jump to navigation

Keluarga Beruntung February 24, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment
Berbicara masalah nikah, seringkali harus bersentuhan dengan “penyesalan”. Ada orang yang menyesal mengapa tidak menikah sejak dulu, setelah ia merasakan manfaatnya. Namun ada juga yang menyesal mengapa menikah, setelah merasakan pahit getirnya hidup berumahtangga. Sebagai orang beriman, kita harus yakin bahwa menikah adalah ibadah. Ada banyak kebaikan di dalamnya. Kalau pun ada masalah, maka yakinlah bahwa itulah ladang amal dan sarana pendewasaan yang dianugerahkan Allah.
            
Pertanyaannya, bagaimana agar pernikahan mendatangkan ridha Allah? Bagaimana agar semakin lama usia pernikahan maka akan semakin terasa sakinah, mawaddah, wa rahmah? Ada tiga rumus dalam QS. Al-Ashr. Setiap bertambah hari, bertambah umur, kita itu merugi kecuali tiga golongan kelompok yang beruntung.
             
Pertama adalah rumahtangga yang selalu berpikir keras bagaimana keyakinan kepada Allah terus meningkat. Semua kebahagiaan dan kemuliaan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah. Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah. Tidak ada orang zuhud kecuali orang yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang tawadhu kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab dan kenal dengan Allah, maka semua dipandang kecil. Setiap hari dalam hidup kita seharusnya dipikirkan bagaimana kita dekat dengan Allah. Kalau Allah sudah mencintai mahluk, maka segala urusan akan beres.
           
Karena itu, apapun yang ada di rumah harus menjadi jalan mendekat kepada Allah. Beli barang apapun harus barang yang disukai Allah, supaya rumah kita menjadi rumah yang disukai Allah. Boleh punya barang yang bagus tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal atau murah, bagus atau tidak, tetapi apakah bisa dipertanggungjawabkan di sisi Allah atau tidak? Bahkan dalam mendengar lagu, harus yang disukai Allah, siapa tahu kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu. Rumah kita harus Allah oriented. Kaligrafi dengan tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah dan Islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil sampai rumah.
            
Apa yang kita pikirkan, Allah sudah mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah, selanjutnya Allah yang akan mengurus. Kalau hubungan kita dengan Allah bagus, maka semua akan beres. Barangsiapa yang dekat dengan Allah, maka akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya, maka akan dicukupkan segala kebutuhannya. Jadi bukan dunia ini yang menjadi masalah, tetapi hubungan kita dengan Allah-lah masalahnya.
              
Kedua adalah rumahtangga yang paling produktif dalam kebaikan. Uang paling berkah adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya. Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah banyak asal diniatkan agar berkah demi Allah, itu akan beruntung. Karena itu, teruslah mencari uang. Bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk mendistribusikannya demi kemaslahatan umat. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah. Jadi pikiran kita bukan akan mendapat apa kita? Tapi apa yang bisa kita perbuat? Orang beruntung setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan. Selagi hidup, lakukan yang terbaik, karena sesudah mati tidak akan bisa. Kalau sudah berbuat, nanti Allah yang akan memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung adalah orang yang paling produktif kebaikannya.
                    
Ketiga adalah rumahtangga yang dihiasi saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kata-kata terbaik yang kita katakan adalah meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat anak atau istri, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Dan kita tidak bisa menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan hidup. Wallaahu a’lam.
                   

(Tulisan Aa’ Gym, kotasantri.com)

                    

Advertisements

Sungai Penghapus Dosa February 24, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

“Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla melipatgandakan pahala kalian” (HR.Al-Thabrani)

Shalat adalah “komunikasi langsung” dengan sang Khaliq. Langsung karena tidak boleh “diwakilkan” oleh orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apapun, karena ia sarana percakapan hamba dengan penciptanya.
        
Sungguh indah kehidupan seorang muslim dengan Tuhannya. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti dhuha, witir, tahajjud, hajat, dan sebagainya. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan kepada-Nya.
                 
Shalat, menurut Rasulullah SAW seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Dari Abu Hurairah r.a.: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?” Mereka menjawab, “Tidak ada!” Rasulullah berkata, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus semua kesalahan.” (Muttafaq ‘Alaih).
               
Dari Jabir r.a.: Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali.” (HR Muslim).
                
Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah kepada kita. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran di sungai “penghapus dosa”. Tidak ada kenikmatan, selain kenikmatan bermunajat kepada Allah lewat shalat. Shalat dijadikan oleh Rasulullah SAW sebagai “permata hati” (qurah ‘ain).
                 
Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah berkata kepada Bilal, “Ya Bilal! Aqim al-shalah wa arihna biha (Hai Bilal! Dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya). Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah “shalat” (HR Ibnu Mâjah).
                
Pertanyaannya adalah: shalat yang bagaimanakah yang berfungsi sebagai “sungai penghapus dosa” itu?
                      
Pertama, shalat yang senantiasa dilakukan di awal waktunya. Shalat inilah yang dicintai oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas ‘ud ra: Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya!” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” “Berbakti kepada kedua orangtua,” jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah” (Muttafaq ‘Alaih).
                  
Kedua, shalat yang khusyu’. Shalat yang khusyu’ adalah shalat seorang Mukmin yang benar-benar mendapat “kesuksesan” dari Allah. Karena khusyu’ dalam shalat adalah dambaan setiap Muslim yang mengerjakan shalat (mushallî). Meskpun khusyu’ itu boleh dikatakan tidak merata alias relatif. Namun, berusaha untuk khusyu’ dalam shalat adalah usaha yang sangat baik. Allah SWT berfirman, “Telah beruntunglah orang-orang yang berikan. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Qs. Al-Mu’minun: 1-2).
                 
Tentunya untuk khusyu’ ada kiat-kiat khusus di dalamnya. Di antaranya adalah dengan cara “memperbaiki cara berwudhu”. Wudhu yang tidak sempurnya, akan menimbulkan rasa was-was dalam hati. Wudhu yang asal jadi hanya menyia-nyiakan air. Itulah mubadzir, dan mubadzir adalah perbuatan syaitan.
                
“Tidak seorang Muslim pun yang berwudhu, kemudian ia memperbagus wudhu’nya, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat. Dengan dua rakaat itu ia benar-benar menghadapkan hatinya dan wajahnya, melainkan ia wajib memperoleh surga.” (HR Muslim).
                   
Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruk manusia adalah yang mencuri shalatnya.” Mereka bertanya, “Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ruku’ dan sujudnya tidak sempurna”
(HR Ahmad). Inilah mungkin model shalat “patok ayam”.
                    
Selain itu, shalat yang khusyu’ adalah “media” untuk menggapai ampunan Allah SWT. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhu’nya. Kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat, baik itu shalat wajib (maktûbah) atau selainnya (shalat sunnah), dimana ia ruku dan sujud dengan baik kemudian meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampunkannya.” (HR. Al-Thabrani).
                   
Ketiga, shalat yang dilakukan dengan ikhlas. Amal adalah “jasad”, dan ruhnya adalah “ikhlas”. Shalat yang dilakukan dengan niat agar dilihat orang sebagai orang yang rajin shalat adalah shalat yang hanya menghabiskan energi. Dalam setiap ibadah, Allah senantiasa menganjurkan kita untuk “ikhlas” dan mengharap ridha dari-Nya. Shalat yang hanya sekedar “menggugurkan” kewajiban adalah shalat yang tidak banyak memberikan bekas dalam kehidupan.
                
Allah menjelaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (Qs. Al-Bayyinah: 5).
                 
Insya Allah, shalat yang demikian adalah shalat yang diibaratkan oleh Rasulullah sebagai “sungai”, sungai penghapus dosa, yang menghanyutkan kesalahan kita. Semoga shalat yang kita lakukan selama ini menjadi shalat yang benar-benar diterima oleh Allah SWT, sehingga dosa-dosa dan kesalahan kita “layak” untuk dihapus dan dihanyutkan.
          
Wallaahu a’lamu bi al-shawab.
            
(Tulisan: Qosim Nursheha)
                   

Ketika Diingatkan untuk Kembali February 24, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment
Seorang kawan bertanya kepada saya tentang sejauh mana sudah saya melangkah, apakah masih berada dalam barisan ataukah tak lagi bersama barisan. Pembicaraan pun berlanjut dengan kisah-kisah sedih para pencari jalan. Ada yang terseok-seok tak mampu menanggung beban. Ada yang tercecer dan tak sempat lagi mengikuti kafilah kemudian tersesat. Ada pula yang mengambil jalan sendiri mengendus-endus jejak pendahulu dengan berpegang kepada pedoman yang sahih.
             
Apakah makna jamaah bagi kita, ketika ia tak lagi sekedar barisan shalat? Tak lagi sekedar ikatan persaudaraan? Tak lagi sekedar naungan ketika butuh saat teduh?
              
Ketika diingatkan untuk kembali ke dalam barisan, saya merasa melihat begitu banyak barisan yang sedang menuju arah yang sama. Tak perlu mengejar yang sudah jauh dan tak mungkin kita raih sendiri jika ada begitu banyak semangat yang sama. Barangkali dengan mengikuti kafilah yang baru, kita dapat melangkah lebih jauh melampaui semua yang pernah kita tinggalkan?
            
Hmm… Sungguh indah akhlak orang beriman, ketika senang ia bersyukur, ketika susah ia bersabar.
           
Ketika diingatkan untuk kembali, ketika itulah saya sadari masih ada yang mengasihi kita tanpa pamrih.
                            
               

Menjaga Hati – by Yovie & The Nuno February 22, 2008

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment
papua02.jpg
                

Kisah Si Penebang Pohon February 22, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

“Kan Shu De Gu Shi”

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan.

Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

“Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu”

Istirahat bukan berarti berhenti.

”Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu”

Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

Sumber: www.andriewongso.com

                 

Akal Sehat – by Ada Band February 13, 2008

Posted by tintaungu in Rindu.
1 comment so far
11.jpg
        

Cinta adalah Fitrah February 5, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum ayat 21).

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor , karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram.

Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehidupan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya. Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan. Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia. Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Islam membersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

PERNIKAHAN TEMPAT BERMUARANYA CINTA

“Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti pernikahan” (Sunan Ibnu Majah)

Pernikahan dalam islam merupakan sebuah kewajiban bagi yang mampu. Dan bagi insan manusia yang saling menyintai pernikahan seharusnyalah menjadi tujuan utama mereka.

Karena itulah percintaan yang tidak mengarah kepada pernikahan bahkan disertai hal-hal yang diharamkan agama sangat tidak disarankan oleh islam. Cinta dalam pandangan islam bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik, dan bukan pula pembenaran terhadap perilaku yang dilarang agama. Karena hal ini bukanlah cinta melainkan sebuah lompatan birahi yang besar saja yang akan segera pupus. Karena itu cinta memerlukan kematangan dan kedewasaan untuk membahagiakan pasangannya bukan menyengsarakannya dan bukan juga menjerumuskannya ke jurang maksiat.

Percintaan tanpa didasarkan oleh tujuan hendak menikah adalah sebuah perbuatan maksiat yang diharamkan oleh agama. Karena batas antara cinta dan nafsu birahi pada dua orang manusia yang saling menyintai sangatlah tipis sehingga pernikahan adalah sebuah obat yang sangat tepat untuk mengobatinya. Pernikahan adalah sebuah perjanjian suci yang menjadikan Allah SWT sebagai pemersatunya. Dan tidak ada yang melebihi ikatan ini. Dan inilah puncak segala kenikmatan cinta itu dimana kedua orang yang saling menyinta itu memilih untuk hidup bersama dan saling berjanji untuk saling mengasihi dan berbagi hidup baik suka maupun duka.

Sumber : Majalah Sakinah
                 

Have I Told You Lately – by Rod Stewart February 4, 2008

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment
m5.jpg
                   

Ayat-ayat Cinta February 4, 2008

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,

taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,

ciuman dalam malam yang hidup,

dan deras lenganmu memeluk daku

seperti suatu nyala bertanda kemenangan

mimpikupun berada dalam

benderang dan abadi 

              

(puisi yg diucapkan Aisha pada Fahri, Novel Ayat-ayat Cinta)

      

Wajah Ceria February 3, 2008

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah bersabda, “Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta”