jump to navigation

Kemuning by Hetty Koes Endang April 29, 2014

Posted by tintaungu in Uncategorized.
add a comment

Tiupan angin sepoi-sepoi
Menyebar harum mewangi bunga kemuning
Di puncak bukit yang sepi
Bagai tak akan pernah layu selamanya

Harum kemuning membangkitkan
Gairah cinta asmara bagi diriku
Bila ku ingat kepadamu
Hatiku akan selalu jatuh hati

*****
Warnamu abadi ciptaan Ilahi
Dari dulu kala selalu menyepi
Di puncak itu kemuning mekar dan layu
Bergantian sepanjang masa

Harum abadi dan kekal
Bagai cintaku kepadamu oh sayangku

Advertisements

Membangun Cinta.. September 17, 2013

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Menikah dengan orang yang kita cintai itu sebuah KEMUNGKINAN..

Mencintai orang yang kita nikahi, itu sebuah KEPUTUSAN..

Terus belajar mencintai orang yang
sudah (lama) kita nikahi, itu sebuah
PERJUANGAN..

Berani merasakan sakitnya untuk kembali membangun rasa cinta
kepada orang yang kita nikahi, itu sebuah KEBERANIAN..

Mau memaafkan pasangan yang kita nikahi itu sebuah KEMULIAAN..

Melandaskan semua cinta hanya kepada Allah, itu sebuah
KESEMPURNAAN..

Sumber: Sekolah Pernikahan

Lelaki Itu… August 10, 2013

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Suka menyimpan berbagai masalah di dalam hati. Lelaki lebih memilih bermain dengan pikirannya.

Diam adalah cara lelaki untuk meraba jalan keluar suatu masalah. Masalah yang datang menerjang adalah makanan sehari-hari yang kudu, musti, harus dan wajib ditaklukkan, diendapkan dalam sikap kedewasaannya dan diuraikan dengan kemampuan nalarnya.

Air mata lelaki itu sangat mahal. Tidak mudah menetes manakala bingung mengepung. Tidak mudah menetes manakala panik mencekik.

Tapi mungkin justru akan menetes pelan saat menghamba dalam kerinduan. Menyepi dalam kepasrahan. Bertobat akan jutaan kesalahan yang pernah dilakukannya.

Lelaki itu tangguh dan hebat. Namun di balik lelaki yang hebat ada perempuan yang hebat pula.

(Sumber: Fans Page Facebook)

Salafi dan Wahabi July 18, 2013

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Oleh : H. As’ad Said Ali (Waketum PBNU)

Istilah salafi pada mulanya digunakan oleh beberapa komunitas Sunni. NU menggunakan istilah ini untuk kesetiaan terhadap model ajaran para imam-imam madzab dalam memecahkan problem masa kini. Sejak awal, NU juga telah mengklaim sebagai kelompok ”ahlussunnah wal jamaah”. Istilah yang juga kini digunakan gerakan wahabi/salafi.

Istilah Salafi kemudian digunakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridlo tatkala hendak membangun gerakan pembaharuan di Mesir. Di tangan Abduh, istilah Salafi sedikit mengalami pergeseran makna yang dikaitkan dengan semangat pembaharuan dan pemurnian. Di sini salafi dirujukkan pada model pemahaman para penganut Islam paling awal, yaitu Nabi dan Sahabat.

Gerakan pemurnian yang lain, khususnya wahabisme, ternyata pada mulanya tidak menggunakan istilah ini. Mereka mengkampanyekan pemurnian ajaran dengan merujuk langsung Qur’an dan Sunnah dengan model pemahaman yang literal. Di Indonesia, Muhammadiyah dan Persis yang juga mengusung tema pemurnian ajaran, juga tidak menggunakan istilah salafi. Walaupun ketiganya sama-sama menggeluti isu-isu bidah,kurafat dan sejenisnya.

Istilah Salafi kemudian dipopulerkan kembali oleh Nashiruddin Al-bani pada dekade 1980-an di Madinah. Jamaahnya kemudian dikenal dengan al-Jamaa al-Salafiyya al-Muhtasib. Hampir sama dengan wahabisme, salafi yang dimaksudkan Albani adalah suatu gerakan untuk memurnikan kembali ajaran Islam dengan mengedepankan kampanye pembasmian terhadap segala sesuatu yang dianggap bid’ah. Albani tidak menggunakan nama wahabisme dikarenakan istilah ini, dianggap kurang tepat. Di dalamnya terkesan ada pemujaan terhadap tokoh. Di samping itu,salafi yang dimaksudkan, tidak sama persis dengan wahabi resmi pemerintah Arab Saudi. Perbedaannya, salafi menegasikan atau menolak semua pemikiran mazhab. Sedangkan wahabi Arab Saudi lebih cenderung pada model pemikiran mazhab Hambali (kendati tidak pernah diakui secara resmi).

Kendati berbeda, keduanya sesungguhnya berakar pada semangat yang sama yaitu keinginan untuk memahami Islam tekstual secara ketat. Sandarannya hanya Quran dan hadits sahih. Adapun terhadap hadits non-sahih mereka cenderung kritis dan lebih menyukai tidak menggunakannya. Mereka juga mengenal “golden period” praktek kemurnian Islam yaitu zaman tiga generasi awal (sahabat, tabiin dan tabiut tabiin). Zaman ini disebut salafus shaleh.

Pemurnian yang diusung oleh Al-Bani memang tidak begitu berbeda dengan pemurnian yang dibawa Muhammad bin Wahab pada abad 13. Mereka sama-sama prihatin terhadap segala sesuatu yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu, mereka berusaha memerangi segala sesuatu yang dianggap bidah. Namun bedanya, di tangan Al-Bani dan mereka yang sehaluan dengannya, kategori bidah bisa sangat luas mencakup pada fenomena kemodernan, baik yang dihasilkan kemajuan teknologi maupun perilaku dan paham pemikiran. Televisi, foto manusia dan patung adalah terlarang. Duduk berdua yang bukan muhrim, kendati di dalam taksi, adalah terlarang. Daftar sesuatu yang dianggap haram atau bid’ah ini bisa sangat banyak.

Karena semangat tekstualisme yang sangat kuat itulah maka boleh dikatakan, gerakan salafi sekarang ini adalah bentuk lain dari wahabisme namun dengan pendekatan yang lebih radikal. Radikalisme ini bersumber dari prinsip ketaatannya yang ketat pada teks Quran dan hadits shohih serta hanya melihat praktek Islam murni pada cara yang digunakan para salafus shaleh. Karena itu, ketika mendapatkan fenomena yang berlawanan dengan teks dan tidak ada dalam praktek masa salafus shaleh, mereka akan menentangnya dan tidak akan berkompromi. Dengan cara ini mereka melawan paham-paham modern, seperti demokrasi dan partai politik. Mereka juga mengharamkan organisasi. Semua itu dianggap bidah karena tidak ada prakteknya pada masa tiga generasi awal Islam.

Ketaatan pada model klasik (salafus shaleh) juga menyebabkan gerakan ini tidak mengenal organisasi resmi. Mereka mengembangkan gerakan dengan instrumen hubungan guru-murid yang sangat setia. Pola yang memang telah dikenal sejak zaman Nabi. Dalam hubungan yang bersifat personal dan penuh ketaatan ini Salafi berkecambah berbagai penjuru dunia. (bersambung)

Orang Tuamu Bukan Barang Rongsokan June 9, 2013

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Di Jepang, dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya, sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan. Karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya, berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar…

Dalam senyumnya, dia berkata, ‘Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa, Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat. Ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah”.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras. Kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

PESAN MORAL:”Orangtua” bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya ‘orang tua’ yang mengerti kita dan bathinnya akan menderita jika kita susah.

“Orangtua” kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita. Walaupun kita pernah kurang ajar kepada orangtua. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita.

Mari lebih mengasihi orangtua selagi mereka masih hidup.

(Annonymous)

Because Your Wife Does Not Work..? April 21, 2013

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

A husband complains for feeling tired… tired and tired…. and wants his wife help him on earning money by also working, because so far he thinks that his wife is ‘not working’.

Following are Question and Answer between The Husband (H) and The Psychologist (P):

P : What do you for a living Mr. Bandy?
H : I work as an Accountant in a Bank.

P : Your Wife ?
H : She doesn’t work. She’s a Housewife only.

P : Who make breakfast for your family in the morning?
H : My Wife, because she doesn’t work.

P : At what time your wife wake up for making breakfast?
H : She wakes up at around 5am because she cleans the house first before making breakfast.

P : How do your kids go to school?
H : My wife take them to school, because she doesn’t work.

P : After taking kids to school, what does she do?
H : She goes to the market, then go back home for cooking and laundrying clothes. You know, she doesn’t work.

P : In the evening, after you go back home from office, what do you do?
H : Take rest, because I’m tired due to all day works.

P : What does your wife do then?
H : She prepares meals, serving our kids, preparing meals for me and cleaning the dishes, cleaning the house then taking kids to bed.

From the story above, who do you think work more???

The daily rounities of your wives commence from early morning to late at night. That is called ‘DOESN’T WORK’??!!

Yes, Being Housewives do not need Certificate of Study, even High Position, but their ROLE/PART is very important!

Appreciate your wives. Because their sacrifices are uncountable. This should be a reminder and reflection for all us to understand and appreciate each others roles. Understanding and Appreciating each other will make each person feel Happy.

Remember also that our Prophet (SallAllaahu ‘Alayhi Wa Sallam) used to help his wives on house working:

It is narrated on the authority of Abu Hurayrah (radiyAllaahu ‘anhu) that he said: I asked ‘Aa`ishah (radiyAllaahu ‘anha) what the Messenger of Allah (SallAllaahu ‘Alayhi Wa Sallam) used to do in the house. She said:

“He used to help with the housework and when it was time to pray he would leave for the prayer ” [Al-Bukhari: 676]

(copas from: ILoveAllaah.com)

Arak dalam Masakan March 5, 2013

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Jika kita dihadapkan pada segelas minuman keras, baik bir, wine atau whiski, umat muslim akan sepakat mengatakan tidak. Minuman itu adalah minuman haram yang tidak boleh diminum. Tetapi ketika dihadapkan pada sepiring masakan tumis yang berbau harum dan rasanya enak, kita mungkin akan melahapnya dengan tanpa beban. Padahal ada kemungkinan masakan itu menggunakan arak sebagai salah satu bumbunya.

Penggunaan arak dalam masakan itu sepertinya sudah melekat, sulit dipisahkan. Banyak kegunaan yang diharapkan dari barang haram tersebut. Kegunaan pertama adalah melunakkan jaringan daging. Para juru masak meyakini bahwa daging yang direndam dalam arak akan menjadi empuk dan enak. Oleh karena itu daging yang akan dipanggang atau dimasak dalam bentuk tepanyaki seringkali direndam dalam arak.

Selain itu arak juga menghasilkan aroma dan flavor yang khas, yang oleh para juru masak dianggap dapat mengundang selera. Aroma itu muncul pada saat masakan dipanggang, ditumis, digoreng, atau jenis masakan lainnya. Munculnya arak itu memang menjadi salah satu ciri masakan Cina, Jepang, Korea dan masakan lokal yang berorientasi pada arak.

Jenis arak yang digunakan dalam berbagai masakan itu bermacam-macam, ada arak putih (Pek Be Ciu), arak merah (Ang Ciu), arak mie (Kue Lo Ciu), Arak gentong, dan lain-lain. Produsenya pun beragam, ada yang diimpor dari Cina, Jepang, Singapura bahkan banyak pula buatan lokal dengan menggunakan perasan tape ketan yang difermentasi lanjut (anggur tape). Penggunaan arak ini pun beragam, mulai dari restoran besar, restoran kecil bahkan warung-warung tenda yang buka di pinggir jalan.

Keberadaan arak ini masih jarang diketahui oleh masyarakat. Sementara itu ada kesalahan pemahaman di kalangan pengusaha atau juru masak yang tidak menganggap arak sebagai sesuatu yang haram. Kalau tentang daging babi, mungkin sudah cukup dipahami berbagai kalangan bahwa masakan itu dilarang bagi kaum muslim. Meskipun ada sebagian masyarakat yang melanggarnya, tetapi kebanyakan pengelola restoran tahu bahwa hal itu tidak boleh dijual untuk orang muslim

Lain halnya dengan arak. Sebagian besar kalangan pengelola restoran tidak menganggap bahan masakan itu haram hukumnya. Apalagi dalam proses pemasakannnya arak tersebut sudah menguap dan hilang. Sehingga muncul anggapan bahwa masakan yang menggunakan arak itu tidak apa-apa bagi umat Islam.

Anggapan tersebut tentu saja salah. Dalam Islam hukum mengenai arak atau khamr sudah cukup jelas, yaitu haram. Bukan saja mengkonsumsinya tetapi juga memproduksinya, mengedarkannya, menggunakan manfaatnya, bahkan menolong orang untuk memanfaatkannya. Nah, ini tentunya menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam membeli masakan, sekaligus juga menjadi perhatian bagi para pengelola restoran yang menjual produknya kepada masyarakat umum agar tidak menggunakan arak.

Masakan yang biasa menggunakan arak ini adalah jenis tumisan, daging panggang dan masakan semi basah. Aroma yang muncul dari arak itu kemudian dipadukan dengan berbagai bumbu-bumbuan yang lain, sehingga memunculkan flavor yang enak dan mengundang selera.

Beberapa pihak yang menyadari akan haramnya arak ini mencoba mencari alternatif lain. Misalnya dengan air jeruk limau atau kecap kedelai dengan aroma tertentu. Tetapi beberapa alternatif itu selalu ditolak produsen dan para juru masak. Menurut mereka, aroma yang muncul berbeda dengan yang ditimbulkan oleh arak masak. Kalau rasa dan aroma arak yang diinginkan muncul, memang sulit digantikan.

Arak adalah sebuah minuman yang memiliki aroma dan rasa khas yang tidak dimiliki minuman atau bahan lain. Jadi haramnya arak sebenarnya bukan semata-mata kandungan alkoholnya saja, tetapi juga seluruh komponen yang ada di dalamnya. Rasa khas itulah yang menyebabkan konsumen fanatik menjadi ketagihan dan menimbulkan efek kecanduan.

Kecintaan manusia terhadap arak ini menyebabkan tuntutan agar masakan-masakan lainpun memiliki aroma dan rasa yang mengandung arak. Maka muncullah berbagai arak yang dikhususkan untuk masakan. Arak masak ini sebenarnya memang berbeda dengan arak yang biasa diminum sebagai minuman keras. Di dalam arak masak ini biasanya sudah ditambahkan beberapa bumbu yang menyebabkannya memiliki rasa yang berbeda. Akan tetapi hakikat arak tetap melekat pada bahan tersebut. Ia juga adalah hasil proses fermentasi yang menghasilkan minuman keras, kemudian dimodifikasi dengan bumbu-bumbu tertentu.

Sedikit atau Banyak Tetap Sama

Dilihat dari proses pembuatan dan bahan-bahan yang digunakannya, maka meskipun berbeda, namun status kehalalannya akan tetap sama dengan arak sebagai minuman keras. Kandungan alkoholnyapun, kalau ini dijadikan sebuah indicator, tetaplah tinggi. Dari hasil analisa terhadap beberapa arak masak yang beredar, kandungan alkoholnya berkisar antara 5 hingga 10%.

Penggunaan arak dalam masakan memang sangat sedikit. Paling-paling hanya ditaburkan beberapa tetes saja. Tetapi kalau statusnya sudah menjadi khamer, maka berlaku kaidah “yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram”. Oleh karena itu sesedikit apapun penggunaan arak dalam masakan, maka hukumnya akan tetap haram.

(www.halalmui.org)

Ketulusan Cinta (Kisah Nyata) March 2, 2013

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Robertson McQuilkin adalah seorang Rektor Universitas Internasional Columbia. Namun isterinya mengalami sakit alzheimer atau gangguan fungsi otak, sehingga ia tidak mengenali semua orang bahkan anak-anaknya, hanya satu orang yang ada dalam ingatannya, yaitu suaminya Robertson.

Karena kesibukan Robertson, maka ia menyewa seorang perawat untuk merawat dan menjaga isterinya. Namun suatu pagi alangkah herannya ia dan semua orang dikantornya, melihat Muriel isterinya datang ke kantor tanpa alas kaki dan ada bercak-bercak darah di kakinya. Ternyata Muriel bangun dari tempat tidur dan hanya dengan menggunakan daster berjalan kaki menuju kantor suaminya yang berjarak kira-kira satu kilometer dan bercak-bercak darah ada di sepanjang lantai kantor suaminya karena kakinya terantuk di jalan beberapa kali. Ketika masuk ke kantor suaminya, Muriel berkata “Saya tidak mau perawat, saya hanya mau kamu menemaniku.”

Mendengar kata-kata Muriel, Robertson mengingat janji nikahnya 47 tahun lalu, dan tidak lama kemudian ia meminta kepada pihak universitas untuk pensiun dan berhenti dari jabatannya sebagai Rektor. Pada pidato perpisahan di Universitas Internasional Columbia Robert McQuilkin menjelaskan apa yang terjadi pada isterinya dan mengapa ia mengambil keputusan untuk mengundurkan dari dari jabatannya.

Ia berkata: “47 tahun yang lalu, saya berjanji kepada Muriel dihadapan Tuhan dan disaksikan banyak orang, bahwa saya akan menerima dan selalu mencintai Muriel baik dalam suka maupun dalam duka, dalam keadaan kaya atau miskin, baik dalam keadaan sehat atau sakit.” Kemudian ia melanjutkan: “Sekarang inilah saat yang paling diperlukan oleh Muriel agar saya menjaga dan merawatnya.”

Tidak lama kemudian Muriel tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk makan, mandi, serta buang air pun, ia harus dibantu oleh Robertson. Pada tanggal 14 Februari 1995 adalah hari istimewa mereka, 47 tahun lalu, dimana Robertson melamar dan kemudian menikahi Muriel. Maka seperti biasanya Robertson memandikan Muriel dan menyiapkan makan malam kesukaannya dan menjelang tidur ia mencium Muriel, menggenggam tangannya, dan berdoa, “Tuhan, jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam, biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu.”

Paginya, ketika Robertson sedang berolahraga dengan sepeda statis, Muriel terbangun. Ia tersenyum kepada Robertson, dan untuk pertama kali setelah berbulan-bulan Muriel tak pernah berbicara, ia memanggil Robertson dengan lembut dan berkata: “Sayangku …” Robertson terlompat dari sepeda statisnya dan memeluk Muriel. Kemudian Muriel betanya kepada suminya: “Sayangku, apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Muriel lirih, Robertson mengangguk dan tersenyum. Kemudian Muriel berkata: “Aku bahagia,” dan itulah kata-kata terakhir Muriel sebelum meninggal.

Sungguh kasih yang luar biasa. Alangkah indahnya relasi yang didasarkan pada cinta, tidak ada kepedihan yang terlalu berat untuk dipikul. Cinta adalah daya dorong yang sangat ampuh agar kita selalu melakukan yang terbaik. Menjalani kegetiran tanpa putus asa, melalui kepahitan tanpa menyerah, melewati lembah kekelaman dengan keberanian. Komitmen sejati dan cinta sejati menyatu. Cinta sejati harus memiliki komitmen sejati. Tanpa komitmen sejati, cinta akan pudar di tengah jalan, di tengah kesulitan dan penderitaan. Mari kita menumbuh kembangkan cinta kasih, untuk melandasi setiap motivasi, tindakan dan ucapan kita di mana pun dan kapan pun kita berada.

Kisah Tragis Palgunadi (Bambang Ekalaya) February 12, 2013

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Kenalkah anda dengan tokoh ksatriya yang bernama Bambang Ekalaya ? Sebuah kisah tragis mengiringi perjalanan hidupnya… Bambang Ekalaya adalah seorang ksatriya tampan yang mempunyai kemauan keras serta bakat yang luar biasa… Hal itu masih belum cukup untuk menggambarkan pribadinya yang demikian mantap dan gagah berani menapaki kehidupan yang sungguh sangat berat dan berkesan tidak adil pada dirinya..

Bagaimana tidak ?! Atas keinginannya yang kuat untuk belajar memanah pada Begawan Drona, maka dia memberanikan diri untuk menghadap dan memohon untuk bisa menjadi murid Sang Begawan… Karena memang terikat janji pada kekuasaan di Astinapura bahwa Begawan Drona hanya akan mengajarkan ilmu kaprajuritanya pada Pandhawa dan Kurawa saja maka ditolaklah permohonan Bambang Ekalaya… Tidak patah semangat sampai di situ saja, Bambang Ekalaya membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan sambil membayangkan bahwa patung itu adalah Begawan Drona yang sesungguhnya maka secara otodidak dia mulai belajar memanah (olah kridhaning jemparing) dan ilmu keprajuritan lainnya.. Hari demi hari, minggu demi minggu secara mandiri dia menganalisa hasil latihannya sedemikian rupa sehingga dia sendiri mampu belajar dari evaluasi kekuarangannya untuk selalu menjadi lebih baik..

Sungguh sebuah hasil kerja keras yang tanpa mengenal lelah serta dilambari akan kebulatan tekad dan kemantapan dalam menjalani kehidupan maka Bambang Ekalaya akhirnya sangat trampil dalam memanah dan memainkan keris… Karena kecerdasan dan kedewasaannya telah dinilai mampu menggantikan tahta, maka akhirnya Bambang Ekalaya nglintir keprabon naik tahta menjadi Raja di negara Paranggelung dengan gelar Prabu Palgunadi.. Dengan Dewi Anggraheni sebagai permaisuri yang selain berwajah cantik rupawan juga sangat bernakti dan setia kepada Prabu Palgunadi (kesetiaan hal ini akan sangat jelas tergambar di akhir episode kisah ini…).

Diceritakan bahwa di Padepokan Sokalima tempat Sang Reshi Begawan Drona mengajar para murid sedang jeda pelajarannya, Pandhawa dan Kurawa mendapat kesempatan berlibur selama 2 pekan… Para Kurawa merencakan pulang ke Keraton Astinapura untuk berpesta merayakan libur panjang itu… Para Pandhawa lebih suka tetap tinggal di Padepokan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya selama ini… Kecuali Arjuna yang berkeinginan untuk mengunjungi Eyangnya Begawan Abiyasa ke Pertapan Saptaarga di Wukir Ratawu…

Singkat kata di perjalanan Arjuna bertemu dengan Prabu Palgunadi yang sedang bertamasya berburu di tengah hutan… Pertemuan merekapun bagaikan sudah diatur untuk kemudian menjadi bermusuhan… Karena Arjuna adalah seorang murid yang sedang turun gunung maka dia ingin sekali mencoba kemampuannya memanah… Di tengah hutan dia membidik seekor rusa untuk dipanah… Pesat seperti kilat panah Sang Arjuna menuju jantung rusa tadi… Pada saat yang sama ternyata Prabu Palgunadipun sedang melakukan hal yang sama… Dengan waktu yang bersamaan dan arah bidikan yang sama pula, maka panah kedua ksatriya itu tepat mengenai sasaran di jantung rusa tersebut… Serentak kedua ksatriya itu berlari menghampiri hasil buruannya…

Akhirnya terjadilah perang mulut tentang siapa yang berhak atas rusa itu karena panah mereka tepat berimpit pada sasaran yang sama.. Karena tidak ada yang mau mengalah maka perkelahian pun tak dapat dihindarkan… Dari olah kridhaning curiga (keris) sampai pada ketrampilan memanah mereka peragakan… Tak ada yang kalah dan tak ada yang menang pada pertarungan itu… Mereka saling menghina lawan dan membanggakan diri… Sampai suatu ketika keduanya menyebut bahwa masing-masing adalah murid dari Sang Reshi Begawan Drona… Karena dengan senjata mereka pada posisi yang imbang, maka pertarungan dilanjutkan dengan tangan kosong.. Saling tendang dan jotospun segera terjadi.. Suatu ketika Arjuna terkena tempeleng di pelipisnya… Seketika berkunang-kunang matanya dan oleng hampir jatuh tersungkur di tanah… Dengan menahan rasa malu karena tidak bisa mengalahkan Palgunadi dan juga rasa marah karena merasa dikhianati oleh Gurunya.. Karena Arjuna tahu bahwa Sang Guru hanya akan mengajarkan kepandaiannya kepada Pandhawa dan Kurawa saja, namun tiba-tiba muncul seorang ksatriya muda yang telah menjadi Raja pula, yang demikian sakti mandraguna sehingga seorang Arjuna yang menjadi murid kesayangan sekaligus juara bermain keris dan memanahpun tidak mampu mengalahkannya, mengaku bahwa dia adalah murid Begawan Drona juga… Arjuna menurungkan niatnya ke Wukir Ratawu dan segera bertolak kembali ke Padepokan Sokalima untuk mengadu pada Gurunya…

Begitu mendengar pengaduan Arjuna murid kesayangannya, Sang Begawan Drona pun tercengang… Karena memang dia tidak merasa mempunyai murid selain Pandhawa dan Kurawa.. Tiba-tiba muncul nama Palgunadi dengan kepandaian yang ngedap-edapi dan mengaku bahwa dia adalah muridnya… Untuk membuktikan bahwa Palgunadi memang bukan muridnya maka Arjuna diajak Sang Begawan untuk menghampiri di mana Palgunadi berada…

Karena perasaan bangga namun juga ada perasaan cemas menyelinap karena dia tahu pasti Arjuna tidak akan tinggal diam menerima kekalahannya apalagi dia sudah terlanjur mengaku sebagai murid Begawan Drona… Mak sepeninggal Arjuna matanya tak pernah lepas dari arah Arjuna berlari meninggalkan dirinya… Benar saja.. Tak lama kemudian dari kejauhan dia melihat sosok seseorang yang menjadi idolanya yaitu Sang Reshi Begawan Drona… Perasaan bangga diam-diam menyelinap di dadanya… Jika Sang Begawan berkenan hadir di tempat itu atas pengaduan Arjuna maka jelas Palgunadi adalah tokoh ksatriya yang pantas diperhitungkan..

Setelah Begawan Drona dekat, Palgunadi segera bersembah sujud layaknya seorang murid pada Gurunya… Drona berkata, ”Benarkah engkau yang bernama Palgunadi dan mengaku menjadi muridku ?” Palgunadi mengiyakan, sedangkan Arjuna hanya mempu duduk dibelakang Gurunya sambil bersungut-sungut.. Drona melanjutkan, ”Aku tidak merasa mempunyai murid dirimu, dan juga aku tidak merasa mengajarkan sesuatu pada dirimu.. bagaimana mungkin hubungan kita adalah Guru dan murid ?” Palgunadi menjawab sambil mengingatkan bahwa dirinya pernah melamar menjadi murid Begawan Drona… ”Betul.. aku masih ingat pada waktu engkau memohon untuk kuangkat sebagai murid.. aku masih ingat betul karena akupun terkesan akan postur tubuh dan struktur tulangmu yang sangat ideal untuk dididik olah kaprajuritan… namun aku tidak menerimamu sebagai muridku.. karena hal itu tidak boleh terjadi, diriku terikat sumpah hanya akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada Pandhawa dan Kurawa saja.. dan pada waktu itu engkaupun segera meninggalkan Padepokan Sokalima, hingga saat ini aku berjumpa lagi denganmu tidak pernah ada pertemuan di antara kita, bagaimana mungkin kesaktian yang engkau punyai adalah merupakan buah dari pelajaran yang aku berikan ?!” Palgunadi menjawab bahwa sepulang dari Padepokan Sokalima dulu di membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan seperti telah diceritakan di atas, Palgunadi belajar secara otodidak dengan ditunggui patung Begawan Drona tadi…

Arjunapun diam-diam menyimak percakapan itu sehingga dia menjadi tahu duduk permasalahannya… Selain rasa kagum terselip juga rasa iri di hati Arjuna… Jika saja dia tidak terkena tempeleng Palgunadi maka belum tentu kalah…

Dengan setengah berbisik Arjuna mengemukakan hal tersebut pada Gurunya… Sang Begawan Drona tanggap akan maksud muridnya… Dia menyambung percakapan dengan Palgunadi, ”Baiklah… Jika memang demikian adanya, apakah engkau lahir batin mengaku murid padaku ? Karena sungguh berat kewajiban murid kepada seorang Guru… Sadarkah engkau akan hal itu ?” Palgunadi terbuai akan kata-kata Drona, dia melihat secercah harapan bahwa dia bisa diangkat murid secara resmi oleh Sang Begawan… sehingga dengan lantang dan mantab diapun menjawab bahwa lahir batin dia mengaku murid pada Begawan Drona, bahkan dia bersumpah apapun perintah Sang Begawan akan dia laksanakan dengan senang hati….

Sang Begawan Drona tersenyum puas karena merasa perangkapnya telah berhasil… Dia menayakan, bagaimana mungkin hanya dengan satu tempelengan di pelipis Arjuna bisa terhuyung-huyung hampir jatuh… kesaktian apakah itu… Pucat wajah Sang Palgunadi begitu mendengar pertanyaan Drona.. Dia terpaksa harus mengaku bahwa kesaktian tangan kirinya itu disebabkan karena Pusaka Manik Sotyaning Ampal yang berwujud cincin.. Drona menyambung, bahwa dia kepingin mengathui wujud cincin itu seperti apa.. Seperti tercekat tenggorokan Palgunadi, karena dia baru saja bersumpah bahwa apapun perintah Drona akan dia laksanakan dengan senang hati maka diapun menjawab bahwa cincin Manik Sotyaning Ampal karena itu adalah pusakan maka dia berada didalam kulit namun diluar daging sehingga tidak bisa dilepas.. ”Kalau memang engkau tidak ingkar akan janjimu akan senantiasa menaati perintahku, maka mana tanganmu aku ingin melihatnya…” ucap Drona.

Dengan perasaan bingung tak tahu harus berbuat apa, Palgunadi mengulurkan tangannya… Dengan serta merta secepat kilat Drona menghunus keris dan memotong jari manis tangan kanan Palgunadi di mana cincin Manik Sotyaning Ampal berada… Palgunadi meraung kesakitan dan mengucapkan kata-kata terakhir yang menyayat hati…”Oh.. Guru.. mengapa engkau tega berbuat demikian kepadaku… sesungguhnya pusaka itu merupakan kekuatanku namun juga menjadi kelemahanku.. apabila sampai cincin itu terlepas dariku maka akan matilah aku… Lahir batin aku mengaku murid kepadamu.. ketaatanku penuh tanpa syarat kepadamu… namun apa balasanmu kepadaku… dalam kondisi diriku tak berdaya engkau tega menghabisi nyawaku dengan cara yang tidak ksatriya kau potong jariku hanya karena engkau ingin memiliki cincin Pusakaku Manik Sotyaning Ampal… Ingatlah kata-kata terakhirku ini, apabila besuk suatu saat terjadi perang besar, maka keadaan seperti ini akan berbalik menimpa padamu.. Dalam kondisi tak perdaya maka nyawamu akan aku jemput dengan meminjam raga seorang ksatriya sehingga dendam ini akan terbalas…. Begitu Palgunadi selesai berkata-kata, maka terkulai lemaslah badanya… pisah nyawa dan raganya.. mati sia-sia di tangan seorang Begawan yang menjadi idolanya dalam kondisi yang berdaya… Tragis !

Bersamaan dengan itu menyambarlah petir di angkasa disertai kilat yang menyambar-nyambar… memberikan saksi bahwa alampun tidak berkenan atas kematian Palgunadi, dan sekaligus menjadi pertanda bahwa apa yang diucapkan Palgunadi akan menjadi kenyataan kelak di kemudian hari.. Hati Begawan Drona bergetar atas reaksi alam itu… dia tahu bahwa dia telah berbuat aniaya pada seseorang… Namun hal itu memang sudah menjadi takdir yang harus dia lakoni… Dia tahu bahwa  suatu ketika pasti akan terjadi perang besar antara Pandhawa dan Kurawa yang disebut Bharatayuda, maka jika ada kekuatan yang tidak bisa membantu Pandhawa pasti akan digunakan oleh Kuwara untuk menambah kekuatannya… Palgunadi sudah menanam bibit permusuhan dengan Arjuna, maka kemungkinan besar kekuatan Palgunadi tidak akan bisa menyatu dengan Pandhawa.. dengan demikian apabila Palgunadi akhirnya bergabung pada Kurawa, apakah tidak akan semakin berkepanjangan dan berlarut-larut perang besar tersebut…

”Ngger.. Arjuna.. sekarang palgunadi telah mati… Kesaktianya yang berwujud cincin juga sudah ambil… Maka jangan sekali-kali meragukan kecintaan Bapa kepadamu ya Ngger… Engkau murid kesanganku.. semua ilmu aku tumpahkan tidak ada yang aku sembunyikan darimu… Camkan itu ya Ngger… Mana telapak tangan kirimu… cincin Manik Sotyaning Ampal ini aku berikan padamu… supaya bertambah kesaktianmu dan kamu sadari benar bahwa engkau adalah murid kesayanganku…” Dengan tersipu-sipu dan berbunga-bunga hati Arjuna karena akan menerima pusaka yang tentu saja akan menambah kesaktiannya… Namun betapa kaget Sang Arjuna, begitu potongan jari Palgunadi dimana cincin sakti itu berada menempel pada sela-sela jarinya, maka melekatlah jari itu pada tangan Arjuna dan tidak dapat lepas lagi !! Sehingga jari-jari tangan kiri Arjuna menjadi berjumlah enam.. ! Sehingga oleh karenanya predikat Satriya Bagus Tanpa Cacat sebenarnya sudah tidak layak lagi disandang Arjuna.. Namun Drona membesarkan hati Arjuna… asal tidak diperhatikan maka orang tidak akan menyangka kalo jari tangan kiri Arjuna berjumlah enam… Pasti akan tertutup oleh keelokan wajah, kehalusan kulit dan seabreg lagi kelebihan Arjuna dalam penampilan…. Jadi jangan terlalu dipikirkan…

Syahdan ketika Palgunadi meraung kesakitan karena jarinya dipotong oleh Drona, suaranya sayup-sayup terdengar sampai pakuwon tempat dimana rombongan para penderek Prabu Palgunadi dari neagara Paranggelung berada… Hati Dewi Hanggraheni gusar tidak terkera.. dia yakin betul bahwa suara raungan kesakitan itu adalah suara suaminya.. namun nalarnya menolak hal itu karena dia tahu betapa sakti mandraguna suaminya Sang Prabu Palgunadi… namun perasaannya tidak bisa dibohongi, perasaannya berkata bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres terhadap pada suaminya.. Seketika dia berlari mengahmpiri arah suara raungan itu berasal…

Pada saat dia sampai di tempat Palgunadi meninggal, baru saja Arjuna menerima cincin Manik Sotyaning Ampal… Dia menubruk jenazah suaminya sambil menangis tersedu-sedu… Karena dia seorang perempuan maka tidak segera tanggap harus segera berbuat apa menghadapi peristiwa yang sedemikian tidak dinyana-nyana ada di hadapannya…

Di sinilah tokoh Arjuna yang demikian diidolakan banyak orang… Dengan predikat Satria bagus tanpa cacat, Lelananging jagat, yen lanang ngondangake kasektene, yen wadon ngondangake kebaguasane…. Ternyata juga tak luput dari sifat kekurangan yang mungkin apabila terjadi pada tokoh lain sudah menghasilkan hujatan dan caci maki yang tidak berkesudahan…. Betapa tidak.. !? Karena rasa iri akan kesaktian Palgunadi dengan meminjam tangan Gurunya dia bunuh Palgunadi untuk dimiliki kesaktianya… Eh, setelah melihat kecantikan Dewi Anggraheni janda Palgunadi dia masih menginginkan juga untuk diambil istri… Terlalu !

Namun kecantikan Dewi Anggraheni tidak hanya di luar saja namun tulus sampai ke dalam sanubarinya… Walaupun Arjuna seorang ksatriya yang gagah tampan rupawan, namun kesetiaannya pada Prabu Palgunadi tak pernah luntur… Dia menolak pinangan Arjuna… Arjunapun seperti kalap tenggelam oleh nafsu birahinya begitu melihat kecantikan Dewi Anggraheni.. Dia bermaksud memaksakan kehendaknya… Sang Dewi Anggrahenipun berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak histeris tidak karuan… Betapa hatinya hancur luluh berkeping-keping, baru saja ditinggal mati suami kini mengahadapi ancaman pemaksaan kehendak (untuk memperhalus perkosaan) dari Arjuna… Segesit-gesitnya mengindar, secepat-cepatnya berlari.. Dewi Anggraheni hanyalah seorang wanita.. menghadapi kejaran Arjuna jelas bukanlah hal mudah… demikian juga dengan Arjuna… apapun yang dilakukan Anggraheni di mata Arjuna adalah seperti menggoda saja…. Dengan sekali loncatan maka tangan Dewi Anggraheni telah tertangkap… Dengan halus Arjuna mulai merayu lagi… Sang Dewi pun semakin muak saja… Tekat di dalam hatinya lebih baik mati daripada harus mengkhianati cinta suaminya… Maka dengan serta merta dia tarik cundrik yang terselip dibalik sabuknya (karena dalam kondisi pesiar berburu ke hutan maka biar seorang putri sekalipun akan senantiasa membawa cundrik… cundrik adalah semacam keris kecil yang merupakan senjata khas kaum perempuan) dan menancapkannya didadanya…. Demikianlah kesetiaan Dewi Anggraheni telah teruji dan terbukti bisa dipakai sebagai contoh….

Diceritakan untuk menghibur hati Arjuna yang sedang gundah itu maka Begawan Drona mengajaknya kembali ke Padepokan Sokalima dan akan diberikan ilmu tambahan sebagai pelipur lara… 

Kisah Bambang Ekalaya atau Palgunadi ini akan berlanjut pada serial Bharatayuda dengan lakon Drona Gugur…

Berciuman dengan Mata Terpejam January 8, 2013

Posted by tintaungu in Rindu.
add a comment

Kehidupan itu laksana air teh. Semakin rakus kita meminumnya,
semakin cepat pula kita sampai pada ampasnya.
—James M. Barrie

Salah satu kekuatan terbesar di dunia ini adalah Cinta. Apa yang tak mampu dilakukan oleh Cinta ketika kekuatan yang lain tak sanggup melakukannya? Apa yang tak mampu dilakukan oleh Cinta ketika segala yang lain menyerah dan kalah? Cinta bukan hanya sekadar kekuatan, ia pun keajaiban—sebuah mukjizat.

Cinta menjadikan seorang perempuan lemah rela menanggung penderitaan kehamilan selama berbulan-bulan untuk kemudian merasakan sakitnya melahirkan, dan perjuangan selama berbulan-bulan lagi dalam merawat dan membesarkan bayinya. Cintalah yang menjadikannya tersenyum setelah merasakan kesakitan, cintalah yang membuatnya mampu terjaga sepanjang malam hanya untuk memastikan buah hatinya terlelap tanpa gangguan. Cintalah yang mampu menjadikannya sosok tegar yang rela meninggalkan kenikmatan tidur karena mendengar bayinya menangis di tengah malam.

Cinta pula yang menjadikan seorang lelaki yang terbiasa hidup bebas dan tak terikat menjadi sosok yang tak kenal lelah. Cintalah yang menjadikan seorang lelaki rela bekerja keras siang malam, mengucurkan keringat, air mata bahkan darah, demi bisa menyaksikan anak-istrinya bahagia.

Cintalah yang menjadikan seorang lelaki bahkan sampai melupakan dirinya sendiri demi bisa menyaksikan keluarganya tersenyum. Cinta pulalah yang mampu menjadikan seorang lelaki siap menerjang apa pun ketika telinganya mendengar suara kecil yang memanggilnya, “Ayah…”

Apa yang lebih kuat dan lebih menakjubkan dibanding Cinta…?

Di dalam buku Love, Medicine and Miracles, Dr. Bernie Siegel bahkan membuktikan salah satu penelitiannya menyangkut cinta yang unik berikut ini:

Di sebuah kota kecil di Eropa, sejumlah besar suami yang pergi bekerja dengan menggunakan mobil dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah para suami yang selalu dicium istrinya saat akan berangkat kerja, dan kelompok kedua adalah para suami yang tidak pernah dicium istrinya saat akan berangkat kerja.

Setelah beberapa tahun semenjak penelitian itu pertama kali dilakukan, terbukti sesuatu yang amat mencengangkan. Para suami yang selalu dicium istrinya saat akan berangkat kerja lebih kecil kemungkinannya mengalami kecelakaan di jalan, sementara para suami yang tidak pernah dicium istrinya saat berangkat kerja lebih sering mengalami kecelakaan di jalan!

Tentu saja kita boleh meragukan hasil penelitian ini. Namun, betapa pun juga, ciuman, pelukan, dan belaian—secara langsung maupun tak langsung—memberikan pengaruh terhadap kualitas hubungan manusia.

Nah, omong-omong soal ciuman, terkadang saya bertanya-tanya sendiri—mengapa sih kaum perempuan biasanya memejamkan mata ketika berciuman?

Tentu saja kaum lelaki juga terkadang memejamkan mata saat berciuman, namun perempuan lebih sering—dan hampir bisa dipastikan. Ada lebih banyak perempuan yang memejamkan mata saat berciuman dari pada yang tidak. Pertanyaannya, mengapa?

Saya sudah mencoba menanyakan hal itu pada banyak perempuan, dan jawaban dari mereka semua bisa disimpulkan dalam kalimat yang luar biasa ini, “Perempuan memejamkan mata ketika berciuman, karena sadar sedalam-dalamnya bahwa keindahan di dalam jauh lebih meneduhkan dan mendamaikan dibanding keindahan di luar.”

Jadi, dalam hal berciuman, perempuan lebih mampu menghayatinya dibandingkan lelaki.

Tetapi, sebenarnya itu pulalah yang terjadi dalam kehidupan kita ini—kalau saja kita juga mau menghayatinya—bahwa keindahan di dalam lebih meneduhkan dan lebih mendamaikan dibanding ‘sekadar’ keindahan di luar.

Dewasa ini, kita hidup dalam sebuah dunia yang sedemikian maju dan amat kompetitif. Sebegitu kompleksnya, sampai-sampai kebanyakan manusia yang hidup di zaman sekarang mengalami sebuah kebingungan dan kepanikan batin. Mereka sudah tak bisa lagi berjalan dengan tenang dan damai, tapi terus-menerus berpacu dengan semrawut. Dan kemudian, di atas segala-galanya, manusia yang hidup dalam peradaban sekarang telah menjadikan uang—materi—di atas segala-galanya.

Ada jutaan orang yang hidup hari ini berpacu dengan waktu hanya untuk mengejar hal yang satu itu—uang, materi, kekayaan. Mereka berpikir bahwa dengan uang, mereka akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian hidup. Tetapi kebanyakan mereka lupa bahwa kebahagiaan dan kedamaian dimulai dari dalam—dari hati, dari batin, dari jiwa. Tanpa kebahagiaan dan kedamaian di dalam, uang sebanyak apa pun dan kekayaan sebesar apa pun tak akan sanggup menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian hidup.

Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa uang tidak penting. Yang ingin saya katakan adalah; bahwa sebanyak apa pun uang yang kita miliki, selamanya kita akan merasakan hidup yang kering tanpa kebahagiaan selama kita belum mampu menumbuhkan kebahagiaan di dalam hati terlebih dulu. Sebesar apa pun kekayaan yang kita miliki, selamanya kita akan hidup dalam kegersangan tanpa kedamaian selama belum mampu merasakan kedamaian di dalam batin.

Mengapa Marilyn Monroe lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri, bahkan ketika dia berada di puncak popularitasnya sebagai artis? Karena dia merasakan kekeringan batin di tengah-tengah gemerlapnya popularitas dan kekayaannya! Dia tidak kekurangan uang, tidak kekurangan pengagum dan pemuja, dia pun tidak kekurangan harta benda. Tetapi Marilyn Monroe lebih memilih bunuh diri, bahkan ketika dunia tengah berada dalam telapak tangannya.

Orang-orang yang lebih memfokuskan pandangannya keluar dan melupakan kesejatiannya di dalam, selamanya akan tetap merasakan kekeringan dan kegersangan meskipun dunia beserta isinya telah menjadi miliknya. Sebagaimana kita memejamkan mata saat berciuman, seharusnya begitu pulalah kita dalam menghayati kehidupan.

Jika kita bisa menghayati kebahagiaan saat tidak memiliki apa-apa, maka kebahagiaan itu akan tetap bersama kita ketika telah memiliki sesuatu. Tetapi jika kita menyangka kebahagiaan adalah jika telah memiliki sesuatu, maka selamanya kebahagiaan tak akan pernah menjadi milik kita.

Apabila kita mendasarkan kebahagiaan hidup pada hal-hal di luar diri kita, maka kebahagiaan hanya akan seperti bayang-bayang. Ia begitu tampak dalam pandangan mata, tetapi segera menjauh saat kita bergerak mendekatinya. Sebaliknya, jika kita mendasarkan kebahagiaan hidup di dalam batin kita, maka hidup pun akan seperti dasar samudera. Sebesar apa pun gejolak dan badai yang terjadi di permukaan, dasar samudera tetap hening dan selalu tenang.

Sebagaimana kita memejamkan mata saat berciuman, begitu pun seharusnya kita dalam memeluk kehidupan.

sumber: hoedamanis.com