jump to navigation

Ketulusan Cinta (Kisah Nyata) March 2, 2013

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Robertson McQuilkin adalah seorang Rektor Universitas Internasional Columbia. Namun isterinya mengalami sakit alzheimer atau gangguan fungsi otak, sehingga ia tidak mengenali semua orang bahkan anak-anaknya, hanya satu orang yang ada dalam ingatannya, yaitu suaminya Robertson.

Karena kesibukan Robertson, maka ia menyewa seorang perawat untuk merawat dan menjaga isterinya. Namun suatu pagi alangkah herannya ia dan semua orang dikantornya, melihat Muriel isterinya datang ke kantor tanpa alas kaki dan ada bercak-bercak darah di kakinya. Ternyata Muriel bangun dari tempat tidur dan hanya dengan menggunakan daster berjalan kaki menuju kantor suaminya yang berjarak kira-kira satu kilometer dan bercak-bercak darah ada di sepanjang lantai kantor suaminya karena kakinya terantuk di jalan beberapa kali. Ketika masuk ke kantor suaminya, Muriel berkata “Saya tidak mau perawat, saya hanya mau kamu menemaniku.”

Mendengar kata-kata Muriel, Robertson mengingat janji nikahnya 47 tahun lalu, dan tidak lama kemudian ia meminta kepada pihak universitas untuk pensiun dan berhenti dari jabatannya sebagai Rektor. Pada pidato perpisahan di Universitas Internasional Columbia Robert McQuilkin menjelaskan apa yang terjadi pada isterinya dan mengapa ia mengambil keputusan untuk mengundurkan dari dari jabatannya.

Ia berkata: “47 tahun yang lalu, saya berjanji kepada Muriel dihadapan Tuhan dan disaksikan banyak orang, bahwa saya akan menerima dan selalu mencintai Muriel baik dalam suka maupun dalam duka, dalam keadaan kaya atau miskin, baik dalam keadaan sehat atau sakit.” Kemudian ia melanjutkan: “Sekarang inilah saat yang paling diperlukan oleh Muriel agar saya menjaga dan merawatnya.”

Tidak lama kemudian Muriel tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk makan, mandi, serta buang air pun, ia harus dibantu oleh Robertson. Pada tanggal 14 Februari 1995 adalah hari istimewa mereka, 47 tahun lalu, dimana Robertson melamar dan kemudian menikahi Muriel. Maka seperti biasanya Robertson memandikan Muriel dan menyiapkan makan malam kesukaannya dan menjelang tidur ia mencium Muriel, menggenggam tangannya, dan berdoa, “Tuhan, jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam, biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu.”

Paginya, ketika Robertson sedang berolahraga dengan sepeda statis, Muriel terbangun. Ia tersenyum kepada Robertson, dan untuk pertama kali setelah berbulan-bulan Muriel tak pernah berbicara, ia memanggil Robertson dengan lembut dan berkata: “Sayangku …” Robertson terlompat dari sepeda statisnya dan memeluk Muriel. Kemudian Muriel betanya kepada suminya: “Sayangku, apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Muriel lirih, Robertson mengangguk dan tersenyum. Kemudian Muriel berkata: “Aku bahagia,” dan itulah kata-kata terakhir Muriel sebelum meninggal.

Sungguh kasih yang luar biasa. Alangkah indahnya relasi yang didasarkan pada cinta, tidak ada kepedihan yang terlalu berat untuk dipikul. Cinta adalah daya dorong yang sangat ampuh agar kita selalu melakukan yang terbaik. Menjalani kegetiran tanpa putus asa, melalui kepahitan tanpa menyerah, melewati lembah kekelaman dengan keberanian. Komitmen sejati dan cinta sejati menyatu. Cinta sejati harus memiliki komitmen sejati. Tanpa komitmen sejati, cinta akan pudar di tengah jalan, di tengah kesulitan dan penderitaan. Mari kita menumbuh kembangkan cinta kasih, untuk melandasi setiap motivasi, tindakan dan ucapan kita di mana pun dan kapan pun kita berada.

Advertisements

Kisah Inspiratif: Es Krim September 10, 2012

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Pada suatu hari seorang anak kecil masuk ke sebuah restoran terkenal. Dengan langkah riang dan sedikit berlari, anak kecil itu duduk di salah satu bangku kosong di sana. “Sangat ramai…” gumamnya. Anak kecil itu kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan restoran. Seorang pelayan perempuan pun segera datang menghampiri anak kecil itu dengan membawa buku menu makanan.


“Mau pesan apa, dik?” Tanya pelayan itu. “Berapa harga satu porsi es krim bertabur strawbery dan coklat itu?” Si anak balik bertanya sambil menunjuk salah satu gambar yang terpampang di tembok restoran.

“2 Dollar.” Jawab si pelayan dengan ramah. Anak itu kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan beberapa keping uang receh dan menghitungnya. “Kalau es krimnya tanpa strawberry dan coklat berapa?”. “1 Dollar.” jawab pelayan itu dengan sedikit aneh.

Anak itu kemudian memasukkan tangannya ke saku yang lain, dia mengeluarkan recehan lagi, dan mulai menghitungnya. “Kalau es krimnya tanpa strawberry dan coklat, serta cuma separuh porsi saja berapa?” “Setengah Dollar!” jawab pelayan itu agak ketus. “Baik, saya pesan itu saja.” Kata si anak lagi.

Pelayan itu segera kembali ke dapur. Beberapa saat kemudian pelayan kembali ke meja si anak sambil membawa pesanannya. Anak itu pun segera memakan es krim tersebut dengan lahap. Setelah es krim selesai dimakan, pelayan kembali menemui anak itu sambil membawa nota pembayaran.

“Semua setengah dollar.” Kata pelayan sambil menyodorkan nota kepada si anak. Si anak lalu mengeluarkan semua uang receh miliknya dan memberikannya pada pelayan. “Ini setengah dollar.” Katanya. Kemudian, tangan anak itu merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan selembar uang 10 Dollar. “Dan ini tips untuk kamu.” Kata anak itu sambil menyerahkan 10 dollar itu.

(author unknown – ditulis ulang dan diterjemahkan dari buku “Six Great Lesson” oleh Mary Jane)
—————–

Memang, kadang manusia hanya melihat sesuatu dari luarnya. Bahkan saya sendiri pun sering mengalami hal itu. Kesibukan dan keruwetan kejadian sehari hari bisa membuat seseorang lupa untuk ‘melihat lebih dalam’ orang-orang di sekitarnya. Sangat wajar jika seseorang yang sudah pakai Jas mulai menganggap remeh orang-orang yang hanya menggunakan T-Shirt.

Tapi cerita di atas mengingatkan saya lagi, bahwa sesuatu yang berharga kadang muncul dari hal-hal yang biasa-biasa saja. Rejeki bisa datang dari arah yang tak terduga, bahwa mata manusia kadang terlalu sempit untuk dapat melihat spektrum kepribadian seseorang. Seperti halnya hujan yang tetap bisa turun saat matahari bersinar terik.., seperti siang tadi.

Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran yang cukup berharga bagi mereka yang membacanya.., termasuk saya..  Salam..

Ku Pilih Hatimu – by Ussy feat Andhika June 15, 2012

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

ku pilih hatimu tak ada ku ragu
mencintamu adalah hal yang terindah
dalam hidupku oh sayang
kau detak jantung hatiku

setiap nafasku hembuskan namamu
sumpah mati hati ingin memilihmu
dalam hidupku oh sayang
kau segalanya untukku

janganlah jangan kau sakiti cinta ini
sampai nanti di saat ragaku
sudah tidak bernyawa lagi
dan menutup mata ini untuk yang terakhir

setiap nafasku (setiap nafasku)
hembuskan namamu (hembuskan namamu)
sumpah mati (sumpah mati)
hati ingin memilihmu (ku milikmu)
dalam hidupku oh sayang
kau segalanya untukku ooh

janganlah jangan kau sakiti cinta ini
sampai nanti di saat ragaku
sudah tidak bernyawa lagi
dan menutup mata ini untuk yang terakhir

oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini
sampai nanti di saat nafasku
sudah tidak berhembus lagi
karena sungguh cinta ini cinta sampai mati

tolonglah jangan kau sakiti cinta ini
sampai nanti aku tidak bernyawa lagi
dan menutup mata ini untuk yang terakhir

oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini
sampai nanti di saat nafasku
sudah tidak berhembus lagi
karena sungguh cinta ini cinta sampai mati
cinta sampai mati

(Cerkak) Lilin Katiyup Angin May 21, 2012

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Lagu Candle In The Wind-ne Elton John kang ngebaki ruwangan warnet, ngelingake aku marang Prastiwi. Pacanganku rikala kuliah ing UGM rongpuluh taun kapungkur. Wong wadon kuwi wus tega medhot tali katresnanku. Amarga dheweke kepeksa nuruti panjaluke sakloron wong tuwane. Urip bebrayan karo juragan tahu kang lagi monjo usahane.

Menawa kelingan karo Prastiwi, tatune atiku kang wus mari rinasa perih. Nanging rasa perih kuwi kaya antuk tamba, rikala mitra Nuryana chatting lelantaran Facebook. “Piye kabare, Win?”

“Apik. Kabarmu uga apik to?”

“Pangestumu.”

“Kabare kanca-kanca Jogja piye?”

“Ajeg. Mas Indro isih nulis cerpen, Jemek isih kerep pentas pantomim. Kang Barjo isih gawe wayang boneka lan nyambi usaha warung angkringan. Mas Agus isih kerep nongkrong ing sangisore ringin TBY. Kang Rudi lan Mas Dono tansaya mendem Facebook. Kowe ditakoke Wiwik.”

Sial! Sadurunge aku mangerteni sapa satenane Wiwik. Pawongan kang durung dak tepungi kuwi, Nuryana wus off line. Kaya asep sigaret, pikiranku kumebul sajroning ruwang warnet kang panas, Amarga AC-ne wus mati rikala wektu ngancik tengah wengi mau.

Kaya dene reca kang ora mudheng apa kang bakal ditindakake, aku mung jinggleng sangarepe layar Facebook kang kebak pesen tanpa makna tumrap uripku. Nanging sadurunge logout, ana pawongan kang ngaku Wiwik kepengin dadi mitraku. Panjaluke pawongan kuwi dak kabulke.

Durung ana wektu kanggo mangerteni profile lan foto pasuryane Wiwik, pawongan kuwi chatting. “Sugeng dalu, Mas.”

“Sugeng dalu.”

“Kadospundi pawartosipun salami kula lan panjenengan boten nate kepanggih?”

“Nyuwun sewu. Kadosipun kula dereng tepang kaliyan jenengan.”

“Sejatosipun jenengan sampun tepang kaliyan kula. Menawi boten pitados, kula aturi bikak profile lan foto kula. Maturnuwun.”

Tanpa aweh jawaban kang ora perlu, dak bukak profile lan foto-ne Wiwik. Gandrik! Menawa Wiwik ora liya Prastiwi. Pacanganku rongpuluh taun kepungkur. “Aku saiki wus ngerti satenane kowe. Prastiwi to?”

“Bener, Piye kabarmu?”

“Elek.”

“Lho kok elek?”

“Aku wurung dadi sisihanmu. Piye kabare bojomu?”

“Mati. Disanthet karo mungsuh usahane.”

“Inna lillahi wa inna illahi roji’un. Kapan?”

“Sepuluh taun kepungkur.”

“Aku melu bela sungkawa.”

“Ora perlu. Amarga kowe satemene seneng menawa bojoku mati. Eling marang kandhamu: ‘Senajan ora entuk prawane. Randhane, ora apa-apa.’ Ngono to?”

“Ha…, ha…, ha…. Bener!”

“Salah!”

“Apa sebabe? Kowe saiki wus dhewekan to?”

“Bener. Nanging sedhela maneh aku bakal duwe sisihan.”

Maca jawabane Prastiwi, sakujur awakku rinasa tanpa bebalung. Pangarep-arepku bakal nandur witing katresnan anyar marang Prastiwi mati sadurunge tumancep. “Menawa entuk ngerti, sapa pawongan kang bakal dadi sisihanmu?”

“Nuryana.”

Pandelenganku sanalika kunang-kunangen. Tanpa logout Facebook, aku tumuju bangkune pawongan kang lagi dipasrahi boss-e jaga warnet. Sawuse bayar ongkos rental internet, dak tinggalake bangunan warnet kang gawe tatu anyar ing tatu lawas atiku. Sadawane dalan tumuju kos, lintang-lintang ing langit kaya lilin-lilin kang katiyup angin. Mati sunare. Peteng lelimengan.

Sumber : Cerkak Sri Wintala Achmad, Mekarsari

                                                                           .

Kisah ‘Panon Hideung’ February 16, 2012

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Panon Hideung, lagu rakyat Sunda yang melegenda, lumayan populer di dunia. Tampil asli di film Eastern Promises karya David Cronenberg (2007)), dibawakan gitaris Django Reinhardt (2005) dalam aransemen jazz, atau dalam dentingan bouzouki yang begitu memukau dipetik pakarnya, John Stamatiou Sporos, dan banyak lagi.

Lirik “Panon Hideung”

Panon hideung pipi konéng
[Mata hitam pipi kuning]
Irung mancung Putri Bandung
[Hidung mancung putri Bandung]
Putri saha di mana bumina?
[Anak siapa di mana rumahnya?]
Abdi resep ka anjeunna
[Aku suka padanya]
Siang wengi kaimpi-impi
[Siang malam terimpi-impi]
Hate abdi sararedih
[Hatiku merasa sedih]
Teu émut dahar
[Tidak ingat makan]
Teu émut nginum
[Tidak ingat minum]
Émut ka nu geulis
[Ingat pada si cantik]
Panon Hideung
[Mata hitam]

Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat. Itulah masa-masa saat ia mempelajari dan menguasai komposisi lagu-lagu barat dan lagu tradisional. Banyak lagu Barat yang digubah dan diterjemahkan. Salah satunya adalah Ochi Chyornye (Mata Hitam – Panon Hideung), berkat bantuan Zarkov, seniman asal Rusia yang tinggal di Bandung.

Sebagai informasi, zaman dulu memang banyak seniman asal Rusia berkarya di sini, ada orkes asal Rusia yang tampil reguler di Hotel Des Indes selama 10 tahun, atau di Surabaya ada Pedro (atau Pyotr=Peter), sang pendiri teater Dardanella yang legendaris.

Adalah Miss Eulis, seorang bintang radio, penyanyi kroncong berdarah Sunda dan Arab yang membuat Ma’ing (Ismail Marzuki) terinspirasi lewat Panon Hideung. Tampaknya Miss Eulis memang bermata indah, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Lagu Ochi Chyornye pun digubah Ma’ing sesuai dengan suasana hatinya saat itu.

Hati wanita mana yang tak luluh. Ma’ing pun berhasil menikahi Miss Eulis pada 1940, dan memberinya nama Eulis Zuraidah. Generasi masa kini mungkin sangat yakin bahwa Panon Hideung adalah lagu tradisional Pasundan. Namun Rusia sama sekali tidak terusik, Presiden Putin hanya bertanya pada SBY “kok bisa?” saat disuguhi nyanyian pada kunjungan September tahun lalu.

Tak ada emosi atau tuntutan gaya kita. Ini kemungkinan besar karena lagu itu sejatinya terus hidup dan berkembang sebagai budaya Rusia. Rakyat menyanyikannya di berbagai kesempatan: di acara pernikahan; di kafe; di jalanan; saat sadar atau mabuk (pemabuk di sana lebih suka bernyanyi atau molor daripada membuat onar). Sungguh merakyat, bahkan lebih. Lagu itu juga diperformansi oleh Red Army Choir atau oleh para profesional di film, televisi, konser, atau di opera house di dalam mau pun di luar negeri. Barangkali perannya bagi mereka mirip dengan peran batik bagi kita.

Itulah kekuatan budaya yang hidup. Kekuatan budaya yang bukan sekedar kenangan masa kecil. Kekuatan yang akan membentengi dengan sendirinya jika ada yang mencoba mengklaim Ochi Chyornye sebagai lagu asli rakyat Pasundan.

Tidak hanya karena lagu itu hidup dan berkembang di Rusia, liriknya pun sudah ditelusuri: sebuah puisi gubahan Yevgeniy Pavlovich yang tercetak 17 Januari 1843, aransemennya sudah terpublikasi pada 1884. Bahkan kaum gypsy di seluruh Eropa sudah menganggap Ochi Chyornye sebagai lagu leluhur mereka. Bahwa liriknya adalah karya orang Ukraina dan aransemennya digubah Florian Hermann —orang Jerman, tidaklah menjadi soal.

Ada sebuah kenyataan yang terasa cukup pahit. Di internet sulit sekali mendapatkan vokal Panon Hideung. Di YouTube ada instrumental versi Tielman Brothers (1960), sebuah band indo yang sangat populer hingga ke Belanda. Ada juga Sandii —seorang diva J-pop, gadis Jepang— meremix beberapa versi Panon Hideung di album Pacifica dan Joget to the Beat (keduanya 1992). Sebagian syairnya diubah, putri Bandung menjadi jejaka Bandung (pada 1993 bersama Oma Irama menelurkan album Air Mata).

Khusus berbicara The Tielman Brothers (sepintas sekarang gaya panggungnya diadopsi band The Changchuters), adalah sebuah grup musik asal Indonesia. Musik mereka beraliran rock and roll, namun orang-orang di Belanda biasa menyebut musik mereka Indorock, sebuah perpaduan antara musik Indonesia dan Barat, dan memiliki akar di Keroncong. The Tielman Brothers adalah yang band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk internasional pada 1950-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones.

The Tielman Brothers pernah tampil di Istana Negara Jakarta dihadapan Presiden Soekarno. Mereka adalah anak dari Herman Tielman asal Kupang dan Flora Lorine Hess asal Semarang. Karier rekaman mereka dimulai ketika keluarga Tielman pada tahun 1957 hijrah dan menetap di Breda, Belanda. Nama The Tielman Brothers lebih dikenal di Eropa, terutama Belanda. Di Indonesia sendiri, nama The Tielman Brothers masih menjadi nama yang asing, sebuah kenyataan yang sangat disayangkan.

The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah memopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.

Sumber: bataviase.wordpress.com

Papan Kayu, Paku dan Lubang December 15, 2011

Posted by tintaungu in Rona.
2 comments

Jika hati itu ibarat papan kayu, maka pasangan hidup adalah pakunya. Sedang lubang yang tertinggal di papan tatkala paku dicabut adalah kenangan. Meski paku tak lagi bersarang, namun tubuh papan telah berubah. Tubuhnya kini tak lagi mulus lantaran lubang-lubang yang bersemayam. Banyaknya lubang tentu saja tergantung dari banyaknya paku yang sempat tertanam. Dan besar kecilnya lubang tergantung pula dari bagaimana paku mengoyak papan kayu.

Harus diakui, siapa pun orang di sekitar kita pasti memiliki tempat tersendiri di hati. Berdasarkan perbedaan porsi, muncullah klasifikasi status sosial-pribadi: kenalan, teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan kekasih. Klasifikasi tersebut memiliki satu pondasi: CINTA.

Kualitas cinta akan semakin sempurna apabila memiliki porsi yang total. Sepenuh hati. Suci. Cinta seperti ini tentu saja didasarkan bukan semata-mata cinta karena makhluk, melainkan cinta karena Allah SWT.Cinta seperti inilah yang patut kita realisasikan dalam kehidupan, termasuk pernikahan.

Jangan Hanya ‘Sisa’

Bukankah rumah yang kokoh itu tidak dibangun dari kayu yang rapuh? Pun begitu dengan pernikahan. Dibutuhkan hati yang utuh untuk menciptakan pernikahan yang kokoh.

Tapi justru dewasa ini, kita disuguhkan dengan fenomena permainan hati (pacaran) yang kian semarak. Di mana sebelum menikah, hati dibuka lebar-lebar layaknya hotel untuk disinggahi banyak orang secara ‘temporer’, namun memberi bekas secara ‘permanen’. Bagaimana tidak, pernikahan dengan kondisi hati seperti ini akan melahirkan banyak perbandingan lantaran kenangan-kenangan dengan ‘si dia’, ‘si dia’, atau ‘si mereka’ yang terus saja membayang di setiap jengkal kehidupan. Manakala suami/istri kita menyuapi bubur misalnya, terlintas begitu saja bayangan ‘si dia’ yang dulu juga pernah menyuapi kita bubur. Ketika melintas di kerumunan, lalu mencium bau parfum yang khas, ingat ‘si dia’ yang juga memiliki harum yang sama. Lalu kemudian mulai membandingkan, kenapa suami/istri kita tidak wangi seperti ‘si dia’.

Sejenak mungkin tubuh kita hadir bersama suami/istri, namun pikiran melayang membayangkan kisah-kisah indah bersama ‘si dia’. Hal itu disebabkan oleh pemberian hati yang tidak utuh lantaran telah banyak lubang yang dihasilkan tusukkan-tusukkan cinta yang ‘semu’ dari masa lalu. Menyedihkan, bukan?

Bayangkan, ketika kita melihat kertas polos dengan satu nama di tengahnya, mata kita akan menangkap satu sentralisasi konsentrasi yang utuh. Namun tidak demikian apabila terdapat banyak nama dan tulisan di kertas tersebut. Mata kita akan mendapati banyak nama dan konsentrasi kita menjadi tidak fokus. Meski pun nama yang dituju telah diberi tanda khusus, lingkaran misalnya, namun tetap saja kertas itu tidak bersih dan indah. Tulisan-tulisan selain yang dilingkari kerap kali mengganggu.

Hal serupa terjadi pada hati kita. Hati yang belum pernah terjamah permainan cinta akan fokus terhadap satu nama pertama dan terakhir. Di mana nama tersebut tertulis sebagai pendamping hidup kita: ‘fulan bin fulan’ atau ‘fulanah binti fulan’.

Allah SWT memberi jodoh sesuai dengan cerminan diri kita. Maka coba tanyakan pada nurani, apakah kita tega hanya memberi hati yang ‘sisa’ kepada suami/istri kita? Sementara tanyakan pada logika, apakah kita siap hanya mendapat hati yang ‘sisa’ dari suami/istri kita?

Rumah yang Kokoh

Sungguh indah segala keteraturan. Layaknya lalu lintas, indahnya keselamatan akan tercipta apabila para pengguna jalan mematuhi rambu-rambu yang ada secara teratur. Untuk membentuk rumah tangga yang indah pun perlu adanya sebuah keteraturan dalam membangunnya: keteraturan menjaga hati dan kesucian diri.

Sebelum berumah tangga, seorang Muslim haruslah menjaga kesuciannya. Menjaga diri dari masuknya cinta selain untuk Allah SWT. Maka dari itu tidaklah dibenarkan untuk mengikuti langkah-langkah syetan dengan mengumbar cinta atau berpacaran sebelum menikah. Dengan begitu hati akan tetap terjaga kesuciannya dari lubang-lubang cinta yang tidak semestinya.

Tatkala menikah, hati yang utuh dan suci akan merasa bahagia dengan cinta pertama dan terakhir. Cinta yang diberikan kepada suami/istri dalam balutan ridho Illahi. Cinta yang utuh, lantaran hati tak pernah terjamah cinta yang lain. Cinta yang suci, lantaran hati tak pernah terkotori cinta yang salah. Cinta seperti inilah dapat saling melindungi dan memberikan nuansa kemurnian cinta yang sesungguhnya dalam rumah tangga.
 
Serupa rumah yang kokoh, akan memberi perlindungan apabila komponen dasarnya juga utuh dan kokoh.

Kini tengoklah ke dalam hati, sudah sejauh mana hati terbagi?

Sumber: maiyaazyza.blogspot.com

Singgasana Cinta dan Tugas October 7, 2011

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Seorang laki-laki kadang dihadapkan kepada kondisi dimana dia harus menentukan pilihan antara cinta dan pekerjaan atau antara cinta dan tugas.

Andre Moro mengatakan bahwa seorang wanita merasakan penderitaan ketika suaminya menghadapi kondisi demikian. Ia melawan sesuai kemampuannya. Dan penderitaan serta perlawanannya akan semakin bertambah jika pilihan suaminya jatuh pada pekerjaan dulu sebelum pada cinta.

Ini adalah hal yang wajar, seorang istri marah ketika suaminya lebih condong kepada pekerjaan daripada kepadanya. Atau ketika sang suami lebih banyak memikirkan pekerjaan daripada kehidupan rumah tangga dan keluarga.

Banyak tulisan membahas masalah ini , dan menyinggung konflik yang dihadapi sebagian suami ketika istri mereka berusaha menguasai kehidupan mereka secara penuh.

Arnold Bennet menulis sebuah sandiwara tentang seorang penerbang terkenal yang mencintai seorang wanita. Cintanya membuat ia menderita beberapa lama, sampai mimpi-mimpinya terealisasi dengan mendapatkannya. Setelah melalui berbagai hambatan mitos, akhirnya ia menikah dengan wanita yang dicintainya.

Istrinya bukan wanita biasa. Ia cantik, cerdas dan menarik serta idealis. Sejak awal keinginannya telah mengarah untuk menguasai suaminya dengan sihir yang tidak terlawankan.

Suatu hari mereka berdua pergi ke sebuah hotel digunung dan tinggal disana dengan bahagia selama beberapa masa. Hotel tersebut jauh dan hampir tidak terjangkau oleh hiruk pikuk dunia. Mereka berdua sendirian seperti halnya Adam dan Hawa berdua di surga. Dan beberapa hari yang mengagumkan itu bagaikan hidup didalam surga.

Namun suatu ketika , sang penerbang ini mendengar berita bahwa nomor seri penerbangan yang dikaguminya hampir dikalahkan oleh salah seorang pesaing, secara mendadak kondisinya berubah sama sekali. Dalam hatinya bergejolak keinginan untuk bertempur dan melawan pesaingnya. Ia memutuskan untuk keluar dari Villa tempat ia tinggal dalam kenikmatan, menuju kehidupan yang keras dan menakutkan.

Istrinya menolaknya. Ia mengutarakan dengan panjang lebar tentang cintanya dan perasaannya terhadap dirinya. Suaminya mendengarkan, tapi pikirannya disibukkan dengan pesawat, dan kompetitor barunya yang hampir menggusurnya dari tahta keunggulan dalam profesinya. Istrinya mengetahui bahwa ia sedang berbicara dengan orang yang akalnya disibukkan dengan hal lain. Ia menerima, bahwa suaminya harus pergi. Ia bertanya kepadanya dengan hati penuh kesedihan , “Bisakah engkau memahami pentingnya hari-hari singkat ini untukku?”

Ia melanjutkan, “Tidakkah engkau merasa , pentingnya keberadaanmu disini bersamaku mempengaruhi masa depanku sebagai wanita dan istri, yang sama pentingnya dengan penerbangan menurutmu?”

Suaminya mendengarkannya dan menggerakkan kepalanya seolah-olah menampakkan bahwa ia mengerti, padahal ia tidak mengerti. Begitulah laki- laki tersebut keluar dan membanting pintu dibelakangnya. Ia memilih kejayaan dalam profesinya, dan bukan kejayaan dalam cinta. Ia lebih memprioritaskan perang demi tugas daripada perang demi cinta.

Banyak pemikir berpendapat bahwa laki-laki akan kehilangan kejantanannya jika emosi telah menzalimi sasarannya. Para penyair kuno mendendangkan berbagai legenda tentang para pahlawan yang diperbudak cinta tapi mereka menderita tragedi manusia sambil mendendangkan lagu cinta .

Antonio telah lenyap ketika Cleopatra terpikat padanya. Tapi setelah itu ia kalah dalam pertempurannya bersama Oktavio. Samson tunduk di kedua kaki kekasihnya, lalu lenyaplah ia. Demikianlah seluruh usaha wanita menguasai laki-laki berakhir pada hilangnya bau kejantanan.

Bagaimanakah seorang istri memasuki kehidupan suaminya tanpa menguasai dan melenyapkannya?

Dengan kata lain , bagaimana seorang istri menerobos kehidupan suaminya tanpa merasakan terpaksa memilih antara ia dan profesinya atau tugasnya? Jawabannya adalah sederhana.

Kedudukan sebuah perhatian disini bagaikan tongkat sihir yang dapat menyelesaikan persamaan rumit. Seandainya sang istri memperhatikan pekerjaan suaminya, pada akhirnya pasti ia mampu menjadi tempat perlindungan terakhir bagi suaminya dan bagian utama dari pekerjaan ini.

Ada perbedaan antara penguasaan dan keikutsertaan, antara perhatian dan campur tangan. Seseorang tidak suka dikuasai dan akan berusaha melawannya.

Allah SWT telah berfirman kepada makhluk-Nya yang paling mulia penutup para nabi dengan firman-Nya :”Kamu bukan lah orang yang berkuasa atas mereka” (QS Al-Ghasyiyah :22) .

Seseorang juga akan melarikan diri jika ada yang mencampuri kehidupannya, tapi ia menyambut adanya partisipasi dan perhatian.

Dua metode ini adalah untuk menguasai hati seseorang, baik laki-laki maupun perempuan.

Sumber :  Bulan Cahaya Satu

[Wayang] Bimasena dalam Kisah Dewa Ruci September 27, 2011

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Ia hebat, kuat, tegas tapijuga adil dan teguh pendirian. Berbicara apa adanya tidak direkayasa, tidak mengenal takut dan memperlakukan sama kepada siapa pun tanpa memandang tinggi rendahnya derajat. Ia menggunakan bahasa kasar dan tidak pernah menyembah, kecuali kepada gurunya dengan cara merengkuhkan badan. Sedang kepada orang yang lebih tua dan dihormati cukup badannya ditegakkan seperti seorang prajurit memberi hormat kepada komandannya.

Tubuhnya yang jangkung dan besar bagaikan bunga besar yang wangi luar dalamnya pertanda hatinya bersih ilmunya tinggi tapi tidak menyombongkan diri. Mudah tersinggung tapi cepat berbaik kembali, bahkan jika perlu mau mengalah asal untuk kedamaian dan keselamatan. Dalam menerapkan keadilan tidak pandang bulu walau sanak kadang jika bersalah harus dihukum dan tabu berbohong. Sekalipun demikian ia penurut kepada Yudhistira kakak tertuanya.

Hal itu dibuktikan ketika Pandawa kalah bermain judi dengan Drupadi menjadi tumpangannya hingga menjadi milik Kurawa. Ketika itu Dursasena berusaha menelanjangi Drupadi di hadapan orang banyak dengan cara membetot kain yang menutupi tubuh si putri jelita itu hingga Bima manjadi sangat murka dan hendak menolong serta membunuh Dursasena. Tetapi Yudhistira mencegah seraya berkata: “Tahan, simpan amarahmu kita sedang diuji,” ujarnya. Terpaksa Bima mengurungkan niatnya sambil menahan nafsu yang membara.

Ternyata usaha Dursasena hendak mempermalukan Drupadi menemui kegagalan, karena setiap kali membetot kain yang menutupi tubuh Drupadi, Dewa Darma menggantinya dengan kain lain hingga Dursasena menjadi pusing sendiri. Atas perlakuan Dursasena yang diluar batas itu, Bima bersumpah jika kelak timbul perang besar antara kedua golongan, ia akan membunuh Dursasena dan darahnya akan diminum. Bima pun bersumpah akan menggebug paha Duryudana hingga remuk sampai ajal. Sementara Drupadi akan membiarkan rambutnya terurai tak disanggul sebelum dikeramas oleh darahnya Dursasena yang telah mempermalukan dirinya.

Keistimewaan lain Bima adalah lambang kejujuran dan kesetiaan seorang murid kepada gurunya. Dorna (guru) di mata Bima adalah manusia utama bermartabat baik, berilmu tinggi. Karena itu kejujuran dan kesetiaan kepada guru dibuktikan ketika Bima diperintahkan mencari Air Hidup (Tirta Amerta) di samudera selatan, suatu lokasi yang amat terpencil dan mengerikan dengan gelombangnya yang ganas bergulung gulung sebesar gunung anakan hingga tak seorang pun yang berani menjamah tempat itu. Sebaliknya bagi Bima sedikit pun tak merasa gentar. Diterjangnya gelombang dahsyat itu hingga mencapai tengah samudera. Di saat itulah Bima dihadang seekor Naga bernama Nembur Nawa dan pertarungan hebat pun terjadi yang berakhir dengan terbunuhnya sang penjaga samudera itu. Keberhasilan menyingkirkan ular naga itu, melambangkan bahwa Bima bermasih membunuh nafsu duniawi yang menghambat tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tetapi akibat perkelahian yang dahsya itu, Bima pun mengalami akibat fatal dilanda kelelahan yang amat sangat hingga tubuhnya timbul tenggelam tak berdaya. Hal ini melambangkan bahwa betapapun hebatnya manusia, namun ibarat sebutir beras di dalam karung menunjukkan betapa kecilnya manusia dibandingkan kebesaran Tuhan. Semua yang dimiliki, kekuatan, keperkasaan, ilmu pengetahuan yang dibanggakan untuk pemenuhan hasratnya masih sangat terbatas dibanding keakraban Maha Pencipta seru sekalian alam.

Di saat Bima hampir mati ditelan laut, tiba-tiba muncul seorang anak kecil yang baik bentuk maupun rupanya sama dengan sama Bima. Dialah Dewa Ruci atau Nawa Ruci. Bima yang heran ada anak kecil yang segala-galanya sama dengan dirinya bertanya: “Hai bocah cilik, rupamu kok sama denganku. Siapa engkau?”

Dewa Ruci: “Aku adalah Engkau dan Engkau adalah aku. Aku berada dalam dirimu. Tetapi karena matamu hanya digunakan untuk memandang yang jauh, menoleh ke belakang sedang dekatnya tak kau hiraukan, maka bersatu pun kau tak mengenal aku. Karena itu kenalilah dirimu. Dengan mengenal diri sendiri, kau akan mengenal pula sifat-sifatmu, kelebihan dan kekurangannya,” ujarnya. Selanjutnya dalam wejangannya Dewa ruci mengatakanm bahwa siapa yang mengenal dirinya akan mengenal pula Tuhannya.

Tetapi dalam hal mengenal Tuhan, bukan seperti engkau melihat aku dengan jelas, sebab tidak ada manusia yang ma’rifat dengan Tuhan. Mengenal Tuhan hanya dengan kepercayaan dan bukti karyanya yang nyata.

Menurut ahli pikir (philisopher), dengan akal dan pikiran alam yang besar dan luar terdiri dari bumi, langsit, matahari, bulan dan berjuta-juta bintang, pasti ada yang menciptakan yaitu Tuhan. Karena alam termasuk manusia yang adanya diciptakan, maka sifatnya tidak sempurna. Sedang Tuhan yang menciptakan, maka sifatnya sempurna. Karena itu manusia tidak dapat melihat Tuhan dengan sempurna. Maka di saat itulah Bima mengenal dengan dirinya yang sejati guru yang mursid. Dengan demikian maka Bima adalah satu-satunya satria yang dapat manunggal dan mengenal dengan hidupnya.

Kemudian Bima bertanya mengenai air hidup yang sedang ia cari dan apa maksudnya. Dewa Ruci menerangkan, bahwa air itu hidup dan akan selalu hidup karena hidup adalah sala satu sifat Allah. Dialah yang memberi hidup kepada semua makhluk hidup yang kumelip hidup di dunia, karena dialah yang hidup langgeng dan dialah yang punya hidup. Tetapi untuk mengenal makna perlambangannya, Bima harus mengetahui rahasianya. Untuk itu Bima dipersilahkan masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui lubang telingannya yang kiri, tetapi tidak boleh hanya sukmanya, melainkan harus dengan badan jasad seutuhnya.

Bima bertanya mengapa harus masuk ke telinga kiri, apa bedanya telinga kiri dan yang kanan. Dewa Ruci menjawab, bahwa dalam jiwa manusia melekat noda-noda kotor dan nafsu angkara. Sedang Bima akan masuk ke suatu alam yang teramat suci tak ada titik noda sedikitpun. Karena itu harus masuk ke telinga kiri yang fungsinya membersihkan noda-noda kotoran tersebut.

Syaratnya Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci, tetapi sesungguhnya ia masuk ke alam gaib yang kosong melompong tiada suatu apa pun di sekitarnya, uwung-uwung masih suwung, awang -awang masih lengang, bumi langit tiada nampak yang dipijak tak bertanah, Di alam itulah Bima menyaksikan dan mendapat penerangan mengenai Sapta Alam dari mulai Alam Gaib sampai Alam Sempurna (Insan kamil). Maka di saat itulah Bima mengenal asal mula adanya hidup hingga akhir dari hidup dan kehidupan. Dengan demikian maka Bima adalah satu-satunya satria yang dapat manunggal dan mengenal dengan hidup dan kehidupannya.

Busana Bima antara lain, dodot kampuh bang bintulu berwarna merah, putih, hitam, dan kuning melambangkan bibitnya yang akan menjadi bumi langit dan isinya. Kuku Pancanaka, Panca= lima, Naka= landep, memperlambangkan bahwa Bima mampu menaklukkan nafsu Pancaindra, sehingga menjadikan kekuatan yang positif. Memakai gelang Chandra Kirana, Chandra= rupa, Kirana= bulan. Artinya ilmu pengetahuan itu laksana bulan sedang purnama dapat menentramkan hati dan bermanfaat bila digunakan secara benar. Anting-anting Pudak sinumpet, artinya Bima sudah mengenyam ilmu mangunngal tetapi tidak memperlihatkan diri kepada orang lain (menyombongkan diri) karena itu sekilas ia terlihat seperti orang dungu atau bodoh.

Perbuatan Luar Biasa July 3, 2010

Posted by tintaungu in Reksa, Rona.
add a comment

Seorang anak di China mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “PERBUATAN LUAR BIASA”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak-anak yg terpilih dari 1,4 milyar penduduk China. Yang membuatnya dianggap luar b…iasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

Sejak ia berusia 10 tahun anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yg sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin.

Sejak itu Zhang Da, demikian nama anak itu, hidup dengan sang ayah yang tidak bekerja, tidak bisa berjalan dan sakit-sakitan. Ia masih terlalu kecil untuk memikul tanggung jawab yang berat itu, namun ia tetap berjuang.

Ia bersekolah dengan berjalan kaki melewati hutan kecil. Karena tidak sarapan, diperjalanan itu ia makan daun-daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang ia mencoba memakan sejenis jamur atau rumput, sehingga ia tahu mana yang masih bisa diterima lidahnya dan mana yang tidak. Pulang sekolah, ia bekerja membelah batu-batu besar. Upah sebagai tukang batu digunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya.

Setiap hari ia menggendong ayahnya kekamar mandi, menyeka dan juga memandikan ayahnya. Ia membeli beras dan membuatkan bubur untuk makan ayahnya.

Segala urusan ayahnya lainnya pun ia yang mengerjakannya sendirian. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengobati sang ayah. Ia pun belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Ia mempelajari bagaimana seorang suster memberikan suntikan. Setelah merasa mampu, ia sendiri yang menyuntik ayahnya.

Ketika acara penganugerahan penghargaan tersebut berlangsung, pembawa acara bertanya apa yang diinginkan Zhang Da, ”Apakah uang atau lainnya. Disini ada banyak pejabat, pengusaha, juga ada ratusan juta penonton telivisi, mereka bisa membantumu!” Namun apa yang dikatakan Zhang Da sungguh mengejutkan siapapun, ia hanya berkata, ”Aku hanya ingin Mama ku kembali!.”

Kisah diatas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah. Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. Ada anak yang sudah sekolah di SD masih disuapi, dan memakai bajupun masih dibantu.

MORAL: Potensi anak sering muncul justru ketika ditempa kesulitan, jika langkah anak selalu dimudahkan maka kreatifvitas dan daya juangnya pun tidak akan tumbuh. Oleh karena itu, ada pepatah mengatakan, ”JANGAN MUDAHKAN HIDUP ANAK HARI INI, UNTUK MENYULITKANNYA DI KEMUDIAN HARI.”

(sumber: ceriwis.us)
                                                                                .

Cinta Langit dan Laut… June 16, 2010

Posted by tintaungu in Riang, Rona.
add a comment

Dahulu kala, langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama-sama saling menyukai satu sama lain. Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut sama dengan langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit sama dengan laut.

Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan “aku cinta padamu” ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut, langit pun tidak menjawab apa-apa hanya tersipu-sipu malu wajahnya semburat kemerahan.

Suatu hari, datang awan… begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya ingin melihat laut saja. Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus.

Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah-tengah langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap satu sama lain.

Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya, laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya.

Tapi tentu saja tidak berhasil.

Lalu datanglah angin, yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu.

Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan … Awan terbagi-bagi menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit.

Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih. Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.

Kita juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih. Setiap ke laut, di mana ada satu garis antara laut dan langit, di situlah mereka sedang bersatu.

(Anonymous)

                                                                    .