jump to navigation

Belajar dari Keledai March 28, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
trackback

Seekor keledai yang tidak hati-hati jatuh ke dalam lobang yang dalam. Untung lobang tersebut bukan lobang perangkap yang dipasang jerat.

Melihat hal ini, petani pemiliknya mempertimbangkan bahwa keledai tersebut sudah tua serta tidak kuat lagi menarik beban. Dengan demikian sudah tidak ada manfaatnya lagi. Petani tersebut memutuskan lebih baik keledai tersebut dibunuh saja.

Cepat dia mengambil sekop dan mulai menimbun lobang dengan tanah. Keledai meronta ronta dan mengaduh kesakitan mendapat hantaman tanah yang dijatuhkan dengan tenaga kuat. Tanah tersebut setelah menimpa tubuh kemudian jatuh dekat kakinya. Dengan demikian dia mendapatkan bahwa timbunan tanah disekitar tubuhnya makin meninggi.

Petani tersebut dengan perasaan benci bermaksud ingin cepat mengisi lobang agar keledai tertimbun dan mati. Keledai yang menahan dera karena ditimpa tanah, menggoyang tubuh agar tanah lebih cepat jatuh dekat kaki. Setelah agak meninggi, dia naik di atas tanah timbunan. Begitu seterusnya, hingga tanpa disadari oleh si petani, keledai dapat melompat keluar dari dalam lobang. Merasakan pancaran rasa benci dari pemiliknya, segera keledai melarikan diri. Petani termangu dengan kegagalan niat buruknya membunuh binatang yang pernah memberikan manfaat ketika masih kuat.

Dari ceritera ini dapat dipetik pengalaman seekor keledai yang terperosok dalam kesulitan masih dapat mencari peluang atas kejadian yang menimpa dirinya. Sering diceriterakan bahwa keledai adalah mahluk yang lamban dan bodoh. Dalam kelambanan dan kebodohannya masih ada yang dapat kita teladani untuk diambil manfaatnya.

Menghadapi kesulitan untuk keluar dari lobang, suatu hasil karma baik baginya dengan adanya petani yang berkobar rasa benci untuk membunuh. Ini merupakan peluang emas. Petani terebut karena penuh emosi tidak melakukan kontrol akan hasil kerjanya, terus saja menimbun. Dia berpendapat bahwa keledai yang bodoh akan diam saja dan tertimbun. Inilah peluang bagi keledai untuk memperhitungkan pada ketinggian berapa dia bisa melompat. Timbunan tanah pada saat itulah dipergunakan untuk pijakan dan hentakan lompatan yang membawa hasil penyelematan.

Dengan demikian dalam menempuh hidup dan kehidupan kita, jangan merenungi kesulitan yang kita hadapi. Kita wajib menggunakan akal dan pikiran yang berlandaskan moral etik untuk keluar dari kesulitan. Juga perlu diperhatikan bahwa akan bertambah beban bila kesulitan yang kita hadapi diselesaikan dengan tindakan tidak terpuji,

Bila kita mengambil “jalan pintas” dengan perbuatan tercela, antara lain menipu atau mencuri, akan mendapatkan tambahan kesulitan di kemudian hari sebagai akibatnya.

Kita punya potensi akal dan pikiran untuk menyelesaikan masalah. Inilah yang wajib kita lakukan. Potensi tanpa ada gerakan tidak berguna, ibarat korek api sebagai potensi api. Bila tetap diam, korek api tidak akan menjadi api. Hendaknya ada aktivitas sebagai manifestasi akal dan pikiran, aktivitas yang bersih sehingga kita akan tetap menjadi orang terpuji.

Sukses bagi anda yang dapat menyelesaikan kesulitan dengan baik.

(Tulisan: D. Henry Basuki, beraniegagal.com)

                                                                                  

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: