jump to navigation

Loncatan Kebahagiaan Si Domba February 19, 2010

Posted by tintaungu in Rona.
trackback

Di sebuah pegunungan tinggi, di semak-semak tempat bermain di sebelah selatan salju, ada seekor domba dengan bulunya yang berkilau. Ia bercahaya di bawah sinar matahari, berkilau dan bersih. Itulah miliknya yang membuatnya bangga. Ia menari-nari dengan semangat. Ia menari untuk teman-temannya. Teman-temannya menganggap tariannya menarik karena itu mereka ikut menari juga. Bukan hanya berang-berang, ikan, burung hantu, bahkan ular pun ikut menari dengan penuh kegembiraan.

Lalu pada suatu hari, datangnya sebuah mobil pemburu. Dari dalam mobil keluarlah seorang pencari bulu domba. Ditangkapnya domba berbulu cantik itu dan dicukur habis seluruh bulunya. Bagaikan disambar petir, si domba kaget bukan kepalang. Dipandanginya dirinya di sebuah kolam. Astagaaa!! Bulu yang indah sudah tidak ada. Tinggal seonggok daging yang kurus tanpa keindahan sama sekali. Sekujur badan si domba menjadi berwarna merah muda akibat mesin pencukur tadi. Oooh.. teman-teman domba  mentertawai domba kurus yang sekarang menjadi jelek dan gundul. Domba yang semula selalu riang pun berubah menjadi sedih. Wajahnya semakin ditekuk.

Tiba-tiba ada yang meloncat-loncat dari balik bukit. Ya, datanglah kelinci bertanduk dari Amerika. Hewan yang bijaksana, kelinci penuh harapan yang langka ini berhenti dan melihat domba itu.
Hei, nak, mengapa sedih?, tanya kelinci bertanduk.

Dengan wajah sedih domba pun mulai bercerita.
Dahulu aku domba yang penuh dengan bulu indah berwarna putih bersih. Aku menari di bawah matahari dan membanggakan diriku. Teman-temanku ikut menari jika melihat aku menari. Semua bahagia dengan tarianku. Lalu datanglah di pencari bulu domba. Dia menyeretku dengan kasar. Dia mencukurku dan mengembalikan aku yang sudah gundul ini. Dan bukan itu saja, sekarang semua temanku mengejekku. Menurut mereka aku menggelikan, lucu dan berwarna merah muda.

Merah muda? Apa salahnya dengan merah muda?, tanya si kelinci bertanduk. Tampaknya kesanmu terhadap warna merah muda itu salah. Adakah masalah dengan warna? Tentu tidak! Entah itu merah muda, ungu atau warna-warni. Kadangkala kau senang dan kadangkala kau sedih. Saat kau bersedih hati, lihat disekitarmu saja. Kau masih punya tubuh, kaki dan langkah yang baik. Benahi pikiranmu dan kau sudah menjadi lengkap!
Si domba mengernyitkan dahi mendengar perkataan kelinci bertanduk itu.

Kelinci bertanduk melanjutnya nasihatnya.
Mengenai tarianmu, kau bisa lebih dari itu. Kau bisa meloncat tinggi, bahkan sebenarnya kau bisa terbang. Angkat kakimu lalu hentakkan ke bawah, kau akan melambung yang disebut dengan meloncat. Si kelinci bertanduk pun mempraktikkan loncatannya yang indah dan melambung tinggi hendak mencapai langit.
Loncat, loncat dan loncat lagi. Loncatlah dan seakan kau berada di langit. Kurasa kau bisa kalau kau ingin mencoba. Bagaimana?
Pertama, angkat kakimu, si kelinci bertanduk kemudian mengangkat salah satu kaki domba, hentakkan ke tanah.
Domba pun mengikuti perintah kelinci bertanduk. Ia pun meloncat tinggi. Pertama-pertama si domba ragu. Namun lama kelamaan ia menikmati loncatannya. Dengan riang ia meloncat seolah hendak menggapai langit. Dan lihat… ternyata berang-berang, ikan, burung hantu dan ular pun mengikuti loncatannya. Semuanya meloncat-loncat dengan riang.

Selang beberapa bulan, musim salju tiba. Salju pun mengenai domba yang sedang senang meloncat. Dan salju menutupi tubuh si domba layaknya bulu yang putih bersih. Sesaat domba termangu mengenang kembali bulu-bulu indah yang dulu dia miliki. Meskipun saat itu yang menempel di badannya adalah salju, bukan bulu asli.

Waktupun terus berlalu. Kini sudah tumbuh kembali bulu-bulu domba seperti yang dulu. Putih, bersih, mengkilap. Tiap tahun di bulan Mei, pencari bulu domba kembali datang, menangkap dan menyeret si domba. Ia mencukur dan mengembalikannya sesudah domba gundul.

Sekarang domba belajar membiasakan diri dengan peristiwa ini. Ia tidak peduli. Ia meloncat-loncat dan meloncat lagi. Dan setiap kali ia meloncat, berang-berang, ikan, burung hantu dan ularpun ikut meloncat merasakan kegembiraan si domba.

Di dunia yang penuh kesenangan dan kesedihan, bersyukurlah karena selalu ada yang selalu mengingatkan bahwa apapun yang terjadi kita akan selalu bisa bahagia. Dan dia bernama pikiran kita.

(Sumber: mindclinic.co.id)

                                                                             .

Comments»

1. anni - March 5, 2010

bagus banget,subhanallah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: