jump to navigation

Kisah Tragis Palgunadi (Bambang Ekalaya) February 12, 2013

Posted by tintaungu in Ragam.
trackback

Kenalkah anda dengan tokoh ksatriya yang bernama Bambang Ekalaya ? Sebuah kisah tragis mengiringi perjalanan hidupnya… Bambang Ekalaya adalah seorang ksatriya tampan yang mempunyai kemauan keras serta bakat yang luar biasa… Hal itu masih belum cukup untuk menggambarkan pribadinya yang demikian mantap dan gagah berani menapaki kehidupan yang sungguh sangat berat dan berkesan tidak adil pada dirinya..

Bagaimana tidak ?! Atas keinginannya yang kuat untuk belajar memanah pada Begawan Drona, maka dia memberanikan diri untuk menghadap dan memohon untuk bisa menjadi murid Sang Begawan… Karena memang terikat janji pada kekuasaan di Astinapura bahwa Begawan Drona hanya akan mengajarkan ilmu kaprajuritanya pada Pandhawa dan Kurawa saja maka ditolaklah permohonan Bambang Ekalaya… Tidak patah semangat sampai di situ saja, Bambang Ekalaya membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan sambil membayangkan bahwa patung itu adalah Begawan Drona yang sesungguhnya maka secara otodidak dia mulai belajar memanah (olah kridhaning jemparing) dan ilmu keprajuritan lainnya.. Hari demi hari, minggu demi minggu secara mandiri dia menganalisa hasil latihannya sedemikian rupa sehingga dia sendiri mampu belajar dari evaluasi kekuarangannya untuk selalu menjadi lebih baik..

Sungguh sebuah hasil kerja keras yang tanpa mengenal lelah serta dilambari akan kebulatan tekad dan kemantapan dalam menjalani kehidupan maka Bambang Ekalaya akhirnya sangat trampil dalam memanah dan memainkan keris… Karena kecerdasan dan kedewasaannya telah dinilai mampu menggantikan tahta, maka akhirnya Bambang Ekalaya nglintir keprabon naik tahta menjadi Raja di negara Paranggelung dengan gelar Prabu Palgunadi.. Dengan Dewi Anggraheni sebagai permaisuri yang selain berwajah cantik rupawan juga sangat bernakti dan setia kepada Prabu Palgunadi (kesetiaan hal ini akan sangat jelas tergambar di akhir episode kisah ini…).

Diceritakan bahwa di Padepokan Sokalima tempat Sang Reshi Begawan Drona mengajar para murid sedang jeda pelajarannya, Pandhawa dan Kurawa mendapat kesempatan berlibur selama 2 pekan… Para Kurawa merencakan pulang ke Keraton Astinapura untuk berpesta merayakan libur panjang itu… Para Pandhawa lebih suka tetap tinggal di Padepokan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya selama ini… Kecuali Arjuna yang berkeinginan untuk mengunjungi Eyangnya Begawan Abiyasa ke Pertapan Saptaarga di Wukir Ratawu…

Singkat kata di perjalanan Arjuna bertemu dengan Prabu Palgunadi yang sedang bertamasya berburu di tengah hutan… Pertemuan merekapun bagaikan sudah diatur untuk kemudian menjadi bermusuhan… Karena Arjuna adalah seorang murid yang sedang turun gunung maka dia ingin sekali mencoba kemampuannya memanah… Di tengah hutan dia membidik seekor rusa untuk dipanah… Pesat seperti kilat panah Sang Arjuna menuju jantung rusa tadi… Pada saat yang sama ternyata Prabu Palgunadipun sedang melakukan hal yang sama… Dengan waktu yang bersamaan dan arah bidikan yang sama pula, maka panah kedua ksatriya itu tepat mengenai sasaran di jantung rusa tersebut… Serentak kedua ksatriya itu berlari menghampiri hasil buruannya…

Akhirnya terjadilah perang mulut tentang siapa yang berhak atas rusa itu karena panah mereka tepat berimpit pada sasaran yang sama.. Karena tidak ada yang mau mengalah maka perkelahian pun tak dapat dihindarkan… Dari olah kridhaning curiga (keris) sampai pada ketrampilan memanah mereka peragakan… Tak ada yang kalah dan tak ada yang menang pada pertarungan itu… Mereka saling menghina lawan dan membanggakan diri… Sampai suatu ketika keduanya menyebut bahwa masing-masing adalah murid dari Sang Reshi Begawan Drona… Karena dengan senjata mereka pada posisi yang imbang, maka pertarungan dilanjutkan dengan tangan kosong.. Saling tendang dan jotospun segera terjadi.. Suatu ketika Arjuna terkena tempeleng di pelipisnya… Seketika berkunang-kunang matanya dan oleng hampir jatuh tersungkur di tanah… Dengan menahan rasa malu karena tidak bisa mengalahkan Palgunadi dan juga rasa marah karena merasa dikhianati oleh Gurunya.. Karena Arjuna tahu bahwa Sang Guru hanya akan mengajarkan kepandaiannya kepada Pandhawa dan Kurawa saja, namun tiba-tiba muncul seorang ksatriya muda yang telah menjadi Raja pula, yang demikian sakti mandraguna sehingga seorang Arjuna yang menjadi murid kesayangan sekaligus juara bermain keris dan memanahpun tidak mampu mengalahkannya, mengaku bahwa dia adalah murid Begawan Drona juga… Arjuna menurungkan niatnya ke Wukir Ratawu dan segera bertolak kembali ke Padepokan Sokalima untuk mengadu pada Gurunya…

Begitu mendengar pengaduan Arjuna murid kesayangannya, Sang Begawan Drona pun tercengang… Karena memang dia tidak merasa mempunyai murid selain Pandhawa dan Kurawa.. Tiba-tiba muncul nama Palgunadi dengan kepandaian yang ngedap-edapi dan mengaku bahwa dia adalah muridnya… Untuk membuktikan bahwa Palgunadi memang bukan muridnya maka Arjuna diajak Sang Begawan untuk menghampiri di mana Palgunadi berada…

Karena perasaan bangga namun juga ada perasaan cemas menyelinap karena dia tahu pasti Arjuna tidak akan tinggal diam menerima kekalahannya apalagi dia sudah terlanjur mengaku sebagai murid Begawan Drona… Mak sepeninggal Arjuna matanya tak pernah lepas dari arah Arjuna berlari meninggalkan dirinya… Benar saja.. Tak lama kemudian dari kejauhan dia melihat sosok seseorang yang menjadi idolanya yaitu Sang Reshi Begawan Drona… Perasaan bangga diam-diam menyelinap di dadanya… Jika Sang Begawan berkenan hadir di tempat itu atas pengaduan Arjuna maka jelas Palgunadi adalah tokoh ksatriya yang pantas diperhitungkan..

Setelah Begawan Drona dekat, Palgunadi segera bersembah sujud layaknya seorang murid pada Gurunya… Drona berkata, ”Benarkah engkau yang bernama Palgunadi dan mengaku menjadi muridku ?” Palgunadi mengiyakan, sedangkan Arjuna hanya mempu duduk dibelakang Gurunya sambil bersungut-sungut.. Drona melanjutkan, ”Aku tidak merasa mempunyai murid dirimu, dan juga aku tidak merasa mengajarkan sesuatu pada dirimu.. bagaimana mungkin hubungan kita adalah Guru dan murid ?” Palgunadi menjawab sambil mengingatkan bahwa dirinya pernah melamar menjadi murid Begawan Drona… ”Betul.. aku masih ingat pada waktu engkau memohon untuk kuangkat sebagai murid.. aku masih ingat betul karena akupun terkesan akan postur tubuh dan struktur tulangmu yang sangat ideal untuk dididik olah kaprajuritan… namun aku tidak menerimamu sebagai muridku.. karena hal itu tidak boleh terjadi, diriku terikat sumpah hanya akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada Pandhawa dan Kurawa saja.. dan pada waktu itu engkaupun segera meninggalkan Padepokan Sokalima, hingga saat ini aku berjumpa lagi denganmu tidak pernah ada pertemuan di antara kita, bagaimana mungkin kesaktian yang engkau punyai adalah merupakan buah dari pelajaran yang aku berikan ?!” Palgunadi menjawab bahwa sepulang dari Padepokan Sokalima dulu di membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan seperti telah diceritakan di atas, Palgunadi belajar secara otodidak dengan ditunggui patung Begawan Drona tadi…

Arjunapun diam-diam menyimak percakapan itu sehingga dia menjadi tahu duduk permasalahannya… Selain rasa kagum terselip juga rasa iri di hati Arjuna… Jika saja dia tidak terkena tempeleng Palgunadi maka belum tentu kalah…

Dengan setengah berbisik Arjuna mengemukakan hal tersebut pada Gurunya… Sang Begawan Drona tanggap akan maksud muridnya… Dia menyambung percakapan dengan Palgunadi, ”Baiklah… Jika memang demikian adanya, apakah engkau lahir batin mengaku murid padaku ? Karena sungguh berat kewajiban murid kepada seorang Guru… Sadarkah engkau akan hal itu ?” Palgunadi terbuai akan kata-kata Drona, dia melihat secercah harapan bahwa dia bisa diangkat murid secara resmi oleh Sang Begawan… sehingga dengan lantang dan mantab diapun menjawab bahwa lahir batin dia mengaku murid pada Begawan Drona, bahkan dia bersumpah apapun perintah Sang Begawan akan dia laksanakan dengan senang hati….

Sang Begawan Drona tersenyum puas karena merasa perangkapnya telah berhasil… Dia menayakan, bagaimana mungkin hanya dengan satu tempelengan di pelipis Arjuna bisa terhuyung-huyung hampir jatuh… kesaktian apakah itu… Pucat wajah Sang Palgunadi begitu mendengar pertanyaan Drona.. Dia terpaksa harus mengaku bahwa kesaktian tangan kirinya itu disebabkan karena Pusaka Manik Sotyaning Ampal yang berwujud cincin.. Drona menyambung, bahwa dia kepingin mengathui wujud cincin itu seperti apa.. Seperti tercekat tenggorokan Palgunadi, karena dia baru saja bersumpah bahwa apapun perintah Drona akan dia laksanakan dengan senang hati maka diapun menjawab bahwa cincin Manik Sotyaning Ampal karena itu adalah pusakan maka dia berada didalam kulit namun diluar daging sehingga tidak bisa dilepas.. ”Kalau memang engkau tidak ingkar akan janjimu akan senantiasa menaati perintahku, maka mana tanganmu aku ingin melihatnya…” ucap Drona.

Dengan perasaan bingung tak tahu harus berbuat apa, Palgunadi mengulurkan tangannya… Dengan serta merta secepat kilat Drona menghunus keris dan memotong jari manis tangan kanan Palgunadi di mana cincin Manik Sotyaning Ampal berada… Palgunadi meraung kesakitan dan mengucapkan kata-kata terakhir yang menyayat hati…”Oh.. Guru.. mengapa engkau tega berbuat demikian kepadaku… sesungguhnya pusaka itu merupakan kekuatanku namun juga menjadi kelemahanku.. apabila sampai cincin itu terlepas dariku maka akan matilah aku… Lahir batin aku mengaku murid kepadamu.. ketaatanku penuh tanpa syarat kepadamu… namun apa balasanmu kepadaku… dalam kondisi diriku tak berdaya engkau tega menghabisi nyawaku dengan cara yang tidak ksatriya kau potong jariku hanya karena engkau ingin memiliki cincin Pusakaku Manik Sotyaning Ampal… Ingatlah kata-kata terakhirku ini, apabila besuk suatu saat terjadi perang besar, maka keadaan seperti ini akan berbalik menimpa padamu.. Dalam kondisi tak perdaya maka nyawamu akan aku jemput dengan meminjam raga seorang ksatriya sehingga dendam ini akan terbalas…. Begitu Palgunadi selesai berkata-kata, maka terkulai lemaslah badanya… pisah nyawa dan raganya.. mati sia-sia di tangan seorang Begawan yang menjadi idolanya dalam kondisi yang berdaya… Tragis !

Bersamaan dengan itu menyambarlah petir di angkasa disertai kilat yang menyambar-nyambar… memberikan saksi bahwa alampun tidak berkenan atas kematian Palgunadi, dan sekaligus menjadi pertanda bahwa apa yang diucapkan Palgunadi akan menjadi kenyataan kelak di kemudian hari.. Hati Begawan Drona bergetar atas reaksi alam itu… dia tahu bahwa dia telah berbuat aniaya pada seseorang… Namun hal itu memang sudah menjadi takdir yang harus dia lakoni… Dia tahu bahwa  suatu ketika pasti akan terjadi perang besar antara Pandhawa dan Kurawa yang disebut Bharatayuda, maka jika ada kekuatan yang tidak bisa membantu Pandhawa pasti akan digunakan oleh Kuwara untuk menambah kekuatannya… Palgunadi sudah menanam bibit permusuhan dengan Arjuna, maka kemungkinan besar kekuatan Palgunadi tidak akan bisa menyatu dengan Pandhawa.. dengan demikian apabila Palgunadi akhirnya bergabung pada Kurawa, apakah tidak akan semakin berkepanjangan dan berlarut-larut perang besar tersebut…

”Ngger.. Arjuna.. sekarang palgunadi telah mati… Kesaktianya yang berwujud cincin juga sudah ambil… Maka jangan sekali-kali meragukan kecintaan Bapa kepadamu ya Ngger… Engkau murid kesanganku.. semua ilmu aku tumpahkan tidak ada yang aku sembunyikan darimu… Camkan itu ya Ngger… Mana telapak tangan kirimu… cincin Manik Sotyaning Ampal ini aku berikan padamu… supaya bertambah kesaktianmu dan kamu sadari benar bahwa engkau adalah murid kesayanganku…” Dengan tersipu-sipu dan berbunga-bunga hati Arjuna karena akan menerima pusaka yang tentu saja akan menambah kesaktiannya… Namun betapa kaget Sang Arjuna, begitu potongan jari Palgunadi dimana cincin sakti itu berada menempel pada sela-sela jarinya, maka melekatlah jari itu pada tangan Arjuna dan tidak dapat lepas lagi !! Sehingga jari-jari tangan kiri Arjuna menjadi berjumlah enam.. ! Sehingga oleh karenanya predikat Satriya Bagus Tanpa Cacat sebenarnya sudah tidak layak lagi disandang Arjuna.. Namun Drona membesarkan hati Arjuna… asal tidak diperhatikan maka orang tidak akan menyangka kalo jari tangan kiri Arjuna berjumlah enam… Pasti akan tertutup oleh keelokan wajah, kehalusan kulit dan seabreg lagi kelebihan Arjuna dalam penampilan…. Jadi jangan terlalu dipikirkan…

Syahdan ketika Palgunadi meraung kesakitan karena jarinya dipotong oleh Drona, suaranya sayup-sayup terdengar sampai pakuwon tempat dimana rombongan para penderek Prabu Palgunadi dari neagara Paranggelung berada… Hati Dewi Hanggraheni gusar tidak terkera.. dia yakin betul bahwa suara raungan kesakitan itu adalah suara suaminya.. namun nalarnya menolak hal itu karena dia tahu betapa sakti mandraguna suaminya Sang Prabu Palgunadi… namun perasaannya tidak bisa dibohongi, perasaannya berkata bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres terhadap pada suaminya.. Seketika dia berlari mengahmpiri arah suara raungan itu berasal…

Pada saat dia sampai di tempat Palgunadi meninggal, baru saja Arjuna menerima cincin Manik Sotyaning Ampal… Dia menubruk jenazah suaminya sambil menangis tersedu-sedu… Karena dia seorang perempuan maka tidak segera tanggap harus segera berbuat apa menghadapi peristiwa yang sedemikian tidak dinyana-nyana ada di hadapannya…

Di sinilah tokoh Arjuna yang demikian diidolakan banyak orang… Dengan predikat Satria bagus tanpa cacat, Lelananging jagat, yen lanang ngondangake kasektene, yen wadon ngondangake kebaguasane…. Ternyata juga tak luput dari sifat kekurangan yang mungkin apabila terjadi pada tokoh lain sudah menghasilkan hujatan dan caci maki yang tidak berkesudahan…. Betapa tidak.. !? Karena rasa iri akan kesaktian Palgunadi dengan meminjam tangan Gurunya dia bunuh Palgunadi untuk dimiliki kesaktianya… Eh, setelah melihat kecantikan Dewi Anggraheni janda Palgunadi dia masih menginginkan juga untuk diambil istri… Terlalu !

Namun kecantikan Dewi Anggraheni tidak hanya di luar saja namun tulus sampai ke dalam sanubarinya… Walaupun Arjuna seorang ksatriya yang gagah tampan rupawan, namun kesetiaannya pada Prabu Palgunadi tak pernah luntur… Dia menolak pinangan Arjuna… Arjunapun seperti kalap tenggelam oleh nafsu birahinya begitu melihat kecantikan Dewi Anggraheni.. Dia bermaksud memaksakan kehendaknya… Sang Dewi Anggrahenipun berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak histeris tidak karuan… Betapa hatinya hancur luluh berkeping-keping, baru saja ditinggal mati suami kini mengahadapi ancaman pemaksaan kehendak (untuk memperhalus perkosaan) dari Arjuna… Segesit-gesitnya mengindar, secepat-cepatnya berlari.. Dewi Anggraheni hanyalah seorang wanita.. menghadapi kejaran Arjuna jelas bukanlah hal mudah… demikian juga dengan Arjuna… apapun yang dilakukan Anggraheni di mata Arjuna adalah seperti menggoda saja…. Dengan sekali loncatan maka tangan Dewi Anggraheni telah tertangkap… Dengan halus Arjuna mulai merayu lagi… Sang Dewi pun semakin muak saja… Tekat di dalam hatinya lebih baik mati daripada harus mengkhianati cinta suaminya… Maka dengan serta merta dia tarik cundrik yang terselip dibalik sabuknya (karena dalam kondisi pesiar berburu ke hutan maka biar seorang putri sekalipun akan senantiasa membawa cundrik… cundrik adalah semacam keris kecil yang merupakan senjata khas kaum perempuan) dan menancapkannya didadanya…. Demikianlah kesetiaan Dewi Anggraheni telah teruji dan terbukti bisa dipakai sebagai contoh….

Diceritakan untuk menghibur hati Arjuna yang sedang gundah itu maka Begawan Drona mengajaknya kembali ke Padepokan Sokalima dan akan diberikan ilmu tambahan sebagai pelipur lara… 

Kisah Bambang Ekalaya atau Palgunadi ini akan berlanjut pada serial Bharatayuda dengan lakon Drona Gugur…

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: