jump to navigation

Istighfar Membuka Pintu Rezeki August 20, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

( Tulisan Ustadz B. Heriwibowo di detik.com )

“Dan hendaklah kalian meminta ampun (beristighfar) kepada Tuhan dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan keutamaan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan…” (QS. Huud {11}:3)

Mohon ampun kepada Allah. Taubat. Istighfar. Itulah ikhtiar kita! Sebuah usaha yang jarang ditempuh oleh kebanyakan orang. Ikhtiar yang menurut kebanyakan manusia, termasuk juga saya hanya akan mendatangkan maghfirah dan ampunan Allah Swt. Namun siapa disangka, saat manusia membutuhkan karunia Allah Yang Maha Kaya…. Saat nafkah terasa berkurang… mungkin saja karena disebabkan kita belum menyambut ‘ampunan’ Allah Swt. Ya, ampunan-Nya! Maka itu dapat mendatangkan karunia Tuhan bagi kita semua!

Teringat kisah baginda Nabi Muhammad Saw. Kali itu, beliau memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 10 Hijriyah. Begitu mendengar Sayyidul Mursalin berniat melaksanakannya, para sahabat yang berada di Madinah pun turut serta untuk mengerjakan haji sebagai rukun Islam yang terakhir. Subhanallah! Rombongan yang ikut dalam ritual haji tersebut mencapai angka lebih dari 120 ribu manusia.

Dengan jumlah rombongan sebanyak itu, atas izin-Nya kota Mekkah yang berada di bawah kekuasaan kafir Quraisy dapat ditaklukkan dengan amat mudahnya dan nyaris tanpa pertumpahan darah. Lebih hebatnya lagi, banyak penduduk Mekkah yang menyatakan masuk ke dalam agama Allah Swt dengan berbondong-bondong.
Namun kala itu, turunlah sebuah surat singkat yang diwahyukan kepada baginda Nabi Saw yang berbunyi:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. An Nashr {110}:1-3)

Siapa yang pernah menyangka…? Mungkin tiada terbayang dalam benak kaum muslimin saat itu yang hanya berniat untuk berhaji untuk mendapatkan anugerah yang luar biasa dan tiada terduga; yaitu penaklukan kota Mekkah & para penduduknya masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Ini adalah karunia yang tiada terbilang harganya! Karunia tersebut didapatkan karena istighfar mereka. Karena permohonan ampun mereka atas segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat! Tidakkah kita perhatikan di ayat terakhir pada surat tersebut? Setelah Allah Swt memberitahukan tentang penaklukan kota Mekkah & masuk Islamnya penduduk kota tersebut, Allah Swt memerintahkan kepada Nabi-Nya dan kaum muslimin secara menyeluruh untuk bertasbih juga memohon ampunan (beristighfar) kepada-Nya? Ya, memohon ampunan Allah! Sebelum dan sesudah kesuksesan itu datang. Sebelum dan sesudah prestasi diraih. Meminta ampunan-Nya untuk menjemput karunia-Nya dan mendapatkan kemuliaan serta keutamaan sebagaimana dijanjikan dalam QS. 11:3

Dalam tafsir Al Qurthubi disebukan sebuah riwayat dari Ibnu Shubaih bahwa ada seorang pria datang kepada Al Hasan Al Jadubah mengeluhkan permasalahannya. Maka Al Hasan memberi jawaban, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lalu ada orang lain yang mengeluhkan rezeki yang sulit, maka Al Hasan menganjurkan, “Beristighfarlah kepada Allah!” Kemudian ada seorang perempuan yang datang kepada Al Hasan mengadukan bahwa dia belum dikaruniai anak. Al Hasan pun memberi jawaban yang sama. Ada lagi orang yang mengeluhkan padanya bahwa kebunnya kurang air, Al Hasan pun masih memberikan jawaban serupa. Maka kami pun bertanya kepada Al Hasan tentang jawaban yang sama itu dalam menghadapi masalah yang beragam. Maka ia menjawab, “Itu semua bukan aku yang jawab. Namun itulah jawaban Allah yang tertuang dalam surat Nuh:10-12.”

Tidakkah Anda melihat dalam riwayat tersebut bahwa istighfar dapat menyelesaikan banyak masalah? Karenanya, jika Anda merasa hidup sulit.. banyak masalah dan rezeki sempit… tidakkah kita mencoba resep Nabi Saw? Sebuah amalan yang amat mudah dan gampang untuk dikerjakan. Tiada lain amalan tersebut adalah istighfar (memohon ampunan) kepada Allah Swt.
Beliau Saw bersabda, “Siapa yang membiasakan beristighfar (memohon ampun kepada Allah), maka Allah akan memudahkan baginya: 1) Jalan keluar dari setiap kesempitan, 2) Kemudahan dalam setiap kepanikan, 3) Rezeki dari Allah Swt lewat jalan yang tidak pernah terduga.” HR. Abu Daud

Maka, cobalah kebiasaan baik ini dalam hidup Anda yang tersisa. Beristighfar kepada Allah Swt dalam sehari-semalam sebanyak 100 kali. Ucapkanlah…. Astaghfirullahal Azhim… (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), atau dengan ucapan istighfar lain yang Anda ketahui, maka Anda akan dapati bahwa saat ampunan Allah Swt itu sudah Anda rasakan, maka kenikmatan yang diberikan kepada Anda akan semakin berlimpah-limpah dan banyak keutamaan serta keistimewaan yang Dia berikan kepada Anda. Ya, Anda… hamba-Nya yang suka mencari ampunan dari-Nya. Semoga bermanfaat!

Advertisements

Karakter Anda di Status Facebook August 16, 2009

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Facebook kini menjadi media mengungkapkan sesuatu. Nah, karakter Anda akan terlihat. Berikut ini daftar karakter Anda sesuai status di facebook. Tulisan Mas Fienso di milis sasing@yahoogroups.com, disarikan dari Okezone.

1.Manusia Super Update

Kapanpun dan dimanapun update status. Status nya ga panjang2 amat..tapi terlihat bikin risih, karena hal2 yang ga terlalu penting juga dia publikasikan

contoh : “Lagi makan di restoran A..”, “Dalam perjalanan menuju neraka..”, “Saatnya baca koran..”, dsb..

2.Manusia Melankolis

Biasanya dia curhat di status. Entah karena ingin banyak diberi komentar dari teman2nya atau hanya sekedar menuangkan unek2nya ke facebook, tapi biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yg terbaik kepada yang laen..

contoh : “Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..”, “Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih km sudah sayang ama aku selama ini..”, dsb..

3.Manusia Tukang Ngeluh

Ga pagi, ga siang, ga malem, ga dikasih ujan, ga dikasih panas, ga dikasih uang, ga dikasih makan, pokonya semuanya dia keluhkan..

contoh : ” Jakarta maceeet..!! Panas pula..”, “Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!”, “Males ngapa2in.. cape hati gara2 si do’i..”, dsb..

4.Manusia Sombong

Mungkin beberapa dari mereka ga berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel..

contoh : “Otw ke Paris ..!!”, “BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..”, dsb..

5.Manusia Puitis

Dari judulnya udah jelas. Status nya selalu diisi dengan kata2 mutiara, tapi ga jelas apa maksudnya. Bikin kita terharu? Bikin kita sadar atas pesan tersembunyi nya? atau cuma sekedar memancing komentar? Sampai saat ini, tipe orang seperti ini masih dipertanyakan. .

contoh : “Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan”, “Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi”,

“Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu”, dsb..

6.Manusia in English

Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis Gicyu Low..

contoh : “Tie and Chair..”, “I can tooth, you Pink sun..” dsb..

Kira2 seperti itu lah..sebenernya masih banyak lagi dalam pikiran..tapi keburu mau berangkat..kapan2 diterusin ya..hehe..

Mudah2an ga ada yang tersinggung. .just 4 fun kok..

7. Alay…

updatenya gaul2… dan bahasa dewa.. ejaan yang dialaykan..
contoh..” met moulnin all.. pagiiieh yg cewrah… xixiixi” << lol~

8. Obsesi…

ngarep… tp ga kesampaian.. pengen jd artis ga dapat2.. dll..
contoh : :duwh… sesi pemotretan lagi! cape…

9. Sok tau..

sotoy tenarnya..
contoh : pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla…bla. ..
pdahal ga taw apa yang ditulis..

10. Bioskop Mania..

update film yang abis ditonton dan kasih comment..
contoh : ICE AGE 3..REcomended! ! << ini sih gw..

11. Tipe Pedagang:

contoh: “jual sepatu bla bla bla”

12. Tipe Penyuluh Masyarakat:

contoh: “jangan lupa dateng ke TPS, 5 menit utk 5 tahun bla..bla”

13. Pengguna Facebook Tipe Kaskuser

baru online ‘PERTAMAXXXX GAN!’… 5 menit lagi ‘kalo berkenan cendolnya donk gannn’…. 1 jam lagi ‘aduh sial gagal pertamax di trid sendiri’…. .. beberapa jam lagi ‘YES GW UDAH ISO2000’, trus nawarin ‘bagi2 cendol gratiss di kaskus ngerayain ISO ‘ kalo online pagi ‘pagi2 enaknya ngaskus gan!’, ‘tidur telat bangun pagi2 nyalain komputer ngaskus lagi’
Dan masukan lain yang tentunya jadi status of the year..

14.Manusia Alay …(nggak jelas maunya apa).

Ada berbagai macam versi, dari tulisannya yang aneh, atau tulisannya biasa aja, hanya saja kosakata nya ga lazim..ato mungkin ada yg fusion..

Alay 1 : “DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!”

Alay 2 : “km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa? ”

Alay 3 : “Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!”

(Khusus buat tipe ini, ga usah di baca juga gpp..saya pribadi juga mikir dulu buat nulis ini, walaupun jadinya kurang mirip sama yg aslinya..)

15.Tipe Hidden Message (1 lagi yg kepikiran ama saya gan..)

Tipe ini biasanya ga to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yg dituju membaca nya..bagus2 kalo baca..kalo ngga? kelamaan nunggu, padahal langsung aja sms ya..

contoh : “For you my M***, I can’t live without you..you are my bla bla bla..”, “Heh, cewe bajingan..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo..” <<< (padahal ce tersebut ga jadi friend nya..mana bisa baca..)

16.Tipe Misterius

Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya tanya atas apa maksud dari status orang tersebut..Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkan Subjek + Predikat + Objek + Keterangan.. Tapi orang tipe ini mungkin hanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja..Dan pastinya mengundang kontroversi.

Hanya Titipan August 14, 2009

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

                                      
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?

                                       
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah,

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

                                                
Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

kutolak kemiskinan.

                                          
Seolah… semua derita adalah hukuman bagiku.

Seolah… keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

                                     
Kuperlakukan Dia seolah mitra-dagang,

dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku.

                                             
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanya untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,

bencana dan keberuntungan sama saja”.
                                     

(WS Rendra)

                                                                                        

Tanda Iman Sedang Lemah August 9, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

( Tulisan Mochamad Bugi di dakwatuna.com, sangat menarik, terima kasih telah mengingatkan… )
jembatan kayu
Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:

1. Ketika kita sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan kita. Akibatnya, kita akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Ketahuilah, Rasululllah saw pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati kita terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terbujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati kita. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai kita masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah: 74)

3. Ketika kita tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika kita terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika kita berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika kita merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati kita tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar kita. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika kita tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika kita merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai kita membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika kita melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga kita merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula kita menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter kita. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika kita tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah kita padam. Anggota tubuh kita tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka kita pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika kita gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hari kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika kita bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika kita mengatakan sesuatu yang tidak kita perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2- 3)

Apakah kita lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika kita merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Kita merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari kita dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika kita menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, kita akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman kita pasti dalam keadaan lemah, jika kita mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika kita pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika kita mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa kita dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika kita tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika kita memutuskan tali persaudaraan dengan saudara kita. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karena Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika kita tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika kita merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu kita tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Kita kalut. Tubuh kita gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman kita sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut: 2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika kita senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati kita keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika kita bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi kita tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika kita senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan kita.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba- Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash: 55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika kita berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling kita sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburka n (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

 ‘

The Matrix of Life August 4, 2009

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

“Life is too short to settle for anything less than a 110% effort!”
– Rick Irving

Semesta Alam, sejak awal, telah menekankan bahwa pikiran dan otak merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi keberhasilan kehidupan manusia. Bayi yang baru lahir telah mempunyai otak dengan ukuran 25 persen dari ukuran dewasa sedangkan tubuhnya hanya berukuran satu per dua puluh dari ukuran dewasa.

Berbeda dengan jenis spesies lainnya, spesies manusia adalah satu-satunya spesies yang bayinya bergantung pada induknya untuk waktu yang cukup lama. Sementara spesies lainnya dapat dengan sangat cepat hidup mandiri. Mengapa ada perbedaan seperti ini?

Alam mempunyai program yang berbeda antara kita, manusia, dan spesies lainnya. Pada spesies, selain manusia, alam telah menyediakan semua built-in program yang dibutuhkan untuk hidup. Dengan demikian spesies ini tidak dapat mengubah program dasar ini. Mereka hidup dan berkembang hanya dengan menjalankan program yang telah alam tentukan.

Bagaimana dengan manusia? Manusia jelas berbeda. Manusia adalah satu-satunya spesies yang mempunyai kemampuan berpikir dan berperan sebagai co-creator dari hidupnya. Selain ada program dasar, yang untuk saat ini belum bisa diotak-atik, yaitu program pertumbuhan dan perkembangan dalam bentuk DNA Genetic Coding, manusia juga mempunyai kesempatan dan kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya. Semua ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan adaptasi dan survival.

Terdapat tiga level adaptasi dan survival. Pertama, physical survival yang berkembang melalui interaksi kreatif dengan alam/dunia. Kedua, species survival yang berkembang melalui kemampuan prokreasi. Ketiga, personal survival yang berkembang melalui pengembangan kemampuan berpikir abstrak.

Untuk memahami proses perkembangan kemampuan berpikir maka kita perlu melihat pergeseran matrix kehidupan yang pasti dialami oleh setiap manusia.

Matrix berasal dari bahasa Latin yang berarti rahim, yang mengacu pada hal-hal dasar, kebutuhan fisik dan materi yang menjadi sumber kehidupan. Matrix atau rahim menyediakan tiga hal yaitu: sumber berbagai kemungkinan, sumber energi untuk mengeksplorasi kemungkinan itu, dan tempat yang aman untuk melakukan eksplorasi.

Matrix menurut sifatnya selalu adalah perempuan. Manusia mengalami lima kali pergeseran matrix. Setiap pergeseran membawa kita pada suatu keadaan baru, keadaan yang tidak dikenal, pengalaman yang tidak menentu, yang merupakan mekanisme pengembangan kecerdasan.

Matrix pertama, dalam kehidupan manusia, adalah sel telur. Sperma harus segera masuk dan berlindung di dalam sel telur agar tidak binasa. Sel telur menyediakan energi, kemungkinan, dan tempat yang aman.

Sel telur yang telah dibuahi berkembang di dalam matrix kandungan. Dibutuhkan waktu sekitar sembilan bulan agar bayi dalam matrix kandungan siap untuk bergeser ke matrix berikutnya yaitu ibu.

Selanjutnya, setelah lahir, bayi membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan bulan untuk bisa mengkonstruksi dan mengembangkan pengetahuan mengenai ibunya sebagai matrix baru dan menjelajahi matrix yang lebih besar yaitu dunia.

Dalam matrix ibu, anak membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun untuk membangun dan mengembangkan pengetahuan yang cukup, mengenai dirinya sendiri dan juga mengenai dunia di sekitarnya, untuk memulai pergeseran ke matrix dunia.

Saat masuk ke matrix dunia, dengan tetap masih mendapat dukungan dan perlindungan dari matrix ibu, seorang anak belajar mandiri dan mengkonstruksi pengetahuan, menjelajahi dunia, dengan mengenali dirinya lebih mendalam hingga sekitar usia sebelas tahun sebagai persiapan untuk akhirnya bergeser ke matrix final yaitu matrix pikiran.

Semua pergeseran matrix adalah bentuk perkembangan atau pertumbuhan kemandirian individu, baik sebagai organisme dalam dunia fisik dan sebagai pribadi dalam realita pikiran. Walaupun secara keseluruhan terdapat lima matrix namun sebenarnya manusia hanya mengalami pergeseran dalam dua matrix besar. Pertama yaitu matrix fisik, pergeseran dari rahim, ibu, diri sendiri dan dunia. Kedua, matrix pikiran abstrak.

Setiap manusia sebenarnya telah ‘diprogram’, oleh alam, untuk sukses dalam setiap pergeseran matrix. Namun keberhasilan program ini sangat bergantung pada pengalaman hidup seorang manusia sejak ia masih dalam kandungan.

Program sukses inilah yang oleh Maria Montessori disebut dengan Pre-Determined Psychic Pattern atau Pola Psikis Bawaan. Dalam diri setiap anak terdapat pola-pola yang akan berkembang sejalan dengan perkembangan usia anak. Orangtua, keluarga, dan lingkungan sangat menentukan apakah program sukses ini dapat berkembang optimal seperti yang seharusnya atau justru mengalami hambatan karena ketidaktahuan dan atau ketidakpedulian orangtua.

Sejalan dengan apa yang dikatakan Montessori, Piaget membagi proses perkembangan anak menjadi tahap Sensori Motor (0-2 thn), Pra Operasi (2-7 thn), Operasi Konkrit (7-11 thn), dan tahap Operasi Formal (12 thn ke atas).

Pakar lain, Vygotsky, dengan teori ZPD (Zone of Proximal Development), mengatakan bahwa kemampuan seorang manusia dapat berkembang lebih tinggi bila mendapat bantuan atau stimulasi dari orang atau lingkungan, dibandingkan bila berkembang tanpa bantuan.

Setiap tahap perkembangan saling terkait dan saling mempengaruhi. Keberhasilan anak, dalam proses pergeseran matrix, bergantung pada apakah faktor stimulasi yang diberikan sejalan atau sesuai dengan tahap perkembangan anak. Apabila anak mengalami salah stimulasi maka sudah pasti perkembangannya terhambat. Dengan demikian saat anak bergeser ke matrix selanjutnya ia tidak siap. Hal ini menjawab mengapa ada sangat banyak manusia yang tidak berhasil mencapai pengembangan potensi optimal saat mereka masuk ke matrix final, yaitu matrix pikiran.

Saat anak bertumbuh menjadi manusia dewasa, keberhasilan hidupnya ditentukan oleh kemampuan berpikirnya. Kemampuan berpikir, dan ini meliputi aspek yang lebih luas dari sekedar berpikir akademik, menentukan tingkat pemberdayaan potensi yang dimiliki setiap manusia.

Keberhasilan seorang manusia dalam matrix berpikir, salah satunya, tampak dari kemampuannya untuk menggunakan kemampuan berpikirnya untuk berpikir mengenai pikiran, sifat pikiran, bentuk-bentuk pikiran, dan proses berpikir. Kemampuan ini, yang dinamakan meta-kognisi, tidak dimiliki spesies lain.

Sumber: adiwgunawan.com