Lurus Jalan Terus..! May 21, 2009
Posted by tintaungu in Riang.add a comment

Di sebuah ruas jalan protokol ibukota, terpasang rambu-rambu lalu lintas yang bertuliskan “LURUS JALAN TERUS”. Ketika seorang pemuda pengendara sepeda motor melaju kencang di jalan tersebut, tiba-tiba, ada pengendara sepeda motor di depannya yang menghentikan motornya secara mendadak. Akibatnya, si pemuda ini pun harus menghentikan motornya segera untuk menghindari tertabraknya motornya dengan pengendara di depannya itu.
Dia pun mulai turun dari motornya menghampiri si pengendara itu dan berkata, “Hei, Mas! Kenapa kamu berhenti mendadak di depan saya? Itu bisa membahayakan saya, tahu?! Baca tuh! Rambu-rambu di sana, LURUS JALAN TERUS!” kata si pria muda itu dengan nada kesal.
Sesaat kemudian, “Maaf, Mas!” jawab si pengendara sepeda motor sambil membuka helmnya, “Saya kan kriting, Mas!”
Sayang Istri March 18, 2009
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
Suatu hari seorang istri mengeluh pada suaminya tentang penyakitnya.
Istri : “Pa, kepalaku sering pusing, dan dadaku sering berdebar-debar juga sering mual.”
Suami : “Kalo gitu kita ke dokter aja ya!?”
Kemudian mereka berdua pergi ke dokter spesialis penyakit dalam. Suaminya menunggu di luar ketika istrinya diperiksa dokter. Tak lama kemudian si istri keluar dari ruang periksa, dengan cemas si suami bertanya pada istrinya.
Suami : “Sakit apa Ma, kata dokter?”
Istri : “Dokter bilang aku gak ada penyakit apa-apa, cuma sedikit stres aja. Dia menyarankan supaya kita liburan dulu supaya bisa rilex, seperti ke BANGKOK, SINGAPURE atau MALAYSIA, gitu lho Pa! Enaknya pergi ke mana ya, Pa?”
Si suami terdiam sejenak, kemudian berkata ….
Suami : “KITA PERGI KE DOKTER LAIN AJA, YA MA!!”
(Anonymous)
Humor: ‘Toko Suami’ August 29, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
Sebuah toko unik yang menjual calon suami baru saja dibuka di kota New York, tempat dimana wanita dapat memilih dan membeli suami yang paling tepat untuknya. Diantara instruksi2 yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.
“ANDA HANYA DAPAT MENGUNJUNGI TOKO INI SATU KALI SAJA!”
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai, dimana semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula harga lelaki tersebut. Anda dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi Anda tidak bisa turun ke lantai sebelumnya. Lalu, seorang wanita pergi ke Toko Suami tersebut untuk mencari suami yang tepat untuknya. Setelah ia membayar karcis masuk ke toko tersebut dengan harga yang cukup mahal, ia mulai memasuki lantai pertama.
Di lantai 1 terdapat tulisan:
Lantai 1: “Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan.”
Karena ingin suami yang lebih baik, kemudian ia memilih untuk naik lagi ke lantai berikutnya. Di lantai 2 terdapat tulisan:
Lantai 2: “Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan dan senang anak kecil.”
Karena ingin suami yang lebih baik, kemudian ia memilih untuk naik lagi ke lantai berikutnya. Di lantai 3 terdapat tulisan:
Lantai 3: “Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan cakep.”
Wow.. pikir wanita tersebut, tapi dia masih penasaran dan ingin untuk terus naik.
Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan:
Lantai 4: “Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.”
“Ya ampun..!” Si wanita berseru, “Aku hampir tak percaya..!”.
Si wanita penasaran dan tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini:
Lantai 5: “Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah dan memiliki sifat romantis.”
Dia tergoda untuk berhenti di lantai 5, tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan di lantai itu terdapat tulisan:
Lantai 6: “Anda adalah pengunjung yang ke 4363012. Tidak ada lelaki di lantai ini, lantai ini hanyalah semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas seperti Anda! Terima kasih telah datang di Toko Suami. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari ini adalah hari yang indah buat Anda!”
[Joke] Installing Your Husband… July 16, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
Dear Tech Support,
Last year I upgraded from Boyfriend 5.0 to Husband 1.0 and noticed a distinct slow down in overall system performance, particularly in the flower and jewelry applications, which operated flawlessly under Boyfriend 5.0
In addition, Husband 1.0 uninstalled many other valuable programs, such as Romance 9.5 and Personal Attention 6.5 and then installed undesirable programs such as NBA 5.0, NFL 3.0 and Golf Clubs 4.1. Conversation 8.0 no longer runs, and Housecleaning 2.6 simply crashes the system. I’ve tried running Nagging 5.3 to fix these problems, but to no avail. What can I do?
Signed,
Desperate
***
DEAR DESPERATE,
First keep in mind, Boyfriend 5.0 is an Entertainment Package, while Husband 1.0 is an Operating System.
Please enter command: ithoughtyoulovedme.html and try to download Tears 6.2 and don’t forget to install the Guilt 3.0 update. If that application works as designed, Husband 1.0 should then automatically run the applications Jewelry 2.0 and Flowers 3.5. But remember, overuse of the above application can cause Husband 1.0 to default to Grumpy Silence 2.5, Happy Hour 7.0 or Beer 6.1. Please note that Beer 6.1 is a very bad program that will download the Snoring Loudly Beta.
Whatever you do, DO NOT install Mother-In-Law 1.0 (it runs a virus in the background that will eventually seize control of all your system resources). Also do not attempt to reinstall Boyfriend 5.0 program. These are unsupported applications and will crash Husband 1.0. In summary, Husband 1.0 is a great program, but it does have limited memory and cannot learn new applications quickly. You might consider buying additional software to improve memory and performance. We recommend Cooking 3.0 and Hot Lingerie 7.7.
Good Luck,
Tech Support
Angon Wedhus July 15, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
Humor Suroboyoan dari ketawa.com:
Bunali pethuk Wonokairun lagi angon wedhus.
“Mbah, wadhuh wedhus sampeyan akeh yo ?” jare Bunali
“Yo lumayan ” jare si Mbah
“Pira kabehe, Mbah ?” takon Bunali maneh
“Sing putih opo sing ireng ?”
“Sing putih, wis“
“Selawe”
“Wik, cik akehe. Lha sing ireng?’
“Podho…” jare Wonokairun ambek ngarit suket.
Bunali takon maneh.
“Mangan sukete yo akeh pisan, Mbah..”
“Yo..”
“Pirang kilo mangane sakdino ?”
“Sing putih opo sing ireng ?”
”Sing ireng, wis”
“Yo kiro-kiro limang kiloan”
“Lha sing putih?”
“Podho . . .”
Bunali bingung, laopo lek ditakoni kok kudu mbedakno sing putih tah ireng, wong jawabane yo podho ae.
“Mbah, opoko lek tak takoni perkara wedhusmu, sampeyan mesti leren takon sing putih tah sing ireng barang. Padahal masiyo putih utawa ireng, jawabanmu podho terus. Sakjane ngono onok opo?”
“Ngene lho, sing putih iku wedhusku…”
“Lha sing ireng ?”
“Podho . . .”
Eh.., Salah Tulis July 14, 2008
Posted by tintaungu in Riang, Rona.add a comment

(Sumber: Anonymous)
Surat Cinta Mbak Sum April 22, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
(Sumber: milis_sasing)
mBak Sum; bermaksud memutuskan hubungan dengan kekasihnya bernama Robbie, seorang bule dari Amerika, akan tetapi dia tak sanggup untuk bertemu muka dengan kekasihnya.
mBak Sum menulis surat dengan berbekal pengetahuan bahasa Inggris & kamus tebal.
Isi suratnya sbb :
Hi Robbie, with this letter I want to give know you
(hai Robbie, bersama surat ini saya ingin memberitahu kamu)
I WANT TO CUT CONNECTION US
(SAYA INGIN MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA)
I have think this very cook cook
(saya telah memikirkan hal ini masak masak)
I know my love only clap half hand
(saya tahu cinta saya hanya bertepuk sebelah tangan)
Correctly, I have see you go with a woman entertainment at town with my eyes and head myself
(sebenarnya, saya telah melihat kamu pergi bersama seorang wanita penghibur di kota dengan mata kepala saya sendiri)
You always ask apology back back times
(kamu selalu minta maaf berulang ulang kali)
You eyes drop tears crocodile
(matamu mencucurkan airmata buaya)
You correct correct a man crocodile land
(kamu benar-benar seorang lelaki buaya darat)
My Friend speak you play fire
(teman saya bilang kamu bermain api)
Now I know you correct correct play fire
(sekarang saya tahu kamu benar benar bermain api)
So, I break connection and pull body from love triangle this
(jadi, saya putuskan hubungan dan menarik diri dari cinta segitiga ini)
I know result I pick this very correct, because you love she very big from me
(saya tahu keputusan yang saya ambil ini benar, karena kamu mencintai dia lebih besar dari saya)
But I still will not go far far from here
(namun saya tetap tidak akan pergi jauh-jauh dari sini)
I don’t want you play play with my liver
(saya tidak ingin kamu main-main dengan hati saya)
I have been crying night night until no more eye water thinking about
your body
(saya menangis bermalam-malam sampai tidak ada lagi airmata
memikirkan dirimu)
I don’t want to sick my liver for two times
(saya tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya)
Safe walk, Robbie
(selamat jalan, Robbie)
Girl friend of your liver
(kekasih hatimu)
Note:
this river I forgive you, next river I kill you !
(kali ini aku maafkan kamu, kali lain kubunuh kau !)
Masalah Gaji… March 20, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
Humor Suroboyoan… March 9, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
“Waras ta !! ” jare Brudin ndhik Bunali.
“Waduh dino iki aku meh mati disruduk celeng ” jare Bunali.
“Lho kok isok ngono, yok opo ceritone ?” jare Brudin.
“Mau awan iku aku pethuk celeng, terus tak garai, tak kileni ambek pring dhadhak nguamuk. Aku diuber-uber katene disrudhuk, untunge iku celenge bolak-balik tibo kepleset, dhadhi aku sempet menek wit klopo”. jare Bunali.
“Waduh cik sereme, lek aku sing ngalami wis pucet kepuyuh-puyuh gak karuan” jare Brudin.
“Lho, aku iyo ngono, kon pikir celenge kepleset opo ?”
Isuk-isuk kiro-kiro jam enem, Muntiyadi pethuk ambek Togog numpak sepeda gunung metu seko pelabuhan.
Muntiyadi curiga soale, sepedane Togog digandoli glangsing guedhe loro kiwo tengen.
Isine pasti sabu-sabu, utowo putaw pikire Muntiyadi.
Mergo curiga, Togog dicegat terus digeledah kuabeh mulai klambi, kathok sampek kampes.
Mari ngono isi glangsinge yo disuntek pisan, tibake isine mek pasir thok. Gak onok narkoba blas.
“Kon laopo sepedaan nang kene ?” takok Muntiyadi.
“Ngene lho pak, aku iki seneng olahraga nang pinggir laut, angine enak.” jare Togog.
“Lho laopo sepedamu apik-apik athik kon gandholi pasir ?” takok Muntiyadi.
“Sepedaku iki enteng pak, cik rodhok abhot sithik yo tak gandholi pasir iki.” jare Togog maneh.
Pikire Muntiyadi yo masuk akal penjelasane Togog iki. Mari KTPne diperikso, akhire Togog diculno.
Sisuke, Muntiyadi pethuk Togog sepedaan maneh.
Mergo sik curiga, Togog diperikso maneh koyok wingi.
Akhire pancen gak onok opo-opo, isine glangsing cumak pasir thok, Togog terus diculno maneh.
Kiro-kiro wis seminggu, Muntiyadi mulai bosen merikso Togog.
Dhadhi lek pethuk ben isuk mek manthuk thok, laopo diperikso maneh wong mek pasir. Selama telung taun akhire ben isuk Muntiyadi pethuk ambek Togog numpak sepedaan.
Arek loro iku malih dhadhi konco apik, kadang-kadang Togog ditraktir ngopi lek isuk.
Mari ngono Muntiyadi dipindah tugase mbalik nang markas besar, gak tau pethuk ambek Togog maneh.
Suatu hari, pas Muntiyadi mangan nang restoran, dhadhak pethuk Togog maneh.
Tibake Togog iku sugih, montore sedan anyar.
Bareng kethok onok Muntiyadi, genti Togog sing nraktir.
Ambek mangan, arek loro iku ngobrol.
“Gog, terus terang ae sakjane aku iki sik curiga ambek awakmu. Aku yakin sakjane awakmu iki penyelundup, gak mungkin awakmu isok sugih koyok ngene.
Saking ae aku gak isok nemokno barang bukti. Lha saiki aku wis gak jogo nang kono, wis tah awakmu ngaku ae ojok khawatir, selama telung taun wingi sakjane awakmu iku nyelundupno opo?.” takok Muntiyadi penasaran.
“Sepeda . . .”
Romlah njaluk ditukokno kepiting gawe buko.
“Yo wis tak tukokno nang rolak” jare Muntiyadi.
“Lho gak numpak bronpit tah ?” takok Romlah.
“Gak wis, cik gak amis. Tak nyegat bemo ae” jare Muntiyadi.
Mari ngono Muntiyadi budhal nyegat bemo.
Dhadhak ndhik bemo Muntiyadi pethuk ambek bekas pacare biyen, jenenge Sablah.
“Lho cak Mun, kate nang endhi peno cak ?” takok Sablah.
“Kate nglencer golek angin . .” jare Muntiyadi.
“Sakjane aku kate kulak kain, tapi wurung ae wis, tak melok peno ae” jare Sablah ngalem.
Mari ngono arek loro iku ngelencer nang musium Kapal Selam
Ndhik kono lak isis tah, dhadhi gak keroso moro-moro wis sore.
“Waduh blaen iki, aku kudhu mulih, wis yo .” jare Muntiyadi.
Mari pamitan, Muntiyadi mampir nang rolak tuku kepiting diadhai kresek.
Mergo gopoh kabeh, pas katene mlebu pekarangan dhadhak kreseke jebol, kepitinge buyar kabeh.
Ambek nggurak kepitinge, Muntiyadi bengok-bengok “Ayo cepetan sithik . .wis meh tekan iki “
Krungu bojone bengok-bengok, Romlah ambek muring-muring.
“Cak . .cak, cik guobloke se sampeyan iku. Lha mosok kepiting digiring padhakno bebek ae. Mulakno kok sui. . .”
(Sumber: Anonymous)
Ketika Laki-laki Berbohong January 10, 2008
Posted by tintaungu in Riang.add a comment
(Anonymous)