jump to navigation

Jiwa Romantis Sudah Bisa Terlihat Sejak Anak-anak May 30, 2011

Posted by tintaungu in Tengok.
trackback

Tidak sedikit wanita yang ingin mendapatkan pasangan hidup yang romantis. Keromantisan seseorang ternyata tidak hanya tumbuh jika telah memiliki pasangan, namun bisa diketahui sejak masih kanak-kanak.

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa kemampuan pria dan wanita untuk memiliki daya tahan dan tingkat komitmen yang kuat dalam hubungan yang romantis dengan pasangan dapat ditelusuri sejak usia dini, yaitu sejak anak-anak dan remaja.

Peneliti menemukan bahwa balita yang dirawat baik dan menunjukkan perhatian yang besar pada ibunya serta dapat memecahkan konflik dengan baik saat remaja, cenderung mampu berkomitmen dan romantis dalam hubungan asmara saat dewasa.

Para peneliti menyimpulkan bahwa temuan ini membuka jendela pemahaman manusia tentang bagaimana orang belajar untuk mencintai. “Sebagai anak-anak, Anda belajar untuk mengelola kebutuhan sendiri dan orang-orang yang Anda sayangi,” kata M. Minda Orina dari St Olaf College, seperti dilansir Health24, Senin (30/5/2011).

Menurut Orina, sejak dini seseorang sudah mempelajari bagaimana menghadapi masalah, apa yang harapkan dari orang lain dan bagaimana menghadapi masalah dengan cara yang disenangi orang lain. Hal-hal inilah yang kemudian membuat orang mampu berkomitmen dan romantis terhadap pasangannya saat dewasa.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mewawancarai 78 partisipan berusia 20 atau 21 tahun beserta pasangan heteroseksualnya tentang tingkat komitmen hubungan mereka. Selain mewawancarai partisipan, peneliti juga sudah memiliki data partisipan ketika berusia 2 tahun dan 16 tahun, seperti bagaimana mereka mencintai dan perhatian kepada ibunya ketika masih anak-anak, serta bagaimana mereka menyelesaikan masalah dengan teman saat remaja.

Hasilnya, anak yang penuh perhatian kepada ibunya dan mampu menyelesaikan masalah dengan baik saat remaja cenderung memiliki jiwa yang romantis terhadap pasangannya. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Psychological Science.

(sumber: detikHealth)

                                                                              .

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: