jump to navigation

Sesungguhnya Setelah Kesulitan Ada Kemudahan January 28, 2012

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

Bismillahir-Rahmanir-Rahim … Inna Ma’al ‘Usri Yusra (Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan) … Tulisan dikutip sebagian dari isi buku Laa Tahzan .. buah karya Dr. Aid Al-Qarni. Semoga bermanfaat … Selamat Menikmati …. 

Wahai saudaraku .., 

Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, sesudah dahaga ada kesejukan, setelah begadang ada waktu tidur, setelah sakit ada sembuh, pasti yang sesat akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan ada secercah cahaya terang benderang. Lihatlah para petualang di sebuah gua yang gelap, setelah berjalan kesana kemari melihat setitik lobang cahaya. Karena apa? Karena Allah berfirman :” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau keputusan kepada kita dari sisiNya. Kata ‘Asa (mudah-mudahan), dalam kamus Allah itu merupakan suatu kepastian, bukan seperti mudah-mudahan dalam bahasa lisan makhluk, yang tak pasti. 

Beri kabar gembiralah bagi malam yang gelap, bahwa esok lusa akan ada fajar dari puncak gunung, dan celah-celah lembah, berilah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah, goncang, bahwa dalam lamhatilbashar menurut pandangan Allah, akan ada kegembiraan, ada kelembutan tersembunyi dibalik penderitaan itu. 

Apabila kita melihat dan berjalan ditengah padang pasir nan tandus itu,.kita berjalan lagi..masih juga padang pasir,.berjalan terus,..sampai suatu saat kelak kita akan menemukan dedaunan hijau, perkampungan hijau, ada kehidupan disana.Semua itu kerana apa,..? Karena setiap ada muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan. 

Bila kita melihat tali itu kuat dan sambung menyambung, lihatlah suatu saat pasti akan ada terputus juga, dibalik kemelaratan, pasti ada kebahagiaan, didalam ketakutan, akan disertai rasa aman, dalam kegoncangan, setelah itu pasti angin itupun tenang kembali.  

Ombak menderu-deru, tidak selamanya ia berhembus terus, pasti ada masa tenangnya. Karena apa…? Karena Allah sudah berfirman :” Tuulijullaila finnahaari..watuulijunnahaara fillaili “( Allah menggantikan malam kepada siang,siang diganti malam).Masa regenerasi dan pergantian itu pasti ada. 

Jadikanlah jeruk nipis itu menjadi manis !! 

Orang yang cerdas, lagi pintar, akan merubah kerugian-kerugiannya kepada keberuntungan-keberuntungan. Sementara orang yang bodoh lagi selalu dalam keadaan bingung, akan menambah musibah menjadi dua musibah,.bahkan musibah bertingkat-tingkat. 

Lihatlah betapa Rasulullah SAW diusir dari kampung kelahirannya Mekkah. Apakah beliau bersikap pesimis dan patah semangat? Tidak bukan? Beliau hijrah ke Medinah dan mencari penghidupan baru disana, berkarya, bekerja dan berdakwah, sehingga jadilah beliau maju dan dapat membangun Medinah menjadi manusia-manusia bertaqwa, setelah mapan beliau baru kembali membangun asal negerinya yang beliau pernah diusir itu. Bayangkan,..seorang yang ummi, tak tahu baca dan tulis , diusir dari kampung halamannya sendiri, dan oleh bangsanya sendiri, dapat merubah masyarakat dari lembah kejahiliahan, menjadi insan yang tahu ilmu, tahu nilai-nilai akhlak yang luhur, dan maju dalam perekonomian. Dikenal dan dikenang dalam sejarah turun temurun. 

Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk, apa yang terjadi pada beliau setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fiqh. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad Dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis qasidah yang benar-benar membuat orang terpukau,sya’ir-sya’ir beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang terkenal itu. 

Apabila seseorang menimpakan kepadamu kemudharatan, dan apabila kamu ditimpa musibah, maka lihatlah dari sisi lainnya. Bila kamu melihat kegelapan, carilah titik terangnya. Apabila kamu disuguhkan seseorang secangkir jeruk nipis yang asam, maka tambahkanlah gula didalamnya biar terasa manis. 

Apabila seseorang memberikan serigala yang galak kepadamu, maka ambillah kulitnya yang berharga, tinggalkan yang tak berharga. Apabila kamu diserang dan digigit kalajengking, maka ambillah obat antibiotik dari binatang itu juga, karena didalamnya juga ada racun hidup yang dapat mematikan kuman. 

Jadikanlah AC pendingin didalam tubuhmu yang keras, dan panas itu sebagai penyeimbangnya. Agar keluar dari dalam tubuh kita bunga yang harum semerbak wanginya . Bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya. Semua ini karena apa..? Karena Allah berfirman :  

” ‘Asaa antakrahuu syaiaan,wahuwa khairullakum “. Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah yang terbaik untukmu.  

Begitupun sebaliknya, wa‘asaa antuhibbuu syaian wahuwa syarrullakum ” Bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga “. (QS. Al-Baqarah : 216)

( sumber: kembanganggrek.com )

Kunjungan BJ Habibie ke Garuda January 27, 2012

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo. 

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta. 

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap. 

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!). 

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini? 

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di- escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung. 

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250. 

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan…… 

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb: 

“Dik, anda tahu…….saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, ….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur…..Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi Dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN. 

Sekarang Dik, …anda semua lihat sendiri…N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’ 

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya. 

Dik tahu….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia….. 

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…… 

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua….? 

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. 

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!” 

Pak Habibie menghela nafas….. 

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas; 

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini. 

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama….. 

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu….bahkan hingga kini. 

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir…..kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320. 

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya…

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”. 

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD, dimana Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten, C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis, D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu! Itu saja!” 

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb: 

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik…….” 

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu …… 

“Dik, …saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, …ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya… saya mau kasih informasi… Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu…..” 

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam……seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang. 

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan…… 

“Dik, kalian tau….. 2 minggu setelah ditinggalkan ibu….. suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun ………. Ainun …… saya mencari ibu di semua sudut rumah. 

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini……’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’. 

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan; 

1.Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa! 2.Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus…….. 3.Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup. 

Saya pilih opsi yang ketiga……..” 

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ……. ia melanjutkan pembicaraannya; 

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…… dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…… 

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat….. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia” 

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata………… 

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya; 

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…….. 

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing). Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka. 

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat. 

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain. 

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….” 

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan). 

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun. 

Jakarta, 12 Januari 2012 

Salam,
Capt. Novianto Herupratom o 

( sumber : kaskus )

Kualitas January 16, 2012

Posted by tintaungu in Mutu.
add a comment

Ini cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan. 

Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut. 

Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya. 

“Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?” tanya wartawan, dengan penuh rasa heran dan takjub. 

“Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula,” jawab petani. 

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama. 

Dalam kehidupan, mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan untuk orang lain. Jika Anda ingin hidup dengan kemakmuran, maka Anda harus berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar Anda. 

Anda tidak akan mungkin menjadi ketua tim yang hebat, jika Anda tidak berhasil meng-upgrade masing-masing anggota tim Anda. KUALITAS ANDA DITENTUKAN OLEH ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA. 

Orang Cerdas sejatinya adalah orang yang mencerdaskan orang lain, begitu pula orang yang baik adalah orang yang mau membaikkan orang lain… 

“Selamat menebarkan kebaikan dimanapun anda berada..”

Kutipan dari buku : James Bender, “How to Talk Well”, New York; McGray-Hill Book Company Inc.

Tak Disangka, Ternyata Dari Sinilah Asal Mula Uang Kertas di Bank yang Sesungguhnya January 8, 2012

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Jaman dahulu, pada saat emas dan perak menjadi alat tukar-menukar barang dan alat pengukur nilai barang dan jasa, banyak orang Yahudi yang menjadi penjual jasa penyimpanan emas yang lebih terkenal dengan istilah goldsmith (gold adalah emas, dan smith adalah semit atau Yahudi).

Ini karena di sebagian besar Eropa, orang-orang Yahudi dilarang memiliki tanah yang membuat mereka tidak bisa menjadi petani dan menjadikan profesi sebagai goldsmith sebagai alternatif pekerjaan yang prospektif.

Meski dipandang sebagai pekerjaan kurang terhormat, orang-orang kaya yang memiliki banyak emas lebih menyukai menyimpan emasnya di goldsmith karena jaminan keamanan yang diberikannya. Mereka hanya cukup memberi imbalan sejumlah emas tertentu atas jasa penyimpanan yang diberikan goldsmith.

Untuk setiap emas yang disimpan, goldsmith mengeluarkan secarik kertas (sertifikat) berisi keterangan tentang kepemilikan emas sejumlah tertentu pada goldsmith. Setiap saat bila pemilik emas ingin mengambil simpanannya, ia tinggal menunjukkan sertifikat tersebut.

Seiring berjalannya waktu, semakin tingginya tingkat kepercayaan masyarakat pada goldsmith dan juga karena sifat sertifikat yang likuid (mudah ditukarkan dengan emas kapan saja), masyarakat mulai menerima sertifikat tersebut sebagai alat tukar-menukar barang dan jasa. Pada saat inilah sertifikat tersebut menjadi uang kertas dan merupakan uang kertas pertama di dunia. 

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak emas yang disimpan di brankasnya, goldsmith melihat bahwa sebagian besar emas tersebut teronggok begitu saja di brankas untuk jangka waktu yang lama, karena kebutuhan likuiditas sudah terpenuhi dengan uang kertas. Ia mulai berfikir: bagaimana kalau sebagian daripada emas itu dipinjamkan ke orang yang membutuhkan (debitor) untuk dikembalikan setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan bunga?

Kemudian goldsmith mulai menjadi rentenir dengan meminjamkan sebagian emas milik nasabahnya kepada debitor yang membutuhkan. Setelah waktu yang ditentukan emas yang dipinjam debitor dikembalikan dan goldsmith mendapat keuntungan berupa bunga. Semakin sering dan semakin banyak goldsmith memberikan pinjaman, semakin besar pula keuntungan yang didapatnya.

Selanjutnya goldsmith mendapatkan ide lain.

Mengapa harus memberikan pinjaman berupa emas? Bukankah uang kertas yang dikeluarkannya telah diterima sebagai alat tukar-menukar dan jual beli? Maka kemudian untuk setiap pinjaman yang ia berikan, ia hanya cukup mengeluarkan uang kertas. Dan setelah jangka waktu tertentu, debitor mengembalikan hutangnya berupa emas kepada goldsmith plus bunganya. Pada saat ini goldsmith melihat keajaiban yang menjadi nyata. Hanya dengan selembar kertas, ia mendapatkan sebongkah emas.

Saat itu sebenarnya goldsmith telah melakukan penipuan. Orang menyangka emas yang dijaminkan benar-benar milik goldsmith sendiri, padahal sebenarnya milik nasabah yang menitipkan emas. Selain penipuan ia juga melakukan pemerasan dengan membebankan bunga atas pinjaman yang ia berikan. (inilah cikal bakal prinsip perbankan)

Belajar dari kesuksesannya menipu nasabah (yang tidak mengetahui jika emasnya yang dititipkan dijadikan jaminan kredit) dan debitor sekaligus, kemudian goldsmith mendapatkan ide lagi. Bagaimana kalau dibuat beberapa lembar uang kertas sekaligus untuk beberapa debitor?

Maka dibuatkan beberapa uang kertas sekaligus untuk beberapa debitor. Dan setelah jangka waktu tertentu para debitor mengembalikan hutangnya berupa emas plus bunga. Keajaiban itu semakin menakjubkan.

Dengan modal beberapa lembar kertas, ia mendapatkan sejumlah besar emas. Maka ia pun mengeluarkan uang kertas sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Keuntungannya ..… hanya dibatasi oleh kemampuan mencetak uang kertas. 

Tidak ada bisnis sepanjang sejarah umat manusia yang lebih menguntungkan daripada bisnis yang dijalani goldsmith.

Seiring berjalannya waktu semakin banyaknya orang yang menjadi debitor. Mereka rela antri duduk di bangku panjang untuk mendapatkan pinjaman dari goldsmith. Bangku panjang (banque) tempat duduk para calon debitor itu yang kemudian menjadi cikal bakal istilah BANK. Dalam waktu tidak terlalu lama, para goldsmith menjadi orang-orang terkaya di dunia.

Para bangsawan dan para raja yang serakah membutuhkan dana untuk membiaya tentara, dan belanja pegawainya. Mereka pun tidak bisa menghindar untuk menjadi mangsa para goldsmith yang kemudian berganti istilah menjadi banker (pemilik bangku). Sekali meminjam, nilainya jutaan kali pinjaman yang diterima individu-individu, dan begitu juga keuntungan yang didapatkan banker.

Para banker itu senang denggan sifat serakah para raja dan bangsawan yang suka berperang memperebutkan kekuasaan. Semakin serakah mereka, semakin banyak perang yang dijalaninya dan itu berarti semakin banyak pinjaman yang bisa diberikan para banker.

Dalam banyak kasus, ketika perdamaian terjadi, para banker justru menjadi provokator politik untuk memicu peperangan.

- Mereka membiayai Oliver Cromwell untuk memberontak kepada Raja Charles di Inggris.

- Mereka membiayai William Orange merebut tahta raja Inggris dari Charles II.

- Mereka merekayasa Revolusi Perancis

- Membiayai petualangan Napoleon

- Memprovokasi kemudian membiayai pihak-pihak yang terlibat dalam Perang Sipil Amerika, merancang Perang Krim, Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, Vietnam, Teluk, dan perang-perang yang lain.

Setelah perang, para pemimpin dan sekaligus juga rakyat negara-negara yang terlibat perang menjadi sapi perahan para bankir atas hutang yang mereka tanggung.

Selanjutnya, selain mendapatkan keuntungan materi yang tiada tara, banker juga mendapatkan keuntungan politik yang besar. Mereka dapat dengan mudah mengangkat seseorang menjadi penguasa semudah mereka menjatuhkannya dari kekuasaan.

Dan semakin besar kekuasaan politik mereka, semakin besar pula keuntungan ekonomi mereka. Politik dan uang, dua sisi mata uang yang sama, semuanya telah dimiliki para banker.

Dasar Yahudi, ketika pada awal abad 20 ditemukan minyak bumi, para banker itu melihat peluang bisnis besar lain. Jika manusia bisa dibuat tergantung hidupnya pada minyak, maka keuntungan mereka akan semakin besar, meski dibandingkan keuntungan yang diberikan oleh bisnis keuangan masih kalah jauh.

Maka mereka membayar Henry Ford (seorang ahli mesin internal combustion berbahan bakar minyak) untuk memproduksi mobil berbahan bakar minyak secara massal sehingga production cost-nya lebih kecil dan bisa dijual dengan harga relatif murah.

Di sisi lain mereka membujuk Thomas Alva Edison untuk menghentikan ambisinya memproduksi mobil berenergi batere (karena akan mengancam bisnis baru mereka) dengan tawaran menjadi bos perusahaan General Electric. Sedangkan untuk urusan produksi minyaknya, mereka mempercayakan pada Rockefeller.

Perusahaan-perusahaan transportasi massal dengan model transportasi berenergi listrik seperti trem mereka beli untuk mereka gantikan modelnya menjadi bus-bus berbahan bakar minyak. Bila ada perusahaan yang melawan, mereka mengerahkan pasukan mafia, pengacara, atau aparat pemerintah yang sudah disuap. Tidak lupa pembunuhan kharakter melalui media massa akan dialami para penentang banker.

Ketika Stanley Meyer, seorang ilmuwan Amerika menemukan alat pengubah air menjadi bahan bakar hidrogen yang murah dan portabel, ia ditangkap, diadili dan terakhir dibunuh.

Sama dengan apa yang telah dilakukan terhadap
Ezra Pound, sastrawan besar penentang dominasi banker kapitalis internasional. Setelah tidak memiliki alasan mengadili Ezra karena pemikirannya, Ezra dijebloskan ke klinik perawatan penyakit jiwa (sastrawan besar yang beberapa muridnya meraih Nobel Sastra dianggap gila?) hingga meninggal dalam tahanan.

Hal yang sama juga menimpa Joko, penemu blue energy dari Indonesia. Dianggap membahayakan kepentingan para kapitalis penguasa bisnis minyak, ia diculik, dibunuh kharakternya melalui media massa dan sekarang harus menghadapi proses pengadilan.

Dan inilah sedikit gambaran keuntungan bisnis para bankir kapitalis di bidang perminyakan. Saat ini konsumsi minyak dunia sekitar 100 juta barrel sehari. Biaya produksi minyak rata-rata katakan saja $20 per-barrel meski sebenarnya lebih kecil. Jika harga minyak dunia, katakan $50 per-barrel, maka produsen minyak mendapat keuntungan $30 per-barrel.

Berarti keuntungan produksi minyak global sehari adalah $30 x 100 juta = $3 miliar atau Rp30 triliun lebih dengan kurs dollar sekarang. Dalam setahun keuntungannya adalah Rp30 triliun x 365 = Rp11.000 triliun. Katakan 50% total keuntungan itu jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan minyak dunia milik para banker, maka keuntungan para banker dari produksi minyak adalah Rp5.500 triliun setahun.

Diperlukan ribuan orang Syech Puji (kiai nyentrik yang suka pamer kekayaan dan memperistri anak kecil) untuk menandingi keuntungan para banker itu, dari bisnis minyak saja. Ingat dari bisnis minyak saja, belum bisnis terkait seperti mobil, transportasi, apalagi bisnis pokok mereka.

Sistem perbankan yang berlaku saat ini adalah sistem yang sama dengan sistem perbankan goldsmith, dengan kualitas dan kuantitas yang jauh lebih besar. Contohnya bank kini bahkan tidak perlu lagi mengeluarkan uang kertas atau sertifikat untuk memberikan pinjaman.

Cukup dengan sebuah entry di komputer alias dengan udara kosong (abab istilah Jawanya) maka kredit sudah diberikan. Dan kemudian, para debitor harus membayar dengan darah dan keringat atas abab yang diberikan banker. Jika gagal membayar, harta bendanya disita oleh bankir sebagaimana dialami jutaan debitor sub-prime mortgage di Amerika akhir-akhir ini.

Para bankir internasional saat ini adalah keturunan para goldsmith jaman dahulu. Sebagian besar bank di dunia, termasuk Indonesia, adalah milik para bankir internasional itu.

Pada suatu saat para banker itu bosan dengan tumpukan uang kertas yang menumpuk di gudang mereka setelah sebelumnya persediaan emas dunia kering tersedot ke brankas mereka kecuali sebagian kecil yang dipakai masyarakat sebagai perhiasan.

Mereka ingin pembayaran riel: properti, tanah, emas, asset-asset perusahaan dan sebagainya. Maka mereka menghentikan suplai uang kertas dan menarik yang sudah beredar. Istilahnya kebijakan tight money. Dunia pun mengalami krisis finansial yang merembet ke seluruh sektor ekonomi. Perusahaan-perusahaan bangkrut, debitor-debitor tidak dapat membayar hutangnya, saham perusahaan-perusahaan anjlok.

Saat inilah para bankir itu menjalankan rencananya: memborong perusahaan-perusahaan yang bangkrut, saham-saham perusahaan yang anjlok, dan menyita harta benda debitor yang gagal bayar. Maka dalam waktu singkat terjadi pemindahan kekayaan besar-besaran dari masyarakat ke kas para banker. Dan dalam situasi itu, mereka dengan bersembunyi di balik jubah IMF dan Bank Dunia, datang menawarkan “bantuan” yang sebenarnya berupa kredit berbunga ganda yang mencekik leher dan hanya membuat manusia semakin jatuh dalam cengkeraman kekuasaan mereka.

Hal inilah yang terjadi pada fenomena Depresi Besar tahun 1930-an, Krisis Moneter tahun 1997 dan Krisis Finansial Global saat ini. Bahkan saat ini AMERIKA pun tak luput dari tipu daya segelintir orang tersebut. Amerika Serikat diambang resesi. Dengan utangnya yang mencapai $ 14,3 triliun dollar atau setara dengan 100 persen dari PDB-nya. Persetujuan Kongres tentang kenaikan utang, yang menyelamatkan Amerika Serikat dari gagal bayar (default), tak mendapat sambutan positif di seluruh pasar bursa saham. Nilai perdagangan di bursa saham, semuanya rontok, dan berimbas ke seluruh dunia.

Dunia terbuai oleh ilusi yang ditebarkan para banker melalui artis-artis Hollywood dan Bollywood, Madonna, David Beckham, Manchester United, Tom & Jerry, Naruto, Indonesian Idol, dll. Bahkan anak-anak kecil pun sudah diajari orang tuanya untuk terbuai ilusi Idola Cilik, hingga mengabaikan nasib jutaan rakyat Palestina yang tengah kelaparan karena diblokade Israel atau ribuan rakyat miskin tetangganya yang menderita gizi buruk.

Sumber: situslakalaka.blogspot.com

(Cerkak) Gegojegan Lelakon Urip January 6, 2012

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Tak sawang kanthi kedhep tesmak, pawongan lencir ayu sing lagi nggandheng bocah udhakara umur 2 tahun ing njero toko buku ing sabrang saka kafe aku lungguh.

Esem iku aku ora lali, lan ora bakal lali. Esem iku isih kemanthil ing mataku senajan lelakon iku wus mungkur sepuluh tahun.

Dheweke dak kenal nalika Kerja praktek ana kantorku, wektu iku dheweke isih kuliah ana sawijining Perguruan Tinggi Negeri ana Surabaya lan wis semester akhir.  Awale aku sering digodha karo kanca-kanca saruwanganku. Pancen wektu iku aku isih lajang. Nanging ora ana sing ngerti menawa aku wis duwe pacangan. Amarga aku pancen ora nate ngenalake utawa crita bab Asti, pacanganku marang wong kantor. Asti kuliah ana Yogya, kari ngenteni wisudha. Sauntara aku wis nyambut gawe ana Surabaya, dadi komunikasiku karo Asti amung lewat hape. Lan kala-kala aku nyambangi ana Yogya. Lan nganti saiki sesambunganku karo dheweke isih apik-apik wae, nanging embuh sakjane ana rasa sepa ing atiku marang pacanganku iki.  Kadhang aku nakoni marang atiku, geneya rasa tresna iku ora nate ana ing atiku? Sing ana amung rasa welas asih, dheweke tanggaku putrane bulik Narti pensiunan guru SD, lan adhik kelasku ana SMA . Saka asring bareng budhal sekolah, saben dina tak ampiri. Aku dadi raket karo dheweke. Sering dijaluki tulung ngeterake menyang toko Buku, menyang omahe kancane belajar kelompok, lsp. Saengga wong-wong madani yen aku karo dheweke pacaran. Padhahal satemene ora ana rasa apa-apa antarane aku lan dheweke, saliyane pengen ngrengkuh dheweke kadidene adhiku. Aku welas marang dheweke amarga wis ditinggal bapake seda awit isih umur 2 tahun. Wektu cilikanku ibu sering ngutus aku ngeterake masakan utawa jajan sing di masak ibu menyang omahe. Dadi wajar yen aku nganggep dheweke adhiku. Saengga nalika wis padha gedhe aku bubar wisudha ibu nyuwun supaya aku gelem dipacangake karo dheweke, rasane aku ora bisa selak senajan jujur aku ora duwe rasa tresna marang dheweke. Nanging embuh rasane wektu iku ora ana pilihan liya kejaba dak trima usule ibu. Aku uga ora ngerti lan ora takon marang Asti apa dheweke duwe rasa tresna marang aku. Dheweke ora nolak berarti ya seneng karo aku, iku kesimpulanku. Sing jelas saiki statusku dadi pacangane wong, sedhela maneh sesambungan iki bakal karesmekake sawise Asti wisudha. Rencanane tahun ngarep. Nanging nganti saiki jujur wae tresna iku durung tuwuh ing atiku. Sanajan  aku wis janji bakal bangun bale omah karo Asti. Urip pancen amung bisa mili urut ilining banyu. Ah apa ya ngono?

Esuk iku ing kantor, ana paraga anyar mlebu, tibake arep kerja praktek. Kanca-kancaku wis padha umyeg dhewe-dhewe. Maklum ‘barang baru’, bocahe pancen ayu lencir kuning mrusuh. Lan kaya biasane aku sing dadi sasaran di bebeda. Awale aku ya mung mesam-mesem wae amarga pancen ora pati nggatekake apamaneh dheweke wong asing. Aku pancen terkenale dadi gunung es alias ‘coolman’. Apamaneh yen ngadhepi piyantun putri. Kaya-kaya aku wis ora butuh. Awit pancen aku wis duwe Asti. Dadi ngapa maneh mikiri wanita liya. Perkara aku ora tresna karo Asti iku urusane atiku. Sedina-dinane sering aku dipoyoki, dipacang-pacangake kanca putri sing isih bujang, nanging amung dak langgati biasa-biasa wae. Nganti kanca-kanca ki jan gemes yen karo aku. Malah nate ditakoni rada sembrana, “Awakmu ki jane lanang tenan apa ora ta?. Aku mung ngguyu rada sora. Suwe-suwe kanca-kanca waleh dhewe ngadhepi aku. Nganti ketekan bocah ayu iku. Jenenge Maharani. Apik kaya pawongane. Suwe-suwe aku dadi caket karo Maharani, ya merga pokale kanca-kanca. Sering yen istirahat awan aku dikongkon mbarengi dheweke golek maem awan, aku ora kabotan,tak kira aku ya ora bakal kepranan karo Maharani lan kanggo nyenengake atine kanca-kanca, ben aku ora dipaido thok. Tak  pikir amung sedina rong dina, pranyata Maharani praktek nganti sawulan. Akhire aku sing kepothokan ngeterake dheweke saben arep mundhut maem awan. Awale amung caturan biyasa, Dak takoni asale tibake saka Kedhiri, putrane juragan tahu takwa. Suwe-suwe caturan dadi gayeng, pranyata dheweke pawongan sing nyenengake. Bisa ngimbangi omonganku, ora ngira menawa dheweke jembar wawasane, ya masalah akademis, nganti masalah politik dheweke nyambung. Apamaneh hobine padha, maca buku filsafat. Aku malih dadi rada raket karo Maharani, nganti kanca-kanca padha moyoki, Lha Gunung Es kena watune. “Wah Gunung Es selerane ya dhuwur ya? Njaluke sing ayu, gandhes luwes”. Kaya biyasane mung dak langgati karo mesem, senajan saiki rasane beda, ana geter sing seje ing atiku. Dak ulati Maharani amung abang ireng pasuryane, nambahi ayune. Ah..Aku ora selak menawa aku mulai duwe rasa iku marang Maharani. Lan yen dak rasakake rasa iki ora keplok sesisih. Lagi iki aku ngrasakake geter sing seje marang wanita. Apa iki tresna?Ah embuh. Nanging saya dak ilangi rasa seje iku mau malah saya njiret atiku. Kepengine cedhak marang Maharani . Yen caturan bisa krasan jam-jaman. Malah aku wis wani dolan menyang kos-kosane. Wis sering mlaku-mlaku bareng menyang toko buku. Dheweke uga ora kabotan mlaku jejer karo aku. Malah sering ngalem karo aku. Nanging ngaleme ora norak. Senajan  sering metu bareng, maem bareng digandheng tangane wae dheweke ora gelem saengga aku uga banget njaga marang dheweke. Aku elok ing ngatase jaman kaya ngene isih ana piyantun wanita sing njaga kaluhuran iku. Iku nambahi respekku marang Maharani. Saya suwe rasane aku ora bisa kapisahake karo Maharani. Atiku wiwit goreh. Wiwit ora jenjem. Ana rasa abot kang nggandholi dina-dinaku akhir-akhir iki. Wiwit owel yen aku adoh saka Maharani. Aku ngerti tresnaku saya jero marang Maharani. Nanging aku uga ngerti menawa aku duwe janji marang wanita liya. Aku wis pacangan. Aku tresna Maharani nanging kepriye Asti? Aku kudu milih sapa? Aku bingung, aku wis kebulet dhewe karo dalan sing dak pecaki. Aku ora tega medhotake Asti nanging atiku kadung kegandholan Maharani. Nanging ing pojok atiku kandha aku ora bisa terus-terusan kaya ngene. Aku kudu bisa nemtokake sikap. Aku kudu duwe sifat satriya. Senajan ora nate ana tembung tresna kang kaucap saka lathiku marang Maharani, nanging patrap lan sikapku karo Maharani pancen ora bisa di dhelikake yen padha ana ati ing antarane aku lan dheweke. Kanca-kanca kantor malah wis padha njaluk undhangan nikahanku. Sembrana pancen, nanging aku ora selak yen wong liya mesthi bisa maca ana apa antarane aku lan Maharani. Aku rumangsa kedosan, bakal natoni ati suci iku. Nanging piye maneh, aku wis kadung duwe janji marang Asti, lan aku ora oleh selak saka kanyatan iku.  Atiku dadi remuk, perih dhewe yen ngelingi lelakonku iki. Aku wis matur ibu, ibu mung bisa nuturi, “Iku godhane wong arep jejodhowan Le, nanging kabeh terserah kowe, yen pancen arep mbatalake pepacanganmu karo Asti, mung terus terang ibu lingsem Le?” Aku tambah bingung…ngung.

Akhire sawijining dina dakwanek-wanekake methuki Maharani, aku bakal nuntasake lakon iki senajan atiku tan kena ginambarake kaya ngapa rojah-rajehe. Sawise Sholat Maghrib aku ngetokake mobil tumuju kosane Maharani, ora krasa luhku mili…ah wong lanang kok gembeng, mesthine aku  kudu bisa dadi satriya, ucape atiku. Tekan kose Maharani, Ibu  kose mbagekake tekaku, pranyata Maharani lagi ana kamar. Mesisan nyuwun idin karo ibu kos arep ngejak metu Maharani. Ibu Kos mung meling aja bengi-bengi mulihe. Aku pancen ora niyat suwe-suwe sapatemon iki. Aku milih ana kafe klangenanku, ana ngarep toko buku favoritku karo Maharani.

“Rani,” aku mbukani rembug, “Ana bab wigati kang pengin dak suntag, aku bingung Rani, bingung banget,”

“Ana apa Mas, sajake wigati temenan,”kandhane alus.

“Mesthine sliramu wis ngerti kaya ngapa tresnaku marang awakmu”, pratelaku sinambi ndhingkluk ora wani nyawang pasuryane.”Tresnaku lair tumus ing batin marang sliramu Ran, rasane uripku ora bisa kepisah karo sliramu. Nanging Ran, satemene aku uga duwe janji marang wanita liya sadurunge tekamu. Jujur Rani, aku wis duwe pacangan.”Kanthi swara abot aku kudu nelakake kahanan iki marang dheweke. Saiki sirahku dak angkat dak sawang manther pasuryan tanpa dosa ing ngarepku. Dheweke mlengak sedhela, kaget ora ngira bab iki. Tanpa kumecap apa-apa, Maharani ndhingkluk.

“Aku nyuwun pangapura Ran, sasuwene iki ora ana niyat gawe larane atimu, kowe ora bisa ngrasakake kaya ngapa ajure atiku saiki, ah saupama aku isih oleh milih, Ran.Nanging saiki wis ora ana pilihan kejaba aku kudu netepi janjiku marang Asti.” Sepi maneh, akhire Maharani nyuwara rada groyok,

“Ora dadi apa Mas, senajan aku uga abot, abot banget, lagi saiki aku bisa caket karo priya. Lan aku ora selak yen aku uga mambu ati marang panjenengan. Nanging nganti seprene sesambungan kita, panjenengan ora nate nelakake rasa tresna iku marang aku, lan lagi wengi iki kabeh kewiyak. Aku nyuwun ngapura Mas yen wis nggodha urip panjenengan sasuwene iki.” Eluh iku mbrebel alon ing pipine. “Aku rila yen Mbak Asti dadi pilihan penjenengan. Lan iku wis samesthine, panjenengan ora oleh cidra karo janji, awit iku ajining dhiri”, tambah groyok suwarane amarga nahan tangis. Eluh iku tambah deres. Aku ora kuwat melu mbrebes mili. Ora ngira atine uga jembar kaya wawasane.

“Aku nyuwun pangapura Rani, nanging aku pengin sliramu ngerti tresna iki ora bakal ilang saka atiku.”

“Ah panjenengan ora oleh ngono, bisa mirsani panjenengan bisa mulya karo Mbak Asti aku wis katut seneng, Mas, Nanging siji panyuwunku, panjenengan ora usah methuki aku selawase sawise iki, bakal dak simpen jero lelakon iki, Mas. Muga-muga panjenengan nemoni kamulyan ing tembe.”

Ah panyuwun sing abot, mbuh apa aku bakal bisa minangkani. Iku wengiku kang pungkasan ketemu Maharani.

Dina-dinaku bacute dak isi kanggo persiapan nikahanku. Dak sliyurake dina-dinaku sing abot tanpa Maharani kanthi kesibukan ing kantor, lan aku milih sering tugas luar kota kanggo ngilangi sepining ati, sering methuki Asti kanggo mbusak wewayangane Maharani, sanajan aku ngerti wewayangan iku ora bakal ilang, tresnaku kanggo Maharani selawase, senajan uripku kanggo wong liya. Akhire aku njaluk pindhah saka kantor Surabaya, aku ora kuwat yen kudu tetep kerja ana kantor iki, kantor kang kebak kenangan karo Maharani. Akhire aku pindhah menyang Balikpapan, lan sawise nikahanku Asti dak boyong nang kana.

Nganti sepuluh tahun mungkur saka sapatemonku terakhir karo Maharani, aku antuk tugas menyang Surabaya, sakjane aku rada aras-arasen, jujur aku tetep ora bisa mbusak lelakonku karo Maharani.Tatu iki durung pulih, lan aku ora pengen tatu iku kebukak maneh bakal nambahi ngerese atiku. Tresnaku marang Maharani, tresna kang tulus, tresna kang tanpa pamrih apa-apa senajan ta ora bisa sesandhingan omah-omah karo dheweke. Kaya tetembungan tresna ora kudu anduweni, ana benere karo lelakonku iki. Akhire kanthi rada kepeksa aku sida budhal menyang Surabaya, nganggo pesawat paling isuk. Tekan Juanda aku nuju hotel panggonanku nginep, lan cedhak karo kantorku. Rencanaku dina iki sawise urusan kantor mari aku kepengen niliki toko buku sing sering dak tekani karo Maharani, ah…Maharani maneh. Nganti saiki aku isih bisa minangkani panyuwune ora methuki dheweke. Lan muga-muga dheweke wis urip mulya karo sisihane lan anak-anake. Sanajan pengarep-arep bisa sesandhingan karo Maharani tetep ana ing pojok atiku. Maharani, kena apa jeneng iku ora bisa ilang saka telenging atiku. Ba’da Maghrib aku nyoba metu ngenggar-enggar ati, menyang toko buku kaya rencanaku isuk mau. Nalika mudhun taksi lagi eling yen kawit isuk wetengku mung klebon roti lan teh ing bandara, saiki lagi krasa ngelih. Akhire ora sida mlebu toko buku, aku mlebu kafe klangenanku ing ngarep toko buku iku. Pesen ayam goreng lalapan lan jus apel. Sinambi ngenteni pesenanku teka, aku ngiderake panyawang ndeleng suasana ing njaba, lan saka anggonku lungguh aku bisa nyetitekake kahanan ing toko buku ngarep iku. Ora sengaja mata iki kandheg marang sawijining pawongan kang nggandheng bocah cilik udakara rong taun. Maharani!!. Ya aku yakin iku Maharani !!. Aku ora bakal lali marang wanita kang wewayangane tansah kemanthil ing netraku. Maharani, isih kaya sepuluh taun kepungkur, senajan saiki wis nganggo jilbab. Malah nambahi perbawa lan anggune. Lan bocah cilik iku? Mesthi putrane, ah katone uripmu wis nemu kamulyan Rani, panguwuhku. Nanging sisihanmu kok ora katon? Aja-aja dheweke wis ijenan?Ah pikiran nglantur iku dak buwak adoh. Dak sawang terus wanita iku, nganti ora dak gape pelayan sing ngladekake pesenanku. Rasane ana daya kekuwatan kang angel dak bendhung, notol-notol ing ati iki. Aku kudu methuki wanita iku, panyuwune kudu  dak langgar pisan iki. Aku kudu ketemu. Aku kudu bisa sapatemon karo wanita iku. Ah Maharani, pangapurane sing gedhe yen wektu iki aku wis ora bisa minangkani panyuwunmu, cah ayu. Aku kudu ketemu sliramu, kudu…kudu…! Ah.. akhire kanthi ora sranta aku ngawe peladen, dak ulungi atusan ewon, tanpa nyenggol panganan sing dak pesen. “Sepurane mas aku kesusu, yen ana susuke kanggo sampeyan wae, suwun ya?!” setengah mlayu aku nyabrang dalan mlebu toko buku, dak clilengi, katon Maharani isih asyik milih buku karo bocah cilik iku.

“Assalaamualaikum, Rani”, alon aku uluk salam.

“Waalaaikum salam, “ Dheweke noleh, geter ing atiku tambah ora karu-karuwan, dheweke nyawang aku setengah ora percaya sapa sing diadhepi, nganti sauntara padha menenge, ora ana sing kumecap. 

Akhire aku mbukani rembug, “Pangapurane Rani, aku kepeksa nemoni awakmu, kaya kandhaku sepuluh taun kepungkur aku ora bakal bisa nglalekake sliramu.”

Wanita ing ngarepku mung nggeget lambe, kaya nahan tangis, ana cahya perih ing netrane.

“Panjenengan wis nglalekake panyuwunku, Mas” kandhane alon.

“Sepurane Rani,  yen ora kabotan, ayo lungguh sing rada kepenak, aja salah tampa Ran, aku mung pengen ngerti kabarmu, lan kahananmu saiki, sepisan maneh yen sliramu ora kabotan”

“Yen saiki aku ora bisa, Mas, anakku rada rewel, wis kesel arep bobuk, Mungkin sesuk wae jam kaya saiki ing kafe ngarep” pratelane.

“Matur nuwun, Rani, sesuk aku ora bakal lali.” Kandhaku.

“Aku nyuwun pamit ,Mas “ pamite

“Iya, Ran, ati-ati”

Sewengi aku ora bisa merem, ah wewayangane tansah ngreridhu uripku. Tresna iku wis kadhung nunjem kuat ing atiku, lan sawise sapatemon sore mau njalari aku perang batin, antarane seneng lan sedhih. Ah embuh.. amarga kesel aku keturon ing ndhuwure sajadah sawise tahajjud jam telu parak isuk.

Mari sholat maghrib, sore iku aku numpak taksi tumuju kafe panggonanku semayanan, Rani isih durung teka, aku nggolek panggonan sing ngadhep jendela nyawang pemandangan taman ing mburi kafe. Iki panggonan favoritku karo Rani. Ah Rani maneh…

“Sepurane, Mas rada telat, nitipne anakku menyang rewangku.”, swarane Rani saka mburiku, dak toleh, ah..wanita iki pancen sulistya ing warna. Nganggo busana muslim warna biru laut, ngisoran putih memplak, lan jilbab putih ana sulame pita biru. Aku mung mesem, mbagekake tekane, “Matur nuwun Rani, wis kersa rawuh ing kafe iki”.

“Priye kabarmu?” meh barengan aku lan Rani ngucapake ukara iku. Wong loro ngguyu bareng, “Siji-siji wae, saiki aku dhisik,”kandhaku.”Piye kabarmu saiki?, uripmu katon mulya,Ran”

“Alhamdulillah, ya ngene iki, aku apik-apik wae mas, lha panjenengan?” takone genti.

“Yah…kaya sing mbok deleng,”kandhaku

“Panjenengan rada kuru lo, saka sepuluh taun kepungkur Mas,”selane.

“Ah mosok iya?!,” kandhaku rada mongkog merga isih di perhatekna Rani. “Yen jareku ya pancet wae, sliramu sing malah rada kuru, nanging malah tambah ayu”, kandhaku rada sembrana. Dheweke mung mesem sinambi nyawang aku.

”Wiwit kapan jilbaban?” takonku

“Wiwit sadurunge wisuda” jawabe cekak.

“Garwamu ora takon menyang ngendi sliramu saiki?” takonku rada ati-ati.

“Ora, Mas”jawabe cekak aos. Atiku angluh, embuh kena apa.

“Saiki ngasta ana ngendi kok ora nate katon ing kantor Surabaya?” takone kaya ngalihake omongan.

“Ya,aku pindhah nang Balikpapan, rasane abot urip tanpa sliramu, Ran, aku ora sanggup yen tetep ana Surabaya, lan uga ora apik kanggone awakku wektu iku.” Pratelaku jujur. Dheweke mung tumungkul.

“Putramu wis pira Ran?” takonku mecah sepining swasana, sing ndadak sepi nyenyet merga pratelaku.

“Siji” jawabe cekak aos maneh, “Mbak Asti putrane wis pira?”

“Durung ana Ran, durung dikersakNe.” Jawabku ampang.

Sepi mamring, kabeh kegawa karo alam pikirane dhewe-dhewe. Sawise jagongan ngalor ngidul, akhire sawise nuntasake pesenane maem, Rani nyuwun pamit, merga wis bengi. Aku uga pamit yen sesuk kudu bali menyang Balikpapan merga tugasku wis rampung. Lan aku ngajab liya dina bisa ketemu maneh. Dak tawani mulih bareng tibake dheweke wis nggawa mobil dhewe. Lan nalika dheweke nawani ngeterake aku menyang hotel dak tolak alus, ora pantes jejere wong lanang di terake wanita wis bengi pisan. Lan aku milih mbalik menyang hotel numpak taksi. Dak sawang mobil kijang Innova iku tleser-tleser ninggalake parkiran kafe. Ninggal atiku kang bali sepi. Rani ora salah, aku saiki kuru merga ora kaurus. Ah saupama dheweke isih legan, isih dhewekan mungkin wengi iki bakal ana crita anyar antarane aku lan dheweke, amerga Asti tilas pacanganku sing dadi bojoku tilar donya setaun sawise omah-omah. Kena kanker ati. Dadi pancen aku durung sempat diparingi momongan wis kedhisikan Asti tinimbalan ing ngarsaNe. Lan sawise iku aku nyoba nggoleki Rani, nanging kaya ana sing menging nganti sepuluh taun aku lagi ketemu Rani maneh. Nanging critane wis seje, dheweke wis urip mulya karo anak bojone. Lan aku bakal bali sepi maneh ngadhepi dina-dinaku.

Seje maneh critane Maharani, sawise metu saka plataran parkiran. Pikirane nglambrang adoh banget, “Ah katone dheweke wis urip mulya karo Mbak Asti, senajan durung diparingi momongan, saumpama dheweke isih ijenan kaya pengarep-arepku wingi”. Maharani kepengin ngrajut tali tresna iku maneh. Ah saumpama dheweke ngerti yen sepuluh taun iki Maharani isih ijenan wae. Lan anak sing mbok takokake, bocah lola sing ditinggal wong tuwane ing salah sawijining Panti Asuhan sing di donaturi selawase iki. Dudu darah daginge Maharani. Mungkin panjenengan ngira iku anakku, pangirane. Yen aku njawab anakku siji merga pancen aku wis duwe anak pupon siji, yen panjenengan takon garwaku apa ora nesu aku nemoni panjenengan tak jawab ‘ora’ merga aku pancen durung nate duwe sisihan. Aku keraya-raya golek gaweyan menyang Surabaya kareben bisa cecaketan karo panjenengan, nanging ing kene aku mung nemu sepi ora nate nemoni panjenengan.

Ah lelakon urip, kaya gojegan, saumpama sore iku kekarone gelem blaka suta sejatine awake dhewe-dhewe mungkin bakal seje critane. Ah lelakon embuh kadhang kita ora ngerti kersaNe…

Sumber: basajawa.wordpress.com

Dicintai December 28, 2011

Posted by tintaungu in Rapuh.
add a comment

Jangan pernah berhenti untuk minta dicintai. Kita akan membuat cinta mengalir.

Orang suka gengsi. Begitu dicuekin orang, dia marah. Begitu tidak diacuhkan kekasih, dia pundung. Sakit hati.

Karena tidak mau sakit hati terulang, dia menutup diri. Dia mengeraskan hati. Tidak mau lagi minta dicinta. Daripada nanti ditolak lagi, ya.

Tapi akibatnya, cinta tidak mengalir. Kehangatan tidak menjalar. Ujungnya kehidupan berhenti. Karena cintalah yang menggerakkan kehidupan.

Kalau hati kita dilembutkan, terbuka, dan selalu meminta untuk dicintai, maka gelombang cinta itu bisa dipicu untuk merambat. Seperti beda tegangan listrik. Listrik mengalir dari anoda ke katoda.  Orang berusaha untuk menaikkan tegangan listrik, agar terjadi anoda. Padahal tidak harus selalu begitu. Dengan menurunkan tegangan listrik, maka anda menjadi katoda. Tidak penting anda menjadi anoda atau katoda, selama terjadi perbedaan tegangan, listrik langsung didorong untuk mengalir deras.

Dan sebagai katoda, alam akan menyediakan anoda di mana-mana. Bisa tidak terduga.

Ada sebuah true story. Seorang kakek sedang menangis sendirian di teras depan rumahnya karena baru ditinggal mati istrinya. Seorang anak tetangga berusia empat tahun melihat peristiwa itu, kemudian memanjat pagar, berjalan melintasi rumput halaman, naik ke teras, dan duduk diam dipangkuan kakek itu. Diam di situ selama kakek menangis. Saat ditanya ibunya, dia ngomong apa saja pada kakek itu, si bocah itu menjawab, “Nggak ada, aku cuma menolong kakek menangis…”. Nothing, I just helped him cry…

Mungkin selama ini anda merasa tidak dipedulikan orang. Tidak dicintai. Kemudian anda mengeraskan hati, merasa tidak perlu dan tidak peduli. Saya cuma pengen bilang, jangan begitu. Jangan berhenti untuk minta dicintai. Never stop asking for love.

You can start by asking God…

Sumber: tulisan Armein ZRL

Asal-usul Perayaan Natal 25 Desember December 25, 2011

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-l sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya / penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan:

Pertama, hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu.

Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen.

Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud). H.W. Armstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, Calofornia USA, 1994, menjelaskan:

Namrud cucu Ham, anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya: “Dia membangkang atau Murtad antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.

Namun usia Namrud tidak sepanjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpaan pohon “Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mat’s.

Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-asul pohon Natal.

Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai “anak suci dari surga”.

Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “Ba-al” anak dewa matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”, di Roma disebut “Fortuna dan Yupiter”. Bahkan di Yunani, “Kwan Im” di Cina, Jepang, dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan Iain-Iain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):

Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.

Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.

Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.

Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.

Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.

Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi, Konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba.

Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada jemaat di Roma:

Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7).

Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

Jawab Yesus kepada mereka : Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. (Matius 24:4-5)

Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal

1. Catolic Encyclopedia, edisi 1911 tentang Christmas: “Natal bukanlah upacara gereja yang pertama … melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”

Dalam buku yang sama, tentang “Natal Day” dinyatakan sebagai berikut:

“Di dalam kitab sue/ tidak ada seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus.
Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”

2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan: “Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bibel juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, menyatakan: “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut…” (Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus) .. Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M. Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Disalin secara utuh dari buku “Perayaan Natal 25 Desember Antara Dogma dan Toleransi” (hal. 27-35) Penulis: Hj. Irena Handono. Penerbit: Bima Rhodeta (cet.ke-VI Feb 2004)

Sumber: muslemsunnah.wordpress.com

tetat semangat December 23, 2011

Posted by tintaungu in Reksa.
add a comment

(Kisah Nyata) Ketika Sri Sultan HB IX Kena Tilang di Pekalongan December 17, 2011

Posted by tintaungu in Tengok.
add a comment

Kota batik Pekalongan tahun 1960-an menyambut fajar dengan kabut tipis, pukul 05.30, polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju ke arahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat-surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca. Jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu. “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang besar seperti Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jaraknya cukup jauh.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah, kamu benar, saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi Brigadir Royadin menjawabnya .

“Em..emm ..bapak saya tilang, mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Raja-pun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada Sinuwun sebelum Sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit Sinuwun melintas di depan Stasiun Pekalongan, Brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin, apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan ke kiri bolak balik.

“ Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo Sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah ..dan memang salah!” Brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg (keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan Sinuwun, masih di Tegal kah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaan Sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa, satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan Soko dan memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak di pinggir Kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ketepi Pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda Pekalongan – Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan disini, Sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan Brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!” Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX, Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

Bulan July 2010, purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya, pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Sumber: jogjakini.wordpress.com

Papan Kayu, Paku dan Lubang December 15, 2011

Posted by tintaungu in Rona.
add a comment

Jika hati itu ibarat papan kayu, maka pasangan hidup adalah pakunya. Sedang lubang yang tertinggal di papan tatkala paku dicabut adalah kenangan. Meski paku tak lagi bersarang, namun tubuh papan telah berubah. Tubuhnya kini tak lagi mulus lantaran lubang-lubang yang bersemayam. Banyaknya lubang tentu saja tergantung dari banyaknya paku yang sempat tertanam. Dan besar kecilnya lubang tergantung pula dari bagaimana paku mengoyak papan kayu.

Harus diakui, siapa pun orang di sekitar kita pasti memiliki tempat tersendiri di hati. Berdasarkan perbedaan porsi, muncullah klasifikasi status sosial-pribadi: kenalan, teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan kekasih. Klasifikasi tersebut memiliki satu pondasi: CINTA.

Kualitas cinta akan semakin sempurna apabila memiliki porsi yang total. Sepenuh hati. Suci. Cinta seperti ini tentu saja didasarkan bukan semata-mata cinta karena makhluk, melainkan cinta karena Allah SWT.Cinta seperti inilah yang patut kita realisasikan dalam kehidupan, termasuk pernikahan.

Jangan Hanya ‘Sisa’

Bukankah rumah yang kokoh itu tidak dibangun dari kayu yang rapuh? Pun begitu dengan pernikahan. Dibutuhkan hati yang utuh untuk menciptakan pernikahan yang kokoh.

Tapi justru dewasa ini, kita disuguhkan dengan fenomena permainan hati (pacaran) yang kian semarak. Di mana sebelum menikah, hati dibuka lebar-lebar layaknya hotel untuk disinggahi banyak orang secara ‘temporer’, namun memberi bekas secara ‘permanen’. Bagaimana tidak, pernikahan dengan kondisi hati seperti ini akan melahirkan banyak perbandingan lantaran kenangan-kenangan dengan ‘si dia’, ‘si dia’, atau ‘si mereka’ yang terus saja membayang di setiap jengkal kehidupan. Manakala suami/istri kita menyuapi bubur misalnya, terlintas begitu saja bayangan ‘si dia’ yang dulu juga pernah menyuapi kita bubur. Ketika melintas di kerumunan, lalu mencium bau parfum yang khas, ingat ‘si dia’ yang juga memiliki harum yang sama. Lalu kemudian mulai membandingkan, kenapa suami/istri kita tidak wangi seperti ‘si dia’.

Sejenak mungkin tubuh kita hadir bersama suami/istri, namun pikiran melayang membayangkan kisah-kisah indah bersama ‘si dia’. Hal itu disebabkan oleh pemberian hati yang tidak utuh lantaran telah banyak lubang yang dihasilkan tusukkan-tusukkan cinta yang ‘semu’ dari masa lalu. Menyedihkan, bukan?

Bayangkan, ketika kita melihat kertas polos dengan satu nama di tengahnya, mata kita akan menangkap satu sentralisasi konsentrasi yang utuh. Namun tidak demikian apabila terdapat banyak nama dan tulisan di kertas tersebut. Mata kita akan mendapati banyak nama dan konsentrasi kita menjadi tidak fokus. Meski pun nama yang dituju telah diberi tanda khusus, lingkaran misalnya, namun tetap saja kertas itu tidak bersih dan indah. Tulisan-tulisan selain yang dilingkari kerap kali mengganggu.

Hal serupa terjadi pada hati kita. Hati yang belum pernah terjamah permainan cinta akan fokus terhadap satu nama pertama dan terakhir. Di mana nama tersebut tertulis sebagai pendamping hidup kita: ‘fulan bin fulan’ atau ‘fulanah binti fulan’.

Allah SWT memberi jodoh sesuai dengan cerminan diri kita. Maka coba tanyakan pada nurani, apakah kita tega hanya memberi hati yang ‘sisa’ kepada suami/istri kita? Sementara tanyakan pada logika, apakah kita siap hanya mendapat hati yang ‘sisa’ dari suami/istri kita?

Rumah yang Kokoh

Sungguh indah segala keteraturan. Layaknya lalu lintas, indahnya keselamatan akan tercipta apabila para pengguna jalan mematuhi rambu-rambu yang ada secara teratur. Untuk membentuk rumah tangga yang indah pun perlu adanya sebuah keteraturan dalam membangunnya: keteraturan menjaga hati dan kesucian diri.

Sebelum berumah tangga, seorang Muslim haruslah menjaga kesuciannya. Menjaga diri dari masuknya cinta selain untuk Allah SWT. Maka dari itu tidaklah dibenarkan untuk mengikuti langkah-langkah syetan dengan mengumbar cinta atau berpacaran sebelum menikah. Dengan begitu hati akan tetap terjaga kesuciannya dari lubang-lubang cinta yang tidak semestinya.

Tatkala menikah, hati yang utuh dan suci akan merasa bahagia dengan cinta pertama dan terakhir. Cinta yang diberikan kepada suami/istri dalam balutan ridho Illahi. Cinta yang utuh, lantaran hati tak pernah terjamah cinta yang lain. Cinta yang suci, lantaran hati tak pernah terkotori cinta yang salah. Cinta seperti inilah dapat saling melindungi dan memberikan nuansa kemurnian cinta yang sesungguhnya dalam rumah tangga.
 
Serupa rumah yang kokoh, akan memberi perlindungan apabila komponen dasarnya juga utuh dan kokoh.

Kini tengoklah ke dalam hati, sudah sejauh mana hati terbagi?

Sumber: maiyaazyza.blogspot.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.