jump to navigation

Akhirnya – by Nindy feat Dide December 28, 2009

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kusadari akhirnya
Kerapuhan imanku
Telah membawa jiwa dan ragaku
Ke dalam dunia yang tak tentu arah

Kusadari akhirnya
Kau tiada duanya
Tempat memohon beraneka pinta
Tempat berlindung dari segala mara bahaya

Oh Tuhan, mohon ampun
Atas dosa dan dosa selama ini
Aku tak menjalankan perintah-Mu
Tak perdulikan nama-Mu
Tenggelam melupakan diri-Mu

Oh Tuhan mohon ampun
Atas dosa dan dosa
Sempatkanlah aku bertobat
Hidup di jalan-Mu
Tuk penuhi kewajibanku
Sebelum tutup usia
Kembali pada-Mu

                                                                   .

Advertisements

Aktivitas 5S December 26, 2009

Posted by tintaungu in Mutu.
add a comment

Ada satu aktivitas, yang boleh dibilang sebagai hal yang umum dilakukan pada lingkungan kerja. Ya, 5S. Suatu istilah dalam Bahasa Jepang yang sudah sangat mendunia dan akrab di telinga banyak orang, tak terkecuali di Indonesia. Sebelum mulai bekerja diawali dengan kegiatan 5S. Setelah selesai bekerja para karyawan juga melakukan 5S. Bagi banyak perusahaan kegiatan 5S merupakan aktivitas rutin yang berjalan teratur bahkan tanpa ada perintah atau pengawasan. Secara harfiah, 5S dapat diterjemahkan sebagai:

1. Seiri = pemilahan

2. Seiton = penataan

3. Seiso = pembersihan

4. Seiketsu = pemantapan

5. Shitsuke = pembiasaan

Dengan melakukan pemilahan, maka barang-barang yang tidak berguna atau tidak akan dipergunakan lagi, dapat dibuang. Sebaliknya, peralatan yang sering digunakan diletakkan lebih dekat, dan peralatan atau perlengkapan yang jarang digunakan diletakkan di tempat yang lebih jauh dan tidak memenuhi dan mengganggu dalam bekerja.

Lingkungan dan area kerja bagi operator lapangan termasuk meja kerja bagi yang bertugas di office harus dalam kondisi bersih dan rapih. Yang paling berkesan dari sistem ini adalah S yang kelima, Shitsuke. Segala aktivitas yang terkandung pada S yang sebelumnya harus dilakukan secara teratur dan menjadi kebiasaan semua pekerja.

Yang tidak kalah menarik adalah proses pembelajaran bagi setiap individu. Jangan mengharapkan atau menyuruh orang lain mengerjakan 5S, semua melakukan secara serempak. Pengalaman saya bekerja dengan orang Jepang menjadi pelajaran berharga. Mereka (orang Jepang) umumnya memberikan contoh yang baik dengan membersihkan sendiri lantai dan meja kerjanya. Walau pun perusahaan mempunyai pesuruh, namun dia melakukan 5S sendiri di area sekitar meja kerjanya. Para pekerja yang lain tentu akan melihat dan mengikutinya.

Teladan sangat berguna dalam memotivasi orang lain. Benarlah perkataan, ”satu contoh melebihi sepuluh nasehat”. Baik perusahaan besar, menengat kecil maupun industri rumah tangga sangat penting melakukan 5S. Selain menciptakan lingkungan kerja bersih dan rapih, aktivitas 5S juga dapat menumbuhkan semangat kesebersamaan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab setiap orang. Sudahkah kita 5S hari ini?.
                                                                 .

Mp3Raid music code December 18, 2009

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

ungu mp3 | lyrics
free music downloads | music videos | pictures

Puji Syukur… December 18, 2009

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment
alhamdulillah……
                                                                                .

8 x 3 = 23 December 14, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?

“Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.

Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”

Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”.

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius  berkata
kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.” Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”

Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”

Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.”

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.

Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. 

Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. 

Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. 

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga

Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.

BE A WINNER!

( sumber : bungacerita.blogspot.com )

                                                                         .

Membayar Zakat Harta December 7, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta

Pertanyaan ke 1.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Seorang pegawai menabung gaji bulanannya dalam jumlah yang berubah-ubah setiap bulan. Kadang uang yang ia tabung sedikit dan kadang banyak. Sebagian dari uang tabungannya itu ada yang telah genap satu haul dan ada yang belum. Sementara ia tidak dapat menentukan uang yang telah genap satu tahun. Bagaimanakah caranya membayarkan zakat uang tabungannya .?

Pertanyaan ke 2.
Seorang pegawai lainnya memiliki gaji bulanan yang selalu ditabungnya dalam kotak tabungan. Setiap hari ia isi kotak tabungan itu dengan sejumlah uang dan dalam waktu yang tidak begitu jauh ia juga mengambil sejumlah uang untuk nafkah sehari-hari sesuai dari kebutuhan dari kotak itu. Bagaimanakah cara ia menentukan uang tabungan yang telah genap satu tahun ? Dan bagaimanakah caranya mengeluarkan zakat uang tabungan itu ? Sementara sebagaimana yang diketahui, tidak semua uang tabungannya itu telah genap satu haul !

Jawaban :
Pertanyaan pertama dan kedua sebenarnya tidak jauh berbeda. Lajnah juga sering disodorkan pertanyaan serupa, maka Lajnah akan menjawabnya secara tuntas, supaya faidahnya dapat dipetik bersama.

Jawabannya sebagai berikut : Barangsiapa memiliki uang yang telah mencapai nishabnya, kemudian dalam waktu lain kembali memperoleh uang yang tidak terkait sama sekali dengan uang pertama tadi, seperti uang tabungan dari gaji bulanan, harta warisan, hadiah, uang hasil penyewaan rumah dan lainnya, apabila ia sungguh-sungguh ingin menghitung dengan teliti haknya dan tidak menyerahkan zakat kepada yang berhak kecuali sejumlah harta yang benar-benar wajib dikeluarkan zakatnya, maka hendaklah ia membuat pembukuan hasil usahanya. Ia hitung jumlah uang yang dimiliki untuk menetapkan haul dimulai sejak pertama kali ia memiliki uang itu. Lalu ia keluarkan zakat dari harta yang telah ditetapkannya itu bila telah genap satu haul.

Jika ingin cara yang lebih mudah, lebih memilih cara yang lebih sosial dan lebih mengutamakan fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat lainnya, maka ia boleh mengeluarkan zakat dari seluruh uang yang telah mencapai nishab dari yang dimilikinya setiap kali telah genap satu haul. Dengan begitu pahala yang diterimanya lebih besar, lebih mengangkat derajatnya dan lebih mudah dilakukan serta lebih menjaga hak-hak fakir miskin dan seluruh golongan yang berhak menerima zakat.

Hendaklah jumlah yang berlebih dari zakat yang wajib dibayarnya diniatkan untuk berbuat baik, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah atas nikmat-nikmatNya dan anugrahNya yang berlimpah. Dan mengharap agar Allah menambah karuniaNya itu bagi dirinya. Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambah nikmatKu bagi kamu”. [Ibrahim : 7]

Semoga Allah senantiasa memberi taufiq bagi kita semua.

[Fatawa Lil Muwazhafin Wal Ummat, Lajnah Da’imah, hal 75-77], sumber: almanhaj.or.id

                                                                                .

Cerkak : ‘Langite Peteng’ December 4, 2009

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment
( Dening Eko Hartono, kamot ing Jagad Jawa, Solopos, 19 November 2009 )
 
Wis dadhi pakulinan, saben esuk Tarmi tangi banjur kretegan ana pawon. Nggodhog wedang, adang, lan nyiapake sarapan kanggo kulawargane. Uga nyambi umbah-umbah, nyapu jogan, lan ngresiki omah. Kabeh mau ditandhangi kanthi lila, tanpa nggresula.

Nanging saiki, gaweane Tarmi ora mung kuwi. Sawise bojone kena PHK lan nganggur pirang-pirang sasi, Tarmi kudu melu golek dhuwit. Anake cacah loro kabeh butuh wragat sekolah. Partono, bojone, ngidini dheweke nyambut gawe maneh.

Tarmi mangkat nyambut gawe jam pitu esuk, mulih watara jam papat. Wis genep limang sasi Tarmi nyambut gawe. Bojone nganthi seprene durung entuk gaweyan maneh. Embuh amarga kurang temen anggone golek apa pancen nasibe sing durung begja.

Esuk iku, ora kaya biyasane, Partono katon sumringah. Esuk-esuk dheweke wis tangi, adus, lan nganggo klambi necis. Rambute dijungkati klimis, kaya wong arep ngantor.

“Dina iki aku wiwit nyambut gawe maneh, Tar,” kocape karo mesem.

“Alhamdulillah! Njenengan nyambut gawe ana ngendi? Kok ora kandha sadurunge?” pitakone Tarmi.

“Yen ngono, aku tak mandheg anggone nyambut gawe ya, Mas. Ben bisa ngurusi bocah-bocah. Yen aku lan jenengan nyambut gawe kabeh, sapa sing ngurusi lan ngawati bocah-bocah ana omah?”

“Ora usah, Tar. Kowe ora prelu mandheg. Santi lan Budi la wis padha gedhe. Cah loro wis bisa ngurusi awake dhewe-dhewe. Turmaneh, kowe isih bisa ngedum wektu esuk lan sore. Yen awake sakloron nyambut gawe kasile bisa saya akeh. Apamaneh Santi lan Budi sekolahe saya mundhak lan mbutuhake wragat ora sethitik. Awake dhewe kudu bisa nyelengi kawit saiki!”

***

Awan iku, nalika leren mangan wanci awan, Tarmi dijak kanca-kancane blanja ing mal. Nalika mlebu ing sawijining konter, dumadakan mripate weruh saklebatan wewayangan bojone karo wong wadon liya mlaku gandhengan tangan. Tarmi kaget lan arep nyeluk, nanging dheweke kelingan yen lagi mlaku karo kanca-kancane. Dheweke isin yen nganthi kanca-kancane melu weruh. Turmaneh, dheweke durung yakin yen sing disawang mau bojone, amarga saka kadohan!
Tekan omah pangrasane Tarmi isih ora karuan. Dheweke isih ketok-ketoken marang kedadeyan awan mau. Dheweke mangu-mangu apa bener sing disawang mau bojone? Aja-aja wong lanang liya sing blegere padha karo bojone? Nalika Partono mulih, Tarmi gojag-gajeg arep takon. Dheweke wedi yen mengko pitakone gawe nesu bojone. Dheweke ora arep ngajak padu. Nanging, yen ora ditakokake bisa nuwuhake eri ing dadhane, gawe perih lan lara.

Dumadakan Tarmi nemu gagasan. Nalika Partono lagi adus, Tarmi nggledah klambine. Dheweke ngrogohi kompekan lan mbukak dompet. Ora ana barang sing nyalawadi. Sing ana mung dhuwit Rp. 200.000, KTP, SIM, lan… kondom! Lho, kok ana kondom? Ora lumrah jalaran Tarmi dhewe wis pasang IUD. Apa arep dianggo karo wong wadon liya? Batine Tarmi dikebaki panduga sing ora-ora.

Dhadhane Tarmi dheg-dhegan. Dheweke rumangsa ana sing aneh. Tarmi mbalekake kondom iku ing panggonan sakawit. Dheweke wegah takon bojone, mundhak gawe prahara. Dheweke mung ngenteni, apa kondom iku pancen arep dienggo nalika ngajak dheweke, apa malah…?

Nalika Partono wis rampung adus lan nganggo klambi, dheweke malah pamitan arep lunga maneh. Kandhane dheweke entuk tugas menyang njaban kutha. Tarmi ora bisa kandha. Nanging ing dadhane ana sing krasa prih lan getun!

***

Ing papan nyambut gawene Tarmi ora sumringah. Awit saka omah raine wis mbleret surem, kaya senthir entek lengane. Kamangka kanca-kancane padha geguyon lan cekikikan ana sandhinge. Dheweke mung meneng ngrungokake kanca-kancane padha rerasan. Wis biyasa yen wong wadon padha ngumpul isine mung ngrumpi, ngrasani wong liya. Sing kerep dirasani wong ndhuwuran!

Kaya wektu iku, embuh entuk kabar saka ngendi lan embuh apa bener orane, kanca-kancane Tarmi padha ngrasani Bu Ratna, manajer pemasaran. Ana sing kandha yen Bu Ratna sing umure wis seketan taun iku duwe simpenan. Istilahe, gigolo. Basa gaule ‘brondong’.

“Tenan! Aku tau weruh dheweke nggandheng cah lanang enom, kaya mahasiswa…,” celathune Maryati.

“Aja-aja cah lanang iku anake apa ponakane?” semaure Wati.

“Dheweke ora nduwe anak lanang. Yen keponakan takiro dudu. Lha wong ponakan mosok dolane menyang hotel.”

“Ah, tenane…?”

“Sumprit! Yen ora precaya takona Astuti. Dheweke ya tau weruh, malah karo wong lanang liya maneh.”

“Kok ya gelem men wong lanang iku marang wong wadon tuwek kayadene Bu Ratna. Kaya ora ana wong wadon liya sing luwih enom lan ayu!”

“Jenenge wae gigolo. Ya, ngono kuwi gaweyane gigolo. Entuke duwit saka nyenengake wong-wong wadon sing kesepen, biyasane wong wadon sugih sing ora keturutan kabutuhan biologise!”

Tarmi risi ngrungokake celathune kanca-kanca. Dheweke age ngendeg rasan-rasan iku.

“Ssst, aja rasan-rasan wae. Mengko mundhak krungu Bu Ratna!” ujare.

“Kowe apa ya kapilut marang gigolo, Tar? Mengko tak golekke?” kocap Maryati disusul karo guyune kanca-kanca.

Tarmi mencerengke mripat. “Asem tenan!” pisuhe.

***

Awan iku Tarmi diceluk Pak Harsono, manajer bageyan produksi. Tarmi dikongkon ngeterake berkas menyang Bu Ratna. Nanging, Bu Ratna wis ora ana ruwangane. Kandhane sekretarise, Bu Ratna lagi mangan ana restoran ora adoh saka kantor. Gandheng berkas kuwi kudhu gek ditandha tangani lan dibalekake maneh, Tarmi age nyusul Bu Ratna menyang restoran sing dituduhake dening sekretarise.

Tarmi mlangkah mlebu gedhong restoran mewah lan megah iku. Saumur-umur nembe iki Tarmi mlebu menyang restoran mewah. Mung wong-wong sugih sing turah duwit sabane restoran. Swasana restoran sing sepi lan adhem merga isise AC pancen gawe jenak. Aja takon bab reregan, panganan sing didol ana kono ora ana sing murah. Sakmurah-murahe rega selawe ewu!

Ruwang restoran sing amba lan ana sekat-sekate gawe Tarmi bingung. Dheweke takon dhisik marang petugas resepsionis. Dheweke dituduhi ana sisih ngendi meja sing dinggoni Bu Ratna. Tarmi mlangkah nuju meja sisih pojok dhewe. Saka kadohan Tarmi wis weruh wewayangane Bu Ratna. Wong wadon iku lungguh jagongan karo wong lanang. Nanging, Tarmi ora pati weruh praupane wong lanang iku, amarga madhep mrana. Nalika Tarmi wis tekan ngarepe Bu Ratna, dheweke age uluk salam.

“Nuwun sewu, Bu. Kula diutus Pak Harsono kapurih nyuwun tapak asma…” Durung nganti Tarmi rampung ngucap, raine dumadakan pucet amarga nyawang wong lanang sing lungguh ana ngarepe Bu Ratna.

Wong lanang iku ora liya Partono, bojone. Tarmi gedheg-gedheg kaya ora precaya. Partono dhewe njumbul lan klingah-klingih, kaya maling ketangkep polisi. Tarmi ora bisa ngucap apa-apa. Dheweke ora sida matur marang Bu Ratna, malah mlayu metu. Raine mbranang karo ngetokake luh sing mili deres ana pipine. Tarmi kelingan marang kondom sing wingi ditemokake ing dhompete bojone. Dheweke kelingan rerasan kanca-kancane bab gigolo. Nalika tekan njaba, Tarmi nyawang langit ana nduwure dadi peteng dhedhet. Ora ana cahya sethitika wae! (*)

                                                                                      .