jump to navigation

Mengelola Emosi August 30, 2008

Posted by tintaungu in Reksa, Tengok.
trackback

(Tulisan: dr. H. Inu Wicaksana, SpKJ di Harian Kedaulatan Rakyat, 30 Agustus 2008)      

Emosi adalah salah satu unsur yang membentuk kepribadian manusia yang sangat berharga. Boleh dikata ini unsur yang berdiri sendiri, tapi juga sangat dipengaruhi pola pikir. Emosi sudah terbentuk sejak manusia dilahirkan.

Seorang bayi yang lahir kedua, merasa tidak nyaman dengan keadaan dunia yang tak senyaman dalam kandungan ibunya. Maka ia langsung menangis sekeras-kerasnya. Bila ada suatu rangsangan yang menyakiti dirinya, atau ia merasa lapar, bayi itu langsung menangis meronta-ronta.

Sesudah besar, pikiran semakin mempengaruhi emosinya. Bila ia memperoleh apa yang ia inginkan, pikirannya puas, emosinya pun bahagia. Tapi bila pikirannya mengharapkan sesuatu dan terbentur suatu hal, emosinya pun kecewa, frustrasi sedih atau marah. Maka dapatlah dikatakan, mengendalikan emosi sesungguhnya adalah mengendalikan pikiran kita, karena sampai batas tertentu pikiran bisa menguasai emos.

Yang menjadi problem adalah seringkali emosi tak bisa dikendalikan oleh pikiran kita, meski kita ingin sekali menguasai atau mengelolanya. Di sinilah kadang emosi bergerak sendiri, sesuai karakter, sifat dan kepribadian kita.

Para ahli seperti Fehr san Russel menyatakan bahwa “Setiap orang tahu apa itu emosi, sampai dia diminta untuk memberikan definisi tentang emosi itu sendiri, setelah itu tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya”. Ketika kita menggunakan istilah tersebut, emosi merupakan sebuah pengalaman rasa. Kita merasakan adanya emosi, kita tidak sekadar memikirkannya. Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara pribadi penting untuk kita, maka emosi kita akan meresponsnya, biasanya diikuti dengan pikiran yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, perubahan psikis dan hasrat untuk melakukan sesuatu. Bila ada seorang teman yang semena-mena menyuruh kita melakukan sesuatu, psikis kita mengalami perubahan, tekanan darah kita meninggi karena terpacu adrenalin dan kita siap untuk marah.

Emosi itu bisa menjadi positif, tetapi bisa juga negatif. Emosi yang positif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Apakah itu bangga, harapan, kelegaan, emosi ini akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dalam interaksi dengan orang lain, emosi yang positif bisa membangun kedekatan, sebuah hubungan yang ditandai dengan keinginan baik, pemahaman dan perasaan menjadi bagian dari sebuah ‘kebersamaan’. Sebaliknya, perasaan marah, frustrasi dan emosi-emosi negatif lainnya secara personal menghasilkan perasaan susah, kecewa, sakit hati atau marah. Emosi-emosi ini kecil kemungkinannya digunakan untuk membangun kedekatan.

Emosi bisa mengalihkan perhatian dari persoalan pokok yang akan dibicarakan. Emosi bisa menghancurkan hubungan. Emosi bisa mengeksploitasi kita. Sebaliknya emosi positif bisa mempermudah terpenuhinya beberapa kepentingan yang substantif. Emosi positif bisa mempererat hubungan. Emosi positif tidak akan menambah risiko bahwa kita akan dieksploitasi.

Mematikan emosi, adalah suatu hal yang mustahil karena itu suatu hal yang alamiah. Demikian juga menghilangkan emosi. Emosi muncul sebagai reaksi atau respons manusia terhadap suatu rangsang eksternal  maupun internal. Setiap rangsangan akan mendapat reaksi dari kita. Namun ada titik-titik waktu, yang bisa kita pikirkan, bagaimana bentuk reaksi yang kita ambil, inilah yang disebut respons, bentuk reaksi emosi yang sudah diatur oleh pikiran dengan pertimbangan yang bijak. Tentunya emosi yang timbul adalah emosi positif dan menguntungkan semua pihak, bukan emosi yang merusak segalanya.

Dengan demikian lebih baik perhatian kita arahkan kepada apa-apa yang membangkitkan reaksi emosi-emosi tersebut. Perhatian utama adalah keinginan manusia yang penting dalam semua hubungan antarmanusia. Keinginan itu sering kali tidak terucapkan, tetapi tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan ketertarikan yang tampak.

Keinginan utama itu memberikan kerangka yang sangat kuat kepada kita untuk mengatasi emosi tanpa mendapatkan masalah dengannya. Ada lima keinginan yang merangsang, baik maupun buruk, munculnya berbagai emosi dalam sebuah interaksi manusia. Lima keinginan itu adalah apresiasi, afiliasi, otonomi, status dan peran.

Kalau kita mampu menangani semua itu dengan efektif, kita bisa merangsang munculnya emosi-emosi positif, baik di dalam diri kita sendiri maupun pada orang lain. Karena setiap orang memiliki keinginan ini, maka kita bisa secara langsung memanfaatkannya untuk merangsang munculnya emosi-emosi positif.
                                                                                                   

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: