jump to navigation

Menjadi Karyawan adalah Keberuntungan December 26, 2007

Posted by tintaungu in Ragam.
trackback
Pernahkah anda berfikir menjadi karyawan itu suatu keberuntungan ? Bagi mereka yang sejak awal bergelut di dunia bisnis, menjadi karyawan adalah cara pandang yang tidak akan menjadi kaya. Tapi bagi yang akan memulai bisnis, menjadi karyawan merupakan salah satu cara agar resiko kegagalan bisnis tidak mengganggu kehidupannya.

Saya tidak mau memilih mana yang benar, itu semua tergantung kepada anda masing-masing. Bagi saya , menjadi karyawan adalah suatu keberuntungan bagi mereka yang berkeinginan yang terjun ke dunia bisnis nantinya. Sama halnya dengan apa yang diutarakan oleh Aqua Dwipayana (Berhenti bekerja Dunia tidak akan kiamat, 2005), ”Orang yang sebelumnya telah bekerja-apapun pekerjaan yang dilakukan-lebih beruntung disbandingkan orang yang sama sekali belum pernah bekerja untuk itu, jadikanlah pengalaman bekerja tersebut sebagai motivasi untuk melakukan aktifitas lainnya dengan hasil lebih baik”.

Ada beberapa alasan mengapa bagi mereka yang akan terjun ke bisnis menjadi karyawan adalah suatu keberuntungan. yaitu :

Menjadi karyawan adalah aktualisasi diri
Kalau anda sering membaca surat kabar, tentu tak asing lagi dengan angka pengangguran di Indonesia. setiap tahun hampir dua ratus ribu angkatan kerja baru lulus dari pendidikannya baik SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Sayangnya hanya sedikit yang mampu diserap oleh dunia kerja, selebihnya hanya menambah deretan panjang daftar penganggur.

Bagi mereka yang lolos seleksi dunia kerja, tentu bisa berbangga hati karena sudah mampu membuktikan kepada orang lain bahwa mereka mampu untuk bekerja dan berkarya. Jika anda yang baru lulus kemudian diterima sebagai karyawan suatu badan usaha, tentulah rasa hati tenang menyelimuti tidak hanya anda pribadi melainkan keluarga besar anda. Apalagi seandainya anda lolos bekerja di perusahan multi nasional dengan system perekrutan yang lebih modern, yang lebih menonjolkan kemampuan individu dan melalui berbagai tahapan seleksi yang melelahkan secara fisik dan mental, tentulah rasa bangga itu begitu besar dan meningkatkan status anda dimata keluarga atau tetangga sekitar.

Mungkin ini berbanding terbalik dengan beberapa pandangan para wirausahawan namun tidak dapat dipungkiri ini adalah realita dari sebagian besar masyarakat kita dan dengan menjadi karyawan akan memiliki status hidup lebih baik dari pengangguran. Aktualisasi diri yang begitu baik akan membantu mereka yang berniat terjun ke dunia bisnis nanti dan umumnya akan lebih percaya diri karena ada nilai plus di dalam diri mereka. Nilai lebih karena pernah berhasil mengungguli pesaingnya saat seleksi penerimaaan karyawan baru.

Menjadi karyawan adalah proses pembelajaran
Pernah dengar kisah pendiri Honda ? ada baiknya kita kembali membaca kisah beliau saat akan membangun Honda. Awalnya beliau adalah karyawan di sebuah bengkel . Ada juga cerita mengenia pediri matsusitha, beliau menjadi karyawan listrik sejak usia muda dan belajar bagaimana system usaha yang baik sebelum memutuskan mendirikan pabrik lampu listirk pertamanya.

Ada hikmah yang dipetik bagi mereka yang akan membangun bisnis, menjadi kryawan adalah proses pembelajaran dan penguasaan di berbagai bidang perlu dilakukan.
Beruntung jika mereka bekerja diperusahaan yang sudah memiliki system yang baku dan teruji. itu bisa menjadi barometer jika akan memulai bisnis. selain itu pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan cukup membantu disamping tanpa dipungut biaya. kalo kita berprestasi atau disiapkan untuk mengisi suatu posisi, akan ada banyak training yang baik untuk dikuti banhkan untuk menlanjutkan studi.

Menjadi karyawan menambah relasi
Salah satu upaya untuk bisa sukses didunia bisnis adalah bertemu dengan banyak orang setiap hari. dengan menjadi karyawan kita akan bertemu dengan berbagai orang dengna berbagai bidang. serperti antar sesamaa karyawan atau dengan costumer. kita bisa berbicara bahkan dengna orang yang baru kenal dengna mudah. kadang pada saat acara pelatihan kita bisa berjumpa dengan rekan-rekan lain dari berbagai perusahaan. status karyawan juga bisa menjadi salah satu titik awal membangun hubungan jangka panjang. seperti yang di utarakan Rahma kepada saya.

“Setelah lulus kuliah saya bekerja di perusahaan asing dengan roster kerja 6 – 2 (6 minggu di site dan 2 minggu istirahat). dengan home base di Jakarta maka saya berkesempatan untuk pulang pergi dengan pesawat udara. Dalam suatu penerbangan pulang ke Jakarta saya bertemu dengan pengusaha butik. pemilik dua butik di Jakarta dan Surabaya. dari perbincangan santai selama di perjalanan, beliau mengatakan akan mengembangkan butiknya untuk bisa bersaing di dunia maya (e-commerce). Dari perbincangan santai itu akhirnya saya bisa mendapatkan kontrak pengembangan situs untuk butik miliknya dan hingga kini hubungan baik kami masih terus terjaga”.

Karyawan adalah pasar potensial untuk mendapatkan kredit
Mungkin anda akan terkejut betapa mudahnya karyawan mendapatkan kredit. dengan hanya bermodalkan slip gaji karyawan bisa mendapatkan barang-barang baik konsumptif atau produktif sesuai keinginannya. Pernahkah anda berjalan ke suatu perusahaan pembiayaaan dan disitu menemukan salah satu syarat kredit adalah slip gaji terakhir ? Pernahkah anda melihat brosur aplikasi kredit bank dimana karyawab bisa mengajukan kredit sebesar 2 atau tiga kali basic-nya ? Jadi semua itu tergantung anda. jika anda seorang karyawan dan ingin membuka bisnis namun terbentur modal. dengan hanya mengandalkan kredit mikro (dua atau tiga kali basic) anda bisa mendapatkannya tanpa banyak kesulitan.

Karyawan adalah orang yang mampu melayani
Dalam buku-buku bisnis dijabarkan bahwa kunci sukses dalam bisnis adalah mampu dan mengetahui kebutuhan pelanggan. banyak pebisnis yang gagal karena mereka lupa akan acuan dasar ini. Hal ini biasanya kembali ke ego pribadi dimana sikap manusia daalh senantiasa berusaha untuk unggul disbanding manusia lainnya. sikap itu justru menimbulkan arogansi yang berujung kpada kurang pekanya personal terhadap hubungan dengan orang lain.

Menjadi karyawan justru mengajarkan bagaimana kita bisa bekerja sama dan melayani satu sama lain agar tercipta hubungan kerja yang harmonis. sebagai contoh bagaimana karyawan bagian produksi mau melayani karyawan di bagian marketing sementara karyawaa bagian service melayani karyawan produksi. bagaimana jika karyawan produksi tidak mau memenuhi apa yang diinginkan karyawan marketing menyangkut spesifikasi atau qualitas barang, hal ini justru membuat perusahaan tersebut menjadi kesulitan memasarkan hasil produksinya. juga bagimana jika karyawna bagian service tidak mau melayani karyawan produksi, hal ini bisa menciptakan keterlambatan produksi karena realibilitas alat yang dibawah standar, dsb.

Kelima alasan di atas bisa saja tidak diterima oleh sebgaina kalangan, namun saya yakin jika hal tersebut berlaku secara umum untuk mereka yang berkerja di berbagai level.

Beruntung lah bagi mereka yang ingin membuka bisnis suatu saat nanti. berbagai pengalaman yang didapatnya selama menjadi karyawan akan menjadi daya ungkit untuk keberhasilannya kelak. saya menyarankan anda untuk membaca buku “Financial freedom” karangan Tung Desem Waringin, beliau dengan gamblang menjelaskan pengaruh daya ungkit untuk meraih kebebasan financial.

Agar menjadi karyawan yang beruntung saya mengariskan perlunya pemahaman sebagai berikut :

Rubah paradigma ’karyawan adalah orang gajian’
Umumnya orang terlalu menganggap menjadi karyawan sama dengan orang gajian. Anggapan ini justru memperburuk citra karyawan sebagai orang yang disuruh atau suruhan. hal seperti ini justru membuat diri anda menjadi tidak berkembang. Anda akan selalu menjadi takut untuk berfikir dan bertindak sesuai keinginan hati.

Paradigma yang salah akan menghasilkan sikap dan tingkah laku kita tidak berkembang secara maksimal. Memang benar karyawan adalah orang gajian namun itu hanya sebagian kecil. Bagi mereka yang bekerja secara professional, gaji bukanlah satu-satunya hasil yang diharapkan. Sebagian besar kaum professional justru akan mengatakan kepuasan kerja adalah hasil dan penghasilan akan menyusul dibelakangnya.

Untuk itu paradigma karyawan adaalh orang gajian perlu diubah. saya menyarankan untuk mendefinisikan ulang arti karyawan secara positif sesuai dengan keadaan masing-masing ditambah dengan kalimat “secara professional”.

Ganti asset konsumtif menjadi asset produktif
Dengan penghasilan rutin yang didapatnya setiap bulan, bisa menciptakan sikap lalai dalam pengelolaan keuangan. kebanyakan kita tidak menyadi lebih banyak membeli harta yang konsumtif. Safir Senduk dalam salah satu kiat menyatakan “ untuk menjadi kaya kita harus membeli sebanyak mungkin harta produktif”. Harta produktif yang dimaksud disini adalah asset yang nantinya bisa memberikan penghasilan pasif.

Saya menyarankan anda untuk membaca buku karangan Robert KIYOSAKI , “Rich dad Poor Dad”. disana dibahas mengenai perlakukan financial yang sering dilakukan oleh karyawan. Bagaimana Kiyosaki menyentil pola hidup karyawan yang cenderung membelanjakan dari penghasilannya untuk hal-hal yang bersifat liabilitas dan memberikan saran perlunya melek financial untuk karyawan.

Kembangkan selalu empat dasar unsur manusia

Selama berabad-abad, para cendikiawan membagi manusia ke dalam empat unsur yang saling bergantung, yaitu : Fisik, Mental, spiritual, Emosional. Pemahaman mengenai keempat unsure ini perlu dikembangan dan dibiasakan agar terbentuk sikap positif dalam bertindak.

Pembelajaran unsur fisik menjadikan karyawan lebih berani mencoba dan tetap semangat dalam bekerja. Menjadikan karyawan siap dan tahan terhadap berbagai tantangan.

Pembelajaran unsure mental berkaitan erat dengan usnur fisik yang mendorong karyawan untuk menghadapi ketakutan akan kesalahan secra lebih bijak dan rasional

Pembelajaran unsure emosinal akan mengarhakan kepada kehatian-hatian dalam berperilaku dan bertindak.

Pembelajaran unsure spiritual akan lebih menyadarkan karyawan akan pentingnya rambu-rambu dalam bertindak. Menguatkan hakekat manusia adalah kecil di mata Tuhan akan menguatkan bahwa sifat serakah dan menggunakan berbagai cara dalam bertindak adalah sesuatu yang salah dan akan merugikan diri probadi.

Kembangkan sikap proaktif dan prioritas
bersikap proaktif berarti bekerja sesuai dengan rencana. seorang karyawan sejka awal dituntut utnuk bekerja sesuai dengan rencana. Agar rencana yang disusn berjlaan eektif pelru dilkukan pembagiam prioritss kerja agar tidak saling tumpang tindih satu sama lain. Mengmebangkan kebiasaan ini akan membantu karyawan saat akan membuka usahanya nanti terutama saat membuat suatu rencana bisnis.

Sumber : Tulisan Shauman Shaladin

    

Comments»

1. Assissotom - January 17, 2008

Yes. Very good site! worth to visit!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: