jump to navigation

The Matrix of Life August 4, 2009

Posted by tintaungu in Ragam.
trackback

“Life is too short to settle for anything less than a 110% effort!”
– Rick Irving

Semesta Alam, sejak awal, telah menekankan bahwa pikiran dan otak merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi keberhasilan kehidupan manusia. Bayi yang baru lahir telah mempunyai otak dengan ukuran 25 persen dari ukuran dewasa sedangkan tubuhnya hanya berukuran satu per dua puluh dari ukuran dewasa.

Berbeda dengan jenis spesies lainnya, spesies manusia adalah satu-satunya spesies yang bayinya bergantung pada induknya untuk waktu yang cukup lama. Sementara spesies lainnya dapat dengan sangat cepat hidup mandiri. Mengapa ada perbedaan seperti ini?

Alam mempunyai program yang berbeda antara kita, manusia, dan spesies lainnya. Pada spesies, selain manusia, alam telah menyediakan semua built-in program yang dibutuhkan untuk hidup. Dengan demikian spesies ini tidak dapat mengubah program dasar ini. Mereka hidup dan berkembang hanya dengan menjalankan program yang telah alam tentukan.

Bagaimana dengan manusia? Manusia jelas berbeda. Manusia adalah satu-satunya spesies yang mempunyai kemampuan berpikir dan berperan sebagai co-creator dari hidupnya. Selain ada program dasar, yang untuk saat ini belum bisa diotak-atik, yaitu program pertumbuhan dan perkembangan dalam bentuk DNA Genetic Coding, manusia juga mempunyai kesempatan dan kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya. Semua ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan adaptasi dan survival.

Terdapat tiga level adaptasi dan survival. Pertama, physical survival yang berkembang melalui interaksi kreatif dengan alam/dunia. Kedua, species survival yang berkembang melalui kemampuan prokreasi. Ketiga, personal survival yang berkembang melalui pengembangan kemampuan berpikir abstrak.

Untuk memahami proses perkembangan kemampuan berpikir maka kita perlu melihat pergeseran matrix kehidupan yang pasti dialami oleh setiap manusia.

Matrix berasal dari bahasa Latin yang berarti rahim, yang mengacu pada hal-hal dasar, kebutuhan fisik dan materi yang menjadi sumber kehidupan. Matrix atau rahim menyediakan tiga hal yaitu: sumber berbagai kemungkinan, sumber energi untuk mengeksplorasi kemungkinan itu, dan tempat yang aman untuk melakukan eksplorasi.

Matrix menurut sifatnya selalu adalah perempuan. Manusia mengalami lima kali pergeseran matrix. Setiap pergeseran membawa kita pada suatu keadaan baru, keadaan yang tidak dikenal, pengalaman yang tidak menentu, yang merupakan mekanisme pengembangan kecerdasan.

Matrix pertama, dalam kehidupan manusia, adalah sel telur. Sperma harus segera masuk dan berlindung di dalam sel telur agar tidak binasa. Sel telur menyediakan energi, kemungkinan, dan tempat yang aman.

Sel telur yang telah dibuahi berkembang di dalam matrix kandungan. Dibutuhkan waktu sekitar sembilan bulan agar bayi dalam matrix kandungan siap untuk bergeser ke matrix berikutnya yaitu ibu.

Selanjutnya, setelah lahir, bayi membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan bulan untuk bisa mengkonstruksi dan mengembangkan pengetahuan mengenai ibunya sebagai matrix baru dan menjelajahi matrix yang lebih besar yaitu dunia.

Dalam matrix ibu, anak membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun untuk membangun dan mengembangkan pengetahuan yang cukup, mengenai dirinya sendiri dan juga mengenai dunia di sekitarnya, untuk memulai pergeseran ke matrix dunia.

Saat masuk ke matrix dunia, dengan tetap masih mendapat dukungan dan perlindungan dari matrix ibu, seorang anak belajar mandiri dan mengkonstruksi pengetahuan, menjelajahi dunia, dengan mengenali dirinya lebih mendalam hingga sekitar usia sebelas tahun sebagai persiapan untuk akhirnya bergeser ke matrix final yaitu matrix pikiran.

Semua pergeseran matrix adalah bentuk perkembangan atau pertumbuhan kemandirian individu, baik sebagai organisme dalam dunia fisik dan sebagai pribadi dalam realita pikiran. Walaupun secara keseluruhan terdapat lima matrix namun sebenarnya manusia hanya mengalami pergeseran dalam dua matrix besar. Pertama yaitu matrix fisik, pergeseran dari rahim, ibu, diri sendiri dan dunia. Kedua, matrix pikiran abstrak.

Setiap manusia sebenarnya telah ‘diprogram’, oleh alam, untuk sukses dalam setiap pergeseran matrix. Namun keberhasilan program ini sangat bergantung pada pengalaman hidup seorang manusia sejak ia masih dalam kandungan.

Program sukses inilah yang oleh Maria Montessori disebut dengan Pre-Determined Psychic Pattern atau Pola Psikis Bawaan. Dalam diri setiap anak terdapat pola-pola yang akan berkembang sejalan dengan perkembangan usia anak. Orangtua, keluarga, dan lingkungan sangat menentukan apakah program sukses ini dapat berkembang optimal seperti yang seharusnya atau justru mengalami hambatan karena ketidaktahuan dan atau ketidakpedulian orangtua.

Sejalan dengan apa yang dikatakan Montessori, Piaget membagi proses perkembangan anak menjadi tahap Sensori Motor (0-2 thn), Pra Operasi (2-7 thn), Operasi Konkrit (7-11 thn), dan tahap Operasi Formal (12 thn ke atas).

Pakar lain, Vygotsky, dengan teori ZPD (Zone of Proximal Development), mengatakan bahwa kemampuan seorang manusia dapat berkembang lebih tinggi bila mendapat bantuan atau stimulasi dari orang atau lingkungan, dibandingkan bila berkembang tanpa bantuan.

Setiap tahap perkembangan saling terkait dan saling mempengaruhi. Keberhasilan anak, dalam proses pergeseran matrix, bergantung pada apakah faktor stimulasi yang diberikan sejalan atau sesuai dengan tahap perkembangan anak. Apabila anak mengalami salah stimulasi maka sudah pasti perkembangannya terhambat. Dengan demikian saat anak bergeser ke matrix selanjutnya ia tidak siap. Hal ini menjawab mengapa ada sangat banyak manusia yang tidak berhasil mencapai pengembangan potensi optimal saat mereka masuk ke matrix final, yaitu matrix pikiran.

Saat anak bertumbuh menjadi manusia dewasa, keberhasilan hidupnya ditentukan oleh kemampuan berpikirnya. Kemampuan berpikir, dan ini meliputi aspek yang lebih luas dari sekedar berpikir akademik, menentukan tingkat pemberdayaan potensi yang dimiliki setiap manusia.

Keberhasilan seorang manusia dalam matrix berpikir, salah satunya, tampak dari kemampuannya untuk menggunakan kemampuan berpikirnya untuk berpikir mengenai pikiran, sifat pikiran, bentuk-bentuk pikiran, dan proses berpikir. Kemampuan ini, yang dinamakan meta-kognisi, tidak dimiliki spesies lain.

Sumber: adiwgunawan.com

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: