jump to navigation

Musibah Berakhirnya Ramadhan September 30, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
1 comment so far

( Tulisan Achmad Chalwani di Harian Kedaulatan Rakyat 29 September 2008 )

                              

TIDAK terasa kita sudah memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan, di mana pada fase akhir ini Allah SWT menjanjikan: ‘itqun minannar (merdeka dari siksa neraka) bagi mereka yang mampu menembus garis finish dalam menjalankan ibadah puasa. Sehingga akan segera memasuki kondisi yang dinanti-nantikan, yaitu kembali kepada fitrah (kesucian).
                             

Menjalankan ibadah puasa ibarat orang yang berada di tengah medan pertempuran, yaitu berperang melawan hawa nafsu. Dengan berakhirnya puasa secara sempurna, berarti telah mendapatkan kemenangan dalam berperang. Dalam hal ini, Nabi telah bersabda bahwa perang melawan hawa nafsu merupakan jihad yang paling besar (jihad akbar), karena yang kita lawan adalah musuh yang tak tampak, sangat kuat dan berada di dalam diri kita sendiri. Banyak sekali orang yang tak mampu melawan hawa nafsu, apalagi sampai memperoleh kemenangan dikarenakan lemahnya iman.
                                

Bagi mereka yang telah berhasil menjalankan puasa secara sempurna, Allah akan memberikan pahala yang sangat besar dengan melipatgandakan pahala ibadah serta mengampuni dosa-dosanya. Sehingga saat memasuki Hari Raya Idul Fitri benar-benar dalam kondisi fitrah seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu dan belum ada sedikitpun salah dan dosa. Yang dimaksud dosa yang diampuni adalah dosa antara makhluk dengan Sang Kholiq (Allah SWT), sementara dosa dengan sesama makhluk masih tetap ada. Karena itu, ketika memasuki Hari Raya Idul Fitri perlu saling silaturahmi untuk memohon maaf antarsesama.
                                   

Di balik kemenangan menjalankan ibadah puasa, berakhirnya Ramadhan justru merupakan musibah yang sangat besar bagi umat Islam sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir RA, yang artinya, “Apabila telah tiba akhir Ramadan, maka langit, bumi dan para malaikat menangis karena adanya musibah bagi umat Muhammad SAW. Lalu sahabat bertanya, Musibah yang manakah? Nabi menjawab, berakhirnya bulan Ramadhan, karena dalam bulan tersebut doa dikabulkan, sodaqoh diterima, kebaikan dilipatgandakan, dan siksa dihentikan.
                                    

Berdasar Hadis tersebut maka musibah manakah yang lebih besar dari berakhirnya bulan Ramadhan? Jelas tidak ada yang bisa membandingkan musibah yang lebih besar daripada berakhirnya bulan Ramadan. Hal ini karena keistimewaan bulan Ramadhan. Nabi bersabda yang artinya, “Apabila umatku tahu akan keistimewaan Ramadan niscaya mereka mengharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadan semuanya”.
                                                 

Di bulan Ramadhan secara jelas kita rasakan peningkatan kualitas dan kualitas amal ibadah kita secara luar biasa. Terbukti baik di masjid maupun musala mengalami peningkatan jumlah jamaahnya. Namun sungguh sangat tragis memasuki bulan Syawal di mana keadaan justru berbalik. Masjid dan musala berkurang jamaahnya, gema tadarus Alquran berkurang kumandangnya. Padahal seharusnya lebih ditingkatkan karena kondisi fisik kita lebih kuat dibanding saat bulan Ramadhan. Dengan berkurangnya amal ibadah ini berarti menurunkan pula pahala yang diperoleh sebelumnya. Semakin sedikit pahala yang diperoleh, maka menjadikan ketenteraman, kedamaian dan kesejukan hati semakin berkurang. Hal inilah yang mungkin dimaksud dan diingatkan oleh Nabi sebagai suatu musibah.
                                      

Begitu besarnya keutamaan bulan Ramadhan, sehingga wajar apabila kepergiannya pun menjadi musibah besar yang diratapi dan ditangisi oleh para makhluk. Namun demikian, bukan berarti kita harus bersedih dengan musibah. Kebahagiaan akan menyambut seandainya dalam selain bulan Ramadhan kita betul-betul menjalankan amal ibadah sesuai dengan tuntunan dan istiqomah seperti bulan Ramadhan.  Dengan demikian kita berharap semoga memperoleh derajat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) di sisi Allah SWT.

 

KH Achmad Chalwani, Dosen Ilmu Tasawuf (STAIAN) An-Nawawi Purworejo dan Anggota DPD/MPR RI.
                                                        

Lailatulqadr… September 17, 2008

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut?

Beliau bersabda: “Bacalah (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku).”

= Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud =

(Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Hakim).

                                                                                               

Ngalamuning Ati – by Mus Mulyadi September 17, 2008

Posted by tintaungu in Rindu, Rona.
1 comment so far
Yen tak roso
Rakuwowo roso jroning ati
Tansah kelingan kembange netro
Nggodo aku rino wengi
                         
Pancen nyoto
Yen sih rupo nora mitayani
Nanging aku wus kebacut tresno
Angel nggonku angoncati
                        
Pamujiku
Mbok bisoo katekan setiaku
Katresnanku … Uuuu…uuuu.. uuuu…
Ditimbangi tresno kang satuhu
                           
Koyo ngopo
Iba bungah kroso jroning ngati
Katekan setiaku kang tak arah
Bejo nggonku urip iki
                                       
           

Love Is (Not) Blind… September 12, 2008

Posted by tintaungu in Rindu, Rona.
2 comments

Banyak orang mengatakan kalau cinta itu buta. Jatuh cinta pun sering membuat manusia lupa segalanya, kecuali orang yang dikasihinya. Lihatlah Rawana, berjuta bulan bulat selalu dipersembahkan kepada Shinta tiap malam. Sedangkan tak sedegup pun hati Shinta bergetar kepada Rawana, karena rindunya yang teramat dalam kepada Rama. Sia-sia? Hanya Rawana yang mampu menjawabnya.

Namun, tidak selamanya cinta membuat manusia itu buta. Beberapa kisah cinta masyarakat Jawa Kuna mengajarkan bahwa cinta tidak hanya tentang mengagungkan rasa cinta itu sendiri. Ya, cinta tidak hanya tentang rasa, tetapi juga pengorbanan dan dharma. Dan, tentu saja hal itu membutuhkan kesadaran hati dan pikiran. Seperti salah satu kisah yang terdapat dalam Tantri Kamandaka berikut.

Alkisah, terdapat seorang raja yang bernama Aridarma, yang mencegah seorang putri naga dari perbuatan tidak senonoh. Atas perbuatannya itu, oleh raja naga Aridarma diberikan kemampuan bicara bahasa binatang. Akan tetapi, syaratnya adalah Aridarma harus merahasiakan kemampuannya itu, atau ia akan mati. Aridarma pun menyanggupinya.

Suatu ketika, saat sedang bermesraan dengan permaisurinya, Aridarma mendengar ucapan seekor cicak betina: “Aduhai, ingin sekali aku diperlakukan mesra seperti yang didapatkan Dewi Mayawati. Tidak seperti aku yang ditinggal suami dalam sepi.”

Mendengar itu, Aridarma hanya tersenyum. Ketika melihat suaminya tersenyum, Mayawati penasaran. Kemudian ia bertanya kepada suaminya. Akan tetapi, Aridarma diam, tidak menjawab rasa penasaran Mayawati. Ditikam sejuta penasaran, Dewi Mayawati terus mendesak, namun Aridarma tetap diam, karena ia akan mati, sesuai syarat yang diberikan raja naga.

Hingga kemudian, penasaran Dewi Mayawati berubah menjadi emosi. Ia lalu berkata “Baiklah, kalau begitu hamba lebih baik mati.”

Aridarma menjawab, “Baiklah kalau demikian. Buatkan tempat pembakaran. Kalau aku ceritakan, itu hanya akan membuatku mati. Nanti akan aku ceritakan di tempat kita akan terbakar bersama-sama. Sehingga matilah kita bersama-sama.”

Para pengawal kemudian mempersiapkan tempat pembakaran. Ketika di atas panggung, Aridarma mendengar obrolan sepasang kambing.

Kambing betina berkata, “Mas, ambilkan aku janur kuning dekat tempat pembakaran itu, dong.”

Tapi kemudian kambing jantan menjawab. “Pikirmu apa? Tidakkah kau melihat tempat itu dipenuhi para penjaga yang membawa senjata? Apa kamu mau aku disembelih?”

Kambing betina kemudian merengek, “Kalau kamu tidak mengabulkan, lebih baik aku mati saja.”

Sambil marah-marah, sang jantan lalu menjawab. “Kalau mau mati, mati saja! Tidak mau aku seperti raja bodoh itu. Hanya untuk memenuhi keinginan sang istri, dia memilih mati. Beda dengan aku, mau cinta, mau tidak cinta juga terserah…!”

Setelah mendengar ucapan kambing jantan, Aridarma pun tersadar, lalu turun dari panggung tempat pembakaran. Ia memutuskan untuk tidak secepat itu meluluskan permintaan permaisurinya tercinta. Bagaimanapun juga, Aridarma adalah raja, dan dharma seorang raja adalah kepada rakyatnya, bukan hanya kepada istri.

Namun, Mayawati tetap menerjunkan dirinya ke dalam api. Begitu pula dengan kambing betina.

                                                                                                                      

Karakteristik Watak Pria (dalam Pewayangan) September 11, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
1 comment so far

DUNIA pewayangan (wayang kulit) melalui tokoh-tokohnya sebenarnya memuat banyak simbol dan karakteristik watak manusia. Sejumlah tokoh pewayangan dengan jelas juga merupakan simbol karakteristik pria. Seperti tokoh Arjuna, pria lambang ketampanan, Yudhistira suka perdamaian, Bima adalah pria yang mahal dalam cinta dan tidak gampang tertarik terhadap perempuan. Berikut adalah beberapa watak dari sejumlah tokoh pewayangan, yang sering dijadikan simbol watak pria, yang disarikan dari pedalangan gagrak Yogyakarta maupun Surakarta.

1. Yudhistira (Sang Ludira Seta)
Yudhistira termasuk putra sulung Pandawa, putra dari Dewi Kunthi. Ketika mudanya bernama Puntadewa, raja Amarta. Puntadewa juga terkenal dengan sebutan gelar Sang Ludira Seta yang artinya berdarah putih. Ini melambangkan pria yang tulus ikhlas dalam berbagai hal. Bahkan dalam satu cerita, Puntadewa rela memberikan isteri tercintanya ketika diminta oleh orang lain yang sangat mengagumi dan mencintainya. Yudhistira adalah lambang dari pria yang teguh hati, penyabar dan suka perdamaian. Sangat setia terhadap isteri, anak dan keluarganya. Yudhistira sangat benci terhadap permusuhan. Walaupun bermandi harta, Yudhistira menentang poligami, sehingga isterinya hanyalah satu, Dyah Ayu Drupadi. Ketika muda, Yudhistira gemar berbusana yang indah-indah, tetapi setelah tua dia justru berpenampilan sederhana.

2. Arjuna (Lananging Jagad)
Nama Arjuna konon berasal dari kata Jun yang bermakna jambangan. Konon, nama Janaka juga berasal dari Bahasa Arab Jannah yang berarti sorga. Kedua kata tersebut mengandung makna hening atau keheningan. Arjuna memiliki sifat dan watak fitrah, murni. Tak sedikit wanita yang kasmaran kepadanya. Wujud ketampanan Sang Arjuna adalah lambang kehalusan serta keagungan budi seorang pria. Arjuna juga dikenal menyukai sesuatu yang bersifat estetis, asri, sangat sensitif jiwanya, dan lembut hatinya. Sang Arjuna sulit mengucap kata ‘tidak’ dan kata ‘jangan’, khususnya terhadap kaum wanita. Di situlah kelemahan Sang Arjuna, maka tak sedikit wanita yang sangat merindukannya, walau mereka telah bersuami.

3. Kresna (Politikus)
Ketika muda, Kresna bernama Narayana.
Ia kemudian menjadi raja di Dwarawati. Meskipun secara fisik pria ini berkulit hitam, berdarah hitam dan berdaging hitam, tetapi Kresna tidak ‘hitam’ ulahnya. Kresna adalah lambang pria yang ramah, mudah bergaul, supel, banyak kawan, dan suka bercanda (humor). Ketika memberi fatwa, ia menggunakan berbagai sindiran yang begitu lembut, sehingga yang dinasihati tidak merasa sakit hati. Kresna banyak didatangi sahabat tua-muda dan pria-wanita, untuk sharing atau konsultasi. Umumnya, sepulang dari konsultasi dari Dwarawati, para ‘relasi’ Kresna pulang dengan menggenggam semangat. Kresna memang terkenal sangat strategis dalam menghadapi keluhan para ‘klien’-nya. Kresna memiliki karier yang sulit ditandingi, terlebih di bidang politik. Di mata sesamanya, Kresna memiliki wibawa yang sangat tinggi dan pengaruh yang luar biasa. Dedikasi dan loyalitasnya sangat oke, karena itulah semua anak buah Kresna patuh kepadanya. Dalam rumah tangga, Kresna tidak mengecewakan. Walaupun beristeri tiga orang, Kresna sangat adil. Nasihat yang terkenal dari Kresna kepada para isterinya ialah, agar mereka mengedepankan rasa kemanusiaan dan mengesampingkan busana glamour.

4. Drestharastra (Gagal Membina Isteri)
Drestharastra adalah saudara tua dari keluarga Pandawa, bibit darah Pandawa. Ketika Pandhu mangkat, singgasana kerajaan diambil alih oleh Drestharastra, sehingga Pandawa Lima tersingkir. Sebenarnya, Drestharastra memiliki watak agung budi, sabar dan suka mengalah. Tetapi karena terbawa oleh watak isteri tercintanya yang bengis dan ambisius, yang bernama Gandari, maka watak yang sabar, dan suka mengalah tersebut justru dimanfaatkan oleh Sang Gandari, untuk menyetir sang suami, agar sang suami mengikuti seluruh kehendaknya. Drestharastra bisa digambarkan sebagai lambang suami yang terkalahkan dan disetir sang isteri. Maka tidak mustahil jika watak Drestharastra, belakangan berubah. Tak mustahil pula kalau orang-orang yang bekerja pada Drestharastra, jarang yang betah lama, karena Gandari menganggap hina setiap orang yang menghamba kepada Drestharastra. Demikian juga kepada keluarga sang suami. Drestharastra sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Gandari memang cantik, tetapi ia berwatak iri, dengki, semena-mena, dan mudah terhasut. Semua perwatakan itu sangat mempengaruhi watak Drestharastra. Bahkan anak-anak Drestharastra yang berjumlah 100 orang, tak ada satupun yang bisa dijadikan teladan.

5. Bima (Si Mahal Cinta)
Keperkasaan pria bernama Bima tentu sudah tidak diragukan lagi. Watak Bima memang sangat jauh dari watak angkuh dan sombong, walau dikaruniai kekuatan yang luar biasa. Bima sangat tinggi rasa sayangnya terhadap orang tua dan saudara. Bima juga terkenal jujur kalau berbicara, bahkan tidak pernah berbohong. Namun Bima kurang suka sesuatu yang bersifat formal. Sang Bima selalu bersikap teguh memegang prisip, tidak gampang terhasut atau dipengaruhi dengan apapun, walau si penghasut mempergunakan berbagai jurus dan cara. Bima juga memiliki tenggang rasa yang sangat dalam terhadap siapapun, sehingga ia akan serta-merta memberi pertolongan kepada siapapun yang sedang dilanda musibah dan kesusahan. Ia juga sangat kuat berpegang pada sariat agama dan paugeran kenegaraan. Bima adalah sosok patriotis yang selalu setia kepada lingkungannya dan negerinya sendiri. Dalam komunikasi sosial, Bima dikenal sangat menghormati kaum wanita. Bima juga bukan tipe pria ‘mata keranjang’. Ketika dia tertarik dan memperisteri Dewi Arimbi, semata-mata ia tertarik pada keluhuran budi dan keagungan sang Dyah Ayu.

6. Durna (Paranormal Pengeruk Keuntungan)
Ketika mudanya, Durna bernama Bambang Kumbayana. Waktu itu Resi Durna begitu tampan dan ganteng. Bambang Kumbayana selalu berbusana mewah, sehingga penampilannya sangat meyakinkan. Tetapi karena wataknya yang hadigang-hadigung, maka wajahnya berubah menjadi tidak karuwan setelah dihajar habis-habisan oleh musuhnya. Resi Durna memang selalu berkostum jubah paranormal (Jw: Pandhita), tetapi perilakunya sangat nista dan hina. Durna dikenal dengan watak ‘bermuka dua’. Pria yang tidak berpendirian kuat dan penuh prasangka buruk, walau ia mengklaim dirinya sebagai ‘paranormal’. Durna juga dikenal sangat suka mendatangi para muridnya, karena di sana akan dihormati oleh murid-murid dan keluarganya. Semua kebutuhannya disediakan, bahkan kadang ia minta dijemput oleh para Korawa. Di balik jubahnya itu, Durna justru tega memanfaatkan setiap orang yang minta pertolongan, untuk kepentingan Durna sendiri. Bahkan ia tega memanfaatkan kesusahan ‘klien’-nya untuk kesenangan pribadi Durna sendiri. Meskipun demikian Durna sering bercerita tentang keberhasilannya dalam menolong sesama, sehingga para tamunya terbius oleh bujukannya. Ia madeg sebagai paranormal, memang hanya untuk mengeruk keuntungan. Namun resminya, Durna adalah penasihat spiritual Astina dan Pandawa.

7. Semar (Pembantu Bijaksana)
Jika pembaca adalah wanita, dan bersuamikan seorang pria yang sangat pandai mengasuh dan amat bijaksana, itu berarti tak jauh berbeda dengan karakteristik Sang Semar. Walau hanya seorang punakawan, sebenarnya Semar adalah turunan dari bangsawan, bahkan saudara Sang Hyang Guru Nata (dewa dari seluruh dewa) di Kahyangan. Walaupun Semar dikenal sebagai orang papa, ia memiliki insting yang sangat tajam, intuitif, dan memiliki watak kedewaan. Semar senantiasa adil dan bijak dalam memutuskan setiap masalah atau perkara. Bila diperintah menumpas keangkaramurkaan, Semar akan memperlihatkan kesejatian dirinya. Akan tetapi dalam keseharian, Semar selalu berpenampilan sebagai sosok titah sawantah belaka. Isteri Semar adalah Dewi Kanistri, yang selalu ditinggal pergi karena panggilan tugas mulia sang suami dalam menghamba kepada pemimpin dan bangsanya. Kehidupan keluarga Semar lebih mengedepankan lakutama daripada gemerlap duniawi.

8. Baladewa (Mudah Marah, Mudah Memaafkan)
Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana, kakak Prabu Kresna. Baladewa berkulit putih kemerahan seperti turis (bule). Ia adalah lambang pria yang suka bersemedi, suka pati raga dan tirakat. Ia lebih banyak berkecimpung di dalam dunia ilmu ghaib. Waktu yang lain dimanfaatkan untuk berkiprah di bidang olah kaprajan, juga menempa strategi berperang. Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Hubungan kekeluargaan dengan Pandawa memang sedikit renggang, karena Baladewa banyak bermukim di Astina. Tetapi Baladewa juga serta-merta hijrah dari Astina, setelah mengetahui bahwa keluarga Astina telah melenceng dari kesepakatan dan pesan para leluhur. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya.

Oleh: Soegiyono MS, Guru SMP Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo ( Sumber: Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008 )