jump to navigation

Mengucap Syukur dalam Segala Hal August 22, 2008

Posted by tintaungu in Reksa, Rona.
1 comment so far

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.
 
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.
 
Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk
surat singkat kepada gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah . Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hidup adalah anugerah

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar –
Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu –
Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu –
Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu –
Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu –
Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai –
Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh –
Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu –
Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain –
Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu –
Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.
 
 

NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI!

                                                         
(Sumber: milis_sasing@yahoogroups.com)
                                          
 

Sifat yang Tidak Disukai Atasan August 22, 2008

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Kunci sukses dalam bekerja adalah kemampuan bekerjasama dengan atasan. Untuk itu, jagalah jangan sampai atasan tidak menyukai anda. Ada beberapa sifat yang tidak disukai atasan yang perlu dibuang jauh dari pribadi setiap karyawan, simak berikut ini.

Pembohong.
Siapapun tidak akan mudah menerima orang yang senang berkata bohong. Apalagi atasan yang menggantungkan informasi pada bawahannya. Memang atasan tidak suka bila ada yang mengatakan laporan sudah dikirim ternyata belum. Hal ini dilakukan agar atasan tidak marah sehingga terciptalah kebohongan untuk menutupi kesalahan anda. Tapi begitu dia mengetahui anda berbohong maka dia akan lebih kecewa dan jengkel. Apalagi ketidakjujuran menyangkut investasi perusahaan, maka kemungkinan anda akan mendapat teguran.

Melempar Tanggung Jawab.
 “Bukan saya, tetapi mereka yang …,” inilah kalimat yang acapkali diucapkan oleh pelembar tanggung jawab. Sudah jelas-jelas bahwa kekeliruan pengiriman barang adalah kesalahannya dalam menulis pesanan, tetapi dia katakan pemasoklah yang salah mengirim. Sifat seperti ini tak akan disukai atasan. Umumnya atasan masih bisa menerima terjadinya kesalahan yang tak disengaja tetapi akan jengkel bila si pembuat kesalahan ternyata tak mau bertanggung jawab.

Pembelot.
Sifat inipun sangat menjengkelkan setiap atasan. Atasan mana yang tak kesal jika perintahnya dianggap angin lalu. Apalagi sudah diatur bahwa laporan mingguan harus diserahkan setiap akhir minggu, tetapi anda tak pernah mau membuatnya. Kalau ditagih malah mengatakan sistem laporan itu tak ada gunanya dan kemudian mengajak berargumentasi. Atasan pun membenci bawahan yang suka menerobos dan mengabaikan prosedur. Sifat membelot dan main sodok ini bukan sifat yang baik dari seorang bawahan.

Tak Disiplin.
Setiap perusahaan memiliki aturan dan salah satu tugas atasan adalah menjaga agar aturan berjalan lancar. Tentu dia akan jengkel apabila anda sering terlambat masuk kantor, ngobrol tak berketentuan selama jam kerja, sering absen tanpa alasan, dan sebagainya. Ketidakdisiplinan ini bukan saja menjengkelkan, tetapi juga seperti penyakit yang mudah menular pada karyawan lain.

Selalu Mengeluh.
Meski anda memiliki sifat rajin, baik hati tetapi sering mengeluh maka akan membahayakan diri sendiri. Apalagi keluhan diungkapkan pada atasan di setiap kesempatan, sudah pasti akan membuatnya kesal. Karena atasan bukanlah seorang psikolog. Mungkin anda hanya ingin mencari perhatian tetapi sifat selalu mengeluh tidak akan pernah disukai atasan.

Loyo.
Tak ada atasan yang suka pada bawahan yang tampak loyo dan tak bersemangat. Keloyoan ini bisa tercermin dari muka murung, tampang mengantuk, atau pakaian acak-acakan. Bisa juga terlihat kalau sedang mengerjakan tugas dengan malas-malasan, atau setengah hati, lamban, dan akhirnya mengganggu kelancaran pekerjaan. Bukan itu saja, yang membuat atasan tak suka hal demikian, karena keloyoan akan mudah menciptakan suasana kerja yang tak bergairan pada orang lain.

Tak Memiliki Dedikasi.
Dedikasi artinya pengabdian. Seorang bawahan yang berdedikasi tak hanya menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kalau perlu ia pun mau bekerja di luar jam kerja tanpa terlalu mempersoalkan imbalan. Bahkan tak segan untuk membantu pekerjaan orang lain bila diminta. Yang penting baginya semua pekerjaan lancar dan perusahaan pun maju. Sebaliknya ada bawahan yang selalu berhitung untung rugi. Dia hanya mau mengerjakan tugasnya sendiri dengan seadanya saja tanpa mau mengejar prestasi. Pulang selalu tepat waktu, bahkan jam kerja belum lagi usai dia sudah berkemas-kemas. Bila diberi tugas di luar jam kerja mungkin masih mau menerima tetapi dengan muka masam atau langsung menolak. Sifat semacam ini sungguh menggemaskan atasan. So, kalau anda ingin tetap bertahan lama dalam satu pekerjaan. Kini saatnya anda mengubah sifat-sifat buruk menjadi lebih baik.

(Sumber: Ciptapangan.com)