jump to navigation

Kasih Sayang August 17, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Kasih sayang merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada semua makhluk-Nya.  Kasih sayang melahirkan kelembutan dan kehalusan yang menyentuh hati.  Bagi orang yang beriman, kasih sayang bermuara pada keikhlasan yang bersifat transedental.

Keyakinan akan aspek transendental itu lebih diarahkan pada wujud ketaatan kita sebagai makhluk yang telah diciptakannya dan tanda bersyukur akan limpahan rizki yang melimpah ruah. Manusia hanyalah unit kecil dari alam semesta yang telah diciptakannya. Dan tidak bisa berdaya dihadapkan pada keagungan Tuhan.

Sebenarnya kasih sayang manusia bersumber dari rasa cinta dan fitrah kemanusiaan itu sendiri. Bukan dari keinginan untuk mendapatkan imbalan yang semu. Seperti kebanyakan orang yang berlindung di balik makna kasih sayang untuk kepentingan dirinya.

Bagi mereka yang telah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, tentunya kasih sayang yang dihasilkan pun sesuai dengan wujud ikhlas dan ihsan untuk Tuhan.  Orang-orang yang demikian pada umumnya memiliki hati yang bersih, hati yang selalu terjaga dengan cahaya kebaikan dan sifat-sifat terpuji.

Dalam satu hadits qudsi disebutkan bahwa Kasih Sayang Tuhan (asmâ al-husn) melebihi amarah-Nya. Bagi orang yang beriman, musibah yang datang selalu disikapi dengan positif. Mereka meyakini ada hikmah di setiap musibah. Di balik musibah itu, Tuhan ingin menunjukkan kasih sayang-Nya.
 

Meski musibah lebih berwajah merugikan pada manusia, tapi di dalamnya terdapat pancaran kasih sayang Tuhan pada hambanya. Dengan kasih sayangnya, Tuhan terasa menegur untuk memperhatikan prilaku manusia yang menyebabkan musibah itu terjadi. Dan sebab itu kerapkali sulit disadari kalau ada musibah tersebut.

Kasih sayang Tuhan meliputi semua makhluk. Tuhan tidak membeda-bedakan dalam melimpahkan kasih sayang-Nya. Kasih sayang Tuhan melekat pada sifat-sifat-Nya dan menyeluruh kepada semua makhluk, baik yang beriman maupun tidak. Kasih sayang Tuhan bersifat tidak pilih-pilih, tidak membedakan ras, agama, suku, dll.

Oleh karena itu, kita harus meneladani kasih sayang Tuhan, kasih sayang yang lahir dari rasa cinta, cinta yang lahir dari kepribadian seutuhnya, kepribadian yang lahir dari hati yang bersih, hati yang bersih lahir dari keikhlasan dan keihsanan kepada Tuhan, tidak membeda-bedakan dalam memberikan kasih sayang tersebut dan cinta kasih kepada semua makhluk.

Hubungan sesama manusia harus dipenuhi oleh kosakata kasih sayang meski kepada orang yang kita benci sekalipun. Karena dalam ajaran agama telah disebutkan: “Janganlah karena kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu berbuat tidak adil.”  Janganlah berhenti berbuat adil karena kasih sayang, manakala seseorang membenci kita.

(Dari blognya Mas Wahyu)  

  

Semut dan Lebah August 17, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

‘’Orang yang cerdik dan berakal ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap-harapkan kemurahan atas Allah, yakni mengharap-harapkan kebahagiaan dan pengampunan di akhirat, tanpa beramal shaleh.’’ (HR Tirmidzi). 

Kecerdikan seseorang tidak bisa kita ukur begitu saja dengan menggunakan takaran nilai, begitupun kelemahan seseorang tidak bisa kita nilai oleh raga. Namun, kecerdikan dan kelemahan seseorang dinilai dari pemanfaatan terhadap waktu yang begitu singkat ini. Orang yang bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat untuk bekal kehidupan, dia akan menjadi orang yang beruntung. 

Alam memberi analogi pada kita dengan contoh perilaku dua ekor hewan yang mempunyai sifat hampir sama dengan apa yang dimaksud oleh hadis di atas. Pertama, semut (annaml), yang selalu bekerja keras mengumpulkan makanan tanpa henti. Mereka mengumpulkan makanan sebanyak mungkin, padahal makanan tersebut takkan bisa mereka habiskan sampai mereka mati, tetapi mereka tetap bekerja. 

Kedua adalah lebah (an-nahl), yang memiliki naluri yang dalam bahasa Alquran disebut, ‘’Atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.’’ (QS An-Nahl [16]: 68). Dan lebah selalu memperhitungkan keadaan dirinya, sehingga yang tidak bermanfaat bagi dirinya selalu ditinggalkan. 

Lebah juga binatang yang bisa memberikan manfaat bagi makhluk lain, berupa madu yang dihasilkannya. Tak salah jika Rasulullah SAW pernah mengibaratkan seorang Muslim itu seperti seekor lebah, ‘’Tidak makan kecuali yang baik-baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat, jika menimpa sesuatu tidak merusak, dan tidak pula memecahkannya.’’ Itulah lebah. 

Contoh perilaku kedua hewan di atas menjelaskan bahwa yang disebut orang yang cerdik adalah ibarat lebah yang selalu memberikan manfaat bagi yang lain. Sedangkan, contoh orang yang lemah diibaratkan seperti perilaku semut yang selalu menuruti hawa nafsunya. Apa yang dikumpulkannya tidak selalu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, sehingga mereka menjadi makhluk yang merugi. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber: Republika 

  

Jika Sakit Hati August 17, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

‘’Sesungguhnya di dalam tubuh (manusia) ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik, maka sehatlah seluruh tubuh. Dan apabila ia fasadat (buruk), maka sakitlah sekujur tubuh. Itulah kalbu (hati).’’ (Al-hadis).
Sabda Nabi SAW di atas merupakan informasi penting dari Allah tentang mekanisme psikofisis yang terjadi pada tubuh manusia. Dengan menjaga kesehatan hati, agar ia selalu pada tingkatan sholahat, akan sehat dan baiklah seluruh organisme tubuh manusia. Sebaliknya apabila kondisi hati menurun bahkan sampai memburuk, akan sakit pula tubuh manusia.
Seperti halnya organ tubuh yang lain, hati dapat diukur kesehatannya dari gejala yang dimunculkannya. Mata yang sakit, misalnya, diketahui dari gejala menurunnya fungsi penglihatan atau ada rasa sakit di sekitar organ tersebut. Apabila mata sakit yang paling merasakannya adalah mata dan atau bagian tubuh di sekitarnya saja. Berhati-hatilah jika kalbu yang sakit, karena dampaknya akan mengenai seluruh tubuh.
Hati dikatakan sebagai pusat kendali tubuh manusia yaitu terhadap fungsi seluruh organ tubuh, dan karenanya juga mengendalikan mekanisme perilaku manusia. Artinya, dampak sakitnya hati dapat mengenai aspek fisik maupun perilaku manusia. Ketika penyakit iri dan dengki menyerang hati, dampak lahiriahnya terlihat pada mekanisme hormonal individu yang menjadi kacau. Individu jadi mudah tegang dan cemas, apalagi saat mengarahkan perilaku kepada objek iri dengkinya. Akalnya tidak lagi mampu berfungsi normal. Seluruh sistem lahir batinnya pun seolah dibatasi hanya pada persepsi negatif dari objek iri dengkinya, dan berperilaku sesuai persepsi negatif tersebut.
Jika sedang sakit hati, manusia berpaling dari kebaikan dan cenderung kepada kemungkaran. Hidupnya tidak tenang dan dipenuhi kegalauan, kegersangan spiritual dan ketidakbahagiaan. Akibatnya, segala macam penyakit akan mudah menyerang. Semakin lama penyakit bersemayam dalam hati, semakin rusaklah sistem lahir batin manusia.
Itulah sebabnya orang-orang munafik yang memelihara penyakit dalam hatinya, cenderung bertambah parah sakitnya. Allah berfirman, ‘’…. Dalam hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit tersebut.’’ (QS Albaqarah [2]: 10). Mereka mengembangkan pemikiran yang makin menyimpang, perasaan yang makin mati dan perilaku yang makin merusakkan diri dan lingkungan mereka.
Obat bagi segala penyakit hati adalah kembali kepada Alquran sesuai firman Allah, ‘’Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada.’’ (QS Yunus [10]: 57). Tak perlu mencari jauh-jauh, obatnya ada dalam diri kita, dan kemauan kita untuk menjadi lebih baik!

Sumber: Republika