jump to navigation

Manajemen Perut October 3, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
trackback

BAGI mereka yang terbiasa hidup dengan perut lapar, melakukan puasa memang bukan sebuah ‘kemewahan’. Para fakir-miskin yang sebagian besar adalah petani dan nelayan itu, hidup ini seakan seperti burung-burung gagak yang tidak pernah menabur benih atau memanen. Orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi kekasihNya itu memang tidak memiliki lumbung atau gudang untuk menimbun, sebab hidup mereka langsung ditangani oleh Allah, diberi makan olehNya.

Jika ada waktu, sejenak marilah kita cermati kebiasaan orang-orang kecil itu, kaum proletar, para dzuafa, wong-wong cilik yang dikategorikan marhein oleh Bung Karno, sesungguhnya ‘gaya hidup’ mereka yang sungguh-sungguh melodramatik itu telah ada sejak zaman dahulu. Di zaman Rasulullah Muhammad SAW, ada seorang sahabat yang kokoh iman dan teguh berprinsip: menolak makanan haram yang masuk ke dalam perutnya. Lelaki yang tak pandang bulu dan menolak dengan tega terhadap barang haram itu bernama Abu Dzarr al Ghiffari, yang hingga akhir hayatnya memilih hidup sunyi daripada harus tergoda oleh benda-benda, kapitalisme dan konsumerisme.

Mereka mengelola perut dengan sungguh-sungguh, bukan dengan cara wal geduwal halal-haram, semua diuntal. Mereka puasa bukan hanya di bulan puasa, tapi hidup itu sendiri adalah puasa. Buruh-buruh gendong di pasar, para kuli bangunan, para pekerja kasar di pabrik-pabrik, para petani penggarap, para nelayan yang digusur oleh pukat, serta orang-orang miskin korban bencana, mereka semua adalah lapisan masyarakat yang  jauh lebih mengerikan hidupnya dibandingkan apa yang pernah dilukiskan oleh sebuah buku yang diterbitkan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial berjudul “Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok”.

Bandingkan dengan ‘adegan berpuasa’ pada sebagian besar sinetron kita. Bandingkan pula dengan realitas sosial para elite politik di pusat-pusat kekuasaan yang melakukan puasa hanya sebatas retorika. Sungguh merupakan kontras sosial yang luar biasa. Berpuasa tapi masih bersifat ornamental belaka, sebab nafsu pamer dan gaya hidup hedonis tetap menjadi primadona. Na’udzubillah.

Padahal teks di dalam  kitab suci terkait dengan perintah puasa sudah sangat jelas, yaitu: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa”. Jika memang perintah puasa itu memang ditujukan secara khusus oleh Allah hanya kepada orang-orang yang beriman saja, adakah fenomena sosial yang terjadi dewasa ini berupa semaraknya perilaku “puasa sebatas retorika” itu pertanda makin menipisnya iman di sebagian besar bangsa ini?

Tafsir sosial puasa memang tak hanya sebatas menahan syahwat dan lapar saja, melainkan juga menahan diri dari ‘rangsangan materialisme’ maupun ‘syahwat hedonisme’ dalam segala gaya dan bentuknya. Jika para elite politik dan orang-orang kaya itu melakukan puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus saja tapi tidak membangun solidaritas sosial kepada para fakir-miskin, maka puasanya itu hanya sebatas retorika. Solidaritas sosial juga bisa berupa membuat kebijakan dan program-program kerja di pemerintahan yang bermakna pemihakan kepada rakyat miskin.

Dalam tafsir politik, puasa lebih bermakna pada menahan diri dari ‘nafsu ingin menang sendiri’ dan ‘syahwat berkuasa’ yang tak ada habis-habisnya. Begitu menjadi penguasa, biasanya, yang mendapatkan keuntungan dari jabatannya itu hanya sebatas partainya, kelompoknya, sanak-familinya, serta orang-orang yang menjadi kroninya. Segala tindakannya tetap koruptif, kolutif dan nepotis.

Menipisnya iman, menebalnya kerakusan. Mungkin itulah yang menjadikan bangsa ini makin terpuruk. Baik di tingkat lokal hingga di tingkat nasional, model birokrasi dan perilaku birokratnya serta gaya pemerintahannya nyaris sama, yakni tidak memberi keteladanan. Sungguh tragis nasib orang-orang miskin di negeri ini: alam menggeliat menimbulkan bencana, para penguasa bertingkah dan berpidato mengundang kecewa.

Barangkali inilah saatnya bagi orang-orang miskin melakukan nawaitu tapabrata.Bukankah weteng luwe alias perut lapar sudah menjadi gaya hidupnya? Bukankah Allah sendiri menjadikan puasa sebagai milikNya? Sehingga Allah sendiri yang akan menyerahkan pahala puasa itu kepada umat manusia yang menjalankannya dengan totalitas iman dan penuh perhitungan karena Allah semata?

Bahkan andaikata puasa itu bukan bagian dari ibadah yang dianjurkan oleh agama, maka tindakan berpuasa tersebut dipastikan akan bermanfaat bagi pelakunya. Manajemen perut itu begitu penting menurut Allah, sebab hanya orang-orang yang beriman sajalah yang tidak gegabah mengisi perutnya dengan sembarang makanan. Posisi perut berada di antara ‘’hati’’ dan ‘’kemaluan’’, karenanya perut harus dikelola dengan kecerdasan spiritual. Dengan banyak makanan haram masuk ke perut, dapat dipastikan setiap tindakan akan cenderung kepada kemaksyiatan. Sebaliknya, dengan banyak makanan halal yang kita konsumsi sesuai takaran, maka hati akan menjadi jernih dan penuh kepekaan terhadap orang-orang miskin.
Anehnya, banyak di antara kaum muslimin sendiri yang mengaku beriman masih kurang memaknai puasa sebagai ‘’revolusi mental’’ dan masih menganggapnya sebagai ritus belaka. Wallahu a’lam.

(HM Nasruddin Anshoriy Ch  di Harian KR 26 Sep’07)

    

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: