jump to navigation

Cinta Pertama August 13, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Tadi malam diputar ulang film ‘Cinta Pertama’ di Indosiar, sayangnya saya cuma nonton sendirian. Sebuah film yang menceritakan tentang bagaimana rasanya jatuh cinta untuk yang pertama kali. Bagai sebuah lagu, ‘berjuta indahnya..’ Tak terkatakan rasanya, setiap hari ingin bertemu, menyapa, tersenyum. Apapun ingin dilakukan untuk menemukan cinta itu.

Sederhananya begini. Ketika seseorang menemukan cinta [entah cinta monyet, cinta palsu, cinta terpendam atau cinta sejati sekalipun], hidup menjadi lebih berwarna. Ada `kembang-kembang` yang membuat seseorang terasa bercahaya. Gombal? Ketika jatuh cinta, bahkan yang paling gombal pun bisa jadi sutera.

Film yang disutradarai Nayato Fio Nuala ini bertutur tentang rasanya punya cinta. Adalah Alia [Bunga Citra Lestari] seorang siswi SMU [entah mengapa, SMU apa juga tidak pernah disebut] yang jatuh cinta dengan seorang jago basket bernama Sunny [Ben Joshua]. Hari-hari Alia terasa menyenangkan meski hanya sekedar memandang, ngobrol nggak penting atau papasan dengan Sunny.

Sayangnya, Alia dan Sunny tidak pernah “tergerak” mengungkapkan rasa cintanya meski dua-dua merasa punya chemistry yang sama. Dan itu berlalu sampai ketika mereka lulus dan Sunny memilih kuliah di luar Jakarta [entah dimana, tidak disebutkan juga].

Cerita romansa Sunny dan Alia tadi dikisahkan sebagai flashback. Gara-garanya, usai pertunangan Alia dan Abi [Richard Kevin], Alia ditemukan tak sadarkan diri di teras rumahnya. Ketika dirawat di rumah sakit itulah, Abi menemukan buku harian Alia yang banyak bertutur tentang Sunny.

Demi orang yang dicintainya pula, Abi nekat mendatangi Sunny yang sudah punya kehidupan sendiri. “Aku takut kamu kalah sama kenangan,” kata istri Sunny ketika suaminya itu memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Ternyata benar, akhirnya Sunny tetap berkesempatan mengungkapkan rasa cintanya pada Alia meski ‘keadaan’ mereka berdua telah benar2 berbeda.

Cukup mengharu-biru..

  

Tumbuh August 13, 2007

Posted by tintaungu in Ragam.
add a comment

Mengapa bunga plastik tetap tak bisa seindah bunga asli? Mengapa kita senang melihat anak kecil padahal mungkin cukup merepotkan untuk mengurusnya?

Tumbuh. Itulah jawabannya.

Kita menyukai sesuatu yang tumbuh. Kita menyukai sesuatu yang baru setiap hari. Kita menyukai variasi. Kita juga menyukai sedikit ketidakpastian yang menyebabkan kita memiliki harapan surprise. Kalau kita tidak menemukan hal yang baru, maka kita mulai mengalami kebosanan. Bahkan andaipun kita memiliki sesuatu yang sangat indah pada mulanya, dia tak akan lagi menjadi indah kalau nilainya tidak tumbuh.

Semua hal yang menarik mempunyai sisi yang tumbuh. Lukisan antik pun juga tumbuh. Tumbuh nilai keantikannya karena waktu. Bagi sebagian orang keantikan adalah hal yang sangat bernilai. Bagi orang lain mungkin keantikan kurang bernilai.

Sewaktu istri saya masih kerja dahulu, kami biasa berbincang-bincang di dalam mobil saat saya mengantar istri ke kantor. Kami menjadi dekat, baik hati maupun pikiran. Sekarang, saat istri lebih banyak bersama anak di rumah, saya merasakan hal ada yang kurang. Itulah perbincangan di dalam mobil. Maka kami selalu menyempatkan berbincang-bincang bersama, entah di meja makan, atau di ruang keluarga saat anak-anak sudah tidur. Menurut saya, kesulitan dalam berkeluarga bukanlah saat kekurangan uang, tapi saat kita dan pasangan tidak memiliki tujuan yang sama. Kebanyakan rumah tangga yang mengalami masalah keluarga bukanlah dikarenakan kekurangan uang, tapi karena kedua pasangan tak lagi memiliki tujuan yang sama. Bisa jadi tujuan mereka tidak berseberangan, hanya saja tidak satu tujuan. Masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, dan saling tidak mendukung. Inilah awal berkurangnya keharmonisan rumah tangga.

Saat awal berkeluarga tujuan pengikat bisa saja memiliki rumah sendiri. Saat sudah ada anak-anak tujuannya adalah membesarkan anak menjadi seorang yang shaleh dan sukses. Saat menjadi makin tua mungkin tujuan sudah berubah lagi. Selama pasangan tetap memiliki ‘tujuan bersama’, maka hubungan keduanya masih bisa terus tumbuh. Sebaliknya, bila masing-masing telah mengejar tujuan yang berbeda, maka hubungan dapat menjadi renggang.

Pekerjaan kita sama saja. Kalaupun awalnya menarik maka kian lama pasti kian tak menarik bila tak lagi Anda rasakan hal yang tumbuh darinya. Mungkin tumbuh itu berupa kenaikan pangkat dan gaji, mungkin Anda mulai menikmati ilmu dan kegiatan yang Anda lakukan, mungkin pula yang Anda hargai adalah variasi seperti misalnya perjalanan tugas ke berbagai tempat yang baru. Selama terus Anda merasakan sesuatu yang tumbuh pada nilai yang Anda hargai tinggi, selama itu pula pekerjaan akan menyenangkan.

Setiap dari kita tentu memiliki cita-cita. Bila Anda setuju untuk meraih cita-cita sekaligus memiliki hubungan yang baik dengan orang yang Anda sayangi, maka usahakanlah agar cita-cita kita dengan pasangan mempunyai titik temu. Pasangan yang harmonis biasanya memiliki cita-cita bersama, yang juga dilakukan bersama secara sinergis. Mungkin mereka bekerjasama dalam kegiatan bisnis, atau berkegiatan bersama dalam acara sosial, atau suami dan istri bersinergi dalam pekerjaan kantor suami (yang paling sering adalah istri aktif di kegiatan sosial kantor suami). Apapun bentuknya, tujuan yang sama bisa mendekatkan hati dan pikiran. Bila satu tujuan telah dicapai, tumbuhkan tujuan bersama lainnya. Kuncinya adalah sering berbincang-bincang dengan pasangan.

Kita akan mengalami kebosanan bila sesuatu tidak tumbuh, termasuk dalam hal pekerjaan, pernikahan, bahkan kehidupan. Apa hal yang penting dari pekerjaan Anda? Apa hal yang penting dalam pernikahan Anda? Apa hal yang penting dalam kehidupan Anda? Pastikan hal tersebut terus tumbuh.

(dari kiriman teman)

  

Under Estimate August 13, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

“We greatly overestimate what we can accomplish in one year. But we greatly underestimate what we can accomplish in five years.” – Peter Drucker

Profesor Yohanes Surya PhD, bapak tim Olimpiade Fisika Indonesia, menyebutnya Mestakung, Semesta Mendukung. Yaitu, bila kita bersungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka alam semesta secara ajaib akan menyediakan kesempatan yang dibutuhkan. Ini seperti kecerdasan Aspirasi dalam SEPIA.

Prof. Yohanes Surya pun punya keinginan kuat agar Indonesia bisa tampil dalam ajang bergengsi Olimpiade Fisika Internasional (International Physics Olympiad, IPhO). Banyak yang meremehkan, bahkan tidak menganggap penting ajang tersebut. Namun beliau bersikukuh mewujudkannya. Kini kita bisa ikut bangga dengan prestasi tim Olimpiade Fisika bimbingan beliau yang sering meraih medali emas.

Oliver dan Wilbur Wright dengan gigih memegang mimpinya sekitar 10 tahun untuk bisa mewujudkan sebuah pesawat terbang pertama yang bisa dikendalikan. Mereka berdua adalah pembuat sepeda yang punya mimpi gila bikin pesawat terbang. Tentu saja orang sekampung banyak yang skeptis dan sangsi apakah mereka akan berhasil. Dan, ternyata mereka berhasil. Dengan kontribusi ilmu hasil karyanya itu sekarang orang-orang bisa mudah bepergian untuk jalan-jalan, bisnis, silaturahmi. Bahkan orang Islam pun bisa naik haji dengan lebih mudah. Subhanallah.

Bisakah kita memegang mimpi dalam jangka panjang seperti halnya Prof. Yohanes Surya? Bisakah kita selama 10 tahun gigih mewujudkan mimpi seperti halnya Wright Brothers?

Sebagai lulusan Teknik Penerbangan salah satu hero saya adalah Wright Brothers itu. Biarpun tidak punya latar belakang aeronautika sama sekali, mereka berani memiliki mimpi yang ‘mustahil’. Tentu saja mimpi itu dibarengi dengan langkah perwujudan yang disertai ketekunan.

Hero saya yang lain tentu sudah Anda kenal dengan baik : Google. Bagi saya kisah tentang Google terasa lebih nyata dibandingkan kisah berdirinya Microsoft dan Apple. Ketika Google dimulai sepuluh tahun lalu, saat itu saya hampir lulus kuliah (dan tidak punya mimpi). Sepuluh tahun kemudian Google sudah mengukir sejarah, dan saya baru membuat mimpi. Riwayat perjalanan Google seperti menjadi bukti pernyataan Peter F. Drucker tentang under estimate dengan hasil setelah 5 tahun. Di tahun-tahun awal Google tidak mampu menghasilkan uang. Setelah kira-kira 7 tahun, barulah dia menemukan cara mendapatkan uang dari layanan search engine. Sekarang pendapatan Google sekitar 3 milyar dolar per kuarter dengan keuntungan 1 milyar dolar (sekitar 27 trilyun dalam 3 bulan, dengan keuntungan bersih 9 trilyun, artinya tiap bulan dia untung 3 trilyun!).

Memang kita sering over estimate dengan hasil 1 tahun, maksudnya planning kita sering lebih optimis dibandingkan realisasi, dan karena hasil tahun pertama yang buruk sering kita menjadi tidak optimis (under estimate) dengan apa yang bisa kita raih dalam 5 tahun. Padahal 10 tahun lalu Google dimulai dengan iseng-iseng saja dengan komputer rakitan yang casingnya dibuat dengan mainan Lego. (Melihat foto komputer Google ini bikin saya kembali semangat untuk ‘create something’. Diperkirakan kini Google menggunakan lebih dari 400.000 komputer paralel.)

Bagaimana dengan Anda? Masihkan memegang mimpi dengan gigih?

(dari Sepia.com)