jump to navigation

Love Is (Not) Blind… September 12, 2008

Posted by tintaungu in Rindu, Rona.
trackback

Banyak orang mengatakan kalau cinta itu buta. Jatuh cinta pun sering membuat manusia lupa segalanya, kecuali orang yang dikasihinya. Lihatlah Rawana, berjuta bulan bulat selalu dipersembahkan kepada Shinta tiap malam. Sedangkan tak sedegup pun hati Shinta bergetar kepada Rawana, karena rindunya yang teramat dalam kepada Rama. Sia-sia? Hanya Rawana yang mampu menjawabnya.

Namun, tidak selamanya cinta membuat manusia itu buta. Beberapa kisah cinta masyarakat Jawa Kuna mengajarkan bahwa cinta tidak hanya tentang mengagungkan rasa cinta itu sendiri. Ya, cinta tidak hanya tentang rasa, tetapi juga pengorbanan dan dharma. Dan, tentu saja hal itu membutuhkan kesadaran hati dan pikiran. Seperti salah satu kisah yang terdapat dalam Tantri Kamandaka berikut.

Alkisah, terdapat seorang raja yang bernama Aridarma, yang mencegah seorang putri naga dari perbuatan tidak senonoh. Atas perbuatannya itu, oleh raja naga Aridarma diberikan kemampuan bicara bahasa binatang. Akan tetapi, syaratnya adalah Aridarma harus merahasiakan kemampuannya itu, atau ia akan mati. Aridarma pun menyanggupinya.

Suatu ketika, saat sedang bermesraan dengan permaisurinya, Aridarma mendengar ucapan seekor cicak betina: “Aduhai, ingin sekali aku diperlakukan mesra seperti yang didapatkan Dewi Mayawati. Tidak seperti aku yang ditinggal suami dalam sepi.”

Mendengar itu, Aridarma hanya tersenyum. Ketika melihat suaminya tersenyum, Mayawati penasaran. Kemudian ia bertanya kepada suaminya. Akan tetapi, Aridarma diam, tidak menjawab rasa penasaran Mayawati. Ditikam sejuta penasaran, Dewi Mayawati terus mendesak, namun Aridarma tetap diam, karena ia akan mati, sesuai syarat yang diberikan raja naga.

Hingga kemudian, penasaran Dewi Mayawati berubah menjadi emosi. Ia lalu berkata “Baiklah, kalau begitu hamba lebih baik mati.”

Aridarma menjawab, “Baiklah kalau demikian. Buatkan tempat pembakaran. Kalau aku ceritakan, itu hanya akan membuatku mati. Nanti akan aku ceritakan di tempat kita akan terbakar bersama-sama. Sehingga matilah kita bersama-sama.”

Para pengawal kemudian mempersiapkan tempat pembakaran. Ketika di atas panggung, Aridarma mendengar obrolan sepasang kambing.

Kambing betina berkata, “Mas, ambilkan aku janur kuning dekat tempat pembakaran itu, dong.”

Tapi kemudian kambing jantan menjawab. “Pikirmu apa? Tidakkah kau melihat tempat itu dipenuhi para penjaga yang membawa senjata? Apa kamu mau aku disembelih?”

Kambing betina kemudian merengek, “Kalau kamu tidak mengabulkan, lebih baik aku mati saja.”

Sambil marah-marah, sang jantan lalu menjawab. “Kalau mau mati, mati saja! Tidak mau aku seperti raja bodoh itu. Hanya untuk memenuhi keinginan sang istri, dia memilih mati. Beda dengan aku, mau cinta, mau tidak cinta juga terserah…!”

Setelah mendengar ucapan kambing jantan, Aridarma pun tersadar, lalu turun dari panggung tempat pembakaran. Ia memutuskan untuk tidak secepat itu meluluskan permintaan permaisurinya tercinta. Bagaimanapun juga, Aridarma adalah raja, dan dharma seorang raja adalah kepada rakyatnya, bukan hanya kepada istri.

Namun, Mayawati tetap menerjunkan dirinya ke dalam api. Begitu pula dengan kambing betina.

                                                                                                                      

Comments»

1. Rindu - October 9, 2008

Cinta bukan hanya buta, tapi juga tuli dan lumpuh … ah fatamorgana🙂

2. Rindu - October 9, 2008

ah Mayawati seperti perempuan pada umumnya … rela mati, padahal aridarma bersiap siap untuk menikah lagi🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: