jump to navigation

Cinta Buta… June 28, 2007

Posted by tintaungu in Reksa.
trackback

Qois bin Al-Mulawwah berkata,

     Cinta menghampiri sebelum ku mengenal arti cinta

     Cinta telah membalikkan hati yang hampa. 

Sebagian filosof berkata, “Kerinduan adalah kerasukan yang muncul di dalam hati, yang terus bergerak dan tumbuh, kemudian bisa terarah dan menyatu dengan hasrat. Jika cinta buta itu semakin menguat, maka orang yang mengalaminya akan bertambah bergetar, gundah, dan ingin mendapatkan apa yang diharapkannya, sehingga seringkali menimbulkan keresahatan hati dan kekhawatiran. Sudah barang tentu aliran darah pada saat itu memusat diotak dan jantung. Jika aliran darah terlalu banyak memusat diotak, maka menimbulkan gangguan pikiran. Jika pikirannya terganggu, berarti akalnya sudah tidak terkontrol lagi. Dia bisa mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi, mengangan-angankan apa yang tidak tercapai, sehingga akhirnya menjurus kepada gila. Dalam keadaan seperti itu, boleh jadi orang yang dimabuk cinta bisa bunuh diri atau mati karena merana”. 

Apakah cinta buta itu timbul karena inisiatif ataukah karena ketetapan takdir? 

Sebagaimana diungkapkan dalam sebuah syair,

     Dia tenggelam dalam cinta yang membara

     Tatkala cinta menyusut dia tak berdaya

     Dia melihat gelombang besar seperti riak ombak

     Tatkala menggulung diapun tenggelam

     Dia berharap dosanya menyusut

     Namun dia tak lagi sanggup 

Hal ini seperti orang yang dimabuk karena minum khamr. Perbuatan orang mabuk itu berdasarkan inisiatif sedangkan akibat perbuatannya yang mabuk itu merupakan ketetapan atau akibat yang pasti terjadi karena minum khamr. Selagi sebabnya terjadi karena inisiatif, maka dia tidak dimaafkan karena akibat yang terjadi kemudian diluar inisiatifnya. Selagi sebabnya merupakan sesuatu yang diperingatkan, maka mabuk itu bukan termasuk sesuatu yang dimaafkan.  

Tidak dapat diragukan, mengumbar pandangan dan mengulur-ulur pikiran, serupa dengan mabuk yang minum khamr. Dia dicela karena sebabnya. Oleh karena itu jika seorang jatuh cinta karena sebab yang tidak diperingatkan, maka dia tidak dicela, seperti orang yang bercinta dengan istrinya, kemudian berpisah dengan membawa sisa cintanya yang masih melekat. Keadaan ini tidak dicela. Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa mabuk cinta itu lebih parah daripada minum khamr. Allah berfirman tentang kaum Luth yang mencintai rupa, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing didalam kemabukan (kesesatan).”(QS. Al-Hijr:72) 

Ibnu Qoyyim : Taman Orang2 Jatuh Cinta dan Memendam Rindu 

  

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: