jump to navigation

Melepaskan Sakit Hati July 5, 2009

Posted by tintaungu in Rapuh, Reksa.
add a comment

“No one can make you jealous, angry, vengeful, or greedy, unless you let him. Tak seorangpun membuat Anda cemburu, marah, mendendam, atau rakus, kecuali Anda mengijinkannya.” ~ Napoleon Hill

Dalam pergaulan sehari-hari wajar jika kita tidak selalu bersanding dengan kemesraan bersama teman-teman maupun keluarga, kerabat, kolega bisnis, dan lain sebagainya. Ada kalanya terjadi benturan
kecil atau besar. Tak jarang kita juga bertemu dengan orang-orang yang bersikap negatif, misalnya senang menghina, ikut campur urusan pribadi, memotong pembicaraan, merusak kebahagiaan, menghancurkan impian, senang menertawakan merendahkan, dan lain sebagainya. Benturan-benturan maupun sikap negatif tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang luar biasa.

Tidak semua orang di antara kita berjiwa besar untuk melepaskan sakit hati tersebut. Meskipun demikian, usahakan untuk melepaskan sakit itu secepat mungkin sebelum meracuni jiwa kita. Pengalaman di
sepanjang hidup saya memberikan pelajaran berharga bahwa memelihara sakit hati hanya menimbulkan kerugian dan kesulitan belaka.

Sebuah kisah berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran yang lebih jelas betapa tidak enaknya menyimpan rasa sakit hati. Dikisahkan tentang seorang guru yang memberikan tugas cukup unik
kepada para anak didiknya untuk mata pelajaran budi pekerti. Hari itu siswanya di kelas 3 SD diminta untuk memasukkan kentang ke dalam sebuah kantong plastik, sesuai dengan jumlah orang yang tidak
disukai. Jika siswa membenci banyak orang, maka semakin banyak pula kentang yang ia masukkan ke dalam plastiknya.

Tugas selanjutnya adalah para siswa diwajibkan membawa kentang-kentang tersebut ke mana pun mereka pergi selama satu minggu. Hari pertama, kedua dan ketiga para siswa masih belum banyak mengeluh. Tetapi menginjak hari ke-4 sampai hari ke-6, hampir seluruh siswa itu mengeluh, karena merasa sangat tersiksa membawa beban yang cukup berat apalagi kentang-kentang itu mulai membusuk dan berbau. Setelah satu minggu barulah kentang-kentang itu dilepaskan, murid-murid itu pun merasa sangat lega.

Kisah tersebut mengisyaratkan alangkah ruginya menyimpan rasa sakit hati terus-menerus. Salah satunya mungkin sakit hati itu menyebabkan tubuh kita menjadi cepat letih dan sakit. Selanjutnya, menyimpan
rasa sakit hati dapat menghambat upaya kita mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Sebaliknya, bila kita berbesar hati melepaskan sakit hati itu maka kita akan lebih mudah memetik manfaat darinya. Meskipun usaha itu tidak mudah, tetapi selama Anda berkemauan maka tidak akan ada yang
sulit. Semoga beberapa tip berikut ini memudahkan usaha Anda melepaskan diri dari rasa sakit hati.

Berbicara tentang upaya melepaskan diri dari sakit hati tentunya kita harus terlebih dahulu menjernihkan hati kita agar dapat memandang persoalan dengan jernih pula. Koreksilah diri sendiri, bersihkan hati dari kotoran temasuk iri, dengki, sirik, pelit, culas, dan lain sebagainya. Pastikan bukan diri Anda sebenarnya yang keliru atau terlalu sensitif, sehingga orang lain berbuat sesuatu yang wajar saja tetapi bagi Anda sudah menyakitkan hati.

Bila hati nurani sudah dapat memastikan tidak ada yang salah dalam diri Anda, maka cara yang dapat Anda tempuh untuk melepaskan sakit adalah tersenyum tulus dan selalu menampilkan wajah ceria untuk
melepaskan sakit hati terhadap orang yang sudah menyakiti hati Anda. Karena tanpa mereka sadari sebenarnya sikap buruk mereka justru mengasah hati nurani Anda semakin tajam. Anda sudah merasakan betapa tidak enaknya dihina, dihasut, difitnah, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, sehingga Anda tidak akan berani melakukan sikap buruk yang sama. Secara tidak langsung mereka sudah menyebabkan kebaikan-kebaikan di dalam hati nurani Anda semakin indah terpancar dalam sikap maupun perbuatan Anda.

Berusahalah bersikap manis sebagai bentuk terima kasih kepada orang yang sudah menyebabkan Anda sakit hati. Bagaimanapun juga, mereka sudah menginspirasi Anda untuk mendidik diri sendiri maupun
keturunan Anda untuk tidak melakukan sikap serupa. Sehingga, diri Anda maupun keturunan Anda nanti lebih terkontrol untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.

Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa orang-orang yang sudah menyakiti hati Anda itu memiliki andil yang sangat besar membesarkan tekad dan kemampuan Anda. Mereka sudah membuat Anda memiliki pribadi yang kuat dan sabar. Sehingga, Anda tidak mudah goyah menghadapi situasi sesulit apa pun dalam upaya mengejar cita-cita dan menjadi orang yang hebat.

Ini pengalaman pribadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia belasan tahun yang lalu. Seseorang sudah berbuat culas, sehingga karier dan investasi yang saya bangun dengan susah payah
hancur lebur tak bersisa dalam sekejap mata. Terus terang waktu itu saya sangat terpukul dan sakit hati atas perbuatannya.

Cukup lama saya menyimpan rasa sakit hati pada atasan saya tersebut. Tetapi kemudian, saya berpikir alangkah bodohnya membiarkan kebencian merasuki pikiran saya. Susah payah saya merasakan sakitnya
hati, sedangkan dia tidak ikut merasakan penderitaan saya.

Sejak saat itu saya bertekad untuk melupakan semua kenangan buruk dengan menumpahkan seluruh kekesalan pada selembar kertas lalu membakarnya. Saya bertekad bahwa kebencian saya harus lenyap seperti hancurnya kertas itu dimakan api. Memori akan perlakuan buruk itu saya jadikan semangat untuk memperbaiki keadaan, membangun usaha sampai akhirnya saya memiliki bisnis seperti sekarang ini.

Saya ingin menyimpulkan bahwa solusi paling tepat untuk melepaskan sakit hati sebenarnya hanyalah mengubah api kebencian itu menjadi api semangat untuk berbenah diri. Lepaskanlah sakit hati agar
langkah Anda semakin ringan untuk mengejar impian yang lebih besar dan berarti dalam hidup Anda. Melepaskan sakit hati memungkinkan Anda menjadi manusia lebih baik dan hebat.

(Sumber: Melepaskan Sakit Hati oleh Andrew Ho)

                                                                                   

Bukan Putus Cinta Biasa September 17, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment
Entah apa yang ada dalam pikiranmu. Kau masih terdiam di situ. Tanpa kata. Tanpa gerakan. Laksana karang. Hanya sesekali jemarimu menyeka beberapa bulir kristal yang turun gemulai satu per satu dari sudut matamu.  
  
Mata itu, setiap kali matahari memanggang bumi, selalu membawaku ke sebuah mata air pegunungan. Menikmati damai. Engkau tahu itu. Tapi kini, semuanya harus kita akhiri sampai di sini. Ya, sampai di sini saja. Meski halaman buku catatan harian kita masih banyak yang utuh. 
  
Selaksa kabut pekat yang dihasung bala tentara Iblis selama ini telah membuat kita selalu salah dalam mengeja cinta. Aku bisa bayangkan, para kurcaci selama ini terbahak-bahak saat melihat kita dengan terbata-bata menyimpulkan bahwa cinta adalah memiliki, menikmati, dan menguasai.  Atas nama cinta, berdua kita teguk puluhan sepi.
  
Atas nama cinta pula aku menuntutmu berbagi kekuasaan atas lentik jemari indahmu. Bahkan juga atas nama cinta, kumakruhkan senyum manismu itu atas seluruh pria jagad raya. Ah, Padahal cinta tidak pernah menuntut apa-apa, meski hanya sekedar jawaban “I love you too”. Bahkan cemburu pun bukan tanda dari cinta. Ia hanyalah sepenggal egoisme. Cinta itu memberi, bukan menerima, apalagi menuntut. Satu-satunya yang dikehendaki cinta hanyalah kebahagiaan bagi orang yang kita cintai. Itu saja.  
  
Pernahkah kau menengadah ke langit dan bertanya, di manakah Tuhan Kau menyimpan bahagia? Tataplah butiran-butiran yang diturunkan ke bumi itu. Bukan, itu bukan sekedar serpihan-serpihan nada. Itu adalah puisi. Maka rapat pejamkan matamu, lebar bukalah hatimu. Bacalah, manisku.  Sebentar lagi kau akan tahu, bahwa bahagia ada di tanah seberang, bukan di pekarangan. Ke sanalah setiap kekasih seharusnya membawa terbang kekasihnya. 
  
Tidakkah kau ada waktu untuk membalas sapaan angin? Kemarilah sayang, di bawah kelebatan cahaya lilin, aku ingin mengajakmu mendengarkan bisikannya. Sebentar lagi kau akan tahu bahwa puluhan teguk sepi milik kita ternyata adalah mata-mata pisau yang merobek-robek sayap. Kita telah tidak hanya salah jalan. Tulang-tulang kita juga remuk redam begitu parah. Sebentar lagi kau akan rasakan betapa sakitnya. 
   
Kata putusku berangkat dari sini. Mudah-mudahan engkau mengerti.  
   
Tapi jujur kuakui, semua ini terasa perih. Andaikan saja engkau dari tadi menghitung berapa kali aku menarik nafas panjang, kau juga pasti akan tahu betapa ada berton-ton batu di pundakku. Namun seperti yang biasa kau katakan padaku setelah berbincang dengan kupu-kupu, pengorbanan adalah kata kunci dari segala apa yang ingin kita raih. Usah menangis. Lupakan saja semuanya. Biarkan semua musnah menjadi debu, terbang disapu angin, dan hilang dalam tiada.  
  
“Tidak bisa,” suara serakmu pecah perlahan, mengaliri pori-pori dinding. Aku tidak bisa melupakan semua ini begitu saja, kecuali kalau Tuhan menghendakinya, memberikanku amnesia atau apapun lainnya”. 
   
“Yang aku tahu, Tuhan tidak pernah meminta kita membayar ridha-Nya dengan cara melupakan orang yang kita cintai,” lanjutmu menghempaskanku ke rerumputan, menelanjangi kemunafikanku. Sejatinya, aku pun tidak akan kuasa menghapus sejarahmu dari benakku. Bagaimana itu bisa kulakukan bila hampir di setiap penghujung malam, namamu selalu kusebut di antara puluhan lembar doa yang kukirim ke langit tujuh. Aku pun terdiam, dan memang giliranmu untuk bicara.  
   
“Aku tidak tahu harus bicara apa. Ada saatnya kata tidak bisa menjelaskan apa-apa ” 
   
Hening. Semua berakhir dengan sunyi. Kau beranjak pergi, pulang bersama matahari yang hampir sampai di ujung cakrawala, meninggalkanku sendiri ditikam pilu. Terasa berat melepaskanmu, seberat langkah gontaimu di senja yang merah ini. Semoga alam raya esok pagi akan menjadi saksi di hadapan-Nya atas apa yang terjadi pada kita hari ini. Setidaknya kita sudah benar mengeja cinta.
    
(Dari entah berantah, semoga penulisnya senang tulisannya tampil disini)
      

Cinta Pertama August 13, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Tadi malam diputar ulang film ‘Cinta Pertama’ di Indosiar, sayangnya saya cuma nonton sendirian. Sebuah film yang menceritakan tentang bagaimana rasanya jatuh cinta untuk yang pertama kali. Bagai sebuah lagu, ‘berjuta indahnya..’ Tak terkatakan rasanya, setiap hari ingin bertemu, menyapa, tersenyum. Apapun ingin dilakukan untuk menemukan cinta itu.

Sederhananya begini. Ketika seseorang menemukan cinta [entah cinta monyet, cinta palsu, cinta terpendam atau cinta sejati sekalipun], hidup menjadi lebih berwarna. Ada `kembang-kembang` yang membuat seseorang terasa bercahaya. Gombal? Ketika jatuh cinta, bahkan yang paling gombal pun bisa jadi sutera.

Film yang disutradarai Nayato Fio Nuala ini bertutur tentang rasanya punya cinta. Adalah Alia [Bunga Citra Lestari] seorang siswi SMU [entah mengapa, SMU apa juga tidak pernah disebut] yang jatuh cinta dengan seorang jago basket bernama Sunny [Ben Joshua]. Hari-hari Alia terasa menyenangkan meski hanya sekedar memandang, ngobrol nggak penting atau papasan dengan Sunny.

Sayangnya, Alia dan Sunny tidak pernah “tergerak” mengungkapkan rasa cintanya meski dua-dua merasa punya chemistry yang sama. Dan itu berlalu sampai ketika mereka lulus dan Sunny memilih kuliah di luar Jakarta [entah dimana, tidak disebutkan juga].

Cerita romansa Sunny dan Alia tadi dikisahkan sebagai flashback. Gara-garanya, usai pertunangan Alia dan Abi [Richard Kevin], Alia ditemukan tak sadarkan diri di teras rumahnya. Ketika dirawat di rumah sakit itulah, Abi menemukan buku harian Alia yang banyak bertutur tentang Sunny.

Demi orang yang dicintainya pula, Abi nekat mendatangi Sunny yang sudah punya kehidupan sendiri. “Aku takut kamu kalah sama kenangan,” kata istri Sunny ketika suaminya itu memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Ternyata benar, akhirnya Sunny tetap berkesempatan mengungkapkan rasa cintanya pada Alia meski ‘keadaan’ mereka berdua telah benar2 berbeda.

Cukup mengharu-biru..

  

Cinta dan Waktu August 7, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Alkisah di suatu pulau kecil tinggallah benda-benda abstrak, ada cinta, kesedihan, kekayaan, kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau berusaha cepat-cepat menyelamatkan diri.  

Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri ditepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air terus naik membasahi kaki cinta. Tak lama cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak cinta. “Aduh! Maaf cinta!” Kata kekayaan “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.” Lalu kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.  

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku!” teriak cinta. Namun kegembiraan terlalu senang karena ia menemukan perahu, sehingga ia tak mendengar teriakan cinta.  

Air makin tinggi membasahi cinta sampai kepinggang dan cinta semakin panik. Tak lama lewatlah kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!” teriak cinta. Wah cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut, nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini” sahut kecantikan.  

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah kesedihan. “Oh..Kesedihan bawalah aku bersamamu” kata cinta. “Maaf cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.  

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itu tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik keperahuku.” Cinta menoleh kearah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat cinta naik keperahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.  

Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya. Cinta segera menanyakan kepada seorang penduduk di pulau itu, “Siapa sebenarnya orang tua itu?” Tanya cinta. “Oh…Orang tua tadi? Dia adalah waktu” jawab orang itu. “Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya, bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan menolongku” Tanya cinta heran. “Sebab…” kata orang itu, “…hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”

(dari kiriman teman)

  

Seutuhnya… June 29, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Bla..bla..bla..bla… (Reject)

     

Mengeja Cinta June 28, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Bla..bla..bla..bla… (Reject)

      

Cinta Sejati… (Kahlil Gibran) June 27, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Bla..bla..bla..bla… (Reject)

  

Cinta itu… June 25, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya,

Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.

Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah.

Aku pernah. Aku pernah tersenyum meski kuterluka karena kuyakin Tuhan tak atau belum menjadikannya untukku. Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja. Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku. Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga. Semua orang pasti pernah merasakan cinta.. baik dari orang tua… sahabat.. kekasih dan akhirnya pasangan hidupnya.

Buat yg sedang jatuh cinta.. selamat ya… karena cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu berbahagia.

Buat yg sedang terluka karena cinta. Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar, satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya, bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.

Buat yang tidak percaya akan cinta, buka hatimu jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.

Buat yang mendambakan cinta, bersabarlah, karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab. Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu.

Buat yang mempermainkan cinta. Sesuatu yang begitu murni dan tulus bukanlah untuk dipermainkan. Cinta bukan suatu kehampaan. Semoga kalian berhenti mempermainkan cinta dan mulai merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.

Diambil dari entah berantah, semoga pembuatnya tersenyum ketika melihat artikel ini di sini..

    

Yang Datang dan Yang Pergi June 25, 2007

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Many people…
Walk,
Come,
Then go….
In our life.
But only few people…
That leave footsteps,
In our heart.