jump to navigation

Terima Kasih Istriku… October 29, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Berikut ini ini saya postingkan tulisan Zaim Ukhrawi yang berjudul Terima Kasih Istriku. Gaya bertutur dan juga pemikiran penulis, yang biasanya menulis di resonansi Republika, menarik dan sangat saya sukai.

Semoga bermanfaat. (Maaf bagi yang pernah membacanya).

—-

http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=283755&kat_id=19

Terima Kasih Istriku

Oleh : Zaim Uchrowi

Kemarin, tanggal 22 Februari, genap 20 tahun kami menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Mereka bisa merayakan ‘kawin perak 25 tahun’, ‘kawin emas’ 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 20 tahun tentu cuma pencapaian para pemula.

Namun bagi saya dan istri, (baru) 20 tahun pernikahan adalah karunia besar. Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Kenapa begitu?

Sesekali saya dan istri mendiskusikannya. Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. “Kan cuma ‘curhat’, atau makan bareng,” kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya.

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: “Sudah nggak cocok lagi!” Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Anak-anak sekarang biasa empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing.

Kebiasaan itu dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma sedikit lebih sakral ketimbang pacaran. Saya bersyukur tidak masuk kategori ‘anak sekarang’ itu. Semoga anak-anak saya pun tidak masuk kategori itu.

Tapi, tak semua pasangan ‘nggak cocok’ memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. “Awet rajet,” begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, demi anak. Dalam model keluarga begini, kita akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.

Sangka kita, kita lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga. Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai ’senjata’ buat menghadapi pasangan sendiri?

Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi ‘tren’. Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan.

Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia. Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam. Apalagi bila menggunakan alasan syariah. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya.

Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai.

Juga untuk tidak mengatakan “saya kan sudah berkurban …” karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan ‘tegak’. Itu langkah kami.

Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: “Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?” Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata “Terima kasih ya.”

                                                                             .

Jangan Menyerah – by d’Masiv October 19, 2009

Posted by tintaungu in Reksa, Rona.
add a comment
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalkani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasaNya
Bagi hambaNya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

                                                                .                

Sabar Sesaat… October 7, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

( Manhaj-Salaf . net )

Pandanglah segala sesuatu dengan tenang. Jangan dengan emosi atau pun terburu-buru (isti’jal). Sabarlah barang sejenak. Agar dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Jika Anda terburu-buru dalam memandang sesuatu, Anda bisa salah tangkap. Ingatlah, isti’jal itu dari syaithon. Sikap tergesa-gesa dapat berakhir penyesalan.

Anda boleh saja bersegera dalam kebaikan. Tetapi bukan terburu-buru. Bersegera itu berbeda dengan terburu-buru. Misalnya Anda membaca suatu artikel yang ‘memprovokasi’ Anda untuk mengomentarinya. Sebaiknya Anda jangan terburu-buru mengomentarinya. Anda harus pahami dulu isi artikel itu dengan baik. Kemudian fikirkan, apakah Anda memang perlu untuk mengomentarinya? Jika ya, fikirkan tentang apa yang harus Anda komentari. Lalu fikirkan, bagaimana bunyi komentar yang tepat? Jika Anda telah yakin, bersegeralah. Jika niat Anda baik, insya Allah, semua akan baik-baik saja. Tetapi jika Anda emosi dan isti’jal. Siap-siaplah menghadapi segala kemungkinan buruk yang sering menimpa mereka yang ceroboh.

Begitu juga dalam kehidupan ini. Sering kita tergesa-gesa dalam bertindak. Akhirnya kita menyesal atas ketergesa-gesaan itu. Sayangnya, walau sering menyesal, kita jarang belajar dan berlatih untuk memperbaiki diri.

Kita jarang mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya agar membimbing kita. Sungguh beruntung mereka yang dibimbing Allah di jalan yang lurus. Maka mohonlah pertolongan-Nya dengan sholat.

Sering dalam shalat, kita tidak khusyu ketika membaca Al-Fatihah. Kita jarang bisa bersabar untuk tidak memikirkan yang lain dalam shalat yang hanya beberapa menit. Di luar shalat, kita juga jarang mengingat-Nya. Lalu bagaimana hati kita bisa peka menerima ’sinyal sms’ dari Allah yang dikirimkan setiap saat? Hati kita perlu diservis supaya recivernya kembali normal.

Hati yang banyak berdzikir akan peka terhadap bimbingan Allah. Dia akan dapat bersabar dalam segala hal. Tidak reaktif terhadap segala permasalahan, tetapi proaktif dalam menghadapi segala hal.

Shalat akan menjadi pelatihan yang efektif jika kita berusaha untuk benar-benar mendirikannya, dan bukan sekedar mengerjakannya. Shalat akan berdampak pada jiwa dan raga kita. Semakin bagus sholat kita, semakin besar perbaikan yang terjadi. Memang mendirikan sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Semoga kita dapat terus memperbaiki kualitas sholat kita. Sehingga jadilah kita sebagai pribadi-pribadi sukses. Sukses di dunia, sukses di akhirat. Hayya ‘alash-sholah, hayya ‘alal-falah.

Jembatan Maaf… September 6, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
1 comment so far

jembatan

Alkisah ada dua orang kakak-beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja-sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalah-pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa. 

Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. “Maaf Tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan”, kata pria itu dengan ramah. “Barangkali Tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan.” 

“Oh ya!” jawab sang kakak. “Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku,…… ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.” 

Kata tukang kayu, “Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang.” 

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. 

Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. 

“Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku”, kata sang adik pada kakaknya. 

Dua bersaudara itupun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. 

“Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak. 

“Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini”, kata tukang kayu, “tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.” 

( Source : unknown )

Istighfar Membuka Pintu Rezeki August 20, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

( Tulisan Ustadz B. Heriwibowo di detik.com )

“Dan hendaklah kalian meminta ampun (beristighfar) kepada Tuhan dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan keutamaan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan…” (QS. Huud {11}:3)

Mohon ampun kepada Allah. Taubat. Istighfar. Itulah ikhtiar kita! Sebuah usaha yang jarang ditempuh oleh kebanyakan orang. Ikhtiar yang menurut kebanyakan manusia, termasuk juga saya hanya akan mendatangkan maghfirah dan ampunan Allah Swt. Namun siapa disangka, saat manusia membutuhkan karunia Allah Yang Maha Kaya…. Saat nafkah terasa berkurang… mungkin saja karena disebabkan kita belum menyambut ‘ampunan’ Allah Swt. Ya, ampunan-Nya! Maka itu dapat mendatangkan karunia Tuhan bagi kita semua!

Teringat kisah baginda Nabi Muhammad Saw. Kali itu, beliau memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 10 Hijriyah. Begitu mendengar Sayyidul Mursalin berniat melaksanakannya, para sahabat yang berada di Madinah pun turut serta untuk mengerjakan haji sebagai rukun Islam yang terakhir. Subhanallah! Rombongan yang ikut dalam ritual haji tersebut mencapai angka lebih dari 120 ribu manusia.

Dengan jumlah rombongan sebanyak itu, atas izin-Nya kota Mekkah yang berada di bawah kekuasaan kafir Quraisy dapat ditaklukkan dengan amat mudahnya dan nyaris tanpa pertumpahan darah. Lebih hebatnya lagi, banyak penduduk Mekkah yang menyatakan masuk ke dalam agama Allah Swt dengan berbondong-bondong.
Namun kala itu, turunlah sebuah surat singkat yang diwahyukan kepada baginda Nabi Saw yang berbunyi:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. An Nashr {110}:1-3)

Siapa yang pernah menyangka…? Mungkin tiada terbayang dalam benak kaum muslimin saat itu yang hanya berniat untuk berhaji untuk mendapatkan anugerah yang luar biasa dan tiada terduga; yaitu penaklukan kota Mekkah & para penduduknya masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Ini adalah karunia yang tiada terbilang harganya! Karunia tersebut didapatkan karena istighfar mereka. Karena permohonan ampun mereka atas segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat! Tidakkah kita perhatikan di ayat terakhir pada surat tersebut? Setelah Allah Swt memberitahukan tentang penaklukan kota Mekkah & masuk Islamnya penduduk kota tersebut, Allah Swt memerintahkan kepada Nabi-Nya dan kaum muslimin secara menyeluruh untuk bertasbih juga memohon ampunan (beristighfar) kepada-Nya? Ya, memohon ampunan Allah! Sebelum dan sesudah kesuksesan itu datang. Sebelum dan sesudah prestasi diraih. Meminta ampunan-Nya untuk menjemput karunia-Nya dan mendapatkan kemuliaan serta keutamaan sebagaimana dijanjikan dalam QS. 11:3

Dalam tafsir Al Qurthubi disebukan sebuah riwayat dari Ibnu Shubaih bahwa ada seorang pria datang kepada Al Hasan Al Jadubah mengeluhkan permasalahannya. Maka Al Hasan memberi jawaban, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lalu ada orang lain yang mengeluhkan rezeki yang sulit, maka Al Hasan menganjurkan, “Beristighfarlah kepada Allah!” Kemudian ada seorang perempuan yang datang kepada Al Hasan mengadukan bahwa dia belum dikaruniai anak. Al Hasan pun memberi jawaban yang sama. Ada lagi orang yang mengeluhkan padanya bahwa kebunnya kurang air, Al Hasan pun masih memberikan jawaban serupa. Maka kami pun bertanya kepada Al Hasan tentang jawaban yang sama itu dalam menghadapi masalah yang beragam. Maka ia menjawab, “Itu semua bukan aku yang jawab. Namun itulah jawaban Allah yang tertuang dalam surat Nuh:10-12.”

Tidakkah Anda melihat dalam riwayat tersebut bahwa istighfar dapat menyelesaikan banyak masalah? Karenanya, jika Anda merasa hidup sulit.. banyak masalah dan rezeki sempit… tidakkah kita mencoba resep Nabi Saw? Sebuah amalan yang amat mudah dan gampang untuk dikerjakan. Tiada lain amalan tersebut adalah istighfar (memohon ampunan) kepada Allah Swt.
Beliau Saw bersabda, “Siapa yang membiasakan beristighfar (memohon ampun kepada Allah), maka Allah akan memudahkan baginya: 1) Jalan keluar dari setiap kesempitan, 2) Kemudahan dalam setiap kepanikan, 3) Rezeki dari Allah Swt lewat jalan yang tidak pernah terduga.” HR. Abu Daud

Maka, cobalah kebiasaan baik ini dalam hidup Anda yang tersisa. Beristighfar kepada Allah Swt dalam sehari-semalam sebanyak 100 kali. Ucapkanlah…. Astaghfirullahal Azhim… (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), atau dengan ucapan istighfar lain yang Anda ketahui, maka Anda akan dapati bahwa saat ampunan Allah Swt itu sudah Anda rasakan, maka kenikmatan yang diberikan kepada Anda akan semakin berlimpah-limpah dan banyak keutamaan serta keistimewaan yang Dia berikan kepada Anda. Ya, Anda… hamba-Nya yang suka mencari ampunan dari-Nya. Semoga bermanfaat!

Tanda Iman Sedang Lemah August 9, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

( Tulisan Mochamad Bugi di dakwatuna.com, sangat menarik, terima kasih telah mengingatkan… )
jembatan kayu
Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:

1. Ketika kita sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan kita. Akibatnya, kita akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Ketahuilah, Rasululllah saw pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati kita terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terbujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati kita. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai kita masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah: 74)

3. Ketika kita tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika kita terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika kita berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika kita merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati kita tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar kita. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika kita tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika kita merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai kita membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika kita melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga kita merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula kita menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter kita. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika kita tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah kita padam. Anggota tubuh kita tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka kita pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika kita gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hari kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika kita bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika kita mengatakan sesuatu yang tidak kita perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2- 3)

Apakah kita lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika kita merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Kita merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari kita dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika kita menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, kita akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman kita pasti dalam keadaan lemah, jika kita mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika kita pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika kita mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa kita dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika kita tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika kita memutuskan tali persaudaraan dengan saudara kita. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karena Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika kita tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika kita merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu kita tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Kita kalut. Tubuh kita gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman kita sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut: 2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika kita senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati kita keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika kita bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi kita tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika kita senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan kita.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba- Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash: 55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika kita berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling kita sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburka n (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

 ’

Kisah Lantai dan Patung Pualam July 28, 2009

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Alkisah terdapat sebuah museum yang lantainya terbuat dari batu pualam yang indah. Di tengah-tengah ruangan museum itu dipajang sebuah patung pualam yang juga sangat besar. Banyak orang datang dari seluruh dunia mengagumi keindahan patung pualam itu. Suatu malam, lantai pualam itu berkata pada patung pualam.

Lantai pualam : ”Wahai patung pualam, hidup ini sungguh tidak adil. Benar-benar tidak adil! Mengapa orang-orang dari seluruh dunia datang kemari untuk menginjak-injak diriku tetapi mereka mengagumimu? Benar-benar tidak adil!”

Patung pualam : ”Oh temanku, lantai pualam yang baik. Masih ingatkah bahwa kita ini sesungguhnya berasal dari gunung yang sama?”

Lantai pualam : ”Tentu saja, justru itulah mengapa aku semakin merasakan ketidak- adilan itu. Kita berasal dari gunung batu yang sama, tetapi sekarang kita menerima perlakuan yang berbeda. Benar-benar tidak adil!”

Patung pualam : ”Lalu apakah kau masih ingat ketika suatu hari seorang pemahat datang dan berusaha memahat dirimu, tetapi kau malah menolak dan merusakkan peralatan pahatnya?”

Lantai pualam : ”Ya, tentu saja aku masih ingat. Aku sangat benci pemahat itu. Bagaimana ia begitu tega menggunakan pahatnya untuk melukai diriku. Rasanya sakit sekali!”

Patung pualam : ”Kau benar! Pemahat itu tidak bisa mengukir dirimu sama sekali karena kau menolaknya.”
Lantai pualam : ”Lalu?”

Patung pualam : ”Ketika ia memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya pada dirimu, lalu ia berusaha untuk memahat tubuhku. Saat itu aku tahu melalui hasil karyanya aku akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda. Aku tidak menolak peralatan pahatnya membentuk tubuhku. Aku berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa.”

Lantai pualam : ”Mmmmmmm………”

Patung pualam : ”Kawanku, ini adalah harga yang harus kita bayar pada segala sesuatu dalam hidup ini. Saat kau memutuskan untuk menyerah, kau tak boleh menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi padamu sekarang.”

Source : 1001motivation.blogspot.com

Melepaskan Sakit Hati July 5, 2009

Posted by tintaungu in Rapuh, Reksa.
add a comment

“No one can make you jealous, angry, vengeful, or greedy, unless you let him. Tak seorangpun membuat Anda cemburu, marah, mendendam, atau rakus, kecuali Anda mengijinkannya.” ~ Napoleon Hill

Dalam pergaulan sehari-hari wajar jika kita tidak selalu bersanding dengan kemesraan bersama teman-teman maupun keluarga, kerabat, kolega bisnis, dan lain sebagainya. Ada kalanya terjadi benturan
kecil atau besar. Tak jarang kita juga bertemu dengan orang-orang yang bersikap negatif, misalnya senang menghina, ikut campur urusan pribadi, memotong pembicaraan, merusak kebahagiaan, menghancurkan impian, senang menertawakan merendahkan, dan lain sebagainya. Benturan-benturan maupun sikap negatif tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang luar biasa.

Tidak semua orang di antara kita berjiwa besar untuk melepaskan sakit hati tersebut. Meskipun demikian, usahakan untuk melepaskan sakit itu secepat mungkin sebelum meracuni jiwa kita. Pengalaman di
sepanjang hidup saya memberikan pelajaran berharga bahwa memelihara sakit hati hanya menimbulkan kerugian dan kesulitan belaka.

Sebuah kisah berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran yang lebih jelas betapa tidak enaknya menyimpan rasa sakit hati. Dikisahkan tentang seorang guru yang memberikan tugas cukup unik
kepada para anak didiknya untuk mata pelajaran budi pekerti. Hari itu siswanya di kelas 3 SD diminta untuk memasukkan kentang ke dalam sebuah kantong plastik, sesuai dengan jumlah orang yang tidak
disukai. Jika siswa membenci banyak orang, maka semakin banyak pula kentang yang ia masukkan ke dalam plastiknya.

Tugas selanjutnya adalah para siswa diwajibkan membawa kentang-kentang tersebut ke mana pun mereka pergi selama satu minggu. Hari pertama, kedua dan ketiga para siswa masih belum banyak mengeluh. Tetapi menginjak hari ke-4 sampai hari ke-6, hampir seluruh siswa itu mengeluh, karena merasa sangat tersiksa membawa beban yang cukup berat apalagi kentang-kentang itu mulai membusuk dan berbau. Setelah satu minggu barulah kentang-kentang itu dilepaskan, murid-murid itu pun merasa sangat lega.

Kisah tersebut mengisyaratkan alangkah ruginya menyimpan rasa sakit hati terus-menerus. Salah satunya mungkin sakit hati itu menyebabkan tubuh kita menjadi cepat letih dan sakit. Selanjutnya, menyimpan
rasa sakit hati dapat menghambat upaya kita mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Sebaliknya, bila kita berbesar hati melepaskan sakit hati itu maka kita akan lebih mudah memetik manfaat darinya. Meskipun usaha itu tidak mudah, tetapi selama Anda berkemauan maka tidak akan ada yang
sulit. Semoga beberapa tip berikut ini memudahkan usaha Anda melepaskan diri dari rasa sakit hati.

Berbicara tentang upaya melepaskan diri dari sakit hati tentunya kita harus terlebih dahulu menjernihkan hati kita agar dapat memandang persoalan dengan jernih pula. Koreksilah diri sendiri, bersihkan hati dari kotoran temasuk iri, dengki, sirik, pelit, culas, dan lain sebagainya. Pastikan bukan diri Anda sebenarnya yang keliru atau terlalu sensitif, sehingga orang lain berbuat sesuatu yang wajar saja tetapi bagi Anda sudah menyakitkan hati.

Bila hati nurani sudah dapat memastikan tidak ada yang salah dalam diri Anda, maka cara yang dapat Anda tempuh untuk melepaskan sakit adalah tersenyum tulus dan selalu menampilkan wajah ceria untuk
melepaskan sakit hati terhadap orang yang sudah menyakiti hati Anda. Karena tanpa mereka sadari sebenarnya sikap buruk mereka justru mengasah hati nurani Anda semakin tajam. Anda sudah merasakan betapa tidak enaknya dihina, dihasut, difitnah, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, sehingga Anda tidak akan berani melakukan sikap buruk yang sama. Secara tidak langsung mereka sudah menyebabkan kebaikan-kebaikan di dalam hati nurani Anda semakin indah terpancar dalam sikap maupun perbuatan Anda.

Berusahalah bersikap manis sebagai bentuk terima kasih kepada orang yang sudah menyebabkan Anda sakit hati. Bagaimanapun juga, mereka sudah menginspirasi Anda untuk mendidik diri sendiri maupun
keturunan Anda untuk tidak melakukan sikap serupa. Sehingga, diri Anda maupun keturunan Anda nanti lebih terkontrol untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.

Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa orang-orang yang sudah menyakiti hati Anda itu memiliki andil yang sangat besar membesarkan tekad dan kemampuan Anda. Mereka sudah membuat Anda memiliki pribadi yang kuat dan sabar. Sehingga, Anda tidak mudah goyah menghadapi situasi sesulit apa pun dalam upaya mengejar cita-cita dan menjadi orang yang hebat.

Ini pengalaman pribadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia belasan tahun yang lalu. Seseorang sudah berbuat culas, sehingga karier dan investasi yang saya bangun dengan susah payah
hancur lebur tak bersisa dalam sekejap mata. Terus terang waktu itu saya sangat terpukul dan sakit hati atas perbuatannya.

Cukup lama saya menyimpan rasa sakit hati pada atasan saya tersebut. Tetapi kemudian, saya berpikir alangkah bodohnya membiarkan kebencian merasuki pikiran saya. Susah payah saya merasakan sakitnya
hati, sedangkan dia tidak ikut merasakan penderitaan saya.

Sejak saat itu saya bertekad untuk melupakan semua kenangan buruk dengan menumpahkan seluruh kekesalan pada selembar kertas lalu membakarnya. Saya bertekad bahwa kebencian saya harus lenyap seperti hancurnya kertas itu dimakan api. Memori akan perlakuan buruk itu saya jadikan semangat untuk memperbaiki keadaan, membangun usaha sampai akhirnya saya memiliki bisnis seperti sekarang ini.

Saya ingin menyimpulkan bahwa solusi paling tepat untuk melepaskan sakit hati sebenarnya hanyalah mengubah api kebencian itu menjadi api semangat untuk berbenah diri. Lepaskanlah sakit hati agar
langkah Anda semakin ringan untuk mengejar impian yang lebih besar dan berarti dalam hidup Anda. Melepaskan sakit hati memungkinkan Anda menjadi manusia lebih baik dan hebat.

(Sumber: Melepaskan Sakit Hati oleh Andrew Ho)

                                                                                   

Kakek dan Kuda Putih June 29, 2009

Posted by tintaungu in Ragam, Reksa.
add a comment

heavengarden

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang kakek dan cucunya, perlahan melangkah pergi meninggalkan gubug kecil di sebuah perkampungan yang sudah puluhan tahun menjadi tempat berteduh mereka. Gubug kecil beserta tanahnya yang merupakan satu-satunya harta sang kakek itu kini telah berpindah tangan menjadi milik Juragan Amir, tuan tanah dan rentenir yang terkenal kejam di kampung itu.

Kaki sang Kakek terus berjalan, diikuti cucunya.
“Kita mau tinggal dimana Kek?”
“Tenang cucuku, bumi ini luas, kita pasti akan mendapat tempat, berdoa saja pada Allah yang Maha Kaya!”

Sebagian masyarakat di kampung itu mengetahui kepergian sang kakek, di jalan mereka bertanya,
“Hendak kemanakah engkau Kek, kasihan benar…, buruk sekali nasibmu, hingga harus terusir dari rumahmu sendiri!”
“Aku pergi mengikuti kakiku, jangan kau bilang nasibku buruk, cukup katakan saja bahwa aku harus meninggalkan rumahku.” jawab sang kakek.

Kakek dan cucu itu selanjutnya memutuskan tinggal dan membangun gubug di sebidang tanah di tepi hutan, dimana tidak ada seseorang yang merasa memiliki tanah itu.

Hari-hari berlalu, kakek dan cucunya, amat menikmati kehidupan di pinggir hutan yang terpencil itu. Suatu hari, tak tahu dari mana asalnya ada seekor kuda liar putih yang sangat gagah dan bagus berputar-putar di sekitar gubug kakek. Kuda itu tampak jinak dan seakan-akan meminta kakek untuk memelihara dirinya. Kuda itupun dipelihara sang kakek dengan penuh kasih sayang. Kabar mengenai kuda itu sampai ke perkampungan, banyak orang datang untuk menyaksikan keelokan kuda itu, mereka tertarik untuk membeli kuda itu, dengan harga berapapun, termasuk Juragan Amir ingin membeli kuda itu dengan harga tinggi.

“Aku tidak akan menjualnya, dia datang padaku untuk kupelihara bukan untuk ku jual” jawab sang kakek, ketika bergantian orang kampung datang untuk membeli kuda itu.
“Dasar kakek sombong, keras kepala, orang miskin tak tahu diuntung, dibeli tidak boleh rasakan nanti kalo kudanya malah hilang!!” orang-orang menggerutu dan sebel dengan sikap kakek yang tak mau menjual kudanya.

Selang beberapa hari ada kabar mengejutkan, kuda sang kakek hilang. Orang kampungpun kembali mendatangi gubug kakek untuk membuktikan kabar itu.
“Rasakan sekarang, kalau kemarin dijual kan sudah jadi duit, sekarang malah hilang, Allah telah memberimu azab, karena kesombonganmu!!” orang kampung mengolok-olok kakek.
“Jangan kau bilang begitu, cukup katakan kuda itu hilang, cukup itu saja. Jangan ditambah ini azab atau keberuntungan, kita tidak pernah tahu dan tak berhak untuk menentukan!” jawab sang kakek.

Selang dua hari kuda itu kembali dan membawa 12 temannya yang tak kalah gagah dan bagus.
Orang kampung kembali datang, dan berkata,
“Ternyata benar kata kakek, ini bukan azab tapi keberuntungan, nasib kakek benar-benar bagus mempunyai 13 ekor kuda yang gagah-gagah!!”
“Sekali lagi jangan kau bilang begitu, cukup katakan bahwa sekarang ada 13 kuda di gubugku ini, cukup itu saja, tak perlu katakan ini keberuntungan atau bukan, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok hari.” jawab sang kakek.

Sekarang cucu kakek sehari-hari disibukkan dengan acara menjinakkan kuda-kuda itu karena sebagian masih liar. Ketika sedang menaiki kuda yang masih liar, tiba-tiba cucu kakek terjatuh karena kuda itu meloncat-loncat, sehingga kaki sang cucu patah. Karena terjatuh itu, kaki cucu kakek lumpuh dan tidak bisa untuk berjalan. Orang kampung kembali mendatangi kakek,
“Ternyata benar kata kakek, ini bukan keberuntungan tapi sebuah azab, gara-gara kuda itu kini cucu kakek lumpuh, kasihan benar nasibmu Kek!”
“Jangan bilang begitu, cukup katakan kalau kaki cucuku lumpuh. Cukup itu saja. Hidup ini seberti buku dengan puluhan ribu halaman, kita tidak bisa menyimpulkan hanya dengan membaca satu halaman, yang kita tahu sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang sebenarnya ada, berapa jumlah rambut di kepala kita saja kita tak pernah tahu bagaimana mungkin kita dapat menilai apa yang terjadi pada kita”
Orang-orangpun kembali dan tak habis mengerti dengan cara berpikir kakek.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu ada kabar bahwa kerajaan akan berperang dan semua pemuda akan dikirim ke medan pertempuran. Pertempuran kali ini sangat berat, sehingga untuk dapat kembali dengan selamat sangatlah kecil. Karena lumpuh cucu kakek tidak ikut dikirim ke medan pertempuran. Orang-orang kampungpun kembali datang dan memberi selamat kepada kakek, karena cucunya tidak harus pergi ke medan perang yang berat itu.
“Kata kakek benar, kelumpuhan cucu kakek ternyata bukan nasib buruk tapi justru sebuah keberuntungan!”
“Aku bosan berbicara dengan kalian…………!!” jawab sang kakek sambil terus asyik membelai dan memberi makan kuda-kudanya.

(Sumber: milis_warga_kulonprogo)

                                                                   

Kekuatan Bawah Sadar Kita June 20, 2009

Posted by tintaungu in Ragam, Reksa.
add a comment

Kesadaran manusia itu terdiri atas alam sadar dan alam taksadar, yang sering disebut juga ‘bawah sadar’, atau ‘nirsadar’, atau ‘unconscious’. Mind sciences sekarang menyebutnya dengan subconscious. Hal ini merupakan inti dari psikoanalisa, yang ditemukan Sigmund Freud, seorang dokter dari Wina Austria seabad yang lalu.

Dalam alam bawah sadar ini, yang meliputi hampir 90% dari kesadaran manusia (di bawah permukaan, gunung es), tersimpan dorongan-dorongan instink primitive sejak awal kehidupan, instink untuk mempertahankan diri dengan merusak, menghancurkan, seksual, makan, membunuh, dll. Inilah instink-instink primer kehidupan.

Selain itu juga rasa kebencian, dendam, iri, permusuhan, cinta yang tidak pada tempatnya, ditekan atau direpresi di bawah sadar ini. Represi ini tak pernah sempurna, kata Freud, maka selalu muncul pada salah ucap, perilaku spontan sehari-hari, atau muncul dalam mimpi secara simbolik atau dalam bentuk tertopengi (tersamar).

Bagian sadar dalam pikiran manusia adalah bagian yang rasional. Dan bagian bawah sadar adalah bagian yang irasional.Jika kita berpikir dengan batin sadar, apa yang kita pikirkan secara kebiasaan akan mengendap dalam batin bawah sadar yang kemudian membentuknya sesuai dengan sifat pikiran kita tadi. Alam bawah sadar adalah tempat kedudukan emosi dan merupakan bagian pikiran yang kreatif. Bila kita berpikir baik, masuk ke alam bawah sadar, maka kebaikanlah yang akan terjadi. Bila kita berpikir buruk atau jahat, maka kejahatanlah yang akan terjadi.

Sekali bawah sadar menerima suatu gagasan atau ide, ia mulai mengerjakannya. Batin bawah sadar bekerja bagi gagasan baik maupun gagasan yang jelek atau buruk. Apapun yang anda akui secara mental dan anda anggap itu benar, batin bawah sadar akan menerimanya dan akan mengolahnya sebagai suatu pengalaman. Kita akan mendapatkan reaksi dari batin bawah sadar sesuai dengan sifat pikiran atau gagasan yang kita anut dalam batin sadar.

Para ahli psikologi dan psikiatri menunjukkan bahwa bila pikiran disampaikan kepada batin bawah sadar, akan terbentuk persepsi dalam sel-sel otak. Bawah sadar akan menerima gagasan apapun, dan segera mengubahnya menjadi efek. Bawah sadar bekerja melalui asosiasi gagasan-gagasan dan menggunakan tiap percik pengetahuan dalam hidup untuk mencapai tujuan.

Jadi tidak benar bila orang yang mengalami gangguan jiwa berat itu karena bawah sadarnya rusak dan menyeruak keluar. Yang benar adalah karena proses pikir orang yang terganggu berat jiwanya itu telah ‘terdistorsi’ maka inipun mengendap dalam batin bawah sadar segera mengolahnya menjadi bentuk-bentuk yang terdistorsi dan mengeluarkannya dalam bentuk tingkah laku dan pikiran yang patologik sesuai dengan pikiran terdistorsi di atas. Bawah sadar tidak rusak, hanya dia menerima hal-hal yang tidak baik, karena proses pikir yang terdistorsi, dan mengeluarkannya dalam bentuk waham-waham atau halusinasi.

William James, bapak psikologi Amerika, mengatakan bahwa daya yang menggerakkan dunia berada dalam batin bawah sadar manusia. Batin bawah sadar itu bersatu dengan kecerdasan tak terbatas dan kebijaksanaan tak terbatas. Apapun yang kita tanamkan pada batin bawah sadar kita, akan menggerakkan segala kekuatan alam untuk menjelmakan hal tersebut. Maka kita harus menanamkan ide-ide yang benar dan pikiran-pikiran konstruktif. Kita harus mengerti pengaruh timbal balik dari batin sadar dan bawah sadar. Bila kedua prinsip ini bekerja sama dalam keadaan damai, sesuai dan serasi, kita akan mendapatkan kesehatan, kebahagiaan, kedamaian, dan kesenangan.

Apapun yang dikesankan dalam batin bawah sadar kita akan dinyatakan dalam layar ruangan. Apapun yang kita rasakan sebagai benar secara subjektif, akan dijelmakan sebagai keadaan, pengalaman, dan kejadian. Karena itulah gerak dan emosi harus seimbang. Seperti di langit (bawah sadar kita), begitulah di bumi (badan kita dan lingkungan hidup kita). Bila kita berpikir secara negatif, merusak dan keji, maka pikiran ini akan mendatangkan emosi merusak yang harus mendapatkan jalan keluar. Emosi ini karena sifatnya yang negatif sering dimanifestasikan sebagai sakit maag, sakit jantung, ketegangan, dan kecemasan. Semua unsur kepribadian kita menyatakan ide itu.

Vitalitas, badan, keadaan keuangan, teman-teman, dan status sosial kita mewakili gambaran ide yang kita punyai mengenai diri kita. Inilah arti sebenarnya mengenai apa yang dikesankan dalam batin bawah sadar kita, dan yang akan dijelmakan dalam semua bidang kehidupan kita. Kita melukai diri dengan kemarahan, ketakutan, iri hati, kebencian atau dendam. Ini merupakan racun yang meresapi bawah sadar kita. Padahal kita dilahirkan tanpa sikap negatif ini. Batin bawah sadar kita menggunakan pikiran yang memberikan penghidupan, maka kita akan menghapus semua pola negatif yang mengendap di sana. Bila anda melakukan ini terus-menerus, maka semua hal yang lalu akan terhapus dan tidak akan teringat lagi.

( Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2009 )