jump to navigation

Silaturrahim September 24, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
trackback

KATA silaturrahim berasal dari bahasa Arab. Terdiri dari dua suku kata, silah dan rahim. Silah berarti menyambung, sedang rahim berarti kasih sayang. Silaturrahim berarti menyambung atau menjalin kasih sayang. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjalin kasih sayang di antara sesama. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia menyambung tali kasih sayang”. Jadi, silaturrahim merupakan bagian tak terpisahkan dari iman. Secara umum silaturrahim dapat menjadi perekat adanya persatuan, khususnya di kalangan umat Islam, lebih luasnya dapat menjadi dasar bagi terwujudnya kedamaian dalam kehidupan manusia.

Di Indonesia, pada bulan Syawal, dikenal ada tradisi syawalan atau biasa disebut juga dengan halal bihalal. Pada dasarnya acara halal bihalal merupakan bentuk pelembagaan dari ajaran silaturrahim. Agenda terpenting pada acara tersebut saling maaf-memaafkan. Acara yang sudah sedemikian membudaya di hampir seluruh pelosok Indonesia ini merupakan wadah bagi berlangsungnya silaturrahim. Fenomena mudik selama masa Hari Raya, ‘Id al-Fitri, adalah bagian dari rangkaian acara tersebut. Meski motivasi mudik bervariasi, tapi semangat silaturrahim masih menjadi warna yang dominan. 

Meski silaturrahim di sini lebih merupakan bentuk formalnya, daripada substansinya, praktik seperti itu bisa menjadi modal besar bagi terbangunnya kesatuan dan persatuan kita sebagai bangsa. Menjalin kasih sayang mengandung makna memahami, memberikan perhatian, memberikan sebagian yang kita miliki dan memberikan solidaritas kepada orang lain. Hal ini merupakan implementasi dari iman. Bukankah Nabi SAW pernah bersabda, ”Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba li akhiihi maa yuhibbu linafsih” (orang baru disebut beriman apabila dia menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang diinginkannya untuk diri sendiri). Dengan demikian, kalau kita ingin dihormati, kita juga mesti menghormati orang lain. Kalau kita tidak ingin disakiti, kita harus tidak menyakiti orang lain. Demikian seterusnya. Ini merupakan konsekuensi dari iman yang ada dalam hati kita. Iman mesti berfungsi menghilangkan egoisme. Sikap egois adalah sikap yang sangat ditentang oleh ajaran Islam. 

Egoisme sering menjadi sumber malapetaka dalam kehidupan manusia. Akibat egoisme, baik individu maupun kelompok, banyak terjadi perpecahan, pertikaian dan bahkan peperangan. Puasa, yang sudah hampir satu bulan ini kita jalani, adalah juga satu aktivitas yang sarat dengan semangat untuk memerangi egoisme tersebut. 

Dengan melakukan silaturrahim kita bisa mengurangi sikap-sikap egois yang sering mewarnai kehidupan kita. Rasa kebersamaan, keinginan untuk berbagi dengan sesama, dan mengesampingkan nafsu pribadi merupakan substansi silaturrahim. Melalui praktik pembayaran zakat, terutama zakat fitrah, misalnya, kita dapat mewujudkan salah satu bentuk semangat berbagi seperti itu. 

Semoga kita bisa menjadikan puasa ini sebagai wahana pelatihan untuk menuju pada sikap mental takwa, sikap kehati-hatian dalam berbuat dan bertindak. Lebih dari itu, kita bisa mewujudkan silaturrahim dalam semua aspek kehidupan, bukan hanya formalitas dan seremonialnya. Amin. 

(Tulisan: Dra Siti Maryam MAg, di Harian KR)     

     

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: