuller)