jump to navigation

Narsis atau PeDe? April 10, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
trackback

Ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri. (HR. Athabrani dan Anas)

Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Bisa jadi, narsisme adalah salah satu bentuk kesombongan manusia. Narsis sendiri merupakan istilah yang datangnya dari seorang pangeran di suatu negara yang memang sangat mencintai dirinya sendiri. Di negara manakah itu? Entahlah…

Spencer A Rathus dan Jeffrey S. Nevid menyebutkan dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000) bahwa orang yang Narcissistic memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Hmm.. mungkin juga berharap untuk dikagumi orang lain. Biasanya mereka senang menunjukkan kelebihannya dan takut kalau-kalau kekurangannya diketahui orang lain, hmm…

Tapi, kalo yang seperti ini, biasanya terjadi para kaum Adam. Mereka biasanya secara psikologis ingin menunjukan kelebihannya di depan lawan jenisnya, atau ingin dianggap keren dan akhirnya, ingin dikagumi, hmm…

Salah satu bentuk kekaguman tersebut dapat berupa kekaguman yang berlebihan terhadap wajah sendiri atau dapat pula terhadap bagian tubuh tertentu seperti menyukai bentuk mata, kulit, hidung, bentuk bibir, betis dsb. Nah, kalo yang ini biasa terjadi sama perempuan yang memang pada umumnya terobsesi untuk menjadi cantik. Akibatnya, kalo mereka lagi jalan, mereka ga tenang karena takut ada yang ngeliriknya. Ya, wanita yang narsis, biasanya GeEr-an. Dan kelemahannya adalah pujian. Coba aja…

Sebenarnya mereka ga Pe De karena ga yakin akan diri mereka sendiri. Makanya, wanita tipe kayak gini, biasanya pengen banget dapat perhatian dari orang lain. Nah, kalo perempuan yang PeDe, mereka akan berjalan dengan santai, biasa-biasa saja. Tentu saja, perempuan jenis ini lebih matang dibanding yang tadi karena mereka sudah bersahabat dengan dirinya sendiri dan merasa nyaman dengan dirinya dimana pun serta tidak cenderung untuk mencari perhatian.

Barang siapa membanggakan dirinya sendiri dan berjalan dengan angkuh maka dia akan menghadap Allah dan Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)

Tanda- tanda narsis antara lain :

Merasa dirinya sangat penting dan ingin dikenal oleh orang lain merasa diri unik dan istimewa, suka dipuji dan jika perlu memuji diri sendiri, lalu kecanduan difoto atau di shooting. Mungkin juga foto-foto yang pernah ditampilkannya ke publik adalah hasil seleksi dari ribuan fotonya, hmm…

Ciri selanjutnya adalah suka berlama lama di depan cermin. Seseorang yang narsistik sering tanpa sadar juga memiliki keinginan untuk “memamerkannya” ke-orang lain, tidak peduli apakah yang ingin didemonstrasikannya adalah bagian tubuh “pribadi”. Naudzubillah.. Kebutuhan untuk diperhatikan dapat pula menjadikan seseorang rentan terhadap kekurangan fisik. Ada yang merasa sangat tidak nyaman gara-gara jerawat “bandel”, ada yang merasa perlu dandan total, walaupun cuma mau ke pasar. Hehe.. segitunya ya..

Ada cerita juga nih, katanya yang biasa seperti ini adalah kaum wanita yang sangat sensitif sama yang namanya Ms Kaca ato Mr Cermin. Walah.. Coba deh perhatikan para wanita jika mereka sedang berjalan di area yang ada cermin atau kacanya! Ya 99 % dapat dipastikan, mereka akan melihat dirinya di kaca itu. Otomatis! Hmm…

Apakah narsis sama dengan “percaya diri” ?

Beda !

Seseorang yang narsis memposisikan dirinya sebagai objek, sementara seseorang yang percaya diri memposisikan dirinya sebagai subjek. Seorang yang percaya diri tidak terlalu risau dengan ataupun tanpa pujian orang lain karena kelebihan fisik yang dimiliki, dirasakan sebagai anugerah Tuhan yang selalu disyukuri. Seseorang yang percaya diri lebih fokus kepada “kompetensi diri” ketimbang penampilan fisik.

Bagaimana sih percaya diri itu?

Konsep bagus yang ada dalam bukunya Erbe Sentanu, Quantum of Ikhlas bahwa orang yang benar-benar percaya diri adalah mereka yang tidak lagi membedakan antara kerja dan doanya. Oleh karena dia benar-benar menghayati pemahaman bahwa saat dia berdoa sebenarnya dia juga sedang bekerja keras di dalam hatinya (inner work). Saat bekerja, sesungguhnya dia sedang khusyuk mendzikirkan doa melalui aktivitas bahasa tubuhnya (outer-work). Orang seperti inilah yang mengerti (baca: mempercayai) siapa dirinya. Dia juga mengerti (baca: mempercayai) hubungannya dengan sesama, dengan alamnya, dan dengan Tuhannya. Pada hakikatnya inilah sesungguhnya makna dari rasa percaya diri.

(Anonymous)

                   

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: